Evolusi Sraddha [2]

(Sebelumnya)

Banyak ingatan akan keadaan di masa lalu hanya akan membebani memory kita. Kondisi itu tentu tidak menguntungkan karena otak kita memiliki kapasitas tertentu. Bersyukurlah kita bisa lupa, sehingga tidak menjadi korban masa lalu. Berkaitan dengan keuntungan kita tidak ingat akan kehidupan terdahulu, diceritakan dalam riwavat Sang Buddha. Dikisahkan, ada seorang raja berkali-kali meminta agar beliau mau menceritakan perjalanan hidup raja tersebut dalam kehidupannya terdahulu.

Secara halus Sang Awatara menolaknya, tetapi raja itupun tetap mendesak. Raj berjanji telah siap menerima informasi itu, walaupun sejelek apapun. Karena kehendaknya, Budha akhirnya memberitahukan, bahwa dalam kehidupannya terdahulu, permaisuri raja saat ini adalah ibu kandungnya sendiri! Semenjak itu, setiap raja berdampingan, apalagi saat memadu kasih dengan permaisurinya, selalu saja teringat bahwa dulu wanita cantik itu adalah bundanya sendiri! Bersyukurlah kita bisa lupa.

Pada akhirnya, semua yang ada dijagat ini merindukan adanya kebebasan dan ketenangan. Sebagai contoh molekul-molekul menguap karena ingin membebaskan diri dari keterikatannya dengan molekul-molekul yang lain. Batu-batuan menealami pelapukan, pecah menjadi kerikil dan pasir. Angin berhembus dari tekanan tinggi ke tekanan yang lebih rendah semata-mata karena rindu akan kebebasan. Burung-burung ingin terbang bebas, ikan ingin air yang lebih segar, semuanya didorong oleh kerinduan alamiah yang disebut kebebasan. Contoh lain, udara yang ada di dalam ruas-ruas bambu merindukan penyatuan dengan udara luar kematangan membuat ruas-ruas itu retak. Melalui celah retakan itulah udara yang terkurung di dalam ruas bambu menemukan jalan kebebasan.

Pergerakan udara tersebut menimbulakan bunyi yang sangat halus, lebih halus daripada nafas kita. Namun bagi telinga yang terlatih mendengar dengan perasaan, bunyi itu akan terdengar seperti nyanyian kemerdekaan dan kemanunggalan dengan Sang Sumber. Oleh para Kawi, nyanyian itu dilukiskan sebagai nyanyian rindu, kerinduan udara dalam bumbung bambu itu untuk menunggal dengan udara luar akan tuntas ketika sebatang bambu berubah menjadi "simetri" atau seruling. Lewat sunari alam bernyanyi, lewat seruling udara keluar masuk seiring nafas sang seniman yang meniupnya. Tiupan udara ke dalam sunari dan seruling menyebabkan kedua alat itu hidup. Tidak sekedar hidup, tetapi menimbulkan irama nan indah.

Bagaikan fenomena alam di atas, kebebasan yang sesungguhnya, yang bebas dari keterikatan berikutnya, kecuali keterikatan dengan sang Pencipta (Brahman), hanya dapat dicapai lewat pikiran dan perilaku yang tercerahkan. Dia tidak akan dijumpai dengan dogma-dogma, karena dogma bersifat mengikat. Dan, kebebasan di alam sana, tidak akan pernah tercapai tanpa kebebasan di alam sini. Kebebasan hanya dapat dicapai lewat jalan spiritual (sadhana), dan semangat pantang menyerah. Ibarat mendaki gunung lewat jalan melingkar, seorang pendaki akan sampai ke puncak gunung jika dia mampu melawan rasa lelahnya, dan tidak terikat lagi dengan keindahan disepanjang perjalanan. Pada kondisi itu jiwa telah terbebas dari siklus tumibal lahir karena dia telah bebas dari kebingungan (moha ksaya) yang secara umum disebut mencapai moksha.

Penyatuan sang jiwa dengan Brahman, Brahman atman aikhyam, dalam Mundaka Upanisad II1.2.8 digambarkan seperti aliran sungai menuju samudra. Setelah aliran sungai itu menyatu dengan samudra, nama dan bentuknya pun hilang. Demikianlah, orang-orang bijaksana dibebaskan dari nama dan bentuk setelah mencapai kesadaran tertinggi, penunggalan dengan Brahman Yang Maha Suci. Di sanalah beliau menikmati kebahagiaan yang abadi, sukha tanpawali dunka. Kebahagiaan yang dimaksud di sini, bukanlah kenikmatan ragawi yang disebabkan oleh rangsangan dari luar, seperti lezatnya makanan dan minuman, atau nikmatnya rangsangan seksualitas, kebahagiaan yang'dimaksud adalah kebahagiaan yang muncul dari dalam karena memang telah menyatu dengan kebahagiaan itu sendiri. Tuhan adalah Sat Cit Ananda.

