Implementasi Dharma Dalam Era Kaliyuga

"Jiwantam mrtavan - manye
dehinam dharma - varjitam yato
dharmena samyukto dirgha-jivi na samsayah"

"Orang yang perbuatannya tidak sesuai dengan dharma, sebenarnya sudah mati, walaupun masih hidup, seorang dharmaatma, yaitu orang yang perbuatannya sepenuhnya sesuai dengan dharma, sebenarnya ia masih hidup,walaupun ia sudah mati"
(Niti Sastra XIII 9)

Dharma secara umum didefinisikan sebagai kebajikan (virtue), kewajiban (duty) dan agama (religion). Dalam Santi Parwa, Rsi Bisma memberikan wejangan kepada Yudisthira, bahwa apapun yang menimbulkan pertentangan adalah adharma, dan apapun yang menyudahi pertentangan dan membawa pada kesatuan, keharmonisan dan keselarasan adalah dharma. Segala aktivitas manusia yang menimbulkan perselisihan, keretakan, ketidak selarasan dan menimbulkan kebencian adalah adharma. Segala upaya manusia yang membantu nutuk menyatukan segalanya, mengembangkan cinta kasih kepada Tuhan dan persaudaraan unversal adalah dharma.

Dharma merupakan penuntun menuju jalan kesempurnaan, penolong nutuk penyatuan langsung dengan Tuhan, sadhana untuk mencapai sifat-sifat ilahi dan merupakan jantung etika/susila Hindu. Rsi Kanada dalam waisesika
sutranya menyebutkan:

"Yato bhyudayaniksreyasa siddhih sa dharmah"

"Yang menuntun untuk pen-capaian kemakmuran di dunia, penghentian total dari derita dan pencapaian abadi setelannya, adalah dharma".

Empat Macam Dharma

Salah satu dimensi dari kehidupan adalah adanya interaksi antara harapan/cita-cita dengan kerja. Hidup tanpa cita-cita sama dengan mati. Sedangkan cita-cita tanpa kerja hanyalah sebuah mimpi. Hidup adalah sebuah kerja sesuai dengan swadharma masing-masing. Dalam pengertian dharma sebagai kewajiban (duty), ada empat jenis dharma yang dijadikan landasan dalam kehidupan.

Pertama, Asrama Dharma, merupakan kewajiban hidup sesuai dengan tahapan kehidupan manusia yang dikenal denngan catur asrama. Dalam kaitan dengan tujuan hidup untuk mewujudkan Catur Purusa Artha, maka kewajiban manusia yang termasuk dalam Asrama Dharma ini, mempunyai kaitan yang erat. Pada tingkatan Brahmacari Asrama, kewajiban manusia lebih difokuskan pada pengisian/penguasaan ilmu pengetahuan (jnana), baik pengetahuan keduniawian (Aparawidya) maupun pengetahuan kerohanian (Parawidya). Pada tahap Grhasta Asrama, kewajiban hidup lebih diprioritaskan untuk pemenuhan Artha dan Kama yang berlandaskan atas dharma. Sedangkan pada tahapan Wanapmstha dan Sanyasa, kewajiban hidup lebih dititikberatkan kepada pencapaian kelepasan atau Moksha.

Kedua, Warna Dahrma, merupakan kewajiban hidup yang berdasarkan atas guna (sifat/kehlian) dan karma (perbuatan/ kerja). Brahmana warna, mereka yang ahli dalam bidang spritual keagamaan. Ksatria warna, mereka yang ahli dan bekerja dalam bidang sosial ekonomi/ wiraswasta, sedangkan Sudra warna, mereka yang melakukan kewajibannya /bekerja lebih banyak menggunakan tenaga phisik dalam melayani ketiga warna lainnya (Brahmana, Ksatria, dan waisia).

Ketiga, sadharana dharma, merupakan kewjiban umum yang harus diliakukan oeh setiap insan, tanpa memandang asrama maupun warna, kewjiban umum itu antara lain; menghormati sesama, kasih sayang (prema) antar sesama dan kepada semua makhluk, pelayanan yang tulus (sewa), pengorbanan, tolong-menolong dan yang lain.

