Grahastha Asrama

Bagi masyarakat Hindu, grahasta asrama mempunyai arti dan kedudukan khusus di dalam kehidupan. Tahap hidup grahasta asrama (berumah tangga) diawali oleh upacara perkawinan (samskara wiwaha). Ini berarti masa brahmacari secara resmi telah berakhir dan sejak saat itu pula suami istri atau dampati; dan sejak itu pula mereka harus melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai grahastin. Tugas itu antara lain mencari artha untuk memenuhi kama berlandaskan dengan dharma, melaksanakan upacara sraddha, dan panca maha yadnya.

Mengingat masa grahasta asrama itu ternyata paling rumit dan sulit di antara masa kehidupan yang lainnya, dan grahasta asrama juga merupakan suatu lembaga pembinaan yang pertama lembaga pendidikan, sumber energi, kreasi dan karya, sumber-kebahagiaan (lila loka), lembaga pelaksanaan panca maha yadnya dan sebagainya, maka sebaliknya para remaja dan pemuda Hindu (terutama yang belum mengalami masa grahasta asrama), terlebih dulu mengetahui dan memahami secara mendalam dan mantap tentang hal itu, guna sebagai bekal untuk memasuki jenjang grahasta asrama. Dengan lain kata mengetahui jalan untuk menuju grahasta asrama itu. Hal itulah yang ingin kami sajikan dalam moument yang singkat ini sebagai sumbangan pikiran dalam rangka Pendidikan Rohani Hindu pada WHD yang amat kita cintai ini, namun baru hanya seklumi dari garis besarnya saja. Dengan harapan semoga ada juga manfaatnya bagi kita semua.

Manusia dilahirkan dalam keadaan yang beraneka ragam baik keadaan fisik, mental dan sosial budaya, namun dibalik kesemuanya itu, kita harus menyadari dengan sesungguhnya, bahwa hakikat mejelma atau lahir menjadi manusia merupakan suatu keuntungan dan kebahagiaan yang sangat besar. Kita harus bersyukur dan selalu mencakupkan tangan dengan hidmat kepada Sang Hyang Widhi Wasa, karena untuk bisa lahir menjadi manusia amat sukar, seyogyanya kita tidak perlu mengeluh, walaupun kita dilahirkan dalam keaadaan yang tidak sempurna dan serba tuna, daripada lahir menjadi hewan. Sebab hanya lahir menjadi manusialah, kita mampu berbuat baik (subha karma) mampu melepaskan diri dari cengkraman kesengsaraan (samsara) dan dapat melebur perbuatan yang tidak baik (asubha karma) ke dalam perbuatan yang baik, sehingga kita dapat memperbaiki liku-liku dan dapat meningkatkan kehidupan kita.

Demikianlah keuntungan kita lahir sebagai manusia. Dan justru berbuat baik dan benar itulah hakekat hidup manusia. Sedangkan tujuan hidup manusia menurut ajaran Agama Hindu adalah untuk mencapai kesejahtraan (jagat hita) dan kebahagiaan (moksa) atau dengan populer disebutkan kenbahagiaan-lahir dari batin. Yang kemudian dapat dirinci lagi menjadi dharma, artha, kama dan moksa. Dan tujuan atau kebutuhan hidup manusia dalam masa grahasta asrama adalah diutamakan untuk mencapai artha yang berupa bhoga, upabhoga dan paribhoga (pangan, sandang, rumah dan lain-lainnya), dan kama berupa kepuasan dan kenikmatan hidup. Kepuasan hidup itu diperoleh di samping melalui artha juga melalui hasil seni budaya. Namun pencapaian dan penggunaan artha dan kama itu harus selalu berdasarkan dlmrma agar berpahala; sebab jika tidak akan menimbulkan penderitaan.

Mengenai perkawinan dalam Undang-Undang Perkawinan (UUP) Tahun 1974 pada pasal 1 disebutakan, bahwa perkawinanan adalah ikaatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa. Rumusan tersebut: cukup padat dan dalam isinya. Karena tidak hanya merupakan penjelasan tentang perkawinan, tapi juga memuat rentang tujuan perkawinan dan menempatkan perkawinan (grahasta) itu sebagai suatu lembaga yang penuh arti dan luhur, karena harus berdasarkan religius.

Hahl itu sejalan dengan pemandangan masyarakat Hindu, yakni perkawinan atau wiwaha (grahasta asrama) mempunyai arti dan kedudukan yang khusus di dalam kehidupan. Wiwaha itu bersifat religius (sakral) dan wajib hukumnya. Jadi grahasta asrama ini sangat dimuliakan. Karena lembaga itu merupakan suatu jalan untuk membebaskan derita orang tua dan arwah para leluhur, dengan cara memperoleh keturunan (Santana). Sehingga kawin dan mempunyai anak laki-laki merupakan tugas yang mulia dalam ajaran asama mdu. Justru tujuan utama grahasta asrama ialah untuk memperoleh keturunan (Santana) terutama anak laki-laki yang berkualitas suputra yang kemudian melajutkan dan melaksanakan upacara sradha dan panca maha yadnya.

Karena itulah wiwaha atau grahasta itu juga disebut yadnya dan wajib hukumnya. Lain dari pada itu dengan wiwaha/grahasta itu dimaksudkan untuk mengatur hubungan sanggama (seks) yang layak dan secara biologis sangat dperlukan dalam kehidupan sebagai dampati (suami istri). Bahkan menurut Manawa Dharmasastra, wiwaha itu disamakan dengan sakramen (samskara). Jadi wiwaha samskara itu merupakan puncaknya upacara manusa yadnya. Sehingga wiwaha samskara itu merupakan puncaknya upacara manusa yadnya Sehingga Wiwaha samskara itu di samping bersifat hukum, juga merupakan upacara ritual (agamis) dan formal.

