Fungsi dan Makna Ritual Melukat dalam Pemnyembuhan Gangguan Jiwa di Bali

1. Pendahuluan

Setiap masyarakat di dunia, baik yang tergolong modern maupun yang tradisional akan mengenal dan pernah melakukan kegiatan ritual. Dalam masyarakat tertentu ritual sering menjadi bagian penting dari cara-cara anggota masyarakat mengekspresikan emosinya, memelihara dan memperbaiki dunia kehidupannya, serta cara-cara mereka menolak atau mengatasi bahaya dalam hubungannya dengan dunianya. Dengan demikian, ritual dapat dikatakan sebagai suatu fenomena yang universal. Ritual sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat senantiasa memiliki bentuk, fungsi dan makna simbolis yang beragam, baik bersifat sakral maupun sekuler (Helman, 1984).

Berkaitan dengan proses panjang dari tahapan kehidupan individu dalam masyarakat, yaitu sejak lahir, masa kanak-kanak, dewasa, hingga meninggal senantiasa diadakan suatu upacara ritual yang oleh Van Gennep (1960) disebut the stage a long life cycle. Lebih lanjut Van Gennep dalam bukunya Rites the Passage menjelaskan bahwa ada tiga tahapan ritual dalam kehidupan individu sebagai bagian dari masyarakat, yakni (1) masa pemisahan (separatiou), (2) masa transisi (trasition), dan (3) masa kerja sama (incoporation) (Helman, (1984).

Menurut Helman (1984), secara umum ritual dapat dibagi menjadi tiga bagian penting, yaitu (1) ritual lingkaran kosmos (cosmic cycle or calendrical ritual), (2) ritual untuk masa peralihan sosial (ritual of social transition), dan (3) ritual dalam kaitannya dengan ketidakberun-tungan (ritual of misfortune).

Setiap tahapan dari masing-masing ritual tersebut bila dikaji secara taoritis, akan menampakkan adanya berbagai bentuk, fungsi, dan makna simbolis, serta tujuan-tujuan tertentu yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat sebagai kesatuan total. Di samping itu, senantiasa akan mencerminkan adanya gejalan-gejalan yang bersifat biologis, psikologis, sosial, dan kultural (Leach, 1968; Turner 1966; Kiefer, 1976; Helman, 1984).

Ritual yang berkaitan dengan peristiwa ketidakberuntungan yang menimpa manusia (misfotune), atau ritual dalam kaitannya dengan masalah sakit-sehat merupakan salah satu bidang kajian dan penelitian yang menarik bagi kalangan ilmuan sosial khususnya antropologi kesehatan sejak dahulu sehingga telah menghasilkan berbagai orientasi dan konsep tentang sehat-sakit dalam konteks bio-budaya, sosiobudaya, dan ekoloe - Man JR, Wellin, Ackerknekt, dan Paul) dalam Lendy (1977). Di samping itu, kajian khusus mengenai ritual dalam rangka penyembuhan gangguan jiwa telah banyak dilakukan di berbagai belahan dunia khususnya di Afrika dan Amerika Latin, seperti misalnya Keiev (1964, 1972, 1974), Turner (1975), Cooper (1973), Wallace (1961), Pedro Ruiz & Jhon Langrud (1983), dan lain-lainnya.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, materi pembahasan dalam tulisan ini akan difokuskan pada dua hal pokok, yaitu (1) fungsi dan makna simbolik upacara/ritual melukat dalam penyembuhan gangguan jiwa di Bali dan (2) sumbangannya terhadap sistem medis modern/baiat.

2. Kosmologi, Upacara Meiukat dalam Hubungannya dengan Sistem Medis

2.1. Kosmologi Bali
Kosmologi Bali merupakan konsepsi yang hidup dalam masyarakat Bali yang memandang alam semesta ini bersifat nyata (sekala) dan dapat ditangkap dengan pancaindra serta bersifat tidak nyata (niskala/gaib), yang tidak dapat ditangkap dengan pancaindra, tetapi dipercayai ada. Secara keseruluhan isi alam semesta ini terdiri atas lima unsur, yaitu (1) bayu, (2) teja, l J) apah, (4) akasa, dan (5) pertiwi. Semua itu disebut panca maha bhuta yang keseluruhannya merupakan sumber dari kehidupan manusia.

