Gita Dan Kita

Dimana petani meluku tanah yang keras, dimana pembuat jalan memukul batu, disitulah Dia.
Bersama orang-orang ini Ia berpanas dan berhujan dan pakaiannya dilekati debu.
Tinggalkanlah pakaian sucimu dan turunlah ke tanah yang berdebu itu seperti Dia

Rabindranath Tagore adalah penulis karya sastra Gitanjali. Berkat karya sastranya ini dia mendapat hadiah Nobel kesusastraan. Penyair ini juga pernah berkunjung ke Bali pada tahun 1927, sebuah perjalanan setelah mengunjungi Jawa. Lewat Gitanjali kita mengetahui betapa sebuah gita atau "puisi" dapat dijadikan sebuah persembahan. Gita memang bukan sekedar puisi, bukan pula sekedar persembahan tetapi adalah juga teriakan jiwa lewat kidung yang indah. Ada irama lagu disini, disamping adanya tuangan rasa indah.

Tagore menulis : "Tatkala aku meninggalkan permainanku dengan Engkau, tidak bertanya aku, siapa Engkau. Aku tak mengenal malu atau takut, aku orang yang nakal. Di pagi hari Engkau datang memanggil daku dari tidurku, seperti kawanku sepermainan, dan Engkau bawa aku berlomba dari lembah ke lembah. Di waktu itu tak ku hiraukan mengetahui arti nyanyian yang Engkau nyanyikan padaku. Suaraku hanya mengerti lagunya, dan hatiku menari dalam iramanya. Sekarang waktu bermain telah lampau dan apakah yang tiba-tiba ku lihat? Dunia beserta semua bintangnya yang sunyi tenang, berdiri takjub memandang kaki-Mu".

Puisi di atas mengungkapkan kerinduan manusia akan rahasia ketuhanan. Bagi Tagore pembicaraan tentang manusia tak bisa dilepaskan dari kerinduan yang mendasar itu, manusia menjadi manusia bila ia mau mengakui bahwa kerinduan rahasia ketuhanan itulah yang merupakan ciri hakikatnya. Rahasia ketuhanan itu demikian dan tak terduga. Ia adalah Roh Cinta yang mampu membebaskan kesadaran manusia dari ilusi-ilusi egoismenya. Roh Cinta itu selalu menerangi dunia, ia adalah roh kebudayaan yang membangkitkan manusia untuk menyadari eksistensinya yang ilahi, dan dengan demikian manusia dapat dibimbing menuju kesatuannya yang sejati. "Berkat Roh Cinta maka manusia menjadi Purusah, atau pribadi yang sempurna", demikian dinyatakan oleh Rabindranath Tagore dalam bukunya The Relegion of Man (1967).

Demikianlah gita, puisi, lagu suci menjadi begitu penting dalam peradaban Hindu. Pada hakikatnya semua kitab suci adalah gita atau lagu suci. Malah percakapan antara Krisna dan Arjuna di medan peperangan dikenal sebagai Bhagawagita.

Gita Sancaya

Tradisi Hindu adalah tradisi gita, seperti dapat kita lihat di Bali. Sejumlah karya sastra puisi tradisi seperti kakawin, kidung, dan gaguritan dinyanyikan bersamaan dengan dilaksanakannya upacara agama Hindu. Ada ratusan bentuk puisi kakawin sebagaimana disuratkan dalam kitab Wreta Sancaya karya Mpu Tanakung yang dipakai membangun karya sastra kakawin; Ada puluhan bentuk puisi gita atau pupuh dalam kita Gita Sancaya (anonim) yang dipakai membangun karya sastra kidung dan gaguritan. Tradisi mabasan yang menyertai berbagai aktivitas yadnya di Bali memelihara dan mengembangkan kehidupan gita tersebut.

Gita memang bukan sekedar nyanyian namun di dalamnya ada makna yang dalam. Kakawin Ramayana adalah sebuah kisah dalam bentuk puisi kakawin, kidung Tantri adalah rangkaian cerita dalam bentuk puisi kidung, gaguritan Salya adalah sebuah kisah dalam bentuk puisi kidung atau pupuh, untuk menyebut beberapa contoh. Maka kepustakaan Hindu di Bali menyimpan perbendaharaan gita yang kaya yang sementara ini baru sebagian saja yang di masyarakatkan.

Apabila kita membaca lebih mendalam karya-karya gita sekaligus menyanyikannya maka nilai-nilai keindahan dan religiusitasnya akan menyusup di dalam hati. Apa yang disebut sebagai surasa dari Mahabarata yang berbentuk puisi itu, oleh Bhgawad Wararuci dinyatakan tidak saja dapat membangun keindahan dalam hati, tetapi juga dapat menghilangkan kegelapan pikiran (peteng ning ajnyananing sarwa bhawa).

Maka baik para gitawan dimasa silam maupun gitawan modern seperti Rabindranath Tagore menjadikan gita sebagai sarana memuja atau menyembah Sang Pencipta. Gita yang lahir dari tangan pujangga itu memang perlu kita baca secara seksama, bersamaan dengan itu kitapun harus melatih diri untuk secara kreatif melahirkan gita pula.