Di samping itu wiwaha bertujuan untuk membayar hutang (rna); balikan wiwaha disamakan dengan dharma. Setiap manusia mempunyai hutang kepada orang tuanya yaitu hutang kelahiran yang tak dapat dilunaskan. Namun satu-satunya jalan untuk membayar hutang tersebut, adalah dengan jalan melahirkan dan memelihara santana yang berkualitas suputra. (kata putra, berasal dari kata "put dan tra"; put artinya neraka; ra artinya ia yang mampu menyelamatkan. Putra artinya ia yang dapat menyelamatkan arwah orang tuanya/leluhur dari neraka). Karena itu wiwaha (grahasta) itu bersifat suci, religius dan wajib hukumnya.

Lebih lanjut Manawa Dharmasasta mengatakan bahwa untuk menjadikan ibu diciptakanlah wanita dan untuk menjadi bapak diciptakanlah pria. Dan karena itu Weda akan diabadikan oleh dharma yang harus dilaksanakan oleh pria dan wanita sebagai suami istri (dampati). Dengan demikian satu perkawinan jika tidak disakralkan (tanpa upacara/wiwaha samskara), maka perkawinan itu tidak sah dan tidak memiliki kekuatan hukum, jadi persyaratan perkawinan itu sah antara lain sebagai berikut: (1) suatu perkawinan/ wiwaha sah menurut hukum Hindu, kalau dilakukan menurut ketentuan hukum Hindu; (2) untuk mengesahkannya dilakukan oleh Brahmana/Pandita/ Pinandita/rohaniawan atau pejabat agama yan memenuhi syarat untuk itu; (3) suatu perkawinan dapat disahkan menurut hukum Hindu, kalau kedua mempelai beragama Hindu dan (4) berdasarkan tradisi yang berlaku, suatu perkawinan dinyatakan sah kalau sudah melaksanakan biakala/biakaon.

Keluarga atau rumah tangga mrupakan bagian masyarakat yang terkecil, balikan merupakan negara yang sangat kecil. Setiap hari diskusi tentang berbagai masalah hidup terjadi dalam keluarga antara suami istri, antara orang tua dan anak. Begitu juga komunikasi tidak pernah terputus. Itulah ciri hidupnya suatu grahasta asrama. Sebab tanpa komunikasi dan diskusi seolah-olah grahasta tidak ada, walaupun kenyataanya ada. Sehingga berbagai hal dan masalah diselesaikan dengan tuntas. Apakah alat komuniksi itu dalam keluarga? Kasih sayang merupakan dasar kmunikasi dalam suatu grahasta.

Hidup ini akan menjadi indah penuh bahagia dan berkesan serta bermanfaat bagi kita sendiri atau orang lain, kalau kita saling memperhatikan, saling berbagi perhatian. Karena saling memperhatikan melukiskan adanya hubungan kasih sayang. Dan justru kasih sayang itu terbentuk jika kita saling memperhatikan. Kasih sayang itu terbentuk jika kita saling memperhatikan. Kasih sayang tidak akan muncul jika kita tidak menimbulkannya. Dan kasih sayang memerlukan keterbukaan, pengertian, pengorbanan, tanggung jawab, perhatian, dan sebagainya. Karena itulah kasih sayang merupakan dasar komunikasi dalam grahasta antara anggota grahasta, yaitu antara suami dan istri, dan antara orang tua dan anak.

Harus disadari bahwa pada prinsipnya anak itu terlahir dan terbentuk dari hasil curahan kasih sayang orang tuanya yang selanjutnya pengembangan watak anak dan pribadinya tidak boleh lepas dari kasih sayang dan perhatian orang tua. Dan hubungan harmonis akan terjadi, bila hal itu terjadi secara timbal balik antara anak dan orang tua. Sebab tidak jarang terjadi, bahwa seorang anak menjadi morfinis, berandal, frustasi dan sebagainya, disebabkan oleh kurangnya perhatian dan kasih sayang dalam kehidupan grahastanya. Sehingga hampir tidak ada komunikasi dalam grahasta yang demikian dan jelas tiadanya tercermin kasih sayang.

Sebenarnya kita dapat menilai perwujudan kasih sayang dalam suatu grahasta melalui pengamatan terhadap keadaan rumah tangga (grahasta), keakraban, kemesraan, keharmonisan hubungan antara anak dan orang tua dan antara dampati itu sendiri. Dan grahastin yang bertanggung jawab tentu akan betul-betul memelihara keharmonisan grahastanya. Komonikasi dan kasih sayang itu harus diciptakan sejak anak dalam kandungan hingga dewasa.

Orang tua sangat berperan dalam melahirkan dan menumbuhkan kasih sayang dalam grahasta. Kasih sayang merupakan dasar komunikasi, jembatan antara orang tua dan anak, dalam mencapai cita-cita keluarga bahagia. Jadi orang tua, anak, grahasta, dan kasih sayang adalah suatu mata rantai yang tidak boleh putus. Di dunia, di suatu negara, di suatu masyarakat dan di suatu keluarga, tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan melalui diskusi dan musyawarah. Maka cara ini sangat ampuh untuk menyelesaikan berbagai masalah, yang timbul dalam suatu keluarga. Mula hal yang paling sederhana, sedang dan hal yang paling rumit dan komplek dapat didiskusikan pemecahannya di dalam grahasta, antara suami istri, antara orang tua dan anak. Karena itu seorang grashtin harus memanfaatkan hal ini sebaik-baiknya. Sudah tentu aktifi tas, pengertian, perhatian, keterbukaan dan pengorbanan orang tua sangat diperlukan dalam hal ini. (Selanjutnya)

Oleh: Made Awanita
Source: Warta Hindu Dharma NO. 523 Juli 2010