Keempat, Yuga Dharma, merupakan kewajiban manusia yang disesuaikan/dipengaruhi oleh peredaran jaman (yuga). Dalam falsafah Hindu dikenal adanya empat tahapan jaman (Yuga), yaitu Satya Yuga, Treta Yuga, DwaparaYuga dan KaliYuga. Dalam Slokantara disebutkan:

"Pada jaman Satya Yuga tapa-bratalah yang diutamakan, pada jaman Treta Yuga pengetahuan yang diutamakan. Di jaman Dwapara Yuga upacara kurban (yadnya) yang diutamakan, dan di jaman Kali Yuga hanya kebendaan yang diutamakan" (S.81.65)

Dalam Tirthayatra Parwa, yanj merupakan bagian dari wana Parw£ (salah satu parwa diantara delapan belai parwa dalam Mahabaratha) dikisahkar pertemuan antara Bima dengar Hanuman di lembah Gunung Gandhamadana. Dalam pertemuar tersebut, Hanoman memaparkar panjang lebar tentang perwatakar manusia, keadaan alam, pada tiap-tiap yuga dari Catur Yuga. Pada jaman satya Yuga kewajiban masing-masing warna dalam catur warna dilaksanakan dengan semestinya, ajeg, dan dilandasi oleh kebajikan yang utuh. Selama Yuga ini tidak ada penyakit, kerusakan dendam/kebencian, keangkuhan kemunafikan, kelicikan, ketakutan kesengsaraan, iri hati dan tidak ada keserakahan.

Pada jaman Satya Yuga dikiaska: Hyang Narayana (Tuhan Yang Maha Esa) berbusana warna putih. Pada jaman Treta Yuga, dharma (kebajikan) surut seperempat bagian,persepsi tentang kebenaran mulai beragam. Kemampuan intelektua (jnana dan wijnana) mendapat tempat yang terhormat pada jaman ini. Tokoh-tokoh Upanisad seperti; Yadnavalkya Uddalaka Aruni, Nachiheta, Swetaketu dikisahkan hidup pada jaman ini. Hyane Narayana ( Tuhan Yang Maha Esa) dikiaskan menggunakan busana warna merah.

Pada jaman Dwapara Yuga dharma (kebajikan) surut setengah bagian. Hyang Narayana dikiaska." menggunakan busana kuning. Kemampuan untuk memahami/ mendalami Weda mulai berkurang. Sifat-sifat yang dibalut oleh rajah dar tamah mulai merasuki kehidupan manusia. Bentuk-bentuk dan saran, pemujaan berkembang pada jaman, ini jaman Dwapara Yuga merupakan era Itihasa/sejarah kehidupan Rama pada epos Ramayana dan Krishna pada epos mahabarata, dimana Rama dan Krishna merupakan Awatara Wisnu yang ditugaskan untuk menumpas adharma didunia. Di jaman Kali Yuga, kebajikan (dharma) hanya tinggal seperempat bagian. Hyang Narayana dikiaskan menggunakan busana hitam. Berbagai jenis penyakit, bencana alam bermunculan pada jaman ini. Catur Warna tidak lagi menjalankan kewajiban-kewajiban sebagaimana yang ditetapkan. Upacara, dana punya, tapa brata tidak patut dijalankan lagi. Sifat-sifat buruk yang ditimbulkan oleh guna rajah dan tamah mencapai puncaknya pada jaman ini.

