Garuda Panca Sila Bagi Umat Hindu

Garuda ibarat burung yang terbang melampaui burung. Ia tak sekedar makhluk hidup, namun juga simbol yang hidup-hidup menelusup dalam alam pikiran berbangsa-bernegara dan spirit nusantara.

Begitulah Garuda, ia adalah kekuatan, kejayaan, keberanian, kebajikan, pengabdian dan kesucian sekaligus apa gerangan yang membuat Presiden Sukarno merasa perlu merancang lambang Garuda dengan menambahkan jambul pada kepala Garuda? Alasan Sukarno pun menarik; kepala Garuda gundul dianggap terlalu mirip Bald Eagle, Lambang Negara Amerika Serikat. Jadi lambang Garuda saat ini dianggap mencerminkan ke-Indonesiaan. Tak heran jika the founding father ini meminta Dullah, si pelukis istana untuk merancang kembali lambang Garuda. Tak hanya urusan jambul, Sukarno juga meminta posisi cakar kaki yang mencengkram pita dari semula di belakang pita menjadi di depan pita. Artinya, tatkala diperkenalkan kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta, 15 Februari 1950, lambang garuda yang pertama kali dirancang oleh Sultan Hamid II ini bukan tanpa utak-utik, sampai jadi seperti sekarang ini.

Lalu kenapa harus Garuda? Jika direntang akar historisnya, Garuda merupakan burung mistis dari Mitologi Hindu yang berasal dari India dan berkembang di wilayah Indonesia sejak abad ke-6. Peninggalan epigrafis cap Garudamukha pertama kali dipakai oleh Cri Maharaja Balitung tahun 808-910 M yang memerintah di Jawa Tengah. Kemudian pada pertengahan abad ke 9-11 dijadikan lencana kerajaan yang disebut Garudamukha yang dipakai oleh raja Airlangga. Bahkan lencana dari raja Kertajaya juga disebut Garudamukha yang dipakai oleh raja Airlangga.

Pengenalan mendalam terhadap kebesaran burung Garuda baru terjadi sejak epos Ramayana dan Mahabrata yang terkenal ditulis kembali dalam bahasa Jawa Kuna. Dalam kedua epos tersebut, Garuda berperan sebagai 'tokoh' pembebasan di tengah arus deras kebatilan. Dalam epos Ramayana, misalnya. Garuda dikisahkan melawan Rahwana seorang raja dari Alengka, untuk membebaskan Dewi Sita. Tetapi malang, dalam peperangan ini garuda tidak berhasil membebaskan Dewi Sita, karena salah satu dari sayapnya ditebas pedang Rahwana.

Kitab Adiparwa juga mengisahkan burung garuda ingin membebaskan ibunya dari perbudakan, hingga kemudian menjadi kendaraan Wisnu. Tersebutlah kisah di awal mula peradaban, Bhagawan Kasyapa mempunyai istri berjumlah delapan. Anak keturunannya lahir sebagai dewa, manusia, raksasa dan hewan. Dua Istri Sang Bhagawan, Dewi Winata dan Dewi Kadru selalu berada dalam persaingan. Dewi Kadru mendapat telur berjumlah ribuan. Menetas semua menjadi ular dan naga. Dewi Winata mendapat dua telor dan belum menetas juga. Satu telor sengaja dipecah agar segera keluar seorang putra. Ternyata menjadi burung belum sempurna yang dinamakan Aruna.

