Gita Ghurnita

Pesta kesenian Bali kembali diselenggarakan. Sebuah pesta yang diharapkan dapat menjadi ajang kreativitas dan penciptaan karya seni, tetapi juga usaha untuk melestarikan dan menggali potensi seni yang dimuliki.

Gita, inilah salah satu potensi seni yang kaya raya, pernah hidup dan menjadi nafas kesenian yang lebih luas. Gita adalah "nyanyian" dalam bentuk puisi tradisi, yang merupakan bagian tak terpisahkan dalam hidup berkesenian, tetapi juga hidup spiritual. Kitab Gita Sancaya menyebutkan sekitar 50 buah bentuk Gita yang biasa disebut pupuh, mulai dari Sinom, Pangkur, Dangdang, Durma, Dingdang, Jumog, Demungjuragan Danu dan yang lain. Bentuk sastra inilah yang dipakai membangun bentuk sastra yang lebih besar seperti Kidung dan Geguritan.

Jumlah karya sastra ini begitu banyak, diantaranya yang banyak dikenal adalah Kidung Tantri, Kidung Malat, Kidung Wangbang Turida; Geguritan Jayaprana, Geguritan Pakangraras, Geguritan Megantaka, Geguritan Jajar Pikatan dan yang lain.

Apabila digabungkan dengan bentuk sastra kekawin yang dibangun oleh Wreta dan Matra, maka kekayaan budaya puisi tradisi itu begitu memukau dan menantang untuk digali dan dikembangkan. Dalam kitab Wretasancaya dapat kita ketahui ratusan jenis Wreta, seperti Sardhula Wikridita, Dandaka, Wasantatilaka, Sekarini, Raghakusuma, dan yang lain. Bentuk sastra ini dipakai membangun candi Sastra kekawin seperti kekawin Ramayana, kekawin Arjunawiwaha, kekawin Bharatayuddha, kekawin Sutasoma, kekawin Nirartha Prakerta dan yang lain.

Di dalam kekawin Bharatayuddha misalnya kita menemui pernyataan : "larangku dadyakena gita bhasa; angiketa gita panemwanasih (cerita hamba jadikan rangkaian kata dalam gita; hamba merangkai gita untuk menemui kasih) Artinya gita merupakan tuangan rasa atau perasaan dirangkai dalam susunan kata terpilih dan indah.

Dalam gita ada rasa, tetapi juga keindahan. Kakawin Ramayana yang juga disebut Ramayanagita (Bhagawan walmiki tang gumawe ramayanagita) ada disuratkan tentang keindahan taman yang dikunjungi oleh Sang Rama : bahwa bunga tunjung warna-warni bermekaran dan angin semilir mendesir, menghamburkan bau harum. Kumbangnya Ghurmita, masabda humung sadarpa, len manda maruta mirirya sugandha mambo.

Demikianlah para pengawi penulis gita dan kakawin, senantiasa penuh perhatian menuliskan keindahan bunga, sekaligus keindahan suara kumbang (kumbangnya gurnita) yang tengah menghisap sari bunga tunjung warna-warni di taman. Gita Ghurnita, irama dalam gita atau gita yang lebih banyak dinyanyikan menjadi penting bagi kita. Terlebih lagu pada Pesta Kesenian Bali, yang memang dicanangkan untuk membangun rasa indah didalam hati.

Memang tidak mudah menikmati rasa indah yang halus itu. Tapi Mpu Yogiswara telah mengajak kita untuk belajar seperti kumbang yang tengah menghisap sari bunga tunjung, menikmati keindahan tetapi juga kesucian.

Oleh: Ki Nirdon
Source: Warta Hindu Dharma NO. 522 Juni 2010