Hari Raya Galungan (Kajian Filosofis dan Teologi) [3]

(Sebelumnya)

Menurut I Gede Marayana yang mengutip dari buku Primbon dan Almanak (dalam kalender tahun 2009), bahwa masing wuku memiliki makna teologis Hindu, seperti: Sinta dewanya adalah Bhatara Yamadipati, Landep dewanya dalah Bhatara Mahadewa, Ukir dewanya adalah Bhatra Mahayekti, Kulantir dewanya adalah Bhatara Langsur, Tolu dewanya adalah Bhatara Bayu, Gumbreg. dewanya , adalah Bhatara Chandra, Wariga dewanya adalah Bhatara Asmara, Warigadean dewanya adalah bhatara Maharesi, Julungwangi dewanya adalah Bhatara Sambhu, Sungsang dewanya adalah Bhatara Ghana, Dungulan dewanya adalah Bhatara Kamajaya, Kuningan dewanya adalah Bhatara Indra, langkir dewanya adalah Bhatara Kala, Medangsia dewanya adalah Bhatara Brahma, Pujut dewanya adalah Bhatara Guritna, pahang dewanya adalah Bhatara Tantra, Krulut dewanya adalah Bhatara Wisnu, Merakih dewanya adalah Bhatara Surenggana, Tambir dewanya adalah Bhatara Bhatara Siwa, Medangkungan dewanya adalah Bhatara Basuki, Matai dewanya adalah Bhatara Sakri, Uye dewanya adalah Bhatara Kuwera, Menail dewanya adalah Bhatara Citragada, Perangbakat dewanya adalah Bhatara Bhisma, Bala dewanya adalah Bhatara Dhurga, Ugu dewanya adalah Bhatara Singa Jalma, Wayang dewanya adalah Bhatara Shri, Klawu dewanya adalah Bhatara Sedhana, Dukut dewanya adalah Bhatara Baruna, Watugunung dewanya adalah Bhatara Antabhoga.

Lain lagi dalam cerita Mayadanawantaka atau kematian Si Mayadenawa, adalah judul sebuah karya sastra kakawin karangan Dang Hyang Nirartha. Dinyatakan bahwa Mayadenawa putra Dewi Danu adalah seorang pertapa yang teguh. Ia melakukan tapa di punggung gunung Ksitipogra. Setelah ia mendapat anugrah dewata atas tapanya ternyata kelobaannya menjadi-jadi, sehingga negeri Bali, wilayah kekuasaanya menjadi diselimuti ketakutan. Si Mayadanawa tidak saja senantiasa mengumpulkan, emas tetapi juga menghancurkan segala bentuk upacara atau yadnya, Kakawin ini menyuratkan hal hal itu dengan indah:

Tekwan saktinya tan popama juga karengo kala tulyeng pracanda/ mwang wadwanyanyangarista ngalahala lumuran salwiring dharma yakti/ melik ring yajna lawan tapa sahanikang parhyangan syuh rinungnya/ nindeng sastra pramadeng hayu cumasadikang sarwa tattweng atita.

Artinya :

Tak ada bandingannya kesaktiannya, terkendali bagaikan Kalantaka yang sangat hebat bersama tentaranya ia merusuh, mengacau, menyakiti dan menghancurkan segala sifat-sifat dharma sejati/ ia menghina sastra dan ajaran agama, menghina kebaikan dan mencela ajaran-ajaran suci yang diwariskan (Ki Nirdon, 1989:35).

Cerita di atas mengisahkan Galungan yang berawal dengan kekalah Si Mayadenawa melawan kekuatan Bhatara Siwa (disebut juga Bhatara Indra) dalam peperangan di daerah Tampak Siring Gianyar-Bali. Hal ini mengandung nilai teologi Hindu, bahwa kebenaran selalu jaya dan wijaya, yang patut menjadi renungan suci dan spiritual bagi segenap umat Hindu. Berbakti kehadapan Bhatara Siwa adalah kewajiban suci memohon kerahayuan sarwa maurip.