Sampai disini kita kembali kepada Gitanjali, dengan mengutip puisi terakhirnya : "Biarlah selamaa panca indraku bertebar dan menjajah dunia ini di bawah kaki-Mu. Sebagai mega mendung di bulan Juli, rendah mengambang dengan beban hujannya belum tercurah, biarlah demikian jiwaku tunduk di muka pintu-Mu, dalam sebuah pujaan pada-Mu. Semoga semua nyanyianku menyatukan lagunya beraneka itu kedalan arus yang satu, dan mengalirkannya ke dalam samudra sunyi, dalam sebuah pujaan pada-Mu. Sebagai sekawanan burung gagak yang merindukan pulang, malam dan siang terus terbang ke sarangnya di gunung, biarlah demikian seluruh hidupku pulang kembali kerumahnya abadi, dalam satu pujaan pada-Mu".

Puisi terakhir Gitanjali ini menyiratkan adanya kerinduan yang tak tertahankan, kerinduan yang mendalam sorang penyair akan rahasia ilahi. Puisi-puisi Tagore adalah puisi-puisi persembahan karenanya ia merupakan tuangan rasa rindu manusia akan penciptanya. Memang menurut Tagore bahwa manusia menjadi apabila ia mau maengakui bahwa kerinduan akan rahasian Tuhan itulah merupakan ciri hakekatnya. Hakikat manusia yang transendental menyebabkan ia berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan transendental tentang dirinya.

Menurut Tagore Tuhan sebagai Roh Cinta tidak dapat diketahui. Ia hanya dapat dirasakan dalam pengalaman cinta yang menimbulkan kebahagiaan. Memang Roh Cinta sesungguhnya tak terbatas sehingga tak mungkin diketahui, apalagi jika untuk mengetahuinya manusia memakai ukuran-ukuran di luar diri manusia sendiri. Tetapi ketakterbatasan itu dapat dialami dalam pengalaman batin manusia ketika ia menyerahkan diri kepada ketakterbatasan itu. Maka sebenarnya ketunggalan dari rahasia ilahi yang tak terbatas itu (advaitam) tak lain adalah ketunggalan cinta (anandam) yang dapat "dibatasi" dalam pengalaman diri manusia yang mengalaminya.

Bhagawadgita

Apa yang dinyatakan oleh Tagore dalam The Religion of Man tersebut sesungguhnya merupakan pokok ajaran Wedanta yaitu monisme (advaitam). Menurut ajaran ini atma menetap dalam semua makhluk. Ucapan yang terdapat dalam Bhagawadgita menjadi sangat penting dalam pandangan monisme: srvabhutastham atmanam sarva bhutanam tmani, iksate yogayuktatma sarvatra samadarsanah. Ia yang jiwanya diharmonikan oleh yoga, melihat atman menetap di dalam semua makhluk dan semua makhluk di dalam atma. Di mana-mana ia melihat yang sama.

Istilah samadarsana atau kadang-kadang dipakai juga istilah ekatwadarsana menjadi dasar filsafat yang dianut Tagore. Pandangan tersebut sesungguhnya juga adalah dasar teori rasa yang dianut oleh para pujangga di masa silam dalam berkarya : karena pada setiap manusia ada atma, maka setiap manusia dapat mencaapi rasa dan ananda yaitu kebahagiaan yang tertinggi atau keindahan tak terbatas. Dan rasa atau ananda itu adalah dia yang Tak Terbatas sendiri: Raso vai sah, Dia adalah rasa atau ananda.

Membaca Giatanjali, membaca Bhagawadgita, dan gita-gita yang lain, menjadikan kita memiliki wawasan yang luas, dan pandangan kesatuan, yang menyebabkan kita semakin meyakini bahwa Sang Pencipta adalah sumber dari segala sumber yang ada. Kemanunggalan dengan-Nya menyebabkan manusia menemui Kebahagiaan yang sejati.

Bagi Tagore Sang Penciptapun senantiasa melantunkan gita atau lagu suci. Kita baca petikan Gitanjali berikut: Junjunganku ! Tak tahu aku macam mana Tuan bernyanyi. Takjub terdiam, aku mendengarkan. Sinar suaramu menerangi dunia. Nafas hayat nyanyian-Mu berhembus dari langit ke sebuah langit. Arus suci lagu-Mu melanda segala karang dan beriak terus. Hatiku ingin turut bernyanyi dengan Tuan, tetapi tiada daya mengeluarkan suara. Maksudku hendak berbicara tetapi kata tak memecah ke dalam lagu dan aku berteriak dalam kelemahanku. O, Junjunganku! Hatiku Tuan sesaatkan dalam keluk-keluk lagu-Mu.

Demikianlah catatan kecil kita terhadap Gitanjali karya Rabindranath Tagore penerima hadiah Nobel ksusastraan, sekaligus mendekatkannya dengan Bhagawadgita. Jelas bagi kita bahwa gita begitu penting bagi kita, pertama-tama sebagai sumber nilai-nilai spiritual, selanjutnya sebagai sumber peradaban Hindu. Dalam gita nilai-nilai spiritual itu dibungkus dengan indah. Maka gita adalah keindahan sekaligus kemegahan dan kemewahan.

Oleh: Ki Dharma Tanaya
Source: Warta Hindu Dharma NO. 526 Oktober 2010