Harmonisasi Catur Marga

Jalan memberikan pilihan dalam mengamalkan dan menghayati ajaran sanatana dharma, namun di jalan itu terdapat rambu-rambu yang patut ditaati. Kendaraan untuk meniti jalan itu tergurat dalam sastra agung Weda, Sruti, Smerti, Sila, Acara, dan Atmanastusti, namun jangan salah pilih dan salah arah dalam memakai kendaraan itu karena panjang dan luasnya jalan yaitu agama, adat dan budaya yang bhineka dan aneka. Menelusuri jalan itu, Sang Diri dalam saput jiwani dan ragawi bergerak harmoni cakra ning gilingan menyujuh moksartam dan jagaddhita.

Diperempatan jalan bhakti, karma, jnana dan yoga kita hayati sebagai satu kesatuan, bukan sebagai jalan yang terpisah. Starting pertama dengan jalan bakti marga yaitu jalan cinta kasih, ketulusiklasan (lascarya). Hal ini menjadi landasan untuk melangkah ke jalan berikutnya. Artinya bahwa dalam melakukan tindakan apapun dalam hubungannya dengan Hyang Widhi cinta kasih dan ketulusiklasan ini adalah mutlak. Mana mungkin bisa berkarma, beryadnya, melakukan ritual, bermeditasi dengan tepat namun kita masih marah, benci, dendam, iri hati, ingin paling mewah?. Bukankan pengorbanan, pemujaan, penghormatan (yadnya) harus iklas tanpa pamrih. Untuk itu cinta kasih adalah pengendalian diri sekaligus penyerahan diri secara total dalam melakukan tindakan Agama. Cinta kasih bukan kemelekatan namun kelepasan, cinta kasih bebas dalam keterikatan, Krsna bersabda pada Arjuna Wahai Arjuna Jalan Bakti adalah jalan penyerahan diri secara tulus iklas, jangan berharap hasil akan perang darma ini akan tetapi kau sebagai ksatria agung tugasmu adalah berperang.

Laku cinta kasih meredam keangkuhan dalam diri, pemurnian jiwani bahwa Hyang Widhi yang suci hanya dapat didekati dengan laku suci. Sastra Adi luhur Arjuna Wiwaha "Sasi wimba haneng ghata mesi banyu, Ndan asing suci nirmala mesi wulan, Iwa mangkana rakwa kiteng kadadining angembeki yoga kiteng sakala (Bagaikan bayangan bulan pada tempayan berisi air, tapi hanya suci murni saja yang menam-pakkan bulan, seperti itulah Engkau pada yang tercipta, pada yang tekun mengamalkan yoga Engkau nyata).

Laku bakti inilah kemudian menjadi pula landasan dalam ritual Hindu, yang sangat tampak. Ekspresi religius dalam wujud ritual yang dilandasi dengan cinta kasih pada Hyang Widhi melahirkan bentuk pela-yanan kepada Tuhan (sewaka) yaitu melayani dengan ramah. Bhagawadgita IX. 26 menyebutkan : Patram puspam phalam toyam, Yo me bhaktya prava-cchati, Tad aham bhaktyu-phrtam, Asnami prayatat-manah (Siapapun yang dengan kesujudan mempersembahkan padaKu daun, Bunga, buah-buahan atau air persembahan yang didasari dengan cinta dan keluar dari hati suci, aku terima).

Rotasi berikutnya karma marga merupakan jalan dengan melakukan aktivitas kerja. Jalan karma ini sebagai kesatuan pikiran, perkataan dan perbuatan. Dalam Sarasmuscaya 73 disebut prawrttyaningkaya, wak, manah kengeta artinya perbuatan yang timbul dari gerakan badan, perkataan dan pikiran itulah yang patut diperhatikan. Ajaran karma yang terpenting adalah bagaimana kita bekerja tanpa pamrih atau bekerja tanpa mengikatkan diri pada hasil. Seperti yang disebutkan dalam Bhagawadgita II. 47: Karmany eva dhikaras te, Ma phalesu kadacana, Ma karmaphalahetur bhur, Ma te sango stv akarmani (Hanya pada pelaksanaan, engkau mempunyai hak dan tidak sama sekali pada hasilnya, janganlah hasil dari pekerjaan itu menjadi alasanmu, juga jangan membiarkan dirimu untuk tidak melaksanakan suatu pekerjaan apapun).