Dharma dan Kali Yuga

Kali Yuga adalah jaman (yuga), dimana kita umat manusia sekarang berada. Menurut Prof. Sir Monier Wiliiams,MA,KOIE, pakar dan Guru Besar bahasa Sanskerta, Kali Yuga telah mulai tepat tengah malam antara tanggal 17 dan 18 Pebruari 3102 Sebelum Masehi (bertepatan dengan penobatan raja Pariksit, cucu Arjuna). Bila dihitung sejak tanggal 18 Juni 1996 yang lalu, Kali Yuga telah dijalani oleh umat manusia selama 5098 tahun lebih 4 (empat) bulan. Dalam Manawa Dharmasatra (I. 64-73) dan Bagawadgita (VIII.17) diulas mengenai lamanya masing-masing jaman (yuga) dalam Catur Yuga. Satya Yuga lamanya/berusia 1.728.000 tahun, Treta Yuga 1.296.000 tahun, Dwapara Yuga 864.000 tahun, dan Kali Yuga berusia/lamanya 432.000 tahun. Usia /lamanya seluruh Yuga adalah 4.320.000 tahun, dan disebut satu kalpa. Dengan demikian jaman Kali Yuga masih tersisa kurang lebih 426.902 tahun. Suatu rentang/kurun waktu yang cukup panjang.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bahwa pada jaman Kali Yuga, dharma/ kebajikan hanya tinggal seperempat bagiannya. Hal ini merupakan suatu hal yang tidak bisa dihindari/ ditolak. Kita umat manusia yang hidup di jaman ini hanya bisa berupaya memperkecil/meminimalkan pengaruh-pengaruh buruk yang di bawa oleh Kali Yuga. Rsi Bhisma yang beralaskan/ berbantalkan ratusan anak panah, sambil menantikan ajalnya tiba saat gerakan matahari ngutarayana (berbalik ke utara), dalam Anusasana Parwa, beliau tidak henti-hentinya memberikan wejangan kepada Panca Pandawa, khususnya kepada Yudistira yang akan memegang tampuk pemerintahan di Astinapura Khususnya mengenai Kali Yuga beliau mengatakan:

"Cucuku Yudistira, tidak seorang manusia pun akan mampu melepaskan diri sama sekali dari pengaruh Yuga ini. Hanya dengan pengetahuan dharmalah yang akan mampu sedikit melepaskan diri dari pengaruh tiap-tiap Yuga. Setelah jaman Dwapara sekarang ini. Kali yuga segera akan tiba, yang ditandai dengan kegoncangan dunia sebagai akibat oleh awidya (kegelapan). Raja-raja tidak lagi memberi sedekah, tetapi sebaliknya justru raja-raja yang disedekahi oleh orang-orang kaya"

Kitab Manawa Dharmasastra menyebutkan, yang dianggap paling berharga pada jaman Kali sekarang ini adalah uang atau harta benda. Bila uang dapat dikuasai, segala benda pemuas nafsu akan mudah didapatkan. Pada salah sahi bait kekawin Niti Sastra menyebutkan:

"Yan Yuganta Kali dateng tan harta mengeluwinaning Sang Mahadana, Sang Sura Pandita Widagda pada mengayap ring Sang Danesnara"

"Bila jaman kali datang, tidak ada yang lebih hebat dari orang kaya, Para Ksatria (pejabat), Pendeta dan orang pandai, semua sebagai pelayan orang kaya"

Bertolak dari "hitam kusamnya" jejak-jejak yang dibawa oleh zaman Kali, antisipasi-antisipasi apa yang mungkin masih bisa diupayakan guna meminimalkan pengaruhnya. Jawabannya sudah jelas adalah "back to Re-ligion", kembali ke jalan Dharma. Jadi bagaimanan pelaksanaannya dharma di era Kali Yuga ini adalah paling tidak tetap bisa membentengi diri kita di era Kali Yuga ini adalah paling tidak tetap bisa mempertahankan kewajiban yang hanya tinggal seperempatnya itu dengan membentengi diri kita dengan Sradha (keimanan) yang kuat. Untuk memelihara etos kerja supaya tetap memiliki semangat melayani yang tinggi, kita bisa simak isi Sloka Bhagawadita (II.47)

"Kewajibanmu hanyalah pada pelaksanaan kerja, tidak pada hasil dari kerja itu.
Jangan hasil pekerjaan itu jadi motifmu dalam melaksanakan kerja.
Dan jangan sekali-kali engkau berdiam diri"

