Galungan dan Durga Puja

Hari Raya Galungan menempati posisi yang istimewa di dalam sistem rerainan agama Hindu di Bali. Hari raya ini dilaksanakan setiap 210 hari atau setiap wuku Dungulan (Galungan), tepatnya Buddha Kliwon Dungulan, enam bulan menurut sistem kalender Wuku (Kalender Jawa-Bali). Sering dikatakan sebagai rerainan gumi dan tidak kena sebelan atau cuntaka oleh adanya kamatian. Umat Hindu menyambut hari ini dengan serangkaian upacara sejak Tumpek Wariga hingga Buddha Keliwon Pahang. Jadi, rentang waktunya 42 hari. Ketika Galungan bertepatan dengan tilem atau purnama, maka Galungan mendapatkan perhatian yang khusus. Artinya, pelaksanaannya tidak hanya memperhatikan sistem kalender wuku, tetapi sistem kalender solar-lunar (surya-chandra pramana).

Selama ini umat memaknai Galungan sebagai upacara memperingati kemenangan dharma atas adharma hingga ada nuansa suka cita dan kemeriahan ke luar, seperti membuat penjor, tumpeng, menyembelih babi, dll. Hari raya ini juga dicoba dicarikan persamaannya dengan hari-hari raya umat Hindu di India. Maka ditemukan hari raya Sraddha Vijaya Dasami yang maknanya sama, yaitu kemenangan Rama atas Rahwana, atau dharma atas adharma.

Tulisan ini mencoba melihat sisi lain hari raya Galungan berdasarkan sumber-sumber sastra, yaitu Sundarigama dan Aji Swamandala dan beberapa sumber lain seperti Usana Bali dan Sri Jaya Sunu bahwa sesungguhnya Galungan adalah pelaksanaan Durga Puja. Hal ini belum lumrah (ketah) di masyarakat secara umum sehingga kesempatan ini kiranya saat yang baik untuk mendiskusikan Durga Puja di dalam rangka pemahaman dan pemaknaan hari raya Galungan agar semakin mantap yang kita laksanakan setiap enam bulan.

Dewi Puja

Durga Puja, yaitu pemujaan kepada Dewi Durga sebagai aspek feminim atau shakti Siwa mempunyai sejarah yang panjang sejak zaman peradaban pra Veda, yaitu peradaban lembah sungai Sindhu, Veda dan berkembang hingga ke luar India, seperti Tibet, Cina dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Berdasarkan hasil-hasil penggalian purba kala di beberapa titik di lembah sungai Sindhu, yaitu di Mohenjodaro dan Harappa ditemukan zeal, yaitu meterai tanah liat yang menggambarkan pemujaan kepada dewi (mother goddes) yang mengendarai singa. Para arkeolog memperkirakan zeal itu berumur 2500 tahun sebelum Masehi. Bukti ini merupakan benang halus yang menghubungkan tradisi pemujaan kepada dewi-dewi, seperti Dewi Durga, Dewi Parwati, Dewi Laksmi, Dewi Gangga, Dewi Uma, Dewi Saraswati, dan lain-lain di dalam agama Hindu. Tradisi agama Hindu di Bali menyebutkan dengan istilah Bhatara-Bhatari, Ratu Lanang-Ratu Istri: Bhatari Durga, Bhatari Danu, Bhatari Sri, Catur Bhagini, Astadewi, Caturdewi, Ratu Ayu dan lain-lain. Adanya Pura Ibu dalam Pitra Puja juga merupakan indikasi berkembangnya pemujaan shakti di Bali seperti disebutkan di dalam Siwagama.