Alam semesta sebagai kesatuan kehidupan terwujud dalam dua kosmos, yaitu makrokosmos dan mikrokosmos. Makrokosmos merupakan suatu wadah keseimbangan dunia vang amat besar tak terbangga, tetapi tetap diakui memiliki batas yang jelas dengan keadaan yang bersifat teratur dan tetap (fixed) dengan Tuhan sebagai pusat pengendali keseimbangan alam semesta (Yitno, 1985). Sebaliknya, mikrokosmos adalah manusia itu sendiri yang merupakan reflika dari makrokosmos dengan unsur-unsur panca maha bhuta sebagai inti kehidupan.

Walaupun manusia merupakan reflika dari makrokosmos dan memiliki kemampuan untuk mencipta, namun mereka pun menyadari akan keterbatasan kemampuannya dan tidak pernah bisa menolak kehendak-Nya. Dalam kehidupannya Tuhan disebut dengan berbagai sebutan yang menggambarkan keterbatasan kemampuan manusia di hadapannya seperti Mahabesar (Sang Hyang Widhy), Mahatahu (Sanghyang Wisesa), Mahakosong (Sang Hyang Embang), Mahakuasa (Sang Hyang Wisesa), dan seterusnya.

Orang Bali di samping percaya bahwa mereka tidak kuasa untuk menolak kehendak-Nya, baik yang berkenaan dengan hal-hal yang dianggap buruk, seperti kematian, kesakitan, kesengsaraan, kecelakaan, dan sebagainya hal-hal yang baik seperti kesehatan, kebahagiaan, keselamatan dan sebagainya. Mereka juga percaya bahwa manusia akan dapat terhindar dari hal-hal yang dianggap buruk jika mereka senantiasa menjaga dan menciptakan keseimbangan hubungan atau keharmonisan hubungan antara manusia dengan alam, manusia dengan manusia lain, dan manusia dengan Tuhan atau hubungan mikrokosmos-makrokosmos. Prinsip keharmonisan hubungan itu sangat populer disebut dengan Tri Hita Karana.

Salah satu cara yang dilakukan orang Bali untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan itu adalah dengan mengadakan berbagai aktivitas ritual, yang secara keseluruhan dikelompokkan ke dalam lima jenis upacara pokok yang disebut dengan Panca Yadnya.

Panca Dewa yadnya, terdiri atas dipersembahkan kepada dewa-dewa dan Tuhan, Pitra yadnya untuk para leluhur/nenek moyang, Rsi yadnya untuk para Rsi, Manusa yadnya, untuk diri manusia dalam siklus hidupnya sejak lahir hingga meninggal, Bhuta yadnya untuk para bhuta penghuni alam yang tidak kelihatan. Tiap-tiap yadnya itu merupakan suatu bentuk korban suci yang tulus ikhlas dari manusia, sebagai wujud pembalasan atas keselamatan, keseimbangan, kesehatan, rezeki yang diterima dalam kehidupannya. Selain itu, korban suci tersebut dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan, keharmonisan, dan kesucian atau untuk mengembalikan keseimbangan yang terganggu oleh sebab-sebab tertentu.

Prinsip keseimbangan dan keter-aturan hubungan kosmos (mikrokosmos-makrokosmos) tersebut senantiasa telah mendasari cara berpikir dan berperilaku manusia (orang Bali) untuk menghindari berbagai hal yang dianggap buruk, seperti kecelakaan kesengsaraan, ketidak beruntungan, perceraian, sakit, dan kematian.

2.2 Konsepsi Gangguan Jiwa
Secara universal setiap masyarakat dalam beradaptasi dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial budaya termasuk dalam menghadapi masalah kesehatan akan mengembangkan suatu sistem kesehatan yang terdiri seperangkat nilai, kepercayaan, norma, aturan, sumber daya, dan praktik-praktik yang dimobilisasi untuk mencegah, mengobati penyakit, atau memperoleh kesembuhan.