Ditingkat sadhanah (pendakian spiritual) atau pendekatan diri kepada Tuhan, kita bisa simak Sloka berikut:

"Perenungan/samadi adalah cara menghubungkan diri kepada Tuhan di jaman Satya Yuga, kurban suci jaman Yuga, pemujaan pada lingga di jaman Dwapara Yuga, dan pengucapan maha mantra /kirtanam di jaman Kali Yuga.
(Srimad Bhagawatam, 12.3.52)

Jadi berdasaran sloka di atas, cara yang paling tepat dilakukan untuk mendekatkan diri dengan Tuhan di jaman Kali ini, adalah dilakukan kidung suci (kirtanam) dan menyebut nama Tuhan (namasmaranam). Dalam membentengi imam kita, sedemikian sehingga kita memiliki persepsi yang teguh, internalisasi yang mendalam tentang kekuatan hukum karma, dan dapat memaknai realitas suka duka kehidupan, sloka berikut sangat kontekstual untuk kita kontemplasikan di jaman "kebendaan" sekarang ini:

Ayuh karma ca vittam ca
Vidya nidham eva ca
Pancaitani hi srjyante
Garbhasthasyeiua dehinah.

Umur, pekerjaan, kekayaan, pengetahuan
dan kematian, kelima hal ini
sudah ditentukan
sewaktu kita masih ada dalam
kandungan. (Canakya Nitisastra IV.l)

Dalam upaya mengurangi rasa kikir, pengaturan Bhoga, Upabhoga, dan Paribhoga, serta memobilisasi semangat berdana punya, bisa kita simak apa yang tersurat dan tersirat dalam sloka berikut:

Hendaknya perolehan harta benda itu dibagi tiga, satu bagian untuk kepentingan dharma/ dana punya, bagian kedua untuk memenuhi kama, dan bagian keiga untuk kegiatan usaha memperoleh artha. Demikian hakekat pembagiannya oleh orang yang ingin memperoleh kebahagiaan. (Sarasamuscaya 262)

Perolehan sebanyak-banyaknya dan berikan pula sebanyak-banyakny. Hendaknya engkau bekerja dengan seratus tanganmu dan berdamailah dengan tanganmu.
(Atharvaveda VII.50.8)

Ucapan Svami Vivekanda berikut merupakan senjata ampuh untuk menangkal/menanggulangi gejala seksual yang kian merebak di era yuga ini. Sudah barang tentu tidak cukup hanya dengan menyimak ucapan beiau saja, namun diperlukan upaya penyadaran diri terus menerus untuk menepis prilaku asusila yang satu ini. Dalam buku Suara Vivekananda, beliu berkata:

"Bagi para pria, setiap wanita, kecuali isterinya sendiri harus dianggap/dipandang sebagai ibunya sendiri.
Dan bagi para wanita, setiap pria, kecuali suaminya sendiri harus dianggap sebagai anaknya."

Andaikan saja setiap insan (kaum laki dan perempuan) mempunyai pena¬ri angan/pemikiran seperti viveka¬nanda, maka dunia ini akan terbebas dari pelecehan seksual.

Harapan :

Hembusan angin Kali Yuga kian deras di setiap sudut kehidupan di bumi ini. Kita sebagai umat tidak akan pernah kekurangan/kehilangan tenpat berpijak di tataran "landasan Spiritual", guna meminimalkan pengaruh jaman kali ini. Berbuatlah seperti anak kera (markata nyaya), yang berpegang teguh kepada induknya, agar tidak jatuh, manakala sang induk loncatt dari dahan yang satu ke dahan yang lain. Berprilakulah seperti anak kucing (Marjara Nyaya), serahkan diri sepenuhnya, kendati sang induk tampak seperti memannya, namun itulah cetusan kasih savang sang induk kepada anaknya.

Oleh: I Ketut Widiarsa
Source: Warta Hindu Dharma NO. 518 Pebruari 2010