Grahastha Asrama [2]

(Sebelumnya)

Grahasta merupakan lembaga sebagai sumber inspirasi. Hal ini sangat erat hubungannya dengan timbulnya inspirasi yang berkembang menjadi energi dan kreasi yang memacu ke arah timbulnya karya atau kerja. Sehingga seorang grahastin misalnya dapat meningkatkan prestasinya baik di bidang tugasnya maupun menjadi sumber karya. Dalam pembidangan tugas dan kewajiban antara suami istrti, antara orang tua dan anak, dalam grahasta asrama disebutkan dalam Manawa Dharmasastra bahwa masing-masing anggota (orang tua dan anak) harus melaksanakan dharmanya dengan tulus ikhlas. Misalnya: tentang peranan suami tercantum dalam Bab IX 1-103, seorang suami harus setia kepada istrinya, menghormati istrinya dan melindungi istrinya dengan penuh kecintaan dan kasih sayang.

Kedudukan seorang suami menurut masyarakat Hindu adalah sederajat dengan istri dan anaknya. Suami harus menyerahkan harta dan segala penghasilannya kepada istrinya dan memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada istrinya untuk mengatur harta rumah tangga, urusan dapur bahkan juga urusan agama di dalam rumah tangga atau khusus mengenai urusan dilakukan bersama-sama. Jika ia pergi jauh keluar daerah terlebih dahulu ia harus menjamin hidup istrinya dengan memberikan biaya sebelum dia pergi. Selanjutnya ia harus selalu berusaha memelihara hubungan kesuciannya dengan istrinya dan saling percaya mempercayai demi terjamin kerukunan dan keharmonisan rumah tangga.

Demikian dijelaskan pula bahwa ia berkewajiban menggauli istrinya pada saat-saat tertentu yang ditetapkan oleh agama. Ia harus berusaha sebaik-baiknya agar antara mereka tidak melanggar kesuciannya dan menghindarkan perceraian. Tentang kedudukan dan peranan istri untuk melaksanakan kewajibannya antara lain disebutkan sebagai berikut: Bahwasanya sebagai seorang istri (wanita) ia harus pandai membawa diri, pandai mengatur rumah tangga dan ekonomis, ia harus setia kepada suaminya dan hendaknya selalu berusaha untuk tidak melanggar ketentuan menurut kitab suci. Ia harus mengendalikan pikirannya, perkataannya dan tingkah lakunya demi tercapainya kebaagiaan yaitu tercapai surga sebagai seorang istri berkewajiban memelihara rumah tangga sebaik-baiknya. Andaikata suaminya harus keluar daerah dan ia tidak mempu memberi biaya sebagai jaminan istrinya maka istri tersebut dibenarkan untuk bekerja supaya dapat menunjang hidupnya asal pekerjaan itu tidak bertentangan dengan norma kesopanan sebagai wanita.

Lebih lanjut seorang istri harus menyadari bahwa telah ditakdirkan setiap wanita akan menjadi ibu. Orang tua berkewajiban mendidik dan menyekolahkan pada usia tertentu, kewajiban ini mutlak harus dilakukan karena jika tidak dipenuhi anak tersebut diancam kapatita yaitu dikeluarkan dari masyarakat arya dan dilarang mengucapkan mantra savitri. Disamping itu orang berkewajiban atas perkawinan anaknya; untuk itu orang tua dapat memilih calon menantunya. Jika lewat umurnya orang tua kehilangan anak atas urusan anaknya. Lebih lanjut orang tua berkewajiban mewariskan kepada anak-anaknya, sebaliknya orang tua berhak mewarisi dari putranya yang tidak berketurunan. Mengenai hak dan kewajiban anak terhadap orang tua di dalam kitab Manawa Dharmasastra dijelaskan pula bahwa anak berkewajiban patuh kepada orang tuanya. Kemudian dijelaskan pula anak laki-laki berkewajiban menyelenggarakan sraddha. Dan anak-anak berhak mewarisi hak orang tuanya.

Keluarga atau rumah tangga juga merupakan kesejahtraan, kebahagiaan dan ketentraman, Karena itu secara tradisional denah tempat tinggal rumah, ditata dan dibentuk berdasarkan aturan yang telah ada yang disebut asta bumi. Disamping itu juga berpegang pada prinsipnya tri hita karana yaitu adanya unsur Widhi (Tuhan), jana (manusia), dan pada (mandala, atau lingkungan). Ketiga unsur itu dalam tata susunan dan bangunan rumah tempat tinggal secara tradisional yaitu merajau, penghuni dan rumah lengkap dengan bale dangin, bale daje, bale dauh, dapur, teba dsbnya. Sedangkan bagi umat Hindu yang tinggal dan berada di luar Bali yang mendiami rumah dalam sistem modern, diusahakan pada halaman rumah dibangun sebuah padmasari (padmasana kecil) atau pelangkiran dan altar di kamar/ruang tamu kelarga. Dengan demikian, diharapkan kesejahtraan, kebahagiaan, ketentraman dan kedamaian dapat terwujud dan dinikmati oleh semua anggota keluarga.

