Gemah Ripah Loh Ginawe 'Kita Usahakan Sejahtera'

A. Gemah Ripah Harapan Masyarakat Agraris

Ungkapan “gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja” merupakan suatu kalimat ungkapan untuk menggambarkan keadaan bumi pertiwi Indonesia. Gemah ripah loh jinawi berarrti kekayaan alam yang berlimpah, sedangkan tata tentrem kerta raharja adalah keadaan yang tenteram. Kondisi ideal dari suatu tempat tinggal bak negeri dongeng yang memberikan apa saja yang diinginkan penghuninya. Kondisi ekonomi yang sangat baik, merata adil dan makmur karena dintujang oleh kesuburan tanahnya. Keadilan merata sehingga kehidupan masyarakat amat sejahtera dan tentram tidak ada gejolak yang mengarah pada tindak kekerasan atau anarkisme, semua bersukacita, dalam kondisi bahagia. Mungkinkah Indonesia mencapai masa keemasan seperti itu?

Sebagai masyarakat agraris nenek moyang kita menyadari bahwa sumber daya alam Indonesia begitu kaya, sehingga mereka memilih menempati lembah-lembah subur yang ada di Indonesia untuk bercocok tanam. Mengolah lahan pertanian yang subur merupakan keterampilan yang telah dimiliki oleh masyarakat sejak zaman dahulu. Ketika lahan tidak lagi menguntungkan maka mereka akan berpindah membuka lahan baru yang lebih subur, maka terjadilah tradisi ladang berpindah. Ketika hutan masih luas, tanah subur terbentang tak bertuan masyarakat dapat dengan leluasa merabas hutan untuk pertanian tanpa suatu masalah. Benar-benar gemah ripah loh jinawi itu ada, apalagi hutan juga menyediakan berbagai kebutuhan hidup: kayu bahan bangunan, daun atap rumah, rotan untuk aksesories, umbi-umbian, buah-buahan bahkan sayuran, sungai dengar air jernih dipenuhi ikan dan udang.

Gambaran kondisi demikian itu juga dilukiskan dalam Kakawin Ramayana, saat Sri Rama ditemani Laksamana menyusuri hutan dalam pencarian Dewi Sita yang diculik Rahwana. Sepanjang perjalanan dikisahkan Sri Rama dan Laksamana melewati hutan yang subur yang dipenuhi dengan bunga-bunga, buah-buahan dan beraneka sayuran. Air sungai yang jernih untuk melepas dahaga, berbagai jenis ikan yang terdapat di dalamnya yang kaya akan manfaat bagi tubuh, sungguh pemandangan yang menajubkan yang telah dilukiskan oleh Empu Yogiswara di masa silam. Empu Yogiswara menggambarkan tentang kepuasan bathin melalui pemandangan alam yang ia jabarkan. Di sana ia juga menyampaikan pengetahuan tentang tanaman dan berbagai jenis ikan yang bermanfaat bagi tubuh. Ada rasa kagum, bahagian dan bersyukur melihat gambaran alam yang demikian bersahabat dengan manusia. Seolah alam telah menyediakan berbagai kebutuhan manusia.

B. Ketika Keingin dan dan Orientasi Berubah

Hidup selalu mengalami perubahan, dari satu keinginan sederhana sampai yang paling kompleks membawa manusia untuk selalu berbuat memenuhi berbagai keinginannya. Keinginan manusia yang semakin hari semakin kompleks mendorong perkembangan kemajuan ilmu dan teknologi. Tanah subur saja tidak cukup, atau melimpahnya hasil tambang di bumi nusantara ini pun tidak cukup lagi untuk memuaskan keinginan manusia. Tanah-tanah subur tidak lagi tersedia, sungai tidak lagi mengalirkan air yang jernih dan ikan-ikan telah banyak yang punah, hutan telah menjadi gundul. Semua terjadi begitu singkat akibat keserakahan manusa yang mengumbar nafsu demi mengumpulkan harta lupa melestarikan alam.

Apa yang dikatakan oleh Empu Yogiswara memang benar bahwa hawa nafsu adalah musuh yang paling dekat dihati tempatnya tidak jauh dari badan sendiri “Ragadi musuh maparo, ri hati ya tonggwannya tan madoh ringawak......” bahwa segala yang terjadi yang berupa rusaknya bumi tidak dapat lepas dari pengarus hawa nafsu. Maka sebagai kunci dari lestarinya alam dan tentramnya kehidupan adalah terkendalinya Raga (nafsu), yang bertempat di hati. Artinya hati (pikiran) kitalah sumber segala kebaikan dan keburukan itu. Fenomena yang kita hadapi saat ini dampak dari kurang terkendalinya pikiran manusia. Hal ini menandakan kurang bijaknya manusia-manusia dalam berfikir yang kemudian tertuang dalam kata maupun tindakan yang kurang terpuji.

Lukisan sejahtera dimasa lalu seperti yang dilukiskan dalam kisah Ramayana memang berbeda dengan masa kini. Ukuran sejahtera dewasa ini banyak diukur dari kepemilikan harta benda atau materi. Walaupun sebenarnya hal itu tidak sepenuhnya dapat digunakan sebagai tolak ukur kata sejahtera. Sehingga dewasa ini kamakmuran (gemah ripah loh jinawi) itu bukanlah sesuatu yang kita terima saja sebagai karunia Tuhan melalui alam melainkan sesuatu yang patut diperjuangkan dengan kerja gigih untuk terciptanya hidup damai dan sejahtera. Tanpa kerja keras kesejahteraan bersama itu tidak akan pernah kita raih.

