Hari Raya Nyepi dalam Perspektif Tri Hita Karana

Hari suci atau hari raya merupakan hari yang diperingati secara istimewa berdasarkan keyakinan umat Hari suci atau hari raya mempunyai makna dan fungsi yang sangat penting sebagai penuntun dalam mengarungi dunia kehidupan ini. Hari Raya Nyepi merupakan Hari Raya yang dilaksanakan setiap tahun yaitu sehari setelah Tileming Sasih Kesanga.

Sejarah  mencatat  tentang perkembangan lahirnya tahun Saka ini adalah di india. Pada saat itu di India banyak terdapat suku-suku bangsa, dan diantara mereka tersebut saling bermusuhan yang ingin menguasai dan menjajah daerah lain yang dikuasai oleh suku bangsa lain. Suku-suku bangsa itu antara lain : Saka (Scythia) Pahlawa (Parthia), Yueh-chi, Yawana dan Malawa. Mereka berkeinginan saling menundukkan saru sama lainnya, dan mereka silih berganti dapat menguasai daerah-daerah tersebut. Suatu ketika suku bangsa Saka yang mengalami masa jaya dan digjayanya yang mampu mengalahkan dan menundukkan suku-suku bangsa lainnya. Suku bangsa Saka adalah suku bangsa pengembara yang terkenal dengan ramah dan riang dalam menghadapi segala tantangan hidup.

Suatu saat suku bangsa Saka terdesak oleh suku-suku bangsa lainnya, oleh sebab itu suku bangsa Saka membikin suatu strategi baru, dari perjuangan politik dan militer untuk merebut kekuasaan menjadi strategi perjuangan di bidang kebudayaan. Hal inilah menyebabkan suku bangsa Saka dengan kebudayaan yang tinggi benar-benar memasyarakatkan dan diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat.

Pada tahun 78 M, seorang dai Dinasti Kusana bernama raja Kaniska naik tahta kerajaan. Raja ini sanga bijaksana, bahkan pada hari Minma tanggal 21 Maret 79, Purnama Waisak kebetulan hari itu gerhana bulai menetapkan panchanga atau kalenda sistem Saka, untuk juga mengena™ kejayaan dan hari penobatan raja Kaniska I. Sejak saat itulah ditetapkan perayaan tahun saka. Dengan ditetapkannya tahun Saka ini, merupakan tonggak sejarah yang mampu menutup permusuhan yang terjadi antar suku-suku bangsa di india. Sejak saat ini bangkit dan berkembang suatu sikap toleransi antar suku bangsa, bahkan juga toleransi antar agama.

Masuknya agama dan kebudayaan Hindu ke Indonesia membawa perubahan yang sangat mendasar bagi bangsa Indonesia, begitu juga Bali (Agama Hindu) kena pengaruhnya dan menerima Hari Raya Nyepi ini sebagai Tahun Baru Saka. Umat  Hindu merayakan hari raya Nyepi dengan tidak melaksanakan aktivitas duniawi apapun. Hidup tanpa aktivitas phisik, ini dimaksudkan adalah untuk memadamkan kobaran api indriya atau nafsu. Karena suasananya yang khas yaitu sepi atau sunyi, maka hari raya ini disebut sebagai Hari Raya Nyepi.

Di Bali Hari raya Nyepi didahului dengan upacara melasti/Mekiyis ke tempat-tempat yang dianggap suci seperti mata air, sungai danau dan laut. Pelaksanaan upacara melasti/mekiyis ini disesuaikan dengan desa, kala dan patra. Tujuan dari upacara ini adalah unutuk menyucikan buana agung dengan membuang/nganyut segala kotoran (leteh, mala) bumi serta mengambil Tirta Amerta Sehan sebelum Hari Raya Nyepi dilaksanakan tawur atau caru yang dilanjutkan dengan acara ngerupuk/menjaga-jaga. Besoknya, dilanjutkan dengan nyepi sipeng dengan melaksanakan brata penyepian selama 24 jam. Sehari setelah Nyepi Sipeng dilanjutkan dengan Ngembak Gni dengan melakukan kunjungan ke tempat-tempat hiburan, berkunjung ke rumah saudara/kerabat.

Hari Raya Nyepi dalam Persepektif Tri Hita Karana
Hari raya Nyepi dilaksanakan setiap tahun sekali adalah salah satu tonggak pendakian sepiritual bagi umat Hindu yang pada gilirannya mampu meningkatkan kualitas diri sehingga ketentraman individu dan ketentraman jagat dapat tercapai. Dilihat dari kegiatan umat Hindu, Hari raya Nyepi mengandung dua (2) aspek kegiatan umat, yaitu kegiatan ritual dan kegiatan moral atau mental pribadi. Kegiatan ritual ditandai dengan pelaksanaan upacara yang dilaksanakan sebelum Hari raya Nyepi seperti upacara melasti/mekiyis, tawur/mecaru dan pengerupukan. Sedangkan upacara pembinaan morallmental pribadi dengan melaksanakan Catur Bratha Penyepian dan acara ngembak geni (darma santi, saling kunjung-mengunjungi).

