Indahnya Perbedaan

Tuhan itu memang luar biasa. Maha Ada dan Maha Kreatif. Bayangkan dari hampir 8 (delapan) milyar manusia yang hidup di muka bumi ini, tidak ada satupun manusia yang wajahnya persis sama. Bahkan mereka yang terlahir kembarpun wajahnya tidak sama, minimal sidik jarinya pasti berbeda. Ini merupakan rahasia Tuhan yang tidak perlu dipertanyakan dan dipertentangkan. Hal ini berarti bahwa Tuhan sendiri sebagai pencipta alam semesta ini sangat menyukai perbedaan. Lalu kenapa manusia yang merupakan ciptaan Tuhan, justru sering mempertentangkan soal perbedaan yang ada?. Pertanyaan ini perlu kita renungkan dalam-dalam.

Manusia dalam kehidupan ini sering mempertengkarkan soal perbedaan. Mulai dari perbedaan soal warna kulit, perbedaan mengenai suku, perbedaan mengenai bahasa, bahkan sampai perbedaan tentang bagaimana cara kita menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Seandainya Tuhan menciptakan manusia wajahnya persis sama antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya Justru akan terjadi kekacauan di muka bumi ini. Bisa-bisa sering terjadi kasus 'istri yang tertukar'.

Penafsiran umat berbagama terhadap ajaran agama sering seperti menatap langit yang ada di atas kepalanya. Langit yang tertinggi pasti yang dijunjungnya, sedangkan bagian langit yang lain tampak sangat rendah baginya. Mereka tidak pernah memahami bahwa langit itu hanya satu dan sama saja, sedangkan tinggi rendahnya langit terjadi karena keterbatasan penglihatannya sendiri. Itulah sebabnya sering didengar para pemeluk agama mengklaim bahwa agama yang dianutnya adalah agama yang paling baik, paling benar, paling murni yang berasal langsung dari Tuhan, atau kerap dikatakan sebagai agama yang pewahyuan langsung dari Tuhan. Dampak dari klaim-klaim tersebut sering menimbulkan sikap eksklusive yang tidak jarang menimbulkan ketegangan bahkan sampai terjadi perang.

Sesungguhnya berkaitan dengan agama dan kebenaran agama tidak perlu ada klaim-klaim, sebab kebenaran itu tidak ada batasnya, tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah. Juga tidak perlu ada klaim kebenaran agama yang lebih sempurna atau kebenaran agama yang kurang lengkap. Agama dapat diibaratkan seperti langit yang ditatap, ibarat oksigen yang dihirup oleh manusia dan seluruh mahluk hidup. Penamaan yang berbeda diberikan kepada agama juga kepada Tuhan hanyalah sebuah pembatasan yang disebabkan oleh keterbatasan manusia. Pembatasan itu tidak dapat dilakukan terhadap kebenaran, tetapi bisa dirumuskan dengan pikiran yang terbatas. Ibarat samudra yang maha luas dapat diberi nama yang berbeda-beda, misalnya Samudra Hindia, Samudra Fasifik, Samudra Atlantik dan lain sebagainya. Kebenaran juga dapat diibaratkan sebagai puncak gunung, dari bagian manapun manusia memanjatnya akan sampai sampai di puncak tergantung dari upaya yang dilakukan oleh setiap orang. Hal ini sangat jelas dinyatakan dalam sloka Bahagavdgita:

"Yo yo yam yam tanum bhak-tah sraddhayarcitum icchati,
tasya tasyacalam sraddham tarn eva vidadhamy aham.
Bhagavaggita VII.21

Artinya:
'Apa pun bentuk kepercayaan (agama) yang ingin dipeluk oleh penganut agama,
Aku perlakukan kepercayaan mereka sama (karena itu) agar mereka (umat beragama) tetap teguh (dalam keimanannya) dan sejahtera'.

Setiap pemeluk agama se-mestinya tidak perlu terlalu fana-tik terhadap ayat-ayat suci yang ada pada kitab suci yang diyakini. Kebenaran itu tidak ada di kitab suci, kebenaran itu tidak ada dalam kata-kata, tetapi kebenaran itu justru ada dalam perbuatan. Kitab suci hanya memuat tentang batasan kebenaran, ukuran kebenaran, serta rambu-rambu untuk mendapatkan kebenaran sesuai dengan konsep ruang, waktu dan keadaan (desa, kala, dan patra). Sesuatu akan bernilai benar apabila telah ada kesesuaian antara yang tersurat atau terucap dengan yang terlaksana. Sebelum diwujudkan dalam tingkah laku, kebenaran itu tidak ada. Kebenaran itu realita, demikian pula kesalahan itu juga realita. Oleh karena itu umat beragama semestinya hidup dalam realitas.

Sebagai contoh agar lebih mudah memahaminya, bahwa seseorang tidak akan dapat merasakan betapa manisnya rasa gula batu itu, hanya dengan mengunyah secarik kertas yang berisi tulisan "gula batu", atau terus-menerus mengatakan "gula batu itu manis". la baru akan mengetahui rasa gula batu itu manis apabila ia telah betul-betul mengunyah gula batu itu.

Dewasa ini banyak ahli hukum agama, ada yang hafal beratus-ratus ayat-ayat suci agama-nya, tetapi dunia ini sangat sepi dengan kebaikan yang menjangkau seluruh umat Tuhan. Masing-masing umat beragama hanya terpusat dengan kegiatan kebaikan dalam kelompoknya sendiri, dan tidak jarang berusaha menyeret umat agama lain suk dalam kelompoknya tersebut. Konversi agama direncanakan dan dilaksanakan secara sistematik hanya untuk menambah jumlah umatnya dan bukan untuk menambah jumlah kebaikan di dunia. Secara spiritual seharusnya agama adalah pilihan bebas yang ditentukan oleh karma wasana (garis karma) yang tidak lain adalah anugerah Tuhan.

Tuhan menyediakan banyak agama agar semua manusia dapat memilih salah satunya yang sesuai dengan tempramennya dan karakternya yang kemudian dijadikan sebagai petunjuk hidupnya. Inilah tingkat kesadaran yang terpenting yang harus dimiliki oleh umat manusia jika manusia berharap untuk menciptakan kedamaian antar sesama umat manusia di muka bumi. Tanpa mengakui dan menempatkan agama lainnya sebagai agama yang sama dengan agama yang dianutnya, maka selama itu tidak akan ada rasa damai dan tidak akan pernah ada kejujuran di muka bumi. Setiap umat beragama harus jujur dan tidak menghianati kebenaran hati kecilnya; umat manusia harus berani menyatakan bahwa yang benar itu adalah benar dan yang salah itu salah. Betapa indahnya perbedaan itu.

Oleh: I Made Rudita, Dosen STIKOM-Bali
Source: Majalah Wartam/Edisi 24/Februari 2017