Hinduisme dan Buddhisme di Indonesia [3]

(Sebelumnya)

AJARAN BUDDHA DI JAWA SAMPAI TH. 1200

Kekuasaan raja-raja dinasti Syailendra yang menjadi penguasa utama di Jawa antara tahun 778 dan pertengahan abad 9, yang menghasilkan tersebarnya agama Buddha antara akhir abad 8 dan awal abad 9. Bangunan yang paling berkesan dan yang menjadi saksi atas penyebaran ajaran Buddha ini adalah Borobudur, monumen Buddha Mahayana yang teragung di Indonesia, bentuk ajaran Buddha di mana Dinasti Syailendra menandai perannya. Borobudur, yang sempurna berdiri sekitar tahun 830 diklasifikasikan sebagai sebuah stupa, sebuah struktur Buddhis yang dibangun melalui bentuk fisik atau tekstual yang menjabarkan ajaran Buddha. Dalam berbagai pandangan, Borobudur adalah sebuah monumen yang unik yang tentu salah satunya oleh kekayaan simbolis yang masih saja belum sepenuhnya dipahami. Akhir abad 14, stupa di Sumberawan, Jawa Timur yang sangat biasa dengan struktur yang sederhana, tidak bisa dibandingkan dengan Borobudur.

Bentuk-bentuk pencitraan perunggu dan perak di Jawa Tengah yang ada pada masa Borobudur (setelah tahun 850), menggambarkan sejumlah perkembangan yang tampak sekilas lebih awal pada bagian daratan India. Benda-benda tersebut mencerminkan pengaaruh Buddha Vajrayana. Demikianlah sebuah kelompok yang terbentuk dari lima sinar Buddha (Vairocana, Akshobhya, Ra sambhava, Amitabha, dan Amogha-siddhi) dilambangkan oleh dengan mahkota dan busana kerajaan, dengan Vairocana yang membentuk isyarat dari pencerahan tertinggi (bodhyagri-mudra). Peran penting mandala dibuktikan oleh tiga kelompok pencitraan perunggu yang adalah asal bentuk mandala. Salah satunya ditemukan di Surocolo, Jawa Tengah, dan dua yang lainnya ditemukan di Jawa Timur, di Desa Nganjuk dan di Desa Kunti, Ponorogo. Mandala-mandala ini dikenal baik dalam bentuk dua dimensinya, yang dilukis pada kain. Benda-benda perunggu yang ditemukan di Jawa tampaknya membentuk mandala tiga dimensi.

Bentuk-bentuk tersebut disusun dengan Buddha utama di pusat dan para Buddha lainnya, boddhisatvaswan dewa-dewa kecil lainnya dalam posisi yang ditentukan mengelilingi pusatnya. Meditasi para pemuja bergerak dari tepi mandala hingga ke pusatnya, tujuan akhir yang dicapai adalah penyatuan dengan Buddha yang utama. Peran penting mantra-mantra (rumusan suci) adalah jelas dijabarkan dalam satu dari sejumlah kecil kitab Buddha yang masih bertalian keberaadaanya di Jawa, Sang Hyang Kamahayanikan, yang menyerukan ajaran Buddha mengajarkan Mantrayana (Sarana Mantra, suatu bentuk ajaran Buddha Vajray ana).

AGAMA PADA MASA SINGASARI DAN MAJAPAHIT (1200-1500)

Candi Jawi dan Candi Singosari adalah dua contoh candi yang menunjukkan keberlanjutan masa yang terdahulu: baik yang memuat kelompok dewa Siwa, Durga, Ganesa, Agastya, Nandisvara dan Mahakala yang spesisfik di Jawa dan yang diketahui di daerah tersebut sejak masa yang lebih awal di Jawa Timur. Agama juga membuat bentuk baru, yang sebagian merupakan sebuah hasil dari ^perkembangan India dan sebagian lagi sebagai hasil seleksi, adaptasi dan integrasi dengan kepercayaan asli yang telah ada sejak masa yang lama. Beberapa dari penemuan ini mungkin telah berubah lambat-laun pada masa yang lebih awal, namun selama masa Singosari dan Majapahit-lah bentuk agama baru ini paling jelas terlihat melalui bukti-bukti tekstual dan juga arca-arca.

PERSATUAN HINDU DAN BUDDHA

Salah satu perkembangan yang terpenting adalah persatuan Hindu dan Bnddha menjadi satu sistem agama, tidak sebagai sebuah kepercayaan sinkritis yang mengkombinasikan elemen-elemen dari kedua agama, melainkan lebih mengarah kepada dua jalan terpisah didalam satu sistem seluruhan. Kesetaraan dua jalan ini dititikberatkan dalam banyak teks yang berasal dari masa ini, termasuk pernyataan teks Jawa Kuno Sutasoma, "bhinneka tunggal ika" yang diterjemahkan menjadi kesatuan dalam keberagaman dan menjadi semboyan Republik Indonesia.

