Hinduisme dan Buddhisme di Indonesia [2]

(Sebelumnya)

PERKEMBANGAN HINDUISME DAN BUDDHISME DI INDONESIA

Sumber-sumber utama mengenai Agama Hindu dan Buddha di Indonesia tidaklah banyak sekali, khususnya untuk periode abad kelima hingga abad keduabelas. Kebanyakan dua agama ini terkait dengan agama negara/kerajaan dan sangat sedikit informasi yang dapat diperoleh mengenai agama sehari-hari yang dianut masyarakat biasa di desa-desa. Adalah penting menyadari bahwa hal ini mewarnai berbagai konsep kita mengenai agama di zaman kuno Indonesia.

Sejarah kuno Indonesia biasanya terbagi menjadi satu periode yang lebih awal (400 M - 700 M) ketika sumber-sumber sangat kurang dan berserakan serta datang dari berbagai bagian daerah Indonesia; satu periode Jawa Tengah (732 M - 928 M) ketika pusat kekuasaan dan kebudayaan dipegang oleh Jawa Tengah; dan satu periode Jawa Timur (929 - 1500 M) ketika pusat beralih ke Jawa Timur dan ketika hubungan Jawa dan Bali menjadi intensif. Peralihan pada tahun 929 tersebut meskipun demikian tidak mencerminkan sebuah titik perpecahan yang sepenuhnya, sebab keberlanjutan dipelihara oleh oleh Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hal ini juga diterapkan ke dalam agama. Sebagian besar perubahan agama-agama fundamental muncul sekitar waktu setelah 929, selama periode Kerajaan Singasari Jawa Timur (1222-1292) dan Majapahit (1293 - 1500 M).

HINDUISME DI JAWA SAMPAI 1200 M

Di Jawa, Siva secara umum dipercaya sebagai dewa tertinggi. Seseorang oleh karena itu biasa membicarakan mengenai Siwaisme ketika merujuk kepada Hinduisme pada masa Jawa Kuno. Bahkan teks versi Jawa Kuno dari Ramayana yang mengatakan bahwa inkarnasi Wisnu yakni Rama, mengakui posisi utama Dewa Siwa. Ayah Rama digambarkan sebagai seorang pemuja Siwa; Sita, ketika terpisah dari Rama, berdoa untuk keselamatan Rama di sebuah candi Siwa; ketika Rama menasehati salah satu dari sekutunya mengenai persoalan kerajaan, Rama menitikberatkan betapa pentingnya pemujaan kepada Siwa; dan di akhir cerita, Dewa Siwa memberitahukan Rama mengenai inkarnasi kedewataannya.

Arsitektur menunjukkan betapa penting dua kelompok dewa-dewa yang mana dari keduanya berpusat kepada Siwa. Kelompok pertama terdiri atas Brahma, Wisnu dan Siwa, tiga dewa yang memutar roda dunia. Pada kelompok ini Siwa dilambangkan dalam bentuk menyerupai manusia/ anthromorfis, sebagaimana juga Brahma dan Wisnu. Dia mengambil posisi sentral dan biasanya dikisahkan sedikit lebih tinggi daripada dua dewa yang lain. Kelompok ini terdapat, misalnya, pada tiga candi utama di Candi Loro Jonggrang di Prambanan.

Kelompok tokoh lainnya ditemukan pada candi manapun baik di Jawa Tengah maupun di Jawa Timur, yang menampakkan Siwa di antara keluarga dan para pengiringnya yang setia. Dalam kelompok ini ia dilambangkan dalam wujud sebuah lingga (phallus). Lingga yang ditempatkan di atas sebuah yoni (sebuah dasar berbentuk persegi yang melambangkan organ kelamin perempuan) menduduki pusat wilayah suci di candi tersebut. Cekungan-cekungan pada tembok berisi arca yang lain: di sisi Utara, permaisuri Siwa dalam manifestasinya sebagai Durga, dewi yang berlengan seribu yang pembunuh iblis kerbau jantan; pada cekungan di tembok yang berlawanan baik yang di Timur maupun yang di Barat, putra Siwa yang berkepala gajah, Ganesa, cekungan di daerah Selatan, Agastya, seorang pendeta mitos yang dipercaya menyebarkan ajaran Siwa; dan dua pelayan Siwa yang setia, Nandiswara dan Mahakala, pada cekungan di pintu baik pintu masuk hingga bagian dalam.

Biasanya lingga dan yoni menyisakan sedikit tempat didalam ruang tengah. Tampaknya ruang tersebut tidak diperuntukkan bagi konggregasi ritual yang besar melainkan hanya menyediakan tempat bagi sedikit orang untuk melaksanakan ritual puja. Berbagai objek perunggu, seperti peralatan upacara, cawan untuk air suci, tempat pembakaran dupa, dan berbagai benda lain yang digunakan didalam titual puja menjadi bukti yang menguatkan adanya kegiatan upacara ini.