Dalam setiap sistem medis itu secara universal juga akan mengandung dua substansi pokok, yaitu (1) sistem teori penyakit dan (2) sistem perawatan kesehatan. Sistem teori penyakit meliputi konsepsi tentang sebab-sebab sakit atau etiologi penyakit, cara-cara yang harus dilakukan untuk menanggulangi penyakit dan label-label yang diberikan untuk penyakit tersebut. Sistem perawatan kesehatan meliputi (1) cara-cara, praktik-praktik yang dilakukan oleh pasien-penyembuh dalam menentukan jenis penyakit yang diderita (diagnotics); (2) mengobati (terafict); dan (3) proses pengambilan keputusan dalam menentukan pilihan terhadap sektor-sektor pelayanan kesehatan yang tersedia guna menanggulangi penyakit yang diderita.

Dalarm masyarakat nonindustri umumnya dikenal adanya tiga sektor perawatan kesehatan, yaitu (1) perawatan kesehatan, yaitu (1) perawatan rumah tangga (home remedies); (2) sektor kedukunan (folk medicai system); dan (3) sistem pengobatan barat/modern (biomedicai system or profesional system) (Kleiman, 1980). Pada banyak suku bangsa yang belum sepenuhnya menerima konsepsi penyakit secara biomedis, hiduplah konsepsi universal sebagai anggapan umum (representation colective) tentang sebab-sebab penyakit yang bersifat nyata dan tidak nyata.

Ke dalam kelompok yang pertama tercakup penyebab penyakit, seperti (1) karena luka, (2) makan berlebihan, (3) badan terlalu lelah, (4; patah tulang atau terbentur benda-benda keras, dan lain-lain. Ke dalam kategori yang kedua tercakup sebab-sebab sakit, seperti (1) karena jiwa menghilang (2) tubuh dimasuki roh jahat, (3) kena ilmu sihir, (4) karena pengaruh gaib yang agresif, (5) melalaikan kewajiban menurut adat dan agama, (6) tubuh kemasukan benda-benda tertentu dan (7) melanggar suatu pantangan agama/adat tertentu. Atau beberapa jenis penyakit dari kedua kelompok penyebab itu merupakan penggolongan yang oleh Foster disebut secara naturalistik dan personalistik (Foster & Anderson, 1978).

Penggolongan penyebab penyakit ke dalam salah satu dari keduanya akan berpengaruh terhadap upaya penanggulangan yang dilakukan, terutama berkenaan dengan bagaimana, dan kepada siapa mereka harus meminta pertolongan sekaligus pemberian label terhadap jenis penyakit yang diderita (Kleinman 1980, Helman, 1984). Dalam konsepsi orang Bali secara Tradisional penyebab gangguan jiwa dikelompokkan menjadi dua sumber utama, yaitu (1) karena kemasukan roh jahat (bebai) dalam tubuh atau sering disebut kena pepasangan dan (2) karena kemarahan roh leluhur (kepongor) atau karena kutukan.

Penyebab gangguan pada kelompok yang pertama atau terganggunya jiwa seseorang akibat masuknya roh (unsur bebai) ke dalam tubuh seseorang atas agresi orang lain merupakan faktor utama yang masih umum diyakini oleh masyarakat Bali hingga kini. Dalam kategori ini masyarakat pada umumnya dan pihak keluarga pada khususnya masih sangat percaya bahwa apabila ada salah seorang anggota keluarganya yang terganggu kesehatan jiwanya, maka keluarga tersebut berkeyakinan bahwa sakit tersebut disebabkan karena ulah orang lain yang iri (sirik) terhadap keluarganya atau alasan lain. Oleh karena itu, dia mengirim roh jahat (bebai) baik langsung maupun melalui bantuan orang sakti (dukun) untuk membuat orang bersangkutan sakit jiwa.

Sehubungan dengan peristiwa tersebut masyarakat umumnya akan menghubung-hubungkan sakit tersebut dengan kejadian sebelumnya terutama hubungan yang kurang harmonis atau konflik baik antar keluarga maupun antar¬anggota masyarakat. Dalam konteks ini tampak bahwa peranan agen perantara sebagai penyebab gangguan jiwa sangat menonjol (Foster, 1978).