C. Ginawe untuk Gemah Ripah Nusantara

Presiden Jokowi senantiasa mengajak semua elemen dalam masyarakat untuk kerja, kerja, dan kerja. Artinya kerja itu tidak berorientasi pada hasil, melainkan fokus pada kerja itu sendiri, karena kerja pasti ada hasilnya. Jika budaya kerja ini telah mengakar dalam masyarakat maka secara otomatis akan menciptakan system kerja yang lebih efisien dan paling efektif. Apa yang dilakukan Jokowi sebenarnya hanyalah membawa kembali falsafah Jawa dalam dunia kerja nyata, “Rame ing gawe sepi ing pamrih” yaitu giat dalam bekerja tetapi tidak mengharapkan imbalan (kerja, kerja, kerja). Falsafah Jawa yang didasari ajaran Hindu ini diharapkan bukan hanya sekadar slogan tetapi merupakan jiwa bangsa Indonesia sebagai senjata untuk mewujudkan kesejahteraan sosial.

Resi Canakya dalam Canakya Nitisastra I.9, mengungkapkan ciri dari suatu Negara yang sejahtera yang layak sebagai tempat tinggal:

Dhanikah strotriyo raajaa
Naadi vaidyastu pancamah.
Panca yatra na vidyate
Na tatra divas am vaset

Artinya:
Apabila tidak ada lima unsur seperti orang kaya (dhanikah), orang suci (strotria) yang ahli Veda, pemimpin (raja), orang yang hali dalam pengobatan (vaidya) dan sungai (nadi) ditempat tersebut, maka hendaknya janganlah bermukim di tempat itu.

Demikian Canakya menegaskan lima hal sebagai tempat yang layak untuk ditempati, yaitu ekonom, rohaniawan, pemimpin, pengobat, sungat atau sumber air. Kelima hal ini mutlak diperlukan untuk terciptanya masyarakat yang makmur.

Seandainya ekonom tidak berjuang untuk kantong sendiri maka bangsa ini akan berdikari. Suatu bangsa amat sangat bergantung pada para ekonom yang berperan vital sebagai pengangkut “air” roda perekonomian disegala bidang. Para pemilik modal berperan besar dalam kelangsungan pembangunan. Ia banyak menopang kehidupan masyarakat lapis bawah melalui geliat ekonomi. Para petani  bergairah karena karena dagangannya laku keras dipasaran, para pengerajin dengan tekun bekerja karena menerima upah yang bagus, para nelayan bergairah karena hasil tangkapannya menguntungkan. Semua lapisan masyarakat bergairah karena memperoleh keuntungan, dan semua itu adalah peran para ekonom untuk menghidupkan geliat ekonomi masyarakat.

Jika rohaniawan tidak ikut campur dalam urusan politik pasti tidak akan terseret dalam ranah hokum, dan umatnya akan kocar-kacir. Sudah menjadi tuga para rohaniawan membuat masyarakat tentram melalui pembelajaran agama (weda) yang bersumber dari sabda suci Tuhan. Veda menuntun umatnya agar tidak lepas dari tujuan hidupnya yaitu Moksartham Jagadhita. Memberikan pemahaman akan pentingnya catur warna dan praktek hidup dalam catur asrama. Sehingga tatanan masyarakat tetap terjaga dengan baik sesuai rel dharma.

Apabila para pemimpinnya korup maka pembangunan banyak yang mangkrak, rakyat yang miskin makin bertambah, kekacauan ada dimana-mana. Nusantara bukan hanya memerlukan pemimpin yang cerdas dan pemberani, tetapi juga religious dan sederhana. Kesederhanaan akan muncul kepermukaan jika seseorang benar-benar religius, sehingga keputusan yang diambil bukan hanya berdasarkan logika tetapi melalui budi luhur dari seorang yang religius.

Dalam Kakawin Ramayana Mpu Yogiswara menggambarkan sosok pemimpin yang mampu membawa kesejahteraan antara lain adalah selalu berpegang pada dharma (prihan temen dharma dumaranang sarat), mengikuti tauladan dari orang-orang suci (saraga yang sadhu sireka tuttana), jangan terikat pada harta duniawi dan hawa nafsu (tan arta tan kama), jangan pula berjuangan untuk nama besar (pidonya tan yasa).

Jika para dokter tidak professional dan tidak bermoral akan sangat membahayakan, terjadi jual beli organ manusia, praktek kesehatan illegal hanya untuk menimbun kekayaan sendiri. Mereka akan bekerja tanpa motif yang jelas, karena hanya uang yang jelas di depan mereka. Terlebih lagi jika tidak ada sumber air bersih maka akan lengkaplah segala kekacauan, sebab air merupakan sumber kehidupan. Tidak salah jika kelima hal itu dikerjakan untuk kesejahteraan bersama “Gemah Ripah Loh Ginawe”.

Oleh: Gede Adnyana
Source: Majalah Wartam, Edisi 29, Juli 2017