Siwa dan Buddha digambarkan sebagai berbeda namun esensinya sama. Seringkah kelima sinar Buddha (Vairocana, Akhsobhya, Ratnasambhava, Amitabha, Amogha-siddhi) disetarakan dengan lima manifestasi Siwa (tiga bentuk Siwa ditambah Brahma dan Wisnu). Didalam teks Arjuna YJijaya, seorang pendeta mengidentifikasi kelima bentuk ini pada sebuah candi sebagai berikut: "Vairocana di pusat adalah Sadasiva, Aksobhya di Timur adalah Rudra, Ratnasambhava di Selatan adalah Brahma, Amitabha di Barat adalah Mahadeva, dan Amoghasiddhi di Utara adalah Wisnu. Sebuah kompleks candi dapat memuat sejumlah candi berbeda untuk pemu¬jaan Siva maupun Buddha atau bahkan satu candi yang dipersembahkan sekaligus untuk kedua agama tersebut.

PERAN PENTING ASKETISME

Asketisme memiliki sebuah tempat yang penting didalam teks-teks yang berasal dari masa Singosari dan Majapahit. Merupakan sebuah cerita favorit, Arjuna Wiwaha yang mengisahkan pertapaan Arjuna di Gunung Indrakila untuk memperoleh anugerah dewata. Untuk menguji pertapaan Arjuna, para dewa mengirimkan tujuh bidadari untuk menggoda Arjuna yang telah bersiap dalam meditasinya. Cerita ini dipahatkan pada sebuah gua tempat meditasi di daerah Selomangleng dekat Tulungagung. Dalam teks lainnya juga demikian, mengulas mengenai pertapaan dan beberapa pahatan indah ditemukan di Candi Jago.

Negarakertagama, sebuah teks Jawa Kuno, yang ditulis pada tahun 1365 oleh Prapanca, seorang penyair kerajaan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350-89), menyatakan bahwa daerah pegunungan Jawa Timur diliputi oleh pertapaan dalam berbagai jenis. Pertapa, yang disebut resi mendekati jenis pendeta mitos, yang tampaknya menjadi begitu berperan hingga mereka menjadi sebuah kelas relijius tersendiri. Beberapa teks menyebutkan tiga kelompok relijius (Siwais, Buddhis dan Rshi), teks lainnya menambahkan Brahma sebagai kelompok yang keempat. Kemungkinan pertapaan yang bertingkat-tingkat di daerah pegunungan seperti yang terdapat di Gunung Penanggungan adalah milik kelompok rshi.

Sekte Pemuja Leluhur

Perkembangan lain yang mengkristalisasi selama masa ini bertumpu pada pemujaan para raja dan ratu setelah mati. Sementara raja-raja di masa Jawa Timur yang lebih awal berpikir bahwa diri mereka sendiri sebagai inkarnasi Wisnu, raja-raja pada masa Singosari dan Majapahit memahami bahwa diri mereka adalah inkarnasi dari dewa-dewa sesuai dengan kecenderungan mereka, paling banyak mengarah pada Siwa dan/atau Buddha. Negarakertagama memuat sebuah bacaan dengan biografi singkat yang menyebutkan kematian raja-raja sebelumnya dan dewa pujaan mereka. Digambarkan dengan jelas bahwa raja-raja tersebut dipercaya berasal dari dewa, yang hidup di dunia sebagai raja sementara waktu, dan kemudian setelah wafat kembali bersatu kembali dengan dewa dari mana mereka telah bereinkarnasi, atau secara harfiahnya "kembali kepada dewa asal mereka".

Sebuah candi kemudian didirikan sebagai kenangan mereka dan untuk memuja wujud dewa dari raja tersebut. Wujud dalam candi tersebut melambangkan baik dewa maupun raja yang wafat, yang dipercaya menjadi wakil terdepan dari semua leluhur yang telah mendahului. Upacara Puja di candi tersebut tidak hanya membawa Tuhan dalam hidup melainkan juga membangunkan kembali leluhur, yang dipercaya membawa kebaikan dalam hidup generasi penerus mereka. Dalam hal ini, ritual pemujaan kepada Tuhan model India (puja) terintegrasi dengan tradisi asli dari pemujaan leluhur. Pencitraan yang melambangkan wujud yang dipuja dari raja dan ratu, tidak lagi digunakan dalam tradisi India melainkan dikombinasikan dengan atribut berbagai dewa-dewa. Aspek yang paling penting dalam meditasi diekspresikan oleh mata yang setengah terbuka dan sikap tangan. Hal ini melambangkan pembebasan dari semua belenggu duniawi dan penyatuan dengan dewa tertinggi yang membentuk realitas mutlak.

PEMUJAAN GUNUNG DAN SEKTE AIR SUCI

Berbagai sumber mengindikasikan bahwa selama Singosari dan Majapahit ini ada sebuah ritual yang berkembang, yang terfokus pada penciptaan air suci dan terkait erat dengan sekte pemujaan gunung. Sekte ini barangkali masih bertahan hingga sekarang di Bali. Seperti halnya Bali, Jawa Timur kaya dengan gunung dan tergantung dari air yang bersumber dari gunung-gunung ini untuk mengairi sawah-sawah mereka.

