Implementasi Brata Amati Gni dalam Hidup Keseharian

Perayaan hari suci Nyepi tahun Saka 1927 dengan segala rangkaiannya termasuk acara Dharma Santhi telah dilaksanakan oleh umat Hindu di berbagai wilayah dengan gaya dan kemampuan masing-masing. Secara nasional pun Dharma Santhi telah dilaksanakan yang mengandung makna bahwa umat Hindu di seluruh pelosok tanah air telah sadar dan berupaya secara sungguh-sungguh membangun dan menegakkan santhi dalam dirinya. Diharapkan jika rasa santhi telah tumbuh, berkembang dan tegak dalam diri agar dapat dipancarkan ke segala arah sehingga rasa santhi menyelimuti segala yang ada dan menjadikan Indonesia diliputi suasana damai yang dinamis.

Untuk menegakkan santhi pada setiap pribadi umat maka pemahaman akan hakekat hidup dan kebenaran ajaran agama secara utuh dan imbang sangat diperlukan. Dalam kaitan ini tentu pemahaman dan penghayatan terhadap nilai-nilai dari Catur Brata Penyepian seperti Amati Geni.

Secara umum Amati Gni diartikan tidak berapi-api atau tidak menyalakan lampu, tidak menghidupkan api dalam rumah atau di dapur maupun api rokok. Termasuk juga tidak menghidupkan mesin-mesin yang memerlukan panas/api. Jadi secara kasat mata sebenarnya amati gni selama dua puluh empat (24) jam bagi setiap umat Hindu yang sehat tidaklah berat, sebab hal-hal yang berhubungan dengan api seperti setrika, masak dan lain-lain sudah dengan mudah dapat diantisipasi.

Sesungguhnya makna yang lebih dalam dari Brata Amati Gni adalah pengendalian atau menghentikan gerak agni dalam diri yang berupa kekuatan atau potensi lahir bathin termasuk kama dan krodha (keinginan dan amarah).

Jika dalam melaksanakan brata nyepi seperti amati gni, ternyata secara lahiriah umat mampu dan sukses melaksanakannya, hal itu baru sebuah awal yang baik. Ibarat pengalaman jauh maka amati gni dalam sehari barulah sikap awal / start dan belum melangkahkan kaki. Apabila ingin perjalanan panjang itu mulus, lancar dan selamat sampai tujuan akhir maka sikap sepanjang perjalanan hendaklah tetap konsisten seperti sikap awal sebelum melangkah. Artinya sepanjang perjalanan harus tetap dan teguh pada sikap dan disiplin lahir bathin seperti pada waktu start.

Demikianlah seluruh potensi diri hendaknya senantiasa terkendali sepanjang hari agar tercapai tujuan hidup. Dari makna brata Amati Gni tersebut di atas maka setiap umat Hindu pada pasca melaksanakan Nyepi dan dharma santhi patutlah dapat mengimplementasikannya nilai brata itu dalam bentuk prilaku keseharian di masyarakat.

Adapun cermin dari pengalaman nilai-nilai brata amati gni dapat disebutkan antara lain:

a. Efesien dan efektif memanfaatkan potensi, artinya dalam keseharian patutlah setiap umat mampu menggunakan potensi diri (arta-benda, waktu, uang, pikiran, tenaga) secara efisien dan efektif atau tepat guna. Pola hidup konsumtif harus semakin surut. Hidup keluyuran yang hanya pemborosan tenaga, waktu dan dana haruslah dihentikan. Gunakan kemampuan lahir-bathin untuk hal yang positif demi kerahayuan bersama. Pancarkan potensi kasih dan santhi ke segala arah dengan landasan bhakti sebagai aksi untuk mengundang datangnya kebajikan dari segala arah. Doa mohon kebaikan dan kebajikan datang dari segala arah (Om ano bhadrah krtaioo yantu wiswatah) tidak akan berdampak jika saluran kebajikan pada diri pribadi tidak dibuka melalui pancaran kasih, santhi dan bhakti.

