Gatutkaca Sraya

Pengantar

Pada usia penulis masih kanak-kanak, seorang dalang asal desa Sukawati, I Nyoman Granyam sakit. Berobat inap, di rumah dukun, di geria Kedaton. Dalam keadaan agak sembuh, beliau datang ke rumah kami di Lebah. Membawa oleh-oleh, buku tulisan tangan berwujud geguritan, tembang-tembang macapat. Isinya dua, cerita mengungkap rasa sedih, rasa karuna:

1. Sakuntala, selagi masih bayi, ditinggal ibu Menaka balik ke Indra Loka, ayah Resi Wiswamitra, pergi bertapa memuja Tuhan.
2. Gatut Kaca Sraya, Gatut Kaca berserah diri berupaya menikahkan Bimaniu dengan Diah Siti Sundari dan Diah Utari.

Bapak I Wayan Rindi (alm. 1976), suka membaca geguritan ini, untuk mengantar tidur bagi penulis selagi usia kanak-kanak. Pengidung berhenti membaca geguritan tulis tangan dalang I Nyoman Geranyam (alm). Ketika beliau tahu bahwa anak penikmat geguritan, menangis mengapresiasi kesedihan dalam tembangyang dilantunkannya.

Gatut Kaca Seraya

Dituangkan dalam wujud naskah lakon wayang Kulit Parwa, guna menambah naskah lakon Wayang Parwa tertulis, bagi para pembaca.

Madura Kerajaan makmur, adil aman dan damai, diperintah oleh raja Baladewa. Suyodana, bersama para Korawa Seratus, didampingi Sekuni datang menghadap Prabu Baladewa, di Madura. Menyatakan bahwa Suyodana iri hati, terhadap para Pandawa. Ungkapan Suyodana, dalam bahasa sandi, kehadapan Baladewa: "Pohon beringin kecil tumbuh di gapura Dwarawati wajib dibasmi!" Menyindir, bahwa Bimaniu ibarat pohon beringin kecil, tumbuh di gapura Agung Dwarawati, Bimaniu, dilatih ilmu perang dan iptek, oleh Sri Kreshna raja Dwarawati. Sri Kreshna membiarkan Bimaniu dan Diah Siti  Sundari menikmati kesempatan bersama-sam di kraton Dwarawati.

Sri Kreshna pergi bertapa, menitipkan kraton dan kerajaan kepada Prabu Baladewa raja Madura. Atas saran dan usul Suyodana pasukan Madura bersama Korawa Seratus, mengadakan penyelidikan mendadak ke kraton Dwarawati. Menggerebeg sebuah gedong di Puri Agung Dwarawati pada malam itu juga. Disetujui! Dengan iringan Gender Gendhing Angkat-Angkat, pasukan Madura dan pasukan Korawa Seratus berangkat menuju Puri Agung Dwarawati. (Kekayon Penyalit, gender Batel).

Puri Agung Dwarawati

Merenungi kepergian Sri Kresna sedang bertapa dihutan, Bimaniu dan Diah Siti Sundari melaksanakan latihan tari bagi remaja putra putri kraton Dwarawati, (Diiringi Gender Gendhing Rebong). Selagi istirahat latihan menari, kegaduhan diluar tembok Puri Agung Dwarawati terdengar santer. (Kekayonan Penyalit Batel-Minggah/berubah menjadi-Gender Gendhing Bapang Dalem). Rombongan Madura dan Korawa Seratus masuk Puri Agung Dwarawati.

Tari Ponakawan Delem dan Sangut, diiringi Bapang Dalem. Delem dan Sangut, dalam bahasa lumrah menggunjingkan keadaan Korawa Seratus, yang sedang dirundung iri hati kepada Pandawa Lima. Dahulu, Suyodana menginginkan Subadra adik Sri Kreshna, menjadi permaisuri Astina, agar kawin dengan Suyodana. Batal!. Arjuna, menang dalam sayembara Subadra. Subadra berputra Bimaniu.

