Gunakan Fasilitas Hidup dengan Cerdas

Dharmamdhanam ca dhanyan ca, guror vacanam ausadham, sugritan ca kartavyam, anyatha tujivati.
(Canakya Nitisastra, XIV, 18)

Maksudnya: Kalau ingin hidup sejahtera, lindungi dan peliharalah agama yang dianut (dharma), kekayaan (dhana), dan bahan makanan (dhanyan). Kata-kata bijak guru (guru vacana) dan kesehatan (ausadha). Kalau hal ini tidak dipelihara baik-baik, hidup sejahtera itu tidak akan pernah didapatkan.

Hidup membutuhkan berbagai fasilitas. Fasilitas itu ada dalam bentuk materi maupun non-materi. Tuhan telah menciptakan alam dan ilmu pengetahuan untuk didayagunakan oleh manusia guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Alam dan ilmu pengetahuan itu dikelola oleh manusia untuk mendapatkan materi dan nonmateri yang memberi sarana dan fasilitas hidup.

Tumpek Landep menurut Lontar Sunarigama bertujuan meng-ingatkan manusia agar fasilitas hidup itu digunakan dengan pikiran yang tajam dan cerdas. Dalam Lontar Sunarigama dinyatakan, Tumpek Landep ngaran pinaka lancipaning idep artinya: Tumpek Landep disebut sebagai peringatan untuk mempertajam atau mencerdaskan alam pikiran. Maksudnya, adakanlah berbagai sarana fisik material dan non-materi itu dengan pikiran yang tajam dan cerdas. Fasilitas hidup itu diadakan sebagai sarana untuk mempermudah manusia mencapai hidup yang sejahtera lahir batin.

Sayang, masih banyak orang dalam mengadakan berbagai fasilitas hidupnya itu tidak mengutamakan fungsinya, namun yang diutamakan adalah gengsi. Ini artinya dilakukan tanpa pikiran yang tajam dan cerdas. Kalau pengadakan fasilitas hidup itu tanpa pikiran yang tajam dan cerdas, akan terjadi pemborosan yang tak berguna. Karena itu, Canakya Nitisastra XIV, 18 mengingatkan kita agar benar-benar melindungi dan memelihara lima hal sbb:

Agama

Lindungi dan peliharalah agama yang dianut dengan benar, baik dan tepat. Gunakanlah agama yang dianut untuk menguatkan kepercayaan dan bhakti kita pada Tuhan. Dayagunakanlah kepercayaan dan bhakti kita pada Tuhan untuk menguatkan daya spiritual untuk meningkatkan kualitas moral dan daya tahan mental dalam menghadapi berbagai dinamika dan hiruk pikuknya kehidupan. Kehidupan modern makin membutuhkan moral yang luhur dan daya tahan mental yang makin kuat. Kualitas dan intensitas godaan hidup di zaman global ini makin meningkat.

Agama harus dijadikan kekuatan untuk mengantisipasi godaan-godaan tersebut. Dengan demikian agama akan memberi kontribusi positif pada kehidupan individu dan kehidupan bersama. Kontribusi positif itu artinya agama dapat memberikan arah pada dinamika hidup ke arah yang benar, tepat dan produktif dalam artian menumbuhkan nilai-nilai spiritual dan nilai-nilai material secara seimbang dan kontinyu. Agama seyogianya berkontribusi mengatasi berbagai kekerasan dan sifat-sifat kasar yang dipentaskan oleh berbagai individu dan kelompok dengan mengatas-namakan agama.

Dhana

Dhana adalah aset yang dimiliki agar dilindungi dan dipelihara dengan sebaik-baiknya untuk menjadi sarana menguatkan upaya manusia mewujudkan tujuan hidup mencapai dharma, artha, kama dan moksha.
Dalam Sarasamuscaya 177 dan 178 dinyatakan bahwa kegunaan dhana itu untuk dinikmati dan di-danapunia-kan. Medana-punia bukan berarti memberikan pada orang dengan sembarangan Bhagawad Gita XVII, 20 menyatakan dana punia itu dilakukan dengan dasar desa kala patra.

Sarasamuscaya 271 menyatakan: ikang artha danakena h sang patra, patra ngaran sangyogia wehana dana. Artinya, artha itu hendaknya di-danapunia-kan pada sang patra pada orang yang tepat.

Dhanyan

Dhanyan artinya bahan makanan. Hal ini harus dijaga dan dilindungi dari segi kuantitas dan kualitasnya. Industri makanan banyak dijumpai sudah dirusak sebagai makanan demi keuntungan bisnis semata. Banyak makanan dirusak dengan diisi zat kimia berbahaya. Demikian juga dalam industri makanan sering dijumpai antara label pada kemasannya dan isinya berbeda dari segi kuantitas dan kualitas. Dalam mantra Weda dinyatakan, tidak boleh menipu langganan dan memalsu barang dagangan, itu suatu perbuatan dosa. Berbagai pustaka Hindu banyak membahas masalah makanan ini.

Karena, hidup sejahtera dimulai dari makan dengan cara yang benar, baik dan tepat. Kalau menyikapi makanan ini salah caranya, maka makanan itulah yang akan membuat hidup seseorang menjadi sengsara.
Bhagawad Gita XVII, 8-10 ada menjelaskan tentang tiga jenis makanan yaitu satvika, rajasika dan tamasika ahara. Makanan yang ideal adalah makanan yang satvika.

Guru Vacana

Guru Vacana artinya kata-kata bijak dari guru. Dalam Wrehas-pati Tattwa 26 ada dinyatakan: kawarah sang Hyang Aji kau papatyan de sang guru Agama ngaran. Artinya, apa yang dinyatakan oleh kitab suci dan diajarkan oleh guru, itulah agama namanya. Sarasamuscaya 181 juga menyatakan bahwa agama ngaran kawarah sang Hyang Aji. Agama namanya apa yang dinyatakan oleh kitab suci.

Dari Mantra Weda, sabda Tuhan itu dipelajari oleh guru atau Resi dan terus dirumuskan kembali oleh para Resi menjadi kata-kata bijak. Kata-kata bijak yang disebut juga subhasita inilah yang harus disosialisasikan oleh para guru. Kata-kata bijak guru (subhasita) ini dalam Canakya Nitisastra XIII.21 disebut sebagai salah satu tiga Ratna Permata Bumi.

Dua yang lainnya adalah air dan tumbuh-tumbuhan bahan makanan dan obat-obatan. Subhasita ini seyogianya dipelihara dan dilindungi oleh umat manusia. Tanpa kata-kata bijak mengkomunikasikan berbagai kegiatan hidup, maka dalam hidup bersama akan terjadi kesalahpahaman, bahkan mungkin bisa kebrutalan dalam hidup ini.

Ausadha

Ausadha artinya kesehatan. Untuk hidup sejahtera menurut Ayur Weda, ada tiga yang wajib dikelola dengan sebaik-baiknya yaitu ahara yaitu makanan, wihara atau gaya hidup yang cerdas dan tepat, dan ausadha yakni mengelola kesehatan jasmani dan rohani agar senantiasa sehat dan bugar. Kesehatan adalah suatu kekayaan yang paling tinggi nilainya dalam hidup. Karena itu, manajemen hidup sehat harus senantiasa dilakukan dengan penuh disiplin, terutama menyangkut soal makanan dan gaya hidup. Kalau makanan dan gaya hidup ini dapat dikelola dengan sebaik-baiknya, maka hidup sehat dan sejahtera yakin akan dapat diwujudkan.

 

Source: I Ketut Wiana, Bali Post, 16 Agustus 2009