'Gentingnya' Kepemimpinan Spiritual

Berbicara masalah kepemimpinan, selalu menarik dan juga tidak menarik untuk dibahas. Menarik karena pemimpin (bukan pimpinan) memegang peran sentral dalam menggerakkan orang-orangyang dipimpin dengan berbagai karakteristiknya, yang memerlukan seni pendekatan tersendiri sesuai dengan karakter orang yang dipimpin.

Selain itu pemimpin juga harus memiliki kemampuan melakukan terobosan-terobosan dan inovasi-inovasi sebagai agent of change untuk menjadikan organisasi pembelajar (learning organization) yang adaptip, sehingga mampu bersaing dalam tataran global. Tidak menarik ketika para pemimpin menyalahgunakan fungsi dan kewenangannya dalam memimpin, sehingga merugikan banyak orang, diri sendiri, dan organisasi yang dipimpin. Jika hal ini terjadi, tidak salah jika mass media sering menyuguhkan issu bahwa kita mengalami krisis kepercayaan pada pemimpin.

Guna menjawab tantangan abad 21 yang sarat dengan perubahan, konsep kepemimpinan spiritual yang universal yang telah dikembangkan oleh Louis W. Fry sejak tahun 2003 nampaknya adaptif diterapkan kekinian (saat terjadinya krisis kepercayaan pada pemimpin) pada berbagai jenis organisasi. Selain itu, kepemimpinan spiritual juga sesuai dengan prinsip kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro: ing ngarsa sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani (di depan menjadi teladan, di tengah membangun prakarsa, dan di belakang mengikuti dengan penuh daya). Berdasarkan sejarah (-ini salah satu contoh-), Maha Patih Gajah Mada menerapkan model kepemimpinan spiritual, yang akhirnya menjadikan kerajaan Majapahit mencapai puncak keemasannya. Oleh karena itu sudah selayaknya konsep kepemimpinan spiritual yang etis religius dan berlaku universal diusung dalam memimpin. Nilai-nilai spiritual dan etika religius berfungsi sebagai sarana pemurnian, pensucian, dan pembangkitan nilai-nilai kemanusiaan yang sejati (hati nurani). Nilai-nilai etis religius berperan sebagai mission-focused, visiondirected, philosophy driven dan value-based institution dalam memajukan organisasi.

Kepemimpinan spiritual adalah jenis kepemimpinan yang menggabungkan nilai-nilai, sikap. dan perilaku yang diperlukan untuk memotivasi diri sendiri dan orang lain sedemikian rupa secara intrinsik, sehingga mereka memiliki rasa pertahanan spiritual melalui panggilan tugas dan keanggotaan sebagai bagian organisasi. Dengan konsep ini, para pemimpin yang menerapkan kepemimpina spiritual diharapkan mampu mengarahkan anggotanya secara bijak untuk melakukan perubahan-perubahan yang diinginkan. Sebab jenis kepemimpinan birokratis selama ini dengan merefleksikan anggota yang mengutamakan sentralisasi, standarisasi, dan formalitas, memotivasi bawahannya dengan menimbulkan ketakutan dan imbalan-imbalan ekstrinsik, tidak menjadi sumber pertahan spiritual. (Fry, 2003).

Dengan demikian, kepemimpinan spiritual adalah kepemimpinan yang (1) mampu menciptakan suatu visi dimana para anggota organisasi mengalami perasaan terpanggil dalam menyelesaikan tugas-tugas keorganisasian (ada atau tidaknya pimpinan), menemukan makna hidup, dan membuat sesuatu yang berbeda (inovatif). (2) Mampu membangun budaya organisasi berdasarkan cinta altruistik dimana pemimpin dan pengikut sungguh-sungguh saling perhatian, peduli, dan menghargai satu sama lain, sehingga menghasilkan rasa keanggotaan, merasa dipahami dan dihargai.

