Garbha atau Janin

Garbha, embrio atau janin terjadi akibat terjadinya fertilasi atau bertemunya sukra dan sonita di dalam garbhasaya. Secara umum sukra ini disebut sperma. Di Bali malahan dikenal dengan nama sukla, atau kama petak. Kata sukra ini dikonotasikan dengan kata suci atau putih, sehingga diterjemahkan menjadi sukla. Atau kama petak yang bermakna kama yang warnanya petak atau putih. Memang warna sperma adalah putih. Sedangkan sonita secara umum berarti telur, atau ovum. Di Bali kata sonita ini diasosiasikan dengan kata wanita, sehingga swanita. Atau kama bang, kama yang berwarna bang atau merah, karena warna darah menstruasi adalah merah. Jadi, kama yang berwarna merah dan putih inilah yang menghasilkan garbha atau embrio.

Fertilasi atau pertemuan ini terjadi di dalam garbhasaya (uterus, peranakan, kacupu manik). Pertemuan atau persatuan antara sukra/kama petak dengan sonita/kama bang ini akan menghasilkan garbha yang baik, bila umur ibu minimal 16 tahun dan laki-lakinya berumur minimal 20 tahun. Bila kedua insan berada di bawah umur tersebut maka garbha, embrio, atau janin yang dihasilkan akan mengalami ketidaknormalan. Pertumbuhan raga sarira atau fisiknya mengalami gangguan. Demikian pula dengan pertumbuhan suksma sarira atau mentalnya. Oleh sebab itu, Ayurweda menganjurkan pawiwahan atau perkawinan seyogyanya dilakukan oleh wanita yang berumur di atas 16 tahun dan pria yang berumur di atas 20 tahun, bila ingin mendapat keturunan yang suputra. Bentuk badan prima dan otak cerdas

Pada saat bertemunya sukra dan sonita masuklah atma, jiwatma. Jiwa atau jivatman yang berasal dari kehidupan masa lalu memasuki unit persatuan sukra/sperma dengan sonita/telur agar bernyawa. Hasilnya inilah yang disebut garbha/embrio/janin. Aktivitas dari jiwa mulai setelah umur janin 4 bulan. Jiwa ini amat berperanan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan garbha, karena memberikan vitalitas atau kehidupan kepada garbha/embrio.

Sperma (sukra) dan telur (sonita) berasal dari bapak dan ibu, masing-masing memiliki komposisi mahabhuta yang spesifik atau khusus. Mahabhuta ini terdiri atas lima unsur, yakni akasa (ruang), vayu (udara), teja (panas), apah (air), pertiwi (tanah). Oleh sebab itu disebut panca mahabhuta. Lima unsur materi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan badan janin, terutama dalam pancaindera dan unsur lainnya.

1. Unsur akasa berperanan dalam pertumbuhan dan perkembangan saluran/pembuluh, telinga, lubang, dan ruang yang ada di dalam tubuh. Selain itu mengembangkan pula suara yang dikeluarkan oleh manusia.
2. Unsur bayu berperanan dalam hal pertumbuhan dan perkembangan mata, penglihatan, dan pencernaan.
3. Unsur teja berperanan dalam per-tumbuhan dan perkembangan mata, penglihatan, dan pencernaan.
4. Unsur apah berperanan dalam hal pertumbuhan dan perkembangan lidah, kecap/rasa kecap, dan kelembaban.
5. Unsur pertiwi berperanan dalam pertumbuhan dan perkembangan hidung, bau, dan tulang.

Agar garbha, embrio atau janin dapat hidup dan tumbuh serta berkembang perlu ada pasokan konsumsi dan pelindungnya. Ahara atau nutrisi bagi janin, disediakan oleh ibu disesuaikan dengan komposisi mahabhuta yang ada pada janin. Ahara ini yang berasal dari ibunya masuk ke dalam tubuh janin melalui ari-ari/plasenta dan tali pusat. Di dalam tali pusat ada pembuluh darah yang masuk ke dalam tubuh janin. Bersama darah/raft/ rakta ini ahara masuk ke dalam tubuh dan beredar di dalam tubuh janin.

Untuk menjaga benturan selama berada di dalam kandungan, garbha atau janin ini dikelilingi oleh suatu cairan yang disebut yeh nyom atau air ketuban. Kulit bayipun dilindungi oleh selaput tipis yang kaya lemak disebut lamas. Keempat unsur ini, yakni ari-ari/ plasenta, rah/rakta/darah, yeh nyom/air ketuban, dan lamas di Bali disebut catur nyama, atau kanda pat, empat saudara. Keempat unsur ini dianggap sebagai nyama atau saudara karena besar sekali jasanya selama garbha atau janin berada di dalam kandungan. Demikian pula ketika dalam proses kelahiran dan pascakelahiran, keempat unsur ini tetap menjaga dan melindungi bayi dari segala marabahaya.

Source : Ngurah Nala l Warta Hindu Dharma NO. 509 Mei 2009