Gorawa Ghora

Gorawa artinya sapi, ghora artinya besar. Apa hubungan antara keduanya. Kakawin Nitisastra sebuah karya sastra yang memuat ajaran kepemimpinan menyusun kata-kata penuh makna berikut: Ring dyun alpa banyunya kampita kucak, yapwan hibek wwesthiti/ yan ring gorawa ghora sabdanika gong alpa ksiranyakedik/yan ring janma kurupa cestitanikakweh bhawa solahnika/ring janmalpaka sastra garwita tereh sabdanya tanpamreta//

Artinya: Tempayan yang tidak penuh airnya kocak, kalau penuh airnya tenang/ Sapi yang suaranya besar dan keras, sedikit air susunya/ Orang yang jelek wajannya, tingkah lakunya banyak dibuat-buat / Orang yang "tidak menghayati sastra" (alpaka sastra) keras dan kasar bicaranya serta tidak bermakna // (1 : 7).

Bait kakawin ini sungguh sangat menarik, karena berbicara tentang hakekat ajaran sastra. Bahwa sapi yang suaranya besar dan keras (Gorawa Ghora sabdanya gong) akan sedikit air susunya, demikian juga halnya orang yang alpa sastra, alpha ajaran kerohanian, suaranya akan keras dan kasar, dan tidak bermakna.

Berbeda halnya dengan orang sastrajna, orang yang menghayati sastra, kata-katanya bagaikan amreta, air suci kehidupan yang senantiasa menyenangkan masyarakat. Karena pernyataan ini dikaitkan dengan ajaran kepemimpinan, maka jelaslah dimaksudkan bahwa seorang pemimpin seharusnya orang yang menghayati sastra atau sastrajna, bukan orang yang alpa sastra.

Itulah sebabnya para pujangga menyediakan sejumlah karya sastra bagi para pemimpin seperti misalnya kakawin Ramayana, kakawin Bharatayuddha, kakawin Arjuna Wiwaha, kakawin Bhomantaka, kakawin Sutasoma dan banyak lagi yang lain. Karya-karya sastra kepemimpinan ini yang juga disebut sebagai epos atau nitisastra, memuat tidak saja nilai-nilai kepemimpinan yang luhur, tetapi juga perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan. Perjuangan membebaskan rakyat dari kemiskinan, tidak saja kemiskinan pisik, tetapi juga kemiskinan kultural dan spiritual.

Seorang pemimpin yang sastrajna, jelas tidak mengumbar omong kosong, apa yang dikatakan senantiasa bermakna dan memberi kebahagiaan kepada masyarakat. Seorang pemimpin yang sastrajna bukanlah orang yang pandai bersilat lidah, orang yang licik, orang yang membohongi masyarakat, terlebih lagi membodohi masyarakat yang kurang pengetahuan. Seorang pemimpin yang sastrajna tidak banyak tingkah, atau selalu mendramatisasi persoalan yang kecil seolah menjadi besar.

Membaca karya-karya sastra utama merupakan kewajiban pokok seorang pemimpin Hindu. Hanya dengan demikian seorang pemimpin akan dapat menjadi mata air amreta, darimana kebahagiaan dan kerahayuan itu mengalir, seperti yang dilakukan oleh Rama dan Dharmawangsa. Tidak sebaliknya seorang pemimpin malah menyebarkan racun ketengah-tengah masyarakat seperti yang dilakukan oleh Rawana maupun Duryodhana.

Gorawa Ghora sabdanya gong, si sapi yang besar dan bersuara keras ternyata tidak banyak menghasilkan susu. Maka masyarakat harus bijak, harus memiliki pengetahuan tentang hakikat sapi itu, mana sapi yang dapat mengeluarkan susu, mana pula yang hanya bersuara besar dan keras.

Source: Ki Nirdon l Warta Hindu Dharma NO. 485 Mei 2007