Pada suatu saat, Dewi Winata terlibat pertaruhan dengan Dewi Kadru mengenai warna ekor kuda Uchaisrawa yang akan keluar dari samudera. Dewi Winata bertaruh bahwa ekor kuda tersebut putih warnanya. Para ular memberi tahu Dewi Kadru, ibu mereka, bahwa sang ibu akan kalah, karena memang ekor kuda tersebut putih warnanya. Dewi Kadru meminta anak-anaknya menutupi ekornya, agar ekor kuda nampak hitam warnanya. Ular yang menolak dikutuk akan mati sebagai persembahan para dewa. Mereka yang menolak menuruti kemauan sang ibu, merasa amat sedih dan bertapa mohon keselamatan dari Yang Maha Kuasa. Akhirnya kedua dewi tersebut melihat seekor kuda keluar dari dalam samudera. Ekor kuda tersebut hitam warnanya dan Dewi Winata kalah dan dijadikan budak oleh Dewi Kadru sebagai perawat ular-ular putranya. Satu telor tersisa dari Dewi Winata akhirnya  menetas  menjadi Garuda.

Garuda paham bahwa dirinya harus berterima kasih kepada sang ibunda yang telah mengandung dirinya dan menyebabkan dirinya lahir ke dunia. Genetik kedua ayah dan ibunya membuat dia menjadi perkasa. Burung Garuda mencari sang ibunda ke pelosok dunia. Akhirnya mengetahui bahwa sang ibunda menjadi budak perawat para ular di samudera. Garuda berusaha sekuat tenaga membebaskan, akan tetapi para ular dan naga mempertahankannya. Garuda bertanya apa syaratnya untuk membebaskan sang ibunda. Para ular dan naga meminta "tirta amerta", yang membuat tidak mati, hidup abadi. Garuda berupaya sungguh-sungguh untuk mendapatkan tirta amerta. Segala halangan dan rintangan dilewati. Dewa Wisnu pemilik tirta amerta melihat kesungguhan dalam diri Garuda. Garuda dipersilakan minum tirta amerta, tetapi Garuda dengan sopan menolaknya.

"Hamba tidak berani menolak anugerah Dewa Wisnu, tetapi mohon diberikan dalam bentuk lainnya, tirta amerta kami butuhkan untuk melepaskan perbudakan ibu hamba. Dewa Wisnu telah memahami keadaan ibu hamba".

Dewa Wisnu memberikan tirta amerta dan minta datang kepadanya setelah selesai urusannya. Di tengah perjalanan, Dewa Indra menghentikan, dan kemudian berpesan, agar tirta amerta diberikan, setelah Dewi Winata dibebaskan, agar dia tidak terpedaya ulah para ular dan naga yang penuh ketidakjujuran. Selanjutnya Garuda minta Dewi Winata dibebaskan, para ular dan naga diminta membersihkan diri dari ketidakjujuran yang telah mereka lakukan.

Para ular dan naga memenuhi permintaan, Dewi Winata dibebaskan, mereka membersihkan diri dan bertobat dari semua tindakan. Ketika mereka sedang membersihkan diri, tirta amerta direbut para dewa, sehingga para ular dan naga tak dapat hidup abadi. Mereka dapat berganti kulit, dapat meremajakan diri, tetapi tetap akan mati hukum kausalitas berlaku di sini. Akhirnya, Sang Garuda pamit kepada ibundanya untuk menghadap Dewa Wisnu. Garuda tidak minta apa pun juga, pasrah pada kehendak Tuhan. Dewa Wisnu berkenan menjadikan Garuda menjadi kendaraan pribadi. Bukan sekadar tirta amerta yang membuat tidak bisa mati, tetapi anugerah untuk menyatu dengan Dewa Wisnu.

Kisah Garuda dalam repertoar Ramayana dan Mahabrata ini sangat berpengaruh dalam sistem religi dan kebudayaan masyarakat di Indonesia, termasuk sebagai lambang negara. Pada masa Airlangga, kisah ini mengilhami sistem religi masyarakat kala itu. Raja Airlangga diwujudkan sebagai penjelmaan Wisnu. Kepercayaan terhadap Garuda sebagai burung mistik juga berkembang di Bali yang diekspresikan melalui sistem ritual, kesenian, sampai pada arsitektur.