Wujud inkarnasi Wisnu, misalnya, sebagai babi jantan (waraha), manusia singa (narasinga), atau orang cebol (wamana), ditemukan pada Candi Loro Jonggrang dan Candi Ijo, dua kompleks candi utama di Jawa Tengah yang juga adalah kuil untuk Wisnu. Relief-relief yang menceritakan kisah terkait dengan inkarnasi Wisnu sebagai Rama dan Krishna dipahat pada ketiga candi utama pada kompleks Jawa Tengah candi Loro Jonggrang. Dewa lainnya seperti Karttikeya, dewa perang, dan Kuwera, dewa kemakmuran, juga dipuja di sini.

Sebagian besar dewa-dewa juga dipuja diluar konteks dari cendi tersebut. Arca batu Ganesa terdapat jauh lebih banyak dari dewa-dewa lainnya. Pernah dianjurkan bahwa pencitraan Ganesa, yang telah begitu populer oleh kemampuannya untuk mengaburkan penglihatan, ditempatkan di seluruh tempat yang merupakan wilayah berbahaya seperti perempatan dan celah tebing untuk menolak bahaya. Objek-objek perunggu, perak dan emas secara pokok berperan dalam ritual rumah tangga sebagaimana masih dilakukan juga di India saat ini.

Beberapa kelompok mungkin telah lebih memusatkan pada pemujaan lewat kehidupan asketis dalam pengasingan, yang berdiam di tempat-tempat terpencil seperti di gua-gua, di mana beberapa dari mereka telah ditemukan. Jenis-jenis peralatan besi bertanggal mulai dari abad sembilan hingga abad sebelas atau duabelas. Tampak bahwa mereka tidak berperanan di dunia religius setelah periode tersebut, karena temuan-temuan di waktu yang kemudian tidak pernah ditemukan lagi.

Raja-raja dipengaruhi baik oleh kekuatan kreatif Siwa sebagaimana dilambangkn oleh lingga maupun oleh kekuatan Wisnu yang melestarikan kehidupan dan menyelamatkan dunia dari bencana. Mereka mendirikan candi-candi lingga untuk merayakan kemenangan mereka, atau mencitrakan secara visual diri mereka sendiri sebagai inkarnasi Wisnu di Bumi. Demikianlah, Raja Jawa Tengah yang dikenal paling awal, Sanjaya, diketahui telah mendirikan sebuah lingga pada tahun 732 M setelah ia mengalahkan raja-raja di wilayah tetangga. Raja Jawa Tengah lainnya, Kumbhayoni, mendirikan tiga lingga di dataran Ratuboko lebih dari seabad kemudian setelah menaklukkan Walaing, daerah dataran Ratuboko. Raja Jawa Timur, Airlangga, di sisi lain, memvisualisasikan dirinya sebagai inkarnasi Wisnu, setelah kematiannya di tahun 1049, Airlangga dicitrakan sebagai Wisnu yang mengendarai Garuda raksasa.

Selama abad sebelas dan duabelas, raja-raja tampaknya lebih cenderung memuja Wisnu daripada Siwa. Hal ini mungkin berhubungan dengan kebangkitan ajaran Wisnu di waktu yang sama di India. Wilayah sastra Indonesia pada masa ini dibuka dengan berbagai pernyataan hormat kepada Wisnu dan penggambaran raja-raja sebagai inkarnasi Wisnu. Sebuah kitab, misalnya, mengatakan mengenai Wisnu yang berinkarnasi dalam Raja Jayabaya untuk menyelamatkan pulau Jawa. Masa ini adalah fase kemunculan sebuah perkembangan yang mekar dengan sempurna selama masa abad ketigabelas dan keempatbelas, di mana raja-raja dicitrakan serupa dewa dan dipercaya bersatu kembali dengan dewa asal mereka setelah mati. Dewa asal tersebut mungkin adalah Wisnu, sebagaimana ditemukan pada masa yang lebih awal, namun bisa jadi juga Siwa atau Buddha.

Disamping teks yang memuat tema mitologis, sejumlah buku pegangan yang ada memberikan tuntunan hidup mengenai bagaimana mencapai penyatuan dengan Tuhan dalam wujudnya yang tertinggi, yakni wujud yang transenden. Buku-buku ini berhubungan dengan pelaksanaan yoga dan membahas mengenai kualitas mistis aksara. Sebagai contoh: Bhuwanakosa, Bhuwanasamksepa, dan Wrhaspattitatwa, yang dikelompokkan oleh Zoetmulder di antara teks-teks tertu. pada masa Jawa Timur (abad sepuluh hingga abad duabelas). Kitab-kitab tersebut menunjukan betapa pentingnya Ajaran Tantra di masa itu. (Selanjutnya)

Oleh: Marijke J. Klokke
Source: Warta Hindu Dharma NO. 530 Februari 2011