Genta dalam Fisiologi Jantung Manusia

Om Omkara Sadasiwa sthahjagatnatha hitangkara-habhiwada wadanyahghanta sabda prakasyate
Om Ghanta sabda maha srestah Omkara parikirtitah Chandra nada bhindu nadan-tamspulingga Siwa tattwan ca
Om Ghantayur pujyate dewahabhawya bhawya sadeyahwara siddhir nih sansayam

Demikian mantra pada saat sang pandita melakukan penyucian terhadap genta yang akan digunakan untuk memimpin upacara. Apa yang dapat kita pahami dari alat pemujaan tersebut? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia arti genta sendiri adalah alat bunyi-bunyian yang terbuat dari logam berbentuk cangkir terbalik dengan sebuah pemukul yang tergantung tepat di porosnya dalamnya, apabila pemukul itu mengenai dinding cangkir, cangkir tersebut akan menghasilkan bunyi-bunyian.

Genta dan bajra sudah lumrah kita temukan dalam upacara keagamaan, genta sebagai senjata Dewa Iswara memiliki keagungan yang sangat luar biasa dalam Lontar Kusuma Dewa disebutkan:

Nihan pawekasing batara, ring pemangkun ida, yang rawuh patatoyan ida ring madia pada, kena pemangkun ida angasrening batara, angagem bajra patatoyan, maka weruh ikang mangku, kawit kertaning betara, yanora ngagem bajra, nora weruh ring kepemangkuan, anggo-raora, angiya-ngiya sira, angasa asa, nora kayum ida turun, apan sira tan meling ring kawit-kawitan kandaning pamangku”.

Genta menjadi penghantar persembahan kehadapan Hyang dan menjadi pertanda bahwa ditempat itu sedang dilakukan upacara, bahkan dapat mengundang para Dewa (Kukul Dewa). Tangan kiri yang menabuhkan genta memiliki makna agar genta selalu berada dekat dengan jantung manusia. Karena posisi jantung normal manusia berada dalam rongga dada sebelah kiri setinggi putting susu dan sebesar kepalan tangan kita. Benar saja disebutkan dalam Kidung Aji Kembang.

Ring purwa tunjunge putih, Hyang Iswara Dewa Tania, Ring papusuh pre-na-hira......

Dalam Puja Asta Mahabaya juga disebutkan:

Om Om Asta Maha Bhayaya, Purwa desaya, Iswara dewaya, sweta warnaya, Bajrahastraya, sarwa satru winasa ya ya namah.

Tentunya hal tersebut bukan hanya kebetulan belaka, jantung yang merupakan organ vital menusia berbentuk juga hamper menyerupai genta atau bajra. Ujung dari genta (palit) menyerupai ujung jantung yang disebut dengan ictus cordis. Terkadang pada tubuh yang kurus kita dapat lihat dan rasakan detakan ictus cordis pada bagian kiri dada tersebut.

Jantung secara sederhana dapat dibagi menjadi empat ruangan Atrium (serambi) kanan dan kiri serta Ventrikel (bilik) kanan dan kiri. Diantara ruangan tersebut akan dibatasi oleh septum atau penyekat. Darah yang masuk melalui pembuluh darah balik (Vena Cava Superior dan Inferior) akan masuk ke bagian serambi kiri kemudian bilik kiri dipompa ke paru-paru. Darah yang sudah mengalami pertukaran udara diparu-paru akan kembali ke jantung, masuk melalui serambi kiri diteruskan ke bilik kiri dan kemudian akan dipompa ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah besar yang bernama Aorta.

Untuk melaksanakan tugasnya jantung manusia dilengkapi dengan sistem pengaturan yang memiliki otoritas sendiri. Otoritas tersebut berupa sitem persarafan otonom simpatis dan para simpatis serta system hormonal. Persarafan otonom simpatis akan membuat peningkatan detak jantung dan kontraktilitas otot-otot jantung, kejadian tersebut juga dipengaruhi oleh hormone adrenalin, lumrah disebut dengan reaksi fight or flight. Ketika tubuh menangkap respon ada stressor atau bahaya, tubuh segera mengaktifkan system simpatis. Begitu pula dengan system parasimpatis yang biasa disebut dengan respon rest and digest sangat khas sekali ketika tubuh kita beristirahat dan mencerna makanan akan terjadi penurunan detak jantung akibat aktivasi saraf parasimpastis Vagus.

Untuk berdetak otot jantung memiliki alat berupa pacu alamiah bernama Nodus Sinus atau Sino Atrial (SA) Nodus tempat impuls ritme normal dicetuskan, Nodus Atrio Ventrikular dimana impuls yang berasal dari Nodus SA mengalami perlambatan sebelum masuk ke bilik jantung. Cabang-cabang berkas serabut-serabut Purkinje kiri dan kanan akan menghantarkan impuls-impuls ke seluruh bilik jantung. Hal ini mengingatkan kita dengan senjata Genta Wairocana yang sangat identic dengan halilintar (kelistrikan).

Kelainan di jantung, ada yang disebabkan oleh kelainan bawaan (kongenital) dan dapatan. Kelainan kongenital salah satunya akbita bayi lahir kurang bulan, kelainan dapatan akhir-akhir ini juga sangat menjadi perhatian. Siapa yang tidak kenal dengan Heart Attack (serangan jantung), penyakit ini menjadi salah satu penyebab kematian mendadak tersering. Biasanya dikarenakan oleh sumbatan pada pembuluh darah coroner yang mengaliri jantung. Gaya hidup yang kurang baik dan kebiasaan merokok menjadi factor resiko yang sangat berperan dalam munculnya sumbatan pembuluh darah tersebut. Kelainan pada kelistrikan jantung dan anatomis kejadiannya sangat banyak belakangan ini, sehingga bila dikaitkan apakahkan kejadian tersebut menjadi salah satu pertanda kurang selarasnya kehidupan manusia dengan alam dan pencipta.

Mencermati trend yang berlangsung saat ini juga terdapat oknum-oknum yang mencoba menggunakan Bajra dan Genta lengkap dengan Swamba dan Siwa Upakarana untuk memimpin persembahyangan, padahal belum melakukan Dwijati, hal ini perlu menjadi perhatian kita bersama bahwa bisa belum tentu boleh.

Dalam Lontar Usada Punggung Tiwas juga dijelaskan “....... Sangyang Dasaksara, kadi hiki genahnya ring jro, kawruhakena denira, sang mahulah Ralyan, Sang, ring pupusuh, Iswara Dewanyu, putih rupanya .......” dari beberapa naskah tersebut terang dijelaskan bahwa Dewa Iswara menampati arah Timur senjatanya Genta dan ketika di Bhuawana Alit atau dalam tubuh manusia beliau berstana di jantung. Hal tersebut menegaskan kembali bahwa tubuh manusia adalah bagian yang tak terpisahkan dari alam semesta atau Bhuana Agung. Dengan demikian sudah menjadi kewajibannya kita menjaga kesucian dari simbol-simbol agama Hindu, dengan cara pola diet sehat, mengurangi konsumsi rokok dan rajin berolahraga secara langsung akan menjaga jantung kita. Kemudiaan kembali menegakkan sesana penggunaan Bajra dan Genta juga menjadi sarana menjaga kesucian Hindu.

Oleh: Cahyadi Surya DP
Source: Majalah Wartam, Edsisi 30, Agustus 2017