Putri Sri Kreshna, bernama Diah Siti Sundari, direncanakan Suyodana menjadi istri Laksana Kumara putra Suyodana. Nemu hambatan besar. Sengaja Sri Kreshna membawa Bimaniu ke Dwarawati untuk dilatih ilmu perang, didekatkan kepada Diah Siti Sundari. Ditinggal oleh Kreshna pergi bertapa. Inilah bibit-bibit yang menimbulkan iri hati Suyodana terhadap para Pandawa Lima dan Sri Kreshna. Isi gunjingan ponakawan Delem dan Sangut, mengikuti para pasukan Madura dan Astina Korawa Seratus, memasuki Puri Agung Dwarawati.

Sebelum pasukan masuk gerbang istana, Diah Siti Sundari, menarik Bimaniu memasuki sebuah gedong didalam Puri Agung Dwarawati, dan mengunci pintu Gedong dari dalam.

Para pasukan Korawa dan Madura, hadir memenuhi halaman Puri Agung Dwarawati. Selagi Diah Siti Sundari dan Bimaniu didalam Gedong. Larut malam, atas usul Suyodana, gedong tempat. Diah Siti Sundari dan Bimaniu berdua-duaan, dikitari dari segala penjuru arah, oleh pasukan Korawa Seratus dan. pasukan Madura; diteriaki agar isi gedong : "keluar!".

Setelah berbenah diri, Diah Siti Sundari keluar melalui pintu depan gedong, menemui Suyodana dan para pemuka lainnya. Diah Siti Sundari menyapa dengan renyah dan penuh kelembutan budi pekerti. Pasukan Korawa dan Madura, menjadi malu tersipu-sipu mengagumi tingkah laku Diah Siti Sundari, tampil seorang diri, menatap Suyodana dan pasukannya.

Bimaniu diam-diam keluar melalui pintu belakang, yang sepi, dipergoki oleh Satyaki. Satyaki membuatkan Bimaniu lolos, keluar dari lingkungan Puri, untuk menyelamatkan diri.

Setra Gandamayit

Malam kelam hujan rintik-rintik, Bimaniu berteduh dibawah atap sebuah makam, merenungi nasib sial, dalam suasana rasa sangat menyedihkan. (Kekayon Penyalit Gender Batel menjadi Gending Tunjang) Kalika dan para   penjaga Setra Gadamayit, menangkap Bimaniu yang berteduh dibawah atap sebuah makam. Bimaniu diserahkan kehadapan Dewi Durga oleh Kalika dan kawan-kawan. Durga hendak memangsa Bimaniu, tetapi tidak mempan. Bimaniu, dijadikan mainan, diperintahkan menari, ditonton bersama oleh Dewi Durga, Kalika serta para pengikut Dewi Durga yang lain-lain dalam suasana seram sangat menakutkan. Dewi Durga, kagum melihat ungkapan gerak tari Bimaniu. Meminta Kalika, membawa Bimaniu melepaskannya disebuah Taman Kota Kurubaya, milik Gatut Kaca.

Taman Kota Kurubaya

Bimaniu, bersama ponakawan Tuwalen dan Merdah, mandi berenang dalam kesejukan telaga Taman Kota Kurubaya itu. Dalam keremangan subuh usai mandi berenang ditelaga Taman Kota Kurubaya, Bimaniu terkesiab, mendapatkan busananya berubah wujud. Terdiri dari kain dalam Diah Sri Sundari, Bimaniu marah besar. Mengira roch halus Taman kota Kurubaya, telah menukar, merubah wujud busana Bimaniu, menjadi kain dalam perempuan. Bimaniu merigobak-abrik Taman Kota Kurubaya, sampai rusak, hancur total. (Gender Batel).