Sebaliknya, penyebab gangguan jiwa pada kelompok yang kedua atau gangguan jiwa karena kemarahan roh leluhur, umum disebut sakit kepongor. Dalam kelompok ini tampak bahwa peranan agen perantara sebagai penyebab sakit tidak menonjol. Secara empiris menurut konsepsi orang Bali, gangguan jiwa karena kepongor atau karena kemarahan atau kutukan roh leluhur dipercayai akan dapat menimpa setiap keluarga yang melalaikan kewajibannya dalam memuja atau memuliakan leluhurnya. Melalaikan kewajiban terhadap roh leluhur diyakini tidak saja dapat menyebabkan sakit jiwa pada seseorang, tetapi juga dapat merusak keharmonisan keluarga secara keseluruhan. Dengan demikian, konsepsi penyebab sakit dalam kategori ini sering terkait dengan penyelenggaraan kegiatan ritual, khususnya upacara pitra yadnya.

Ekspresi dan karakteristik perilaku yang ditampilkan oleh orang yang menderita gangguan jiwa karena kepongor berbeda dengan perilaku gangguan jiwa pada kelompok pertama karena menunjukkan ciri pola perilaku ekspresi yang relatif khas. Misalnya, suka berbicara sendiri dengan menampakkan ekspresi wajah yang seolah-olah berbicara dengan orang-orang yang sudah meninggal, mengucapkan kata-kata yang berkaitan dengan pengampunan, penyelenggaraan upacara yang pernah atau belum dilakukan, dan lain-lain. Di samping itu gejala-gejala sakit ini umumnya berlangsung dalam kurun waktu yang agak lama.

Untuk menentukan atau mendiagnosis apakah seseorang terganggu jiwanya karena kemasukan roh jahat (kena bebai) ataukah karena kutukan atau kemarahan roh leluhur tampaknya cukup sulit dilakukan oleh orang awam. Oleh karena itu, menurut kebiasaan orang Bali umumnya, mereka akan meminta pertolongan kepada seorang dukuh untuk memperoleh penjelasan mengenai sebab-sebab sakit dan sekaligus cara-cara mengatasinya. Pada umumnya dukun atau median akan memberikan penjelasan kepada keluarga bersangkutan menge-nai mengapa, bagaimana dan kepada siapa sesuatu itu ditujukan sehingga upaya mengembalikan kondisi seperi; semula dapat diwujudkan. Atas dasar kenyataan itu, maka sangatlah wajar jika peranan dan eksistensi dukun di Bali dalam menangani masalah sakit jiwa masih sangat besar tanpa harus bertentangan dengan pengobatan dokter/biomedis.

2.3 Fungsi dan Makna Melukat dalam Penyembuhan Gangguan Jiwa dan Sumbangannya terhadap Sistem Pengobatan Barat
Seperti halnya upacara ruwatan melukat juga merupakan bentuk kegiatan ritual yang memiliki hakikat arti pembersihan atau penyucian yang biasanya mengacu pada pembersihan/penyucian diri manusia lahir batin, atau dewa yang diwujudkan lewat pretima yang oleh sesuatu sebab harus diupacarai sehingga menjadi suci/ bersih kembali (Bagus, 1985). Menurut konsepsi orang Baii, kata suci bisa mengacu pada pengertian bersih (ning), seimbang (harmoni), sehat tidak mudah kena gangguan ilmu hitam (pepasangan atau bebai). Atau jika dikaitkan dengan konsepsi etiologi sehat-sakit secara naturalistik dan personalistik, maka terjadinya keseimbangan unsur-unsur dalam tubuh atau kembali keadaan jiwa seperti semula merupakan hakekat dari kondisi sehat. (Foster, 1978).

Dengan demikian, ritual melukat dalam proses pengobatan gangguan jiwa memiliki fungsi dan makna simbolik yang mengarah pada upaya pembersihan jiwa-raga penderita dalam rangka mencapai atau mengembalikan keseimbangan jiwa yang terganggu. Ritual ini secara simbolik berarti tidak saja dalam kaitannya dengari tujuan pengobatan (kuratif), tetapi juga makna preventif. Artinya, jika kondisi jiwa-raga (skala-niskala) seseorang dalam keadaan suci-bersih, maka yang bersangkutan akan tidak mudah terganggu jiwanya, baik oleh sebab yang bersifat alamiah maupun supraalamiah seperti gangguan ilmu hitan atau gangguan roh-roh. Sebaliknya, jika keadaan jiwa-raga seseorang dalam keadaan tidak suci/ kotor, jiwanya lemah dan tidak seimbang emosinya, maka orang bersangkutan dipercayai akan sangat mudah kena pengaruh roh jahat.