Setiap grahastin wajib melaksanakan tugasnya dalam panca yadnya dsbnya mengingat rumah atau dalam grahastin itu tidak saja dihuni oleh suami, istri dan anak, tetapi juga arwah para leluhur terutama leluhur pihak purusa. Dengan melaksanakan tugas grahstin, itu diharapkan kebahagiaan dapat terbina dan terpelihara. Sebab kebahagiaan sangat mutlak diperlukan untuk pendidikan dan pemuasan Kama. Sehubungan dengan itu dalam Manawa Dharmasastra disebutkan bahwa suami wajib menggauli istrinya untuk menemukan kebahagiaan kedua belah pihak. Hubungan sanggama dilarang selama istri dalam keadaan haid, (empat hari) dan dua belas hari yaitu pada masa subur dianjurkan jangan. Hal tersebut untuk menghindari kehamilan. Jadi pengaturan kehamilan telah pula dianjurkan pada kita. Hal itu adalah untuk menjaga hubungan cinta dan kasih sayang yang merupakan sumber kebahagiaan. Bahkan senggama juga dilarang pada hari raya, purnama, tilem dan perwani.

Seorang ibu/istri yang bijaksana akan berusaha menciptakan suasana yang bahagia dan tentram di dalam rumah tangga, sehingga suami menjadi betah tinggal di rumah. Demikian pula sebaliknya seorang suami, secara timbai balik, sehingga grahasta menjadi pusat kebahagiaan, sebagai tempat untuk istirahat, santai dan melipur lara yang sangat dibutuhkan oleh orang tua dan anak. Dalam hal ini keakraban, kemesraan, keterbukaan dan kedamaian dapat dinikmati dan didengungkan dalam grahasta. Home Sweet Home. Sehingga betapapun capeknya, penatnya dan lelahnya seorang suami/ bapak karena bekerja menguras otak dan tenaga sehari penuh tetapi begitu ia menginjakkan kakinya di halaman rumah sudah terasa kedamaian dan ketentraman yang dipancarkan oleh suasana rumah tangga.

Sementara itu wanginya asap hio, dari pada sari, altar, pelangkiran, ditambah dengan tawa ria anak menyambut sejal tiba benar-benar merupakan santapan rohani. Jelas grahasta merupakan tempat istirahat, santai dan melipur lara, lila loka, sehingga baik ibu, anak dan ayah betah diam di rumah.

Salah satu fungsi keluarga adalah sebagai salah satu lembaga untuk pelaksanakan Panca Yadnya. Di dalam Bhagawad Gita dijelaskan, bahwa Prajapati (Tuhan Yang Maha Esa) menciptakan alam semesta dengan segala isinya termasuk manusia dengan yadnya. Sehingga setiap manusia, wajib untuk melaksanakan pengkagudnya. Misalnya setiap selesai memasak seyogyanya dilakukan tarpana yadnya atau yadnya sesa yang biasa disebut 'ngejot'. Setelah tu barulah boleh makan. Sebab orang yang enaknya memasak untuk makanan dirinya sendiri saja sama dengan mencuri dan ia makan dosanya sendiri.

Sebaliknya jika seseorang bisa melakukan yadnya setelah memasak dan baru makan sisa yadnya itu ia akan bebas sari grahasta wajib melaksanakan upacara yadnya. Adapun yadnya itu ada lima macam yaitu: (1) Dewa Yadnya, (2) Pitra Yadnya, (3) Resi Yadnya, (4) Manusa Yadnya, (5) Bhuta Yadnya yang semuanya disebut Panca Maha Yadnya. Sebagai tempat pemujaan, dibuatlah pelangkiran/ dan altar tempat persembahyangan untuk memuja para dewa, pitara dan atau arwah suci para leluhur (batara-batari). Misalnya melakukan pitra puja atau tarpana puja.

Sebab pada hakekatnya, rumah atau dalam rumah tangga itu bukan hanya merupakan tempat tinggal bagi suami istri dan anak-anaknya saja, melainkan juga merupakan tempat tinggal para arwah leluhur (batara-batari). lain dari pada itu, dampati berkewajiban juga untuk melakukan upacara pensucian diri lahir batin (sarira samskara), karena menurut ajaran agama Hindu, manusia harus disucikan dengan seksama, agar benar-benar suci sebelum meninggal. Sebab itulah upacara sarira samskara itu mutlak harus dilaksanakan sejak mulainya pembuahan di dalam rahim ibu, sampai pada saat matinya kelak.

Saudara pembaca yang budiman, adapun sarira samskara manusa yadnya yang penting pada paling banyak banyak serta bisa dilakukan di Indonesia antara lain; (1) Wiwaha samskara, (2) Garbhdana samskara, (3) Punsawana samskara, (4) Jatakarana samskara, (5) Wamadhaya samskara, (6) Wishkramana samskara (Telu/tigang, sasih), (7) Anuprasana samskara (otonan), (8) Chudakarya samskara, (9) Upanayana samskara, (10), Sagitri samskara, (11) Wiwaha samskara, dan (12) Antyesti samskara.

Dengan mengetahui apa sesungguhnya grahasta itu seperti yang diuraikan tadi dapat disimpulkan bahwa Grahasta Asrama itu wajib hukumnya untuk djalani oleh setiap orang dengan memperhatikan bahwa pada hakekatnya grahasta asrama itu merupakan tempat laboratorium untuk menciptakan suputra. Dan dengan mengetahui bahwa grahasta asrama itu demikian, maka kunci-kuncinya telah pula ada pada tangan kita sehingga jalan menuju grahasta asrama telah pula terbuka lebar bagi calon grahastin.

Oleh: Made Awanita
Source: Warta Hindu Dharma NO. 530 Pebruari 2011