Gatut Kaca Marah

Dalam Tembang Bebaturan, Gatut Kaca tiba di Taman Kota. Kurubaya pada pagi hari. Mengetahui Bimaniu telah merusak Tamah Kota Kurubaya, Gatut Kaca marah, memukuli Bimaniu sampai babak belur. (Gender Batel). Bimaniu, menangis sedih, menyebut-nyebut nama Sri Kresna dan nama-nama para Pandawa Lima, meminta pertolongan (Gender Mesem) Gatut Kaca, berwanti-wanti memukuli, menganyiaya Bimaniu sedih.

Gunjingan Ponakawan

Tuwalen/Merdah, dalam suasana sedih menggunjingkan berbagai hal : Merdah kepada Tuwalen ; "Nanang, binatang piaraan, seperti babi, kebo dan sapi dikala masa wabah berjangkit dizaman agraris. Para pemilik binatang piaraan itu mengalungi piaraannya, dengan sobekan kain dalam kotor para ibu-ibu. Agar binatang piaraan, tidak terkena wabah penyakit". "Bimaniu memakai kain dalam perempuan Diah Siti Sundari, ketika menyelamatkan diri dari Gedong Puri Agung Dwarawati", "Bimaniu, tidak mempan digigit oleh Battari Durga, biang dari segala wabah penyakit!" Karena Bimaniu memakai kain dalam orang perempuan. Apakah hal ini, alasan tepat, Nang?". Tuwalen :"Tak tahulah, ach?!" Tuwalen : "Selagi DPR RI, sedang merancang UU Porno Aksi, apakah jenis cerita lakon Gatut Kaca Seraya ini, tidak diungkap saja, ya Dah?". Merdah: "Aku bingung!"

Bimaniu dipukuli bertubi-tubi oleh Gatot Kaca, Bimaniu sedih menangis meminta tolong dari Sri Kreshna dan Pandawa Lima. Mendengar ucapan tangis Bimaniu, Gatut Kaca reda marahnya, bahkan menjaja sangat iba. Gatut Kaca tahu bahwa Bimaniu adalah saudara sepupunya sendiri. Gatut Kaca anak Bima Sena dengan raksasa Hidimbi. Bimaniu anak Arjuna dengan Dewi Subadra. Bima Sena dan Arjuna adalah bersaudara kakak adik, putra almarhum maha raja Pandu raja Astina.

Gatut Kaca berserah diri untuk melaksanakan kepentingan Bimaniu. Gatut Kaca Seraya : Artinya bahwa Gatut Kaca, berserah diri untuk melaksanakan segala upaya, untuk menikahkan Bimaniu dengan Diah Siti Sundari putri Sri Kreshna dari kerajaan Dwarawati. Bimaniu juga dinikahkan Gatut Kaca, dengan Diah Utari putri maha raja Matswapati asal kerajaan Wirata. Penyelarasan madu dua istri : Diah Siti Sundari dan Diah Utari, sepenuhnya menjadi tanggung jawab dan kebijaksanaan Bimaniu sendiri.

Gunjingan Ponakawan

Delem dan Sangut dalam bahasa lumrah: Sangut berkata kepada Delem/ Melem : "Beli Melem, cobalah renungkan lika-liku alur cerita lakon Gatut Kaca Seraya ini!" "Tersurat tersirat ungkapan cinta kasih insan muda dewasa. Adakah cerita jenis ini porno? Dilarang UU yang sedang dirancang DPR RI?" Bagi saya, yang penting adalah bahwa : "Sri Kreshna, menciptakan alur cerita lakon bermuara pada terlaksananya : "Brata Yudha Perang bangsa Kuru, ditunggu-tunggu banyak orang! "Mari bersama kita nikmati lantunkan sebuah sloka awal, dalam Bhagavad Gita, sebagai penutup sajian Wayang Parwa dengan lakon Gatut Kaca Sraya" :

Dharma Kshetre Kuru Kshetre
Sama weta yuyutsawah Mama putrena Pandawascewa
Kim Akurwatah Sanjaya

Tancep Kayon - (Gender Gendhing Tabuh Gari) - Samapta puput.

Source: Wayan Diya l Warta Hindu Dharma NO. 472 Mei 2006