Di Bali burung garuda dapat ditemukan pada pelinggih Padmasana, pelinggih Meru dan pelinggih Gedong. Di samping itu burung garuda juga kita temukan pada bangunan candi bentar dan candi kurung yang merupakan pintu masuk menuju pura (bangunan suci). Bukan tidak mungkin pula, jika kisah Garuda yang penuh nuansa kebajikan, kebenaran, dan perjuangan ini menjadi alasan dijadikannya sebagai simbol atau lambang negara.

Sebagaimana diketahui, rancangan lambang Garuda dipilih dengan mengacu pada ucapan Sukarno yang menginginkan lambang Negara mewakili pandangan hidup bangsa. Jika kita takfsir dan maknai kisah Garuda dalam Adi
Parwa, maka Garuda diidentikkan sebagai burung perkasa pembebas perbudakan (aksi kolonialisme), bhakti terhadap ibu (tanah air), memperjuangkan kebenaran (dharma) disimbolkan dengan kepala menghadap ke kanan dan pengabdian (menjadi kendaraan Wisnu). Bisa jadi, sikap-sikap Garuda yang dibungkus secara sastrawi ini yang membuatnya relevan digunakan sebagai representasi spirit berbangsa dan bernegara. Jadi lambang Garuda bukan lagi milik salah satu agama meskipun ia hadir dalam mitologi Hindu tapi milik bangsa dalam bingkai merah-putih.

Sebagai lambang negara, burung Garuda melambangkan kekuatan, sementara warna emas pada burung garuda itu melambangkan kejayaan. Warna merah-putih melambangkan warna bendera nasional Indonesia. Merah berarti berani dan putih berarti suci. Garis hitam tebal yang melintang didalam perisai melambangkan wilayah Indonesia yang dilintasi Garis Khatulistiwa. Pada burung garuda itu, jumlah bulu pada setiap sayap berjumlah 17, kemudian bulu ekor berjumlah 8, bulu pada pangkal ekor atau di bawah perisai 19, dan bulu leher berjumlah 45. Jumlah-jumlah bulu tersebut jika digabungkan menjadi 17-8-1945, tanggal dimana kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.

Garuda berisikan lima sila dasar yang dikenal dengan sebutan Panca Sila. Pada bagian bawah Garuda Pancasila, berisikan pita putih bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan ini merupakan kata dalam Bahasa Jawa Kuno yang berarti "berbeda-beda tetapi tetap satu jua". Perkataan itu diambil dari Kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular, pujangga Majapahit pada abad ke-14. Pendiri bangsa ini sudah sepakat, jika Indonesia dirumuskan dengan kebhinekaan yang tetap satu. Indonesia meniscayakan perbedaan agama, ras, suku, dan bahasa.

Indonesia ibarat rumah multikultur. Meski tak dipungkiri, masih ada sebagian kelompok 'keras kepala' yang ingin menyulapnya jadi fragmen-fragmen kecil lantaran kepicikan berpikir tentang perbedaan dengan berhasrat menyempitkan rumah Indonesia menjadi rumah yang dihuni hanya oleh salah satu agama tentunya dengan doktrin-doktrin sempitnya. Padahal keberadaan lambang Garuda Pancasila memberikan arti penting bagi semua anak bangsa ini, khususnya generasi muda Hindu; cintailah tanah air (ibu pertiwi), perjuangkan kebenaran (dharma), pengabdian yang tulus pada merah-putih (seperti Garuda mengabdi pada Wisnu), dan merawat persatuan dalam perbedaan.

Dengan memaknai pesan simbolik dalam Garuda, diniscayakan lahir generasi muda Hindu yang merah putih. Generasi Hindu yang memandang Indonesia tanah subuh bagi perbedaan, bukan ladang gersang, tempat perbedaan dieksekusi mati. Jika kita sepakat, tarik nafas dan lantunkan lagu : Garuda Pancasila akulah pendukungmu.

Source: Nyoman Dayuh l Wartam Edisi-7, September 2015