Sehingga adalah hal yang tidak mengejutkan bahwa mitos India tentang gunung Meru yang suci dan air suci yang memberikan kehidupan, amerta, menjadi tema favorit didalam karya sastra dan karya pahat di zaman Jawa Timur kuno. Menurut mitos ini yang diceritakan kembali didalam sebuah teks Jawa Kuno, Adiparwa, yang berasal dari abad kesepuluh, para dewa memutar lautan untuk menemukan air kehidupan. Mereka menggunakan gunung Meru sebagai tongkat pengaduk dan Naga Dunia sebagai tali pemutar.

Mitos versi Jawa yang lebih baru, yang ditulis dalam Tantu Panggelaran, menceritakan tentang para dewa yang membawa Gunung Meru dari India ke Jawa setelah dililit oleh Naga Dunia. Selama perjalanan tersebut air suci dihasilkan dengan mengguncang dan memutar gunung tersebut dan dengan bantuan tumbuhan dan pohon-pohon yang tumbuh pada gunung tersebut. Di atas Jawa sejumlah bagian dari gunung tersebut patah dan jatuh, kemudian membentuk gunung-gunung di Jawa. Para dewa meletakkan sisa gunung tersebut di Jawa Timur, yang membentuk Gunung Semeru, dan menempatkan wadah yang berisi air suci di inti gunung ini. Jelas terlihat bahwa versi ini menceritakan tentang gunungnya, bukan lautan, sebagai pusat air suci.

Peralatan yang serupa yang digunakan seorang pendeta Bali dalam upacara untuk membuat air suci juga telah ditemukan di Jawa Timur. Di antaranya adalah piring besar dari perunggu, pembakaran dupa, lampu dan berbagai jenis bejana dengan leher panjang bertingkat, dengan motif yang melambangkan puncak Gunung Meru, serta tangkai yang berbentuk kepala ular mitos (naga), sebagai lambang Naga Dunia. Jelaslah bejana ini digunakan sebagai wadah air suci, seperti Gunung Meru dikisahkan pada mitos versi Jawa.

Tempat yang disebut Candi Naga di Panataran boleh jadi telah berfungsi sebagai tempat penyimpanan air suci, karena bentuk candi tersebut menyerupai Gunung Meru. Candi tersebut dililit oleh naga dan para pendeta dewa memegang naga-naga tersebut dengan satu tangan dan di tangan yang lain memegang genta. Penggambaran ini mewakili variasi yang lain dari cerita tersebut, dan mungkin sekali mengacu kepada pembuatan air suci oleh para pendeta sebagaimana mereka membangun kembali mitos Gunung Meru.

PENCITRAAN BARU

Disamping perkembangan ini, yang tampaknya khusus bagi Jawa, inspirasi baru juga datang dari daerah subkontinen India. Bentuk-bentuk utama dari Candi Jago (Amoghapasa Lokesvara, Sudhanakumara, Tara, Hayagriva dan Bherkuti), yang berasal dari zaman akhir abad ketigabelas, membentuk sebuah kelompok ikonografi yang terbentuk di India Tenggara beberapa waktu kemudian. Peran penting dewa Buddha Prajna-paramita, dewi kebijaksanaan tran-senden, yang ditampilkan dengan empat wujud pada abad ketigabelas dan keempatbelas. Raja Kertanegara, raja terakhir dalam dinasti Singasari, tampaknya telah menambahkan unsur-unsur Tantra dalam Hindu dan Buddha, yang menitikberatkan pemujaan dewa yang berwujud mengerikan seperti Bhairawa, Siwa dalam manifestasi iblis.

Sejumlah mahluk semi dewa tampaknya telah ditingkatkan ke status dewa yang lebih tinggi selama zaman Majapahit. Dua diantaranya adalah Bhima dan Hanuman, keduanya adalah putra dari dewa Hindu yang menguasai angin, Bayu. Sejumlah wujud Bhima yang menakjubkan dan paling tidak ada lima gambar Hanuman yang telah ditemukan. Hanuman adalah sang kera yang umumnya ditemukan dalam cerita Ramayana, yang memiliki kekuatan supernatural. Bhima adalah yang kedua dan yang paling kuat di antara Pandawa bersaudara, para pahlawan dalam cerita Mahabharata. Bhima juga ditokohkan dalam teks Jawa yakni Dewaruci, di kisah tersebut Bhima mencari kebenaran sejati, yang pada akhirnya dia menemukan itu didalam dirinya sendiri. Didalam konteks naskah Jawa ini, Bhima melambangkan kombinasi antara kekuatan fisik dengan unsur mistis. Hal yang sama juga ditemukan dalam figur Hanuman, sebab keduanya digambarkan sedang memegang sebuah yoni dan bermeditasi.

Oleh: Marijke J. Klokke
Source: Warta Hindu Dharma NO. 531 Maret 2011