Oleh karena itu, bersih atau suci menurut konsepsi orang Bali juga-berarti seimbang (harmoni) dan keadaan seimbang berarti sehat ataul tidak mudah kena pengaruh jahat (bebai atau pepasangan yang bisa menimbulkan sakit), maka upaya pembersihan diri lahir-batin (sekala-niskala) dengan upacara melukat agaknya memiliki logika rasional paling tidak menurut konsep mereka. Karena itu, jika ada orang Bali mengalami gangguan jiwa atau dinyatakan telah sembuh dari sakit jiwa, maka upaya pengobatan dengan upacara melukat merupakan cara yana penting dan harus dilakukan selain menggunakan pengobatan, baik dokter maupun dukun. Dengan demikian upacara melukat dalam konteks gangguan jiwa tidak saja dimaksudkan sebagai sarana pengobatan/terapi, tetapi juga memiliki makna preventif, baik dalam dimensi psikologis, sosial, maupun budaya.

Dalam dimensi psikologis dan simbolis dengan melukat si penderita akan dapat terhindar dari trauma pengalaman yang kurang menyenangkan atau atas kejadian buruk yang pernah dialami selama dia sakit. Di samping itu sekaligus pula sebagai sarana penumpahan tekanan kegelisahan intrapsikis dan sosial yang dialami selama dia dirawat sehingga kematapan jiwanya kembali terbentuk. Dengan kemantapan jiwa itu, maka proses penyembuhan selanjutnya akan terjadi secara lebih mudah dan cepat. Di samping itu aktivitas tersebut juga menjadi media komunikasi dan ekspresi simbolis dari penderita dan keluarganya kepada orang lain (tetangga/masyarakat) bahwa keadaan benar-benar sudah dapat kembali normal, bebas dari gangguan roh jahat, atau "penderita telah benar-benar sembuh, sehingga hubungan sosial dapat berlangsung normal kembali.

Dalam dimensi sosial dengan penyelenggaraan upacara melukat, maka secara sosial pihak keluarga pasien secara tidak langsung mengkomunikasi-kan kepada pihak lain (keluarga luas dan masyarakat) bahwa keadaan kesehatan yang bersangkutan telah benar-benar pulih kembali (sehat/normal). Dengan demikian, dia berhak kembali untuk melaksanakan peran-peran sosialnya (hak-hak dan kewajiban-kewajiban) sebagai anggota masyarakat  tanpa  meninggalkan stigma.

Keadaan ini jika dikaitkan dengan apa yang terjadi di Afrika seperti yang diungkap oleh Turner (1975), ada kesamaan fungsi dan makna, bahwa fungsi upacara Chimba, Isoma dan Nkula pada suku Ndembu adalah untuk menanggulangi niat jahat orang lain dengan tenung, menenteramkan kemarahan roh-roh leluhur yang menimbulkan penyakit, di samping juga sebagai media komunikasi di masyarakat bahwa telah terjadi peralihan status sosial seseorang dari masa atau status yang rendah ke masa atau status yang lebih tinggi. Atau oleh Helman (1984) disebut sebagai ritual ofmisfoiune yang memiliki fungsi, baik pengobatan (terantment) maupun pencegahan (preventive).

Sehubungan dengan uraian di atas, dikaitkan dengan hasil penelitian Suryani (1980), Pantri dkk. (1982) tentang perilaku kesehatan para pasien yang dirawat di RS Wangaya, Denpasar, dalam Kumbara (1994) tentang persepsi dan perilaku perawatan gangguan jiwa di Bali ditemukan bahwa hampir seluruh responden menyatakan bahwa mereka akan melukat dan menggunakan pengobatan tradisional (dukun) setelah pulang dari rumah sakit walaupun mereka secara biomedis dinyatakan oleh dokter telah benar-benar sembuh. Di samping itu, ditemukan bahwa sebagian besar responden menyatakan sudah pernah berobat secara tradisional (ke dukun) sebelum mereka dirawat di rumah sakit.