Dalam sumber Sundarigama (dalam Dwija Putra, 1999:4-5) bahwa.... nihan Bhatari Dalem, pamalan ida ring wong Bali, poma, haywa lali, kangetakna. Yan katekaning sasih kapitu, anemu dungulan muwah anemu tilem, ring wuku Dangulan tan kawenang ngangalung wong Bali ika, kalarau ngarania yan mangkana, tan kawasa mabanten tumpeng. Yan hana tuwah anemu sasih kasange rah 9, pituwi anggek 9, tunggal lawan sasih kapitu. ?igug yan ya mawa gering, wenang acara wong Bali ika, nasi cacahan mawor keladi. Yan tan anut ring pawarah Bhatari Dalem, yan ya murug mogha yan sira lara masasangi bwat katibening gering, dimanise ngaturang Mankana Galungan Ika anemu sasih kapitu muwah kesanga, rah 9. tenggek 9, tuwi anemu tilem ring wuku Galungan ika, sama lama, mapan sang kala anglarani, bhatara samungkem, aywa nglianin pasalin rah mwang tenggek, makadi sasih. Yan sira ngadegaken sakramaning desa ring Bali ,hayu phalaning sajagat, yan amurug sakehing desa-desa tan urung katiban gering satahun-satahun, reh Galungan NARAMANGSA ngarania.

Dalam kutipan dipahami bahwa setiap Galungan Naramangsa yang perayaannya bertepatan dengan Tilem Kapitu dan Kasanga atau pada sasih Kapitu dan sasih Kasanga, maka umat Hindu wajib menghaturkan caru nasi cacahan maoran keladi. Juga tidak menhaturkan sajen tumpeng serta ulam babi. Hal ini sesuai dengan pawarah bhatari Dalem atau Dewi Durgha. Jadi intinya pada saat pada saat Galungan Naramangsa adalah untuk pemujaan bhatara Siwa dengan sakti-Nya Dewi Durgha. Haj ini sesuai dengan perayaan Durgha Puja pada saat perayaan Wijaya Dasami bagi umat Hindu di Bharatya.

Dalam keyakinan umat Hindu di Bali bahwa Tuhan Yang Maha Esa/ Ida Sang Hyang Widhi Wasa bersthana di gunung Agung atau Toh Langkir. Pada Galungan. Diketahi penjor Galungan merupakan rasa terimakasih, angayu bhagya, serta astungkara umat Hindu atas anugerah Beliau yang diberi gelar Naga Ananta Bhoga dan Naga Basuki. Kedua sakti Bhatara Siwa tersebut sebagai kekuatan yang menguasai bumi atau perthiwi dan juga kekuatan angkasa atau akasa. Jadi kekuatan Bhatara Siwa yang berwujud Ananta bhoga dan Naga Basuki merupaan kekuatan yang maha dahsyat atu maha sakti yang menguasai bumi termasuk sagara.

Bumi dengan nyasa Giri atau gunung sebagai lingga Bhatara Siwa. Sedangkan sagara atau samudra sebagai nyasa yoni. Kekuatan lingga dan yoni sebagai kekuatan Bhatara Siwa yang setiap enam bulan sekali (Budha Kliwon Dungulan) sekali dirayakan oleh umat Hindu ditandai dengan memasang penjor Galungan, selain sebagai ucapan terimakasih, juga sebagai wujud bhakti, hormat, bersyukur kehadapan Bhatara Siwa, karena telah memberikan anugerah kemenangan, kemerdekaan, kelepasan, dan kerahayuan jagat dengan segala isinya.

Kemudian menurut Made Sumerta (1999:23-24) bahwa penjor memiliki beberapa arti, seperti sarin tahun, lambang Naga Ananta Bhoga, dan lambang Naga Basuki. Penjor yang dipasang pada hari raya Galungan di depan rumah adalah merupakan satu persembahan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi Beliau sebagai Bhatara Mahadewa yang dianggap berkedudukan di gunung Agung. Segala perlengkapan pada penjor itu seperti : jajan, ubi, buah-buahan dan sebagainya adalah persembahan dengan kegembiraan bahwa Ida Sang Hyang Widhi Wasa 'telah menganugrahkan kemakmuran kepada umat manusia, dengan cukup sandang, dan cukup pangan.