Kitab Mahanirwana Tantra menyebutkan bahwa Sada Siwa menugaskan Dewi Parwati pada zaman Kali agar turun ke bumi karena di bumi dharma terancam oleh kekuatan adharma, yaitu raksasa yang berwujud lembu (mahesa). Maka Dewi Parwati segera turun ke bumi memenuhi perintah Sada Siwa dengan cara mengubah wujud menjadi Dewi Durga dengan wajah menyeramkan bertangan sepuluh dengan senjata-senjatanya masing-masing dan mengendarai (wahana) singa. Dalam wujud Durga, ia membinasakan raksasa (asura) bermuka seperti lembu (mahesa). Secara ikonografi Durga Murti ini digambarkan sebagai Durgamahesasuramardhini. Dalam bentuk banten, pemurtian Durga ini, salah satunya digambarkan dengan Sate Tegeh atau Gayah. Patung-patung berwujud pemurtian Durga ini sangat banyak ditemukan di Jawa. Di Bali arca ini ditemukan di Kutri, Buruan Gianyar. Oleh para arkeolog patung mi menggambarkan Mehendradatta, yaitu Gunapriyadharmapatni istri Udayana, pemuja Durga. Sebagai mana diketahui nama-nama lain Durga adalah Sirgawahini (dewi yang mengendarai singa), Candika, Bhairawi, Semasana, Kalika, Bhagawati, Durgamahisasura mardhini, dan lain-lain.

Salah satu aliran ekstrim dalam Tantrayana adalah Bhairawa. "Bhairawa" artinya "hebat". Ajaran ini diperkirakan telah masuk ke Indonesia pada abad ke tujuh, seperti diperlihatkan oleh Prasasti Talang Tuwo (683) di Sumatra Selatan. Raja-raja Pararuyung di Sumatra Barat menganut Bhairawa Heruka yang buktinya dijumpai di Padang Lawas. Raja Kertanegara di Singosari (Malang) terkenanl sebagai penganut Bhairawa Kalacakra yang juga dianut oleh Arya Dhamar di Majapahit yang juga bergelar Adityawarman. Mpu Bharadah juga dikatakan mahir di dalam ajaran Tantrayana. Raja-raja Bali kuno sebelum penyerangan Kertanegara (1284) juga penganut Bhairawa Bhima seperti terlihat di dalam bukti peningalan di Pura Kebo Edan di Pejeng. Kaisar Kubilai Khan dari Cina juga penganut Bhairawa Heruka. Raja-raja di zama lalu banyak yang mengikuti jalan Bhairawa ini untuk mengemudikan pemerintahan (angreh Tpraja) dan yang utama adalah untuk menghadapi musuh-musuhnya yang bisa datang secara tiba-tiba menyerang. Dengan kekuatan magis yang hebat raja dapat mengontrol kerajaan. Para raja sedikit banyak adalah pengikut jalan Tantrayana. Di dalam ajaran ini penyampaian ilmu dari guru kepada murid bersifat pribadi dan rahasia sehingga disebutkan sebagai ajaweruh, Pada periode ini keluarlah buku tantris terkenal di Indonesia, yaitu Tantra-wajradhatusubhuti.

Landasan Sastra

Selama ini ada dua mithologi yang dikaitkan dengan Galungan. Namun perlu dicatat bahwa di balik sattwa ada tattwa sebagai landasan pelaksanaan agama. Tattwa disampaikan dengan cara yang mudah bisa dipahami oleh masyarakat umum, yaitu melelui cerita (sattwa). Jadi, yang esensial adalah tattwa yang ada di balik cerita. Yang pertama tersurat di dalam lontar Usana Bali. Di sini disebutkan bahwa Mayadenawa sebagai penguasa Bali melarang masyarakat mempersembahkan banten, bhakti ke Besakih dan ia memerintahkan agar dirinya saja yang disembah. Rakyat karena takut menuruti saja perintahnya, apalagi raja tersebut sakti dan kejam. Karena tidak ada yajna dilaksanakan oleh rakyat maka negara menjadi bermasalah, banyak timbul kekacauan dan penderitaan. Diketahui oleh para dewa, akhirnya Dewa Indra melakukan pertempuran diiringi oleh para bala tentaranya. Mayadenawa dikepung dan, singkat cerita, ia bisa dikalahkan. Perjalanan perang ini memunculkan nama-nama tempat, seperti Manukaya, Blusung, Tampaksiring, Tirtha Empul dan lain-lain. Kemenangan Dewa Indra ini dirayakan sebagai Hari raya Galungan.