Kekuatan pemimpin yang menerapkan kepemimpinan spiritual adalah kemampuannya membiiat visi yang jelas. Sehingga, ketika proses perwujudan visi tersebut akan membentuk dasar kontruksi sosial budaya organisasi sebagai sebuah organisasi pembelajar, serta membentuk sistem etik dan nilai-nilai inti yang mendasar. Dengan begitu cinta altruistik akan tumbuh secara membudaya ketika proses perwujudan visi oleh pemimpin spiritual. Seseorang yang menerapkan kepemimpinan spiritual adalah orang yang berjalan di muka saat seseorang membutuhkan orang untuk diikuti (sesuai komponen visi), berjalan di belakang ketika seseorang membutuhkan dorongan (sesuai komponen harapan dan keyakinan), serta berjalan di samping saat seseorang membutuhkan teman atau sahabat (sesuai komponen cinta altruistik).

Pemimpin dengan kepemimpinan spiritual, memimpin melalui diskursus intelektual dan dialog, dan memiliki keyakinan bahwa bila orang-orang dilibatkan dalam pengambilan keputusan, mendapatkan informasi yang dibutuhkan, akan dapat membuat keputusan intelektual dan bertanggung jawab, serta akan tumbuh self belonging pada organisasi.

Sesungguhnya dalam konsep Hindu, kepemimpinan spiritual sudah ada sejak lama. Seperti kepemimpinan Asta Brata misalnya, atau kepemimpinan Catur Naya Sandhi, dan sebagainya, adalah jenis kepemimpinan yang kental dengan nilai-nilai dasar spiritual. Kepemimpinan Asta Brata adalah pemimpin yang menerapkan sifat-sifat dewa atau sifat-sifat kedewataan. Dan itu pulalah sebabnya unsur-unsur kepemimpinan Asta Brata meng-gunakan nama-nama Dewa (Indra, Surya, Bayu, Yama, Baru-na, Candra, Agni, dan Kuwera), dan sifat-sifat Dewa-Dewa tersebut diimplementasikan ketika memimpin, dengan landasan (1) Satya Hrdaya (jujur terhadap diri sendiri/setia dalam hati), (2) Satya Wacana (jujur dalam perkataan/setia dalam ucapan), (3) Satya Samaya (setia pada janji), (4) Satya Mitra (setia pada sahabat), dan (5) Satya Laksana (jujur dalam perbuatan). Kelima dasar pengendalian diri tersebut dan etika religius yang dimiliki akan menjadikan pemimpin berwibawa dan disegani bawahan.

Pemimpin yang menerapkan kepemimpinan Asta Brata akan berperilaku bijaksana dengan menggunakan kekuatan hati nuraninya dalam memimpin tanpa menghilangkan aspek kecerdasan intelektual dan ke-cerdasan emosional, termasuk kecerdasan spiritualnyya. Justru hadirnya kepemimpinan spiritual menggabungkan ketiga aspek tersebut, dengan menjadikan nilai-nilai spiritual sebagai core belief, core values dan filosofi dalam perilaku kepemimpinannya. Dengan demikian, kepemimpinan spiritual adalah kepemimpinan yang mengedepankan cipta (pikir), karsa (keinginan/nafsu), karya (tindakan) dan rasa (hati nurani), dengan sifat utama integrity, trust, smart, dan openly, sehingga mampu memimpin dengan cara mengilhami tanpa mengindoktrinasi, menyadarkan tanpa menyakiti, membangkitkan tanpa memaksa, dan mengajak tanpa memerintah.

Closing statement: sebagai pemimpin, sudah saatnya kita mengusung model kepemimpinan spiritual di tengah memudarnya kepercayaan masyarakat kepada pemimpin, dengan me-ngedepankan nilai-nilai dasar {core belief, core values) dan etika religius.

Oleh: Dr. Ni Putu Suwardani. M.Pd., Dosen Program Pasca Sarjana UNHI
Source: Wartam, Edisi 21, Nopember 2016