Berdasarkan fakta seperti itu dapat disimak bahwa masih eksisnya tradisi penyembuhan gangguan jiwa di Bali secara tradisional (menggunakan dukun dan dengan upacara melukat) karena melukat merupakan subunsur kebudayaan Bali yang sangat fungsional dan merupakan bagian penting dari kosmologi orang Bali, yang menekankan pada aspek keseimbangan/harmoni sebagai inti kehidupan. Salah satu cara penting yang sering dilakukan untuk menjaga atau mengembalikan keseimbangan dunia (makro-mikrokosmos), skala-niskala, jiwa-raga adalah dengan melaksanakan upacara ritual (pancayadnya). Di samping itu, upacara melukat yang dilaksanakan dalam konteks gangguan jiwa sangat terkait pula dengan konsepsi etiologi gangguan jiwa orang Bali yang masih bersifat personalistik. Artinya gangguan jiwa yang dipercayai akibat gangguan roh jahat atau karega faktor kekuatan supranatural.

Penutup

Berdasarkan hal-hal yang telah dibahas dalam uraian di atas, dapat dirumuskan simpulan sebagai berikut.

Setiap masyarakat di dunia, baik yang sudah maju teknologinya maupun yang masih sederhana/tradisional senantiasa pernah melakukan kegiatan ritual untuk tujuan tertentu. Dengan demikian, ritual merupakan fenomena yang universal, memiliki pola perilaku yang teratur, memiliki bentuk, fungsi, dan makna simbolis dalam kesatuan sistem ritual.

Upacara melukat sebagai bagian dari sistem medis lokal untuk pengobatan gangguan jiwa hingga kini masih tetap eksis dan menjadi bagian penting dari proses pengobatan di Bali dan digunakan secara bersama-sama dengan pengobatan biomedis tanpa adanya konflik atau penolakan di antara kedua praktisi medis tersebut (konflik antara dokter dengan dukun). Tetap eksisnya cara itu juga karena upacara melukat merupakan subunsur kebudayaan Bali, khususnya upacara panca yadnya yang sangat fungsional dan menjadi blue print bagi orang Bali dalam rangka mencapai dan mempertahankan keseimbangan dunia (makrokosmos-mikrokosmos/lahiriah-batiniah). Di samping itu, masih kuatnya kepercayaan masyarakat Bali terhadap sebab-sebab gangguan jiwa (etiologi penyakit) yang bersifat personalistik menyebabkan upacara melukat masih tetap digunakan hingga kini.

Upacara melukat di Bali di samping berfungsi sebagai sarana pengobatan dan proteksi diri terhadap gangguan roh jahat (bebai) juga berfungsi sebagai media komunikasi dan ekspresi simbolis atas tekanan sosial dan psikologis yang dialami pasien dan keluarganya selama yang bersangkutan sakit.

Secara psikologis melalui upacara melukat, penderita akan merasa jiwa dan raganya menjadi bersih dan selanjutnya kondisi demikian akan memberikan dampak positif bagi tumbuhnya kepercayaan diri bahwa dirinya telah sembuh dan bebas dari gangguan roh jahat. Dengan demikian, melukat dapat berfungsi membantu mempercepat penyembuhan pasien yang dirawat dengan cara biomedis. Di samping itu, dengan melukat dapat dihapus trauma-trauma atas pengalaman yang kurang menyenangkan yang dialami penderita selama dia sakit.

Secara sosial melalui melukat secara tidak langsung pihak keluarga telah mengkonsumsikan kepada masyarakat, bahwa yang bersangkutan telah sembuh dan bebas dari gangguan roh jahat. Dengan demikian, dapat kembali melaksanakan kewajiban dan peran sosial seperti layaknya warga masyarakat lainnya tanpa beban sigma sosial tertentu.

Source: A.A Ngr. Amom Kumbara l Warta Hindu Dharma NO. 483 April 2007