Gunung

Pengetahuan masyarakat Bali tentang lingkungan alam semesta sesungguhnya sangatlah sistematis, holistik, dan cenderung mengarah kepada ekosentrisme. Lingkungan alam semesta adalah suatu harmonia yang diciptakan dan diatur oleh Brahma. Planet-planet disebut sebagai Brahmanda (telur Brahma) sebagaimana dituangkan dalam Kitab Brahmanda Purana (1993). Manusia wajib senantiasa menjaga keharmonisan alam itu dengan terlebih dahulu memahami hukum-hukum yang dimilikinya (Rta).

Keharmonisan alam semesta yang juga disebut Bhutahita atau Jagathita akan juga memberikan Jagathita/kesejahteraan kepada manusia. Dalam konteks hubungan manusia Bali (Hindu) dengan gunung, orang-orang Bali mengajak umatnya untuk menghormati gunung sebagai penghormatan tertinggi pada Siwa. Kepala Siwa dengan rambutnya yang tebal dimaknai oleh umat sebagai hutan lebat di gunung atau pegunungan. Itu sebabnya gunung sebagai hulunya bumi sangat dihormati, yang diwujudkan dengan mendirikan tempat suci di puncak-puncak gunung karena dimaknai akan memberikan kesejahteraan kepada umat manusia.

Di dalam teks sastra agama ada disebutkah, Sapta-parvata (tujuh gunung), yaitu (1) Kula parwata, (2) Aranya-parwata, (3) Hiranya-parwata, (4) Ela-parvata, (5) Hari Parvata, (6) Kinnara-parvata, dan (7) Bharata-parvata disamping itu penghormatan kepada gunung juga termuat dalam Reg Weda (8.6.28) ada disebutkan demikian: Upahware girinam samgatha ca nadinam, dhiya wipro ajayata (di tempat-tempat yang hening (upahware), digunung-gunung dan pada pertemuan/campuhan sungai-sungai, disanalah para Maha Rsi/bijaksana mendapatkan pemikiran jernih dan suci). Konsep-konsep ksirarnawa, tirtha amerta, banaspati, wanandri, yang sering digunakan dalam karya sastra menunjukkan kearifan akan gunung.

Pada zaman megalithik kepercayaan terhadap gunung sudah diterapkan oleh masyarakat yang hidup pada zaman itu, baik berdasarkan atas kepercayaan maupun atas dasar rasional berpikir masyarakat pada waktu zaman megalitik itu. Berdasarkan kepercayaan menunjukkan bahwa gunung adalah tempat bersemayamnya roh para nenek moyang dan kakek moyang masyarakat. Para arwah nenek moyang masyarakat tersebut bersemayam di puncak gunung, dan oleh sebab itu gunung dianggap sebagai tempat yang suci yang selalu haras disucikan dengan berbagai aktivitas spiritual, seperti upacara, meditasi, semadi, dan perilaku-perilaku lainnya yang mencirikan adanya usaha untuk menyucikan tempat itu.

Penyucian-penyucian tempat itu (gunung) akan memberikan umpan balik kepada para penganut dari serangan para roh jahat, para bhuta kala yang berhati jahat sehingga keselamatan jiwa para pendukung kepercayaan tersebut bisa terpelihara dengan baik. Dengan pemujaan yang terus menerus tanpa pemah henti niscaya para pendukung kepercayaan tersebut akan terhindari dari mara bahaya karena mereka telah dilindungi oleh para roh nenek moyang yang sudah suci dan disucikan di puncak gunung itu. Menjadi hal yang sebaliknya apabila mereka melupakan para roh nenek moyang yang sudah suci tersebut dan adanya usaha untuk tidak menyucikan lagi maka tidak beberapa lama marabahaya akan menimpa mereka sekalian.

Gunung yang membentang di tengah-tengah pulau Bali adalah gunung yang sangat indah dan disucikan oleh umat Hindu, gunung yang membentang membelah pulau Bali telah memberikan kehidupan bagi masyarakat, beraneka ragam ak- tivitas budaya bermunculan di daerah ini mulai dari keberadaan air hangat, air terjun, sungai, danau dan berbagai keindahan alam lainnya, dan tentunya keberadaan peradaban agung yang dimiliki orang Bali.

Meletus
Dewasa ini, kita dihadapi dengan kekeringan yang menjebak kita dengan meletusnya gunung Agung, Sungai-sungai yang berhulu di Gunung Agung yang akan mengalirkan air ke sungai akan mengalami kekeringan antara lain: yakni Tukad Unda, Tukad Buhu, Tukad Jangga, Tukad Batuniti, Tukad Nusu, Tukad Sringin. Tukad Ringuang, Tukad Penunggugan, dan Tukad Abu. Di DAS Unda khususnya, terdapat 4.270 hektar sawah yang akan berdampak. Selain DAS 9. Ada 12 embung di Baturinggit, Datah, Besakih, Muntig, Seraya, Badeg, Telung Buana, Datah II, Bukit Dukuh, Untalan,dan Batu Dawa II. Kemudian, ada 8 buah bendung kewenangan pusat, pipa transmisi air baku sepanjang 8 km, 26 unit reservoir, 4 unit SPAB pedesaan, 3 buah mata air/intake, dan 42 buah sumber bor. Embung kita ada 12 sistem mata air Telaga Waja, dan sistem air baku Rendang kemungkinan tidak berfungsi. Semuanya berada di daerah zona merah (demikian penjelasan Kepala Balai Wilayah Sungai Bali, Penida Ketut Jayada, yang dikutif oleh BP. Rabu, 27 September 2017).

Demikian juga di kawasan pura Besakih, keberadaan pura tirtha juga terancam kekeringan tersebar di kawasan Besakih, ada yang jauh di puncak gunung, pada sumber-sumber air seperti kelebutan, pancoran, sungai dengan fungsinya masing-masing. Pura Tirtha di kawasan pura Besakih tersebut adalah 1) Pura Tirtha Pengayu-ayu; 2) Pura Tirtha Manik Mas, 3) Pura Tirtha Sindhu Tunggang, 4) Pura Tirtha Pediksan, 5) Pura Tirtha Putra, 6) Pura Tirtha Pingit, 7) Pura Tirtha Giri Kusuma, 8) Pura Tirtha Sudamala, 9) Pura Tirtha Empul, 10) Pura Sangku, 11) Pura Tingkih, 12) Pura Lateng (Pura Tegal Sari) dan 13) Pura Tirtha Toya Sah; dilokasi ini senantiasa dilaksanakan yadnya, dan tirthanya difungsikan dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan di pura Besakih maupun yang dilaksanakan oleh perorangan.

Sebagai manusia yang dekat dengan alam bahwa manusia adalah bagian dari alam, manusia tidak bisa melepaskan diri dari keberadaan alam dan lingkungan gunung, manusia adalah bagian yang tak terpisahkan dari kosmos, bahkan manusia hanya bagian kecil dari alam (microcosmos), keseimbangan selalu patut dijaga antara macrocosmos dengan microcosmos demikian pesan yang senantiasa disampaikan lewat kearifan lokal, karya sastra dan tek-teks agama. Marilah kita berdoa mohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Gunung Agung tidak jadi meletus.

Oleh: Ida Bagus Dharmika
Source: Majalah Wartam, Edisi 23, Oktober 2017