b. Tekun, tenang dan dinamis.
Potensi yang terkendali bukanlah menjadi malas dan apatis, melainkan umat patutlah selalu tekun dan giat bekerja sesuai swadharma. Senantiasa tenang, tidak mudah terpengaruh oleh suka-duka, pujian atau cercaan, maupun berbagai hal yang memancing emosi dan perasaan hati. Emosi (senang) yang meletup-letup dan sedih/susah/murung yang berlebihan adalah bukti potensi batin belum terkendali. Jika suka/senang itu tak terkendali memang sepintas tidak masalah, namun yang jelas hal itu sebagai indikasi bahwa kesedihan/kedukaan yang mungkin akan dialami pasti juga sedih/duka mendalam. Senang dan sedih atau suka dan duka adalah dua penampakan yang berbeda dan kontras namun berasal dari dorongan potensi yang sama dan satu yakni (perasaan). Jika orang mampu mengendalikan kesukaan tentu akan mampu juga mengendalikan kesedihan dirinya.

c. Terhenti atau menurunnya kadar kemarahan Krodha (kemarahan) merupakan salah satu wujud atau ekspresi dari emosi. Orang yang senang marah (bukan pura-pura marah) menunjukkan bahwa yang bersangkutan sedang tidak mampu mengendalikan potensi (emosi) dirinya, yang berarti pula suatu pemborosan. Amati gni hendaklah dapat diimplementasikan dalam hidup keseharian yakni terlihat dari kemampuan umat mengendalikan emosi (krodha/ kemarahan) yang dipengaruhi oleh berbagai hal. Sampai kini sangat banyak umat (warga masyarakat) tidak menyadari bahwa emosi (kemarahan) itu berdampak merugikan lingkungan dan diri orang yang marah. Akibatnya banyak orang tidak berupaya maksimal untuk mengendalikan kemarahan dan malahan ada orang yang merasa bangga akan kemarahan dirinya. Adapun akibat dari kemarahan itu antara lain:

1). Tidak mampu berpikir dan bekerja dengan hasil maksimal^, tidak bisa makan atau tidur dengan baik, mempengaruhi tekanan darah, lingkungan tidak senang dengan orang marah, dilecehkan atau dipermainkan orang dan sebagainya. Pendek kata tidak ada untungnya orang yang dikuasai oleh emosi terutama kemarahan, begitu juga tidak mampu mengendalikan nafsu (kama) dan lobha atau ketamakan. Sastra suci Bhagawadgita dan Sarasamuscaya memberikan kesaksian bahwa kama, lobha tian krddha merupakan jalan menuju kehancuran yang dinyatakan dalam sloka dengan arti sebagai berikut: Keinginan (kama) yang tak habis-habisnya itu hanya berakhir pada kematian, menganggap pemenuhan kama sebagai tujuan utama, dan hidup atas keyakinan seperti itulah kehancuran akan dijumpai (Bg.XVI.ll).

Tiga pintu gerbang ke neraka, jalan menuju kehancuran diri yaitu kama, krodha dan lobha, oleh karena itu ketiganya harus dikendalikan (dihentikan) (Bg. XVI.21).

Sebab orang yang dikuasai oleh kemarahan, segala yang dipersembahkannya, segala macam pemberian dana dan segala tapa yang dilakukan, segala karma yang dikerjakannya, Bhatara Yama yang menerimanya. Tidak ada hasil kebajikan yang dinikmati oleh pelaku yang dikuasai amarah, kecuali hanya kepayahan, karena itu kuasai (hentikan) kemarahan itu (Saras. 102).

d. Hilangnya kebiasaan melamun atau menghayal
Menghayal/melamun adalah se-buah aktifitas yang tidak memberikan keuntungan dan malah merupakan pemborosan energi dan waktu. Dengan semangat amati gni setiap orang harus sadar dan berupaya untuk menghentikan kebiasaan melamun. Jauh lebih baik potensi itu dikendalikan kearah yang menguntungkan  seperti  yang melakukan pranayama atau olah pikir positif lainnya.

Demikianlah antara lain sepatutnya wujud dari pengamalan Brata amati gni dalam hidup keseharian agar setiap umat dapat melakukan pengendalian spiritual untuk menuju kesempurnaan. Dalam hubungan itulah setiap pribadi umat hendaklah selalu intropeksi diri sekaligus bertanya pada diri sendiri "sudahkah saya wujudkan nilai-nilai brata amati gni dalam keseharian hidup saya"? Adakah saya sudah melangkah/ mendaki menuju kemuliaan? Atau saya tetap seperti dulu, jalan di tempat walaupun sukses mebrata setiap nyepi? Akhirnya semua berpulang kepada pribadi setiap umat berdasarkan kesadaran dan keyakinan pada Hyang Widhi.

Sumber: Rudia Adiputra l Warta Hindu Dharma NO. 459 April 2005