Ada kelebihan jika memasang penjor pada waktu hari raya Galungan yang jatuh pada hari penanggal kelimabelas sering disebut purnama dan jatuh pada hari pangelong kelima belas yang sering disebut dengan tilem. Penjor yang dibuat pada Galungan Nadi, Galungan yang bertepatan dengan Purnama, maka perlengkapan Penjor upacara tidak ada perbedaan. Sedangkan hari raya Galungan jatuh tepat dengan tilem, maka perlengkapan penjor upacara ditambah dengan meletakkan lampu minyak kelapa di bagian bawah penjor. Lampu ini dibuat dari buah kelapa lengkap dengan isi dan batoknya, sumbu lampu terbuat dari lapas dengan minyak kelapa.

Kemudian dalam Sundarigama (dalam Ni Made Suryanti, 1992:26) disebutkan bahwa Budha Kliwon Dungulan, ngaran Galungan, patitis ikang jnana sandi galang apadang mariakena bioparaning idep (Budha Kliwon Dungulan namanya Galungan, untuk mengarahkan bersatunya jnana untuk mendapatkan pandangan yang jelas untuk melenyapkan kemelut pikiran). Secara teologi Hindu, bahwa pada hari raya Galungan kepada segenap umat Hindu diharapkan melakuan konsentrasi atau penyatuan pikiran kehadapan Bhatara Siwa beserta prabhwa-Nya termasuk juga kehadapan Pitara-Pitari, Leluhur, Sasuhunan, dan Bhatara-Bhatari yang telah memberikan kemuliaan, ke-makmuran, kesejahtraan, keba-hagiaan, kesempurnaan, kerahayuan, dan kesempurnaan hidup secara lahir dan batin. Kiranya dengan makna Galungan jika dipandang dari sudut teologi Hindu bahwa umat Hindu wajib berbhakti, melakukan persembah¬yangan sesuai sasana, tata krama, tuntunan pustaka suci Hindu dan berdasarkan dresta atau sirna yang berlaku dimanapun umat Hindu berada atas dasar ketulusan dan keiklasan.

Perayaan Galungan merupakan hari suci umat Hindu untuk memuliakan dan memuja Tuhan Yang Maha Esa / Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan'semua prabhwa-Nya pada saat Budha Kliwon Dunggulan. Perayaan Galungan jika di Bharatiya dirayakan dengan nama Sraddha Wijaya Dasami atau Durgha Puja. Secara makna bahwa perayaan Galungan sebagai wujud Sraddha dan bhakti umat Hindu kepada Tuhan Yang Maha Esa/Dewa-Dewi/Bhatara-Bhatari, Pitara-Pitari, sasuhunan, yang telah memberikan anugrah kebenaran sejati serta kemakmuran hidup di dunia ini, yakni mokshartam jagat hiata ya aca iti dharma/jaya prakoseng perang, anyekung jnana sudha nirmala. Prekteknya yakni dengan melaksanakan tapa, brata yoga, lan samadhi.

Perayaan Galungan oleh umat Hindu sesungguhnya memiliki nilai-nilai filosofi Hindu yang sangat mulia dan luhur. Galungan merupakan hakikat diri menuju kemenangan, kemerdekaan, kelepasan, dan kerahayuan sakala dan niskala. Kemenagan dharma atas adharma, merupakan merupakan kemenagan umat Hindu untuk selalu berbakti kehadapan Bhatara Siwa selaku penguassa dharma. Begitu juga bahwa umat Hindu bahwa umat Hindu telah mmpu melewati ujian Bhatra Siwa dengan segala prabhawa-Nya sesuai nilai-nilai teologi Hindu.

Upaya penggalian mengenai mekna perayaan Galungan olaj^ umat Hindu, perlu semak^P ditingkatkan terus dari berbagai perspektif, baik filosofi, teologi, etika, estetika, ritual, dan sebagainya. Para intelektual muda Hindu dari berbagai kalangan mesti sadar dan eling untuk pengkajian ajaran agama Hindu dalam berbagai domain sangat penting diupayakan, walaupun sekecil apapun. Lakukan yang terbaik demi kemajuan wawasan sa'rwa jnana Hindu Dharma bagi para sadharnma Indonesia.

Oleh: I Ketut Subagiasta
Source: Warta Hindu Dharma NO. 527 Nopember 2010