(H)armonize (I)nspiring (N)aturaling (D)iversity (U)nity

Sekarang ini bangsa kita sedang menghadapi ujian yang sangat berat. Terjadi gonjang-ganjing dan hiruk pikuk drama kehidupan dari bangsa dan egara ini yang mengikuti arus pusaran karma yang tiada hentinya. Sikap-sikap intoleran mulai muncul kepermukaan dari tidurnya yang sangat panjang  dalam peradaban bangsa ini. Paham-paham radikalisme mulai menyeruak dan mengusik sisi-sisi kedamaian kita dalam berbangsa dan bernegara selama ini. Lalu terjadi polarisasi-polarisasi di tengah-tengah masyarakat kita, seperti luka kecil yang tidak terawatt dan kalau dibiarkan begitu saja akan semakin mengganga dan mengeluarkan aroma yang busuk yang menyengat.

Haruskah kita yang sudah mendarah daging lahir di tanah ini hanya berpangku tangan saja ketika melihat ibu pertiwi kita sedang menangis? Haruskah kita diam seribu bahasa ketika menyaksikan ketidakadilan terjadi didepan mata kita? Haruskah kita biarkan bibit-bibit kebencian tumbuh subur dan menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara yang sudah teruji kesaktiannya dalam rentan sejarah peradaban bangsa ini? Tentu saja tidak. Sudah saatnya kita bangkit dan berani melawan. Kita tidak boleh hanya berpangku tangan dan diam saja melihat bangsa dan negara yang kita cintai ini sedang berada di depan gerbang kehancuran berupa disintegrasi bangsa. Salah satu cara yang bias kita lakukan adalah dengan menghayati dan mengamalkan konsep HINDU yang terdiri dari (H)armonize (I)nspiring (N)aturaling (D)iversity (U)nity dalam kehidupan kita sehari-hari.

Hindu selalu mengajarkan (H)armonize, untuk mencapai keharmonisan maka secara spiritual seharusnya agama adalah pilihan bebas yang ditentukan oleh karma wasana (garis karma) yang tidak lain adalah naugerah Tuhan. Tuhan menyediakan banyak agama agar semua manusia dapat memilih salah satunya yang sesuai dengan tempramennya dan karakternya yang kemudia dijadikan sebagai petunjuk dalam hidupnya. Inilah tingkat kesadaran yang terpenting yang harus dimiliki oleh umat manusia jika manusia berharap untuk menciptakan kedamaian dan keharmonisan antar sesame umat manusia di muka bumi. Tanpa mengakui dan menempatkan agama lainnya sebagai agama yang sama dengan agama yang dianutnya, maka selama itu tidak aka nada rasa damai dan tidak akan pernah ada kejujuran di muka bumi. Setiap umat beragama harus jujur dan tidak menghianati kebenaran hati kecilnya, umat manusia harus berani menyatakan bahwa yang benar itu adalah benar dan yang salah itu adalah salah.

Hindu juga menjadi sumber (I)nspiring (inspirasi) bagi kehidupan. Menurut konsep Hindu tujuan akhir dari manusia yang dilahirkan ke dunia adalah adanya kerinduan ‘sang diri’ yang bersemayam di dalam tubuh manusia (atma) ini untuk bersatu dengan Sang Pencipta Yang Maha Agung (paramatma). Demikian juga halnya dengan tujuan akhir dari agama-agama yang ada adalah penyatuan kembali para pengikutnya dengan Sang Maha Pencipta. Dengan demikian inti agama adalah kesadaran spiritual yang di dalamnya terkandung unsur kebenaran, kebajikan dan cinta kasih Tuhan yang universal.

Hindu adalah konsep yang sangat (N)aturaling (alami) sekali, yang secara tegas mengatakan bahwa inti dari ajaran suatu agama adalah spiritualitas. Dimana dalam spiritualitas selalau diajarkan tentang perdamaian, kasih saying, tolong menolong berdasarkan kemanusiaan, hidup berdampingan dengan menerima perbedaan dan ajaran universal lainnya. Secara spiritual sesungguhnya di dunia ini tidak ada satupun agama yang mengajarkan tentang kekerasan. Kalaupun ada agama yang mengajarkan kekerasan sesungguhnya ini bukan ajaran agama, tapi hanya ulah segelintir kelompok manusia yang salah menafsirkan ajaran agamanya, sehingga melakukan tindakan kekerasan dengan belindung dibalik ‘topeng’ agama.

Hindu juga sangat menghargai (D)iversity (perbedaan) oleh karena itu sesungguhnya agama tidak perlu membawa keseragaman bentuk luar, tetapi yang terpenting adalah kesatuan dalam makna. Hal ini mengandung makna bahwa bentuk luar dari agama bisa saja berbeda-beda tetapi esensi di dalamnya adalah sama. Inilah yang terpenting dalam esensi pluralism (pluralitas). Orang-orang yang dewasa secara spiritual akan mampu menangkap esensi yang sama dalam bentuk-bentuk yang berbeda, hanya orang-orang yang masih kekanak-kanakan dalam spiritual akan berselisih pada bentuk pembungkus lontong dan pembungkus ketupat yang isi dan rasanya sama. Swami Vivekananda menyatakan bahwa semua agama itu sama, yaitu sama-sama menghantarkan manusia menuju Tuhan yang penampilan dan pelaksanaannya sesuai dengan tempat di mana agama itu tumbuh dan berkembang.

Hindu selalu bertumpu pada (U)nity yaitu adanya suatu kesatuan. Namun sesungguhnya kestuan itu bisa tercapai dalam keanekaragaman, inilah sesungguhnya makna kalimat Bhinneka Tunggal Ika, yang merupakan semboyan pemersatu yang tercengkram erat di kaki Garuda Pancasila. Kesadaran terhadap kesamaan dalam perbedaan akan menjadikan manusia semakin kaya dalam pengetahuan rohani dan juga akan menjadikan umat manusia semakin tampil elok atau indah. Jika keragaman dilaksanakan secara sadar dan suka rela sebagai sesuatu yang natural atau alamiah, maka keragaman itu akan menambah rasa suka ria, gembira, dan bahagia. Tetapi, akan terasa sangat berat sekali bila memaksakan keseragaman dengan rasa pertentangan. Dengan demikian dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa keseragaman tidak selalu berarti kesatuan, demikian pula halnya dengan keanegaragaman tidak selalu bermakna pertentangan.

Akhirnya hanya doa yang bias kita panjatkan. Semoga Hindu kian rekat dan jurang polirisasi bangsa ini kian merapat.

Oleh: I Made Rudita
Source: Majalah Wartam, Edisi 28, Juni 2017