Mitologi kedua terdapat di dalam lontar Sri Jaya Sunu. Disebutkan Raja Jaya Sunu yang baru saja dinobatkan menjadi raja bingung dan was-awas akan keselamatannya karena pendahulu-pendahulunya tidak lama bisa memerintah alias pendek umur (cenek tuwuh). Lalu ia bersemadhi, nunas panugrahan di setra. Berhasil semadhi-nya lalu Dewi Durga muncul dan memberikan pawisik. Isinya agar Raja Jaya Kasunu melaksanakan upacara Galungan dengan memasang penjor setiap enam bulan sekali jika ingin bersusia panjang dan rakyat dan negara aman dan bahagia. Memang sebelum Jaya Kasunu menjadi raja, tidak dilaksanakan Hari Raya Galungan. Alhasil, setelah pewarah-warah Bhatari Durga diikuti ia bisa berusia panjang, rakyat aman, tentram dan sejahtera.

Mitologi ini diperkuat lagi oleh dua sumber lain yaitu lontar Sundarigama dan Aji Swamandala. Kedua lontar ini menyebutkan agar wong Bali melaksaakan Galungan setiap enam bulan sekali dengan tatatan upacara dan upakara seperti sudah dilaksanakan oleh umat Hindu di Bali. Perhatian khusus diberikan manakala wuku Dungulan bertepatan dengan tilem sasih kepitu atau sasih kesanga. Demikian juga ketika tilem rah 9 atau tilem tenggek 9. Lontar Sundarigama menyebutkan:

"... Nihan ling bhatari Dalem, pamalan dina ring wong Bali, poma, haywa Mi, kengetakna. Yan katekaning sasih kapitu, anemu dungulan muwah anemu tilem, ring Dungulan tan kawenang ngagalung wong Bali ika, Kalarau ngarania yang mangkana, tan kawasa mabanten tumpeng. Yan hana muwah anemu sasih kesanga, rah 9, pituwi tenggek 9, tunggal lawan sasih kapitu, sigsugen yan mawa gering, wenang acaru wong Bali ika, nasi cacahan mawor kladi maaled rwaning tlujungan maka labanya Sang Bhuta Kalarahu, swang-swang. Yan tan anut ring pawarah Bhatari Dalem, yan ya murug, mogha ta sira kapereg denira Bala Kadabah, matemahan sira Kalamaya, sira aseluran. Yan sira  lara,   masasangi  bwat katibening gering di manise ngaturang. Mangkana Galungan ika, anemu sasih kapitu muwah kasanga, rah 9, tenggek 9, tuwi anemu tilem, ring uku Dungulan ika, sama alania, mapan sang kala angarani, bhatara sumungkem, awya nglianin pasalin rah mwang tenggek, makadi sasih. Yan sira angadegaken sakramaning desa ring Bali,-hayu phalania sajagat, yan amurug sakehing desa-desa tan urung katiban gering setahun-setahun, reh Galungan Nara-mangsa ngaranya".

Lebih lanjut lontar Aji Swamandala menyebutkan:

"Nihan niti swara Betari Dalem, ring ki wong Balai samapta, Iwirnya nihan, yan Uku Dungulan anemu tilem, sasihnya kapitu yadyapi kasanga, yaning rah 9, tenggek 9; sigsugen angadakaken gring, nora wenang wong Bali angagalung, mwah tannya wenang mabanten tumpeng mwang penek pada tan wenang. Mwah kawenangannya puput dening caru; Bantennya nasi sasah maworan keladi, mahaled rwa ning tatlujungan maka labanira sang buta Kala Rawu; aja sira wong Bali kabeh tan manut ring niti swaran Betari Kunang yang sira memuruge moga kaparangga ring balakadabah sira, sang Kala Raum maseliweran ring rat, mwah ring manising galungan tiniban dening gring, rawuh Betari Dhurga anadah bayuning wang sadesa, mewetu gring kadadakpejah wang mangkana luwirnya. Setahun lawasnya kakenan gering, yadyan sang lara masesawudan minta waras, tan kedep-kedepe yan waras, apan Betari sumungkem. Mangkana kengetakena away lupa, apan Galungan Naramangsa ngaranya".

