Genderang Prambanan

Prambanan adalah salah satu kaukus yang menengahi Sleman dan Klaten, membatasi Jawa Tengah dan Yogyakarta. Pada sekitar 850 atau abad 9, di wilayah itu, candi-candi bertekstur ramping didirikan, disusun megah menjulang. Manyaksikan ujungnya dari kejauhan, tak keliru Prambanan terpuji  sebagai artefak terastistik dan estetik seantero nusantara, mungkin juga di dunia. Tak sampai disitu, kisah mistik berbaur mitos dan gaib membuatnya semakin ikonik. Ia adalah glorifikasi dari berbagai fitur, dari agama hingga budaya. UNESCO tidak pernah ragu menjadikannya salah satu Situs Warisan Dunia pada 1991.

Pahatan dan ukiran di bebatuan candi adalah cara para mahakawi untuk menguratkan setiap peristiwa sejarah dari keagungan peradaban Hindu, mengabadikan laku luhur yang tak akan mau dikhianati jaman. Dan setiap plot dalam relief-relief di kulit candi itu akan terus menyegarkan ingatan setiap lapis generasi Hindu tentang masa lalunya. Kemegahan Prambanan, kelihaian mahakawi dan kecanggihan arsitektur berpadu padan dengan paripurna untuk melapangkan jalan kesatuan menuju unifikasi Tri Murti.

Namun Candi Prambanan sesungguhnya adalah Siwalaya atau “rumah” siwa, sang raja diraja. Seluruh menit perjalanan akan berakhir di puncak anak tangga sangkan paraning dumadi itu. Sebagai Siwagraha, wahana tertinggi dalam Candi Prambanan diampu Sang Siwa. Kelahiran (Brahma) dan kehidupan (Wisnu) menjadi perlintasan menuju kematian, tempat segala keindahan justru akan dimulai lagi. Siwa menjadi akhir sekaligus awal dalam siklus Tri Kona. Siwa adalah episentrum pemujaan yang dibiarkan tumbuh subur pada masa Dinasti Sanjaya berkuasa, dan kini pengaruh Siwaisme masih yang terkuat di tengah belantara aliran, mazbab, sekte, dan kepercayaan Hindu lainnya.

Sejarah romantik namun getir tentang cinta tak berbalas antara Bandungwoso dengan Roro Jongrang, ornamen yang rumit namun sangat indah, serta labirin tebal tentang kuatnya Siwaisme, menjadikan Prambanan hadir sebagai saksi setiap denyut peradaban Nusantara. Candi Prambanan adalah cara cerdas mahakawi menancapkan secara simbolik keagungan peradaban Hindu, puncak keemasan Hinduisme, dan sumbu abadi yang telah meniupkan semangat berlimpah para leluhur untuk menjadi perawat awal “agama lokal” nusantara dan penuntun “tetamu” yang datang kemudian. Prambanan itu keras sekaligus lembut, Prambanan itu njlimet sekaligus indah, Prambanan itu akhir sekaligus awal. Ia sebuah tanda kesunyatan, tempat paling eksotik para dewa dan bhuta mencumbu somya.

Ketika matahari tepat berada digaris katulistiwa, Prambanan bersiap untuk “mengorbankan diri” sebagai pemuka setiap Tahun Baru Saka. Ia menjadikan candinya sebagai tiang pancang tawur agung kesanga di Nusantara. Lalu, sang angga Prambanan mengikhlaskan dirinya ditaburi segala rupa korban, gemericik tirtha, gemuruh kidung, kerancakan bunyi gong, barisan banten yang elok berwarna-warni, niat suci dan peluh para pemedek. Semua menyatu dalam alunan doa dan kesyahduan bunyi genta para pandita. Semarak, gemerlap, lalu hening, sunyi di halaman depan Candi Prambanan. Dua dunia menunggal, teapt saat tajeg surya hingga saatnya lenyap ditelan senja temaram negeri Mataram.

Siang terik di hari terakhir ke 365 itulah waktu terhebat mempersembahkan caru, tawur agung agar akibat negatif dari alam yang digerakkan bhuta ternetralisir kembali menjadi positif untuk makrokosmos dan mikrokosmos. Bukan saja saat akan menjejaki hari pertama Tahun Saka 1939, tetapi menjaga keseimbangan, keselarasan, dan keharmonisan hingga tiba di hari 365 nanti. Selalu begitu, dan seterusnya seperti itu. Namun skilus Tri Kona bukanlah tentang durasi yang dapat berakhir klimaks begitu saja, karena dewa dan bhuta segera akan memulai pertarungan untuk menjadi pemenang. Nyepi, sipeng keesokan harinya bukan hanya berarti diam tak bermakna, tetapi juga tetap “bekerja”, mengerjakan aktivitas rohani, spiritual, karena godaan atas keseimbangan diri justru dimulai.

Nyepi adalah juga ujian sesungguhnya atas tegang lemah dan keras lunak pertarungan manusia dengan dirinya sendiri, bukan hanya sekadar mematikan lampu (amati gni), tidak bekerja (amati karya), enggan berpergian (amati lelungan), dan memalingkan nafsu dari kesenangan (amati lelanguan). Analog dengan tahapan-tahapan ini, setelah bergembira menjamu para bhuta dengan makanan terlezat dan termanis (caru), kita diajak menaiki pelataran Candi Prambanan tempat di mana epik Ramayana dan Mahabharata biasa dipentaskan. Di pelataran itu, perkelahian abadi antara yang baik dan yang jahat kembali dapat ditonton. Begitulah kita. Panggung kehidupa ini mungkin selalu tampak anyar, tetapi lakonnya tetaplah lawas: rwa bhineda, sekala-niskala.

Kita terus ingin “pergi” dan “pulang” dari Prambanan untuk menikmati saat-saat kematian menjumpai kehidupan. Kita merindukan Prambanan untuk berserah diri sekaligus bersemangat untuk memenuhi pertarungan. Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939, sampai jumpa di Candi Prambanan lagi.

Oleh: I Nyoman Yoga Segara
Source: Majalah Wartam, Edisi 25, Maret 2017