KEBAHAGIAAN SEBAGAI UMAT HINDU

Ajaran Hindu, sebagaimana disebutkan dalam Sarasamuscaya 1, bersifat lengkap dan komprehensif sebagai pedoman hidup umat manusia. Keagungan ajaran Veda juga diakui oleh Annie besant, pemimpin masyarakat theosofi, yang menyatakan, "Setelah lebih dari 40 tahun mempelajari agama-agama besar di dunia, saya mendapatkan kesimpulan bahwa tidak ada pustaka suci yang sesempurna, seilmiah, sefilosofis, dan sespiritual Veda." Pernyataan orang non hindu tersebut tentu merupakan kebanggan terhadap kita. Namun, dalam masyarakat Hindu sendiri, karena ketidakmengertinya banyak yang merasa minder, bahkan banyak pula yang sampai pindah ke keyakinan lain.

Untuk meningkatkan kebanggaan sebagai umat Hindu, setiap pemeluk hindu semestinya aktif mengisi hatinya dengan Sraddha berlandaskan Jnana. Dengan menegaskan berbagai alasan yang dikemukakan oleh mereka yang keluar dari Hindu, kebanggaan akan Hindu dapat dilakukan dengan memupuk sikap berikut:

1) Melakukan pemilahan antara agama dan tradisi, sehingga umat tidak menjadi korban tradisi, baik dalam kaitan dengan ritual, hubungan sosial yang bersekat sistem kasta, dan lain-lainnya.

2) melakukan penggalian dalam ajaran sendiri, dan tidak hanya berfikir analogi atau penyamaan (samanisme) dengan agam lain. Setiap agama adalah Khas, spesifik, dan istimewa, oleh karena itu kurang bijaksana jika kita menirtu ke agama lain.

3) Mendudukkan agama sebagai jalan untuk keselamatan, mensejahterakan dan menjajikan kedamaian. Tidak sebaliknya, meneror dengan ketakutan dan tiada ruang pengampunan bagi mereka yang berdosa.

4) meningkatkan solidaritas kehinduan, sehingga umat yang mengalami masalah tidak merasa sendiri, apalagi dicampakkan dengan lingkungan sosialnya.

5) membangkitkan semangat Spiritual Hinduisme dan melakukan refeksi kritis terhadap ilmu kebatinan yang ditawarkan oleh orang luar. Sampai saat ini, orang Bali di label sebagai kelompok masyarakat yang ganderung akan mistik dan kesaktian. Mereka pun datang lewat jalur ini, termasuk melakukan propaganda pengobatan massal yang dikemas sebagai Bali Gospel Festival menggunakan doa-doa Kristiani.

6) Memantapkan pesan spiritual bahw. seluruh anak-anak Hindu,selanjutnya kita label sebagai Putra-putra Dharma, baik laki maupun perempuan, termasuk juga yang buakn laki-laki maupun yang bukan perempaun, memiliki swadarma yang sama untuk meneruskan ajaran luhur Veda/ Vedanta.

7) Mencegah terjadinya konversi agama dengan berbagai dalih yang merugikan Hindu, termasuk pemberian dana yang biasa dilakukan oleh seorang misionaris kristen dan janji kedamaian (spiritualitas) oleh kaum Buddhis dan Taoisme.

8) Membuka ruang diskusi dan curhat diantara umat Hindu, serta dialog yang kondusif dengan penganut keyakinan agama lain.

PEMAHAMAN AGAMA

Srddha sebagai keyakinan seharusnya terus dimantapkan untuk menciptakan kebanggaan sebagai penganut hindu, kebanggaan akan muncul jika didahului dengan pemahaman. Tanpa pemahaman, seluruh praktek beragama, apalagi sarat dengan muatan lokal tradisi hanya akan membebani umat. Dan, praktek beragama yang memberatkan tanpa pemahaman itulah yang selama ini menjadi salah satu faktor penyebab perpindahan umat ke keyakinan lain. Selanjutnya, tanpa adanya kebanggaan yang mengarah ke dalam (bukan untuk pamer), Hindu bisa tergerus dari habitatnya. Dan semua ini mesti dicegah oleh kita sebagai Putra-putri Dharma!.

Oleh: I Wayan Suja
Source: Warta Hindu Dharma NO. 525 September 2010