Garuda di Dadaku

Setelah amreta didapat oleh para Dewa hasil dari memutar gunung Mandara, kini para Dewa disibukkan oleh kegiatan menjaga amreta tersebut. Semua mempersiapkan senjata menjaga gunung Somaka tempat amreta tersebut.

Namun sang Garuda yang berikthiar mendapatkan amreta tersebut tidak mengurungkan niatnya. Karena dengan amreta tersebut dia akan menebus ibunya dan membebaskannya dari perbudakan Dewi Kadru dan para naga. Sang Garuda mendatangi gunung Somaka dan kepakan sayap didahului oleh angin, kilat dan cahaya; debupun bergumpal-gumpal diterbangkan angin. Sang Garuda kelihatan melayang di angkasa menuju tempat amreta, ia dipanah oleh para Dewa, namun semuanya tumpul dan patah dan tak sehelai bulunyapun terlepas. Di sekeliling amreta terdapat api yang terus menyala, memenuhi seluruh angkasa sehingga tidak ada jalan menuju amreta tersebut. Sang Garuda lalu meminum air samudra, dan air itu digunakan sebagai pemadam api.

Sang Garuda akhirnya sampai di gua tempat amreta tersebut. Di depan pintu gua terdapat jandtracakra terus berputar, ujungnya yang tajam terbuat dari besi, setiap yang masuk ke gua itu menjadi terputus-putus oleh cakra tadi. Namun Sang Garuda memperkecil badannya sehingga dapat masuk diantara cakra tersebut. Sang Garuda lalu masuk namun ia masih masih berhadapan dengan dua ekor naga yang menjaga amreta. Dua ekor naga ini tidak pernah memejamkan matanya sedetikpun, setiap yang dilihatnya dibakarnya karena matanya selalu menyala. Sang Garuda mengepakkan sayapnya sehinnga keluar debu yang dapat menutup mata kedua naga itu, kemudian naga itu dipatuk dan dimakannya.

Sang Garuda akhirnya berhasil mendapatkan amreta, iapun lalu melayang-layang di angkasa. Mengetahui hal itu Dewa Wisnupun datang seraya berseru, "wahai Sang Garuda kalau engkau menghendaki amreta mintalah kepadaku, aku akan memberimu". Sang Garuda menjawab , "Wahai Hyang Wisnu tidak selayaknya engkau menganugrahi aku, karena kesaktianmu kalah dengan kesaktianku. Karena amreta itu yang sempat engkau minum menyebabkan engkau tiada mengenal tua dan mati. Tetapi aku tidak mengenal tua dan mati walaupun tidak meminum amreta. Mintalah anugerah kepadaku wahai Wisnu". Hyang Wisnu mendengar kata-kata Sang Garuda, lalu beliau menjawab, "Wahai sang Garuda , katamu itu benar, tiada salah sedikitpun. Oleh karena itu aku mohon kesediannmu menjadi kendaraanku, dan kiranya engkau bersedia bila lukisanmu diterakan pada benderaku". Sang Garuda ternyata bersedia memenuhi permohonan Hyang Wisnu, keduanya kini bersatu, Dewa Wisnu mengendarai Sang Garuda sambil membawa amreta.

Demikian perjuangan Sang Garuda untuk mendapatkan amreta yang dijaga ketat oleh para Dewa, sebuah perjuangan untuk membebaskan ibunya dari perbudakan. Sang Garudapun terbang melayang kembali ketempat para naga. Amreta berada di dalam cucupu kamandalu yang diikat dengan tali daun ilalang. Cucupu itu diberikan kepada para naga, "Hai para naga, inilah amreta hasilku engambil di Kedewataan. Ini adalah penebus ibuku, oleh karena itu sejak hari ini ibuku tidak lagi menjadi budakkmu, oleh karenanya jangan engkau mengganggu gugat lagi. Tapi pesanku kepadamu, sebelum meminun amreta engkau haruslah mandi terlebih dahulu", demikian sang Garuda.

Sang Garuda lalu pergi bersama ibunya Dewi Winata. Para naga berlarian mandi bersama-sama, takut tidak kebagian amreta. Namun ketika amreta ditinggalkan oleh para naga Dewa Indrapun datang mengambil kembali amreta tersebut. Betapa sedihnya para naga karena amreta telah diambil kembali oleh Dewa Indra. Ada titik amreta di daun ilalang, itulah yang dijilat oleh para naga, lidahnya tersayat oleh ketajaman daun itu sehingga sampai sekarang lidah para naga terbelah, sedangkan daun ilalalang karena mendapat titik amreta sampai sekarang menjadi suci.

Demikian cerita sang Garuda burung perkasa yang telah menebus ibunya dari perbudakan. Cerita ini termuat didalam kitab Adhi Parwa, kita pertama dari delapan belas parwa yang membangu Mahabharata. Para pendiri bangsa tentu telah membaca kitab ini, kitab yang semula berbahasa Sanskerta, kemudian dijawakan lebih dari seribu tahun yang silam, yaitu dalam pemerintahan Dharma Wangsa Teguh Ananta Wikrama Tungga Dewa di Jawa Timur. Raja besar ini adalah paman dari Airlangga, sekaligus raja yang digantikannya. Dalam penelitian arkeologis Airlangga juga diketahui menjadikan Garuda Wisnu sebagai ikon kerajaan. Maharaja Airlangga agaknya benar-benar memaknai Garuda Wisnu tersebut, ketika beliau ingin mensejahtrakan rakyatnya, karena Garuda Wisnu adalah pembawa amreta.

Kiranya para pendiri bangsa memiliki pemahan yang sama dengan raja Airlangga ketika mereka memikirkan bangsanya, rakyat Indonesia yang memasuki jaman kemerdekaan. Bersamaan dengan itu Kebhinnekaan bangsa mendapat perhatian yang sangat utama sehingga simbul Garuda mencengkram motto Bhinneka Tunggal Ika.

Para pemimpin kitapun kini memakai pin Garuda Pancasila di dadanya, mulai dari presiden, para pejabat negara, sampai pada pemimpin dibawahnya. (Mereka seharusnya memahami dan menghayati makna Garuda Pancasila tersebut, lalu melaksanakan dalam tindakan sehari-hari.

Ketika sorak sorai Garuda di Dadaku di dengungkan oleh para superter sepak bola, yang penuh semangat mencium simbol garuda, mengibarkan bendera yang bergambarkan Garuda, mereka bagaikan mendapat inspirasi dari semangat pantang menyerah burung Garuda untuk mendapatkan amreta. Semangat pantang menyerah itu sesungguhnya memiliki tujuan yang sangat mulia : membebaskan ibunya dari perbudakan.

Mereka yang menjadikan Garuda sebagai simbol bangsanya adalah mereka yang tidak ingin dijajah, dijadikan budak oleh siapapun juga. Inilah yang menginspirasi para pejuang di masa lalu, yang berjuang mengusir penjajahan dari ibu pertiwi, hendaknya juga menginspirasi para pengisi dan pewaris kemerdekaan. Garuda di Dadaku.

Oleh: Ki Dharma Tanaya
Source: Warta Hindu Dharma NO. 529 Januari 2011