Maya Tattwa

Menyimak sumber-sumber di atas nampak jelas bahwa eksistensi Galungan dengan rangkaian upacaranya berdasarkan pewarah-warah Bhatari Durga, apalagi Galungan Naramangsa. Dengan demikian yang menjadi pokok pemujaannya adalah Siwa dalam menfestasinya sebagai Bhatari Durga atau Bhatari Dalem dalam wujud Bhuta Kala (Kala Kadabah). Pengaruh Rahu dan Ketu terhadap wuku Dungulan sangat kuat sehingga secara rohani diperlukan konsentrasi, tapa, brata dan yoga melalui upacara yang khusus untuk tujuan itu. Pengaruh tilem menimbulkan kesan gelap, maya, sehingga cocok melaksanakan kegiatan Bhuta Yajna dengan maksud mengharmoniskan Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Akibat-akibat buruk yang disebabkan oleh pelanggaran pewarah-pewarah Bhatari Durga sesungguhnya adalah efek peredaran kosmis, dimana bumi mendapatkan pengaruh energi negatif dari perjalanan kosmis (Tilem) di angkasa. Pengaruh-pengaruh tersebut sangat menakutkan umat manusia. Jika unsur Panca Maha Bhuta (Pertiwi, Apah, Teja, Wayu dan Akasa) ada dalam proporsi yang tidak seimbang dengan kehidupan manusia, maka akan terjadi malapetaka. Contoh, jika air kita perlukan tersedia cukup, maka ia tidak akan membahayakan Tetapai begitu air yang datang ke rumah kita dalam bentuk tsunami, maka air ini tidak lagi menyebakan bahagia, namun penderitaan bahkan maut. Manusia sangat kecil di tengah-tengah mahaluasnya alam semesta. Oleh karena begitu hebatnya Panca Maha Bhuta jika, tidak seimbang dengan Bhuana Alit sering manusia melukiskan sebagai kekuatan yang mengerikan, menakutkan dan digambarkan sebagai Bhuta Kala dengan wajah menyeramkan. Semuanya ini adalah kekuatan Maya yang artinya ilusi. Untuk menye-imbangkan hubungan Bhuana Agung dan Bhuana Alit secara? spiritual umat Hindu melaksanakan upacara Bhuta Yajna. Hal nampak jelas dalam lontar Sundarigama maupun Aji Swamandala upakara yang harus dilaksanakan jika

Galungan itu jatuh pada Tilem Kepiru atau Kesanga atau Tilem Rah 9 atau Tilem Tenggek 9 (disebut Galungan Naramangsa) dengan membuat banten labaan nasi cacahan mawor kladi di atas daun tlujungan. Hal ini membuktikan bahwa agama Hindu sangat memperhatikan kondisi-kondisi alam semesta atau berwawasan kosmis. Kehidupan di bumi sangat dipengaruhi oleh kedudukan benda-benda angkasa yang beredar pada orbitnya masing-masing.

Sampai di sini kita diingatkan dengan konsep Mayatattwa, Panca Mahabhuta Tattwa, Panca Tan Matra Tattwa dan Purusa Tatwa di dalam ajaran Siwa Tattwa seperti tersurat dalam sejumlah lontar tattwa, seperti Bhuana Kosa, Wrehaspati Tattwa, Tattwa Jnana, Maha Jnana Tattwa, Jnanasiddhanta, Bhuana Sangksepa, dan lain-lain yang merupakan pegangan para sulinggih di dalam menuntut umat Hindu. Tokoh Mayadanawa dalam Usana Bali percermman  dari Maya Tattwa.

Source: I.B Putu Suamba I Warta Hindu Dharma NO. 457 Pebruari 2005