Di kedua jalan inilah penampakan ajaran Hindu dalam wujud ritual (panca yadnya), aktivitas dan kreativitas keagamaan yang meriah. Dalam jalan bhakti dan karma ini dalam dimensi religius Tuhan di hadirkan bagai tamu istimewa, di undang (tedun) diberikan persembahan (upakara) dilakukan pemujaan puja mantra melakukan permohonan. Aktivitas bhakti dan karma sangat tampak berupa banten, sesajen. Umat Hindu menyembah Tuhan di berbagai tempat dengan berbagai per-sembahan pula. Tuhan di puja sebagai yang ngiyangin berbagai aspek kehidupan baik itu di pasar, dikebun, di sawah, dipohon besar, di batu besar, kantor, peternakan, perdagangan, kekayaan, kesehatan, kesenian, ilmu pengetahuan, kerajinan dan yang lainnya. Dengan demikian hampir tidak ada aspek kehidupan yang lepas dari agama Hindu.

Jalan jnana yaitu persem-bahan ilmu pengetahuan sangatlah utama, umat hindu meyakini bahwa ilmu pengetahuan bersumber dari Hyang Widhi menyebarkannya, berbagi dalam proses belajar mengajar, diskusi, ritual keagamaan, memberikan pengetahuan pada sesama adalah yadnya utama. Pengetahuan yang dimiliki tidak akan berarti dan berfungsi apabila tidak kita bagi. Persembahan ilmu pengetahuan tentunya pengetahuan tentang kebenaran, bukan pengetahuan yang membuat tersesat. Srayan dravyamayad yajnajnanayajnah paramtapasarvam karma khilam parthajnane perisamapyate (persembahan berupa ilmu pengetahuan, paramtapa lebih bermutu dari pada persembahan materi, dalam keseluruhannya semua kerja ini berpusatpada ilmu pengetahuan).

Kemudian jalan yoga lebih pada penghayatan ajaran agama ke dalam diri, dengan tekun disiplin melakukan pengendalian diri, konsentrasi pikiran pada Hyang Widhi. Jalan yoga yang pada intinya adalah pengendalian gerak pikiran (yogas cittawrrti nirodhah). melalui pengendalian fungsi badan, indriya, pikiran, rasa aku dan sebagainya dan menyadari roh (spirit) yang mengatasi segala. Yoga menunjukkan jalan praktis pendidikan spiritual untuk mengalami kenyataan roh tersebut, jalan itu adalah dengan penyucian diri dan pemusatan pikiran, yang mengantar orang dapat mem-bedakan asas rohani dan asas jasmani (purusa dan Prakerti) pengetahuan spiritual yoga dipraktekkan secara bertahap pertama bahwa bahwa pemahaman Secara fisiologis yaitu belajar yoga tidak mengingkari keberadaan tubuh, tubuh diolah agar sehat dengan asana dan pranayama. Kemudian berjenjang tahap yang lebih halus yaitu pikiran (manah) sebagai rajendriya berfungsi mengendalikan indriya bawa-hannya (dasendriya) dengan praktek pratyahara, dharana, dhyana. Kemudian untuk menunggal, menyatu dengan Iswara (Tuhan).

Gerak catur marga adalah harmoni bukan bagian terpisah, cinta kasih (bhakti) sebagai pondasi melakukan karma, jnana dan yoga marga. Dalam melakukan ritual landasannya adalah ketulusiklasan, cinta kasih baru bisa melakukan karma majejahitan, nanding banten (dharma kriya), tentunya dengan pengetahuan, petunjuk tradisi dan sastra yang benar serta dibutuhkan konsentrasi, pengendalian diri yang benar. Oleh karenanya pikiran boleh jnanin danyogin tapi laku adalah bhakti dan karmin.

Oleh: Nyoman Dayuh
Source: Wartam Edisi 19, September 2016