Dilihat dari sudut pelaksanaan upacara Nyepi yang dilaksanakan oleh umat Hindu, maka dapat dihubugkan dengan Tri Hita Karana. Tri Hita Karana merupakan tiga macam hal yang menyebabkan terciptanya kesejahtraan dan kemakmuran itu meliputi Parahyangan, Palemahan dan Pawongan. Parahyangan merupakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, pazvongan merupakam hubungan harmonis antara manusia dengan manusia dan Palemahan merupakan hubungan harmonis antara manusia dengan alam.

Mekiyis/melis/melasti. Harmonisasi hubungan manusia dengan Ida Sang Hyang Widi Wasa (Parhyangan), diwujudkan dengan tetap menjaga keseimbangan magis kesucian Pratima-1 ralmgga atau Arca pecanangan Ida Bhatara beserta isi alam ini melalui upacara Melis/Melasti. Mekiyis/melasti yang artinya menyucikan pretime dan prelmgga serta alat-alat upacara agama lainnya dan ngiring Ida Bhatara yang bersetana di pura mencari sumber kekuatan hidup (amerta) dan sumber kemakmuran. Tempat yang dituju dalam mekiyis/melasti/melis yakni sumber mata air (telebusan), sungai (campuhan), danau dan laut yang dianggap suci. Pada umumnya laut yang banyak dikunjungi/dipakai tempat mekiyis/melis/melasti karena laut merupakan sumber air yang terbesar, dimana seluruh air sungai menuju laut. Dengan proses pemanasan sinar matahari, air laut menguap menjadi embun naik kelapisan atmosfer sehingga terjadi hujan. Air hujan ini menyebabkan terjadinya mata air dan sungai. Setelah menjadi air hujan, mengalir ke sungai yang pada akhinya kembali ke laut.

Upacara Melis pada hakekat-nya betujuan untuk "Angayudaken Laraning Jagat paklesa letuhing bhuana" artinya melenyapkan penderitaan masyarakat, melepaskan kepapaan dan kotoran alam. Amet Sarining Amerta Kamandalu ri Telenganing Samudra, yang artinya memohon sari-sari air kehidupan di tengah samudra. Dengan adanya air kehidupan di dunia ini berajalan berdasarkan Hukum Rta.-Disampi itu juga, tidak digelapkan oleh materi-materi duniawi, melainkan dapat menjadikan diri sediri dan masyarakat yang dapat memancarkan sinar suci Ida Sang Hyang Widi Wasa.

Taur/mecaru. Hubungan yang harmonisasi antara manusia dengan a am lingkungan (Bhuana Agun?) disebut dengan Palemahan. Upacara tawur/cam dilaksanakan, merupakan korban suci untuk para Bhuta (nfahluk ciptaan Ida Sang Hyang Widi Wasa yang kemuliaannya dibawah manusia), yanf patut juga dihormati untuk kese-imbangan alam semesta. Bhuta Yadnya merupakan salah saru yadnya dari panca yadnya yang dikenal oleh umat Hindu yang tujuannya untuk mensejahterakan tumbuh-tumbuhan dan melestarikan lingkungan hidup.

Mulai dari sasih keenam dengan nangluk merana,kita sudah mulai waspada terhadap akibat dari kotornya udara dengan mengadakan caru/tawur. Sasih kepitu kita mohon ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan bersemedi semoga dianugrahi keselamatan, karena akan datangnya sasih Kawulu dan sasih Kesanga. Sasih Kawulu biasanya terjadi hujan yang lebat yang disertai dengan angin ribut. Oleh karena itu pada sasih Kesanga diadakan upacara tawur/caru oleh Umat Hindu menurut desa, kala dan patra serta disesuaikan dengan kemampuan.

Hari Raya Nyepi diwujudkan melalui upacara Tawur Kesanga atau pecaruan dan Ngerupuk yang mengandung makna agar Bhuana agung yakni alam semesta ini tetap berada dalam hukum Rta, tidak berbenturan satu dengan yang lainnya. Penyucian alam ini dengan tawur/caru adalah usaha sadar manusia untuk menjaga keseimbangan magis Bhuana agung, serta persembahan terhadap bhuta kala agar menjadi bhuta Hita atau sifat-sifat negatif pada Bhuta Kala menjadi Somia.

Sarana upacara tawur/caru sudah barang tentu mempergunakan hewan dan tumbuh-tumbuhan. Ada semacam pesan moral yang disampaikan oleh leluhur kita untuk membudidayakan sarana-sarana upa-kara Dengan membudidayakan sarana upakara seperti binatang dan tumbuh-himbuhan, maka akan terhindar dari kelangkaan atau kepunahan baik itu bumbuh-tumbuhan ataupun binatang Dalam melestarikan lingkungan perlu adanya tindakan nyata seperti dengan menanam pepohonan, menggunakan air secara efisien dll. Akhir-akhir ini melalui media elektronik dan media cetak, betapa sedih dan prihatinnya kita terhadap keberadaan luitan yang ada di tanah air, dimana kayu-kayu yang ada di hutan ditebang secara besar-besaran/ ilegal logging. Perusahaan yang mendapat ijin untuk menebang hutan tidak diikuti dengan reboisasi. Disamping itu oknum masyarakat juga mencuri kayu di hutan. Adanya pembakaran hutan di musim kemarau sudah menjdi pemandangan umum di kota-kota besar seperti Kalimantan, Sumatra, Sulawesi dll.

Di akhir tahun 2006 dan di awal tahun 2007 lewat media cetak maupun media elektronik lewat media cetak maupun media elektronik kita menyaksikan terjadinya bencana alam, seperti banjir dan tanah longsor. Bencana alam ini mengakibatkan kerugian yang sangat besar baik itu materi maupun mental masyarakat dan bahkan merenggut korban jiwa. Gejala bencana alam yang terjadi di tanah air semakin tahun semakin meningkat. Walaupun pemerintah sudah melakukan reboissi hutan, namun belum sepenuhnya hutan yang gundul dapat dihijaukan kembali.

Brata Penyepian dan Ngembak Gni.

Pulau Bali dihuni oleh sebagian besar penduduknya beragama Hindu yang memiliki kekhasan tersendiri. Kehidupan orang Bali dengan kebudayaan yang dijiwai oleh Agama Hindu, lebih-lebih menitik beratkan pada keharmonisan hidup dilandasi ajaran filsafat sosial "Menyama braya" sebagai pengejawatan ajaran Tat Twam Asi.

Penerapan ajaran tersebut terpolakan dalam kehidupan sehari-har melalui ikatan terkecil keluarga (mrajan), khayangan Tiga/Desa Desa samai kayangan jagat.

Harmonisasi hubungan manusia dengan dirinya sendiri (Bhuana alit) atau dengan orang lain (Pawongan) diwujudkan dengan melaksanakan Brata penyepian. Dengan brata penyepian tidak ada interakssi antara individu dengan individu sehingga dapat mengurangi komplik. Untuk itulah umat Hmdu pada Hari Raya Nyepi melaksanakan Catur Brata Penyepian yaitu: empat jenis bratha yang wajib dilaksanakan oleh umat hindu antara lain:

1. Amati Geni maksudnya tiada berapi-api
2. Amati karya maksudnya tiada bekerja /menghentikan kerja.
3. Amati Lelungan maksudnya tidak bepergian
4. Amati Lelanguan maksudnya tidak melampiaskan /indrya.

Brata penyepian semacam ini sesungguhnya mengandung arti sebagai janji terhadap diri sendiri untuk dapat mengenal sang diri yang lebih mendalam lagi, sehingga kita selalu berada daam keseimbangan. Kalau diperhatikan secara mendalam maknanya berupa mengendalaikan hawa nafsu atau tidak mengobarkan api hawa nafsu yang ada pada diri sendiri. Pengendalian diri tersebut ada 10 (sepuluh) yang disebut dengan karmapatha, sesuai dengan apa yang tersurat dan tersirat dalam Sarasamuscaya 73 sebagai berikut:

"Hana karmaphatha ngaranya, khrtaning indrya, sepuluh kewehnya, ulekena, kramanya : prawrtiyaning kaya, telu pinda sepuluh, prawertyaning, wak, manah kangeta"

Artinya:

Adalah karmapatha namanya, yaitu Pengendalian hawa nafsu, sepuluh banyaknya yang patut dilaksanakan gerak pikiran tiga (3) banyaknya, ucapan/perkataan empat (4) jumlahnya, gerak tindakan/laksana tiga (3) banyaknya, Jadi sepuluh (10) jumlahnya perbuatan yang timbul dari gerakan badan, perkataan dan pikiran, itulah yang patut dilaksanakan.

Berfikir yang bersih dan suci antara lain tidak menginginkan sesuatu yang tidak halal, Tidak berfikir buruk terhadap makhluk lain, Percaya akan ajaran karmaphala. Berkata dengan baik, sopan, jujur dan benar, serta yang perlu dihindari yakni berkata jahat, menyakitkan, kotor (ujar ahala), berkata keras, menghardik, kasar (ujar apergas), memfitnah (ujar pisuna), berbohong (ujar pisuna). Perbuatan yang diharapkan yakni jujur, baik dan benar, tidak menyiksa dan membunuh (amati-mati), tidak mencuri/curang (mangahala hala) serta tidak berbuat zina (si paradara). Kayika, wacika dan manacika hendaknya jangan dilakukan, baik itu dalam bercanda, darurat maupun dilanda kemalangan.

Di samping mengendalikan diri, menghayati dan menjalankan apa yang disebut dengan mulat sarira, akan tercipta serta terjaga ketentraman lahir dan batin mulai dri lingkungan keluarga sampai masyarakat pada umumnya. Dengan tahu menyadari dari sendiri, atau mulat sarira merupakan salah satu modal yang kekal abadi tanpa melihat kesalahan-kesalahan orang lain. Sangat mustahil kita dapat mewujudkan ketenangan, bila setiap saat ingin mengoreksi orang lain semata-mata tanpa memperhatikan pribadi kita terlebih dahulu.

Source: I Gede Manik l Warta Hindu Dharma NO. 519 Maret 2010