Evolusi Pemujaan Siwa-Buddha di Jawa [2]

Tantrisme India, baik Buddha maupun Siva, meletakkan penekanan yang sangat besar pada kekuatan psikis atau supernatural. Teks-teks Buddha sungguh berbicara tentang kekuatan-kekuatan itu melibatkan kapasitas "memproyeksikan bayangan buatan pikiran tentang seseorang, menjadi tidak dapat dilihat, menembus benda-benda padat, seperti dinding, menembus dasar padat seolah-olah cair, berjalan di atas air, terbang di angkasa, menyentuh matahari dan Bulan, naik ke surga-surga yang lebih tinggi, dsb. "Ide-ide seperti itu tidak nampak menjadi sebuah perkembangan yang belakangan, karena seawal masa Vinaya Pitaka, murid Sang Buddha sendiri, Bharadwaja dilaporkan terbang ke angkasa secara ajaib dan membawa turun mangkok hasil permintaannya yang dipegang menyendiri oleh Setthi.21.

Percaya terhadap kekuatan-kekuatan supernatural seperti itu juga dicerminkan di dalam kesusasteraan Jawa Kuno. Orang-orang yang hidup pada 1365 Setelah Masehi di kerajaan Majapahit percaya bahwa pembagian kerajaan Airlangga dipengaruhi oleh "Mahayanabrata, seorang guru masa lalu dalam Tantra, seorang guru yogi, disebut Bharada. Ia telah dijelaskan karena terbang di angkasa, memberi batas wilayah dengan "air kendi di angkasa". Pencapaian kekuatan supernatural atau pemerolehan siddhi-siddhi yang berbeda-beda adalah juga salah satu tujuan utama praktek umum Tantra Siva.

Apriksimasi antara SivaismT dan Buddhisme dan identifikasi dari dua keilahian pokok dari kedua sistem religi ini mengantarkan kepada banyak terjadinya toleransi, atau barangkali lebih besar dari itu di India. Dengan abad kesebelas Setelah Masehi, jika tidak lebih awal, Buddha telah diadopsi ke dalam Pantheon Hindu sebagai salah satu dari sepuluh Awatara Visnu dan Jayadeva, pujangga istana raja Laksmanasena dari Bengal (1179-1205), mempersembahkan sebuah puisi indah kehadapan kesepuluh awatara Visnu, dimana Buddha adalah yang terakhir, tetapi bahkan kemudian tidak ada pura Siva dapat mengakomodasi baik Siva maupun Buddha dalam satu dan tempat yang sama. Terlepas dari identifikasi ideologis dari Siva dan Buddha, tidak ada upaya yang membutuhkan banyak tenaga dialamatkan seperti di Jawa dan Bali, untuk menerjemahkan ide-ide dalam hal realitas.

Spirit toleransi ini secara meluas dicerminkan kedalam kesusastraan dan prasasti-prasasti Jawa Kuno. Kitab Sang Hyang Kamahayanikan mengatakan 23:Buddha tunggal lawan Siva, yaitu Buddha dan Siva adalah satu. Spirit luas toleransi dan persamaan diteruskan pada catatan-catatan berikutnya di Jawa Timur, hal ini lebih lanjut dijelaskan oleh, contohnya, sebuah prasasti dikeluarkan oleh raja Airlangga, 1034 Setelah Masehi, yang memberikan peng hormatan yang sama kepada Mpungku Siva-Sogata-Rsi, denominasi-denominasi religi yang sama yang sering muncul, berdampingan, dalam prasasti-prasasti dan catatan sastra dari Jawa Timur. Dapat diingat dalam hubungan ini bahwa aksesi raja Airlangga kepada tahta diperkuat oleh anugrah rsi-rsi Brahmana, Siva dan Buddha. Menurut spirit ini, penulis prasasti Keboan Pasar, tahun 1042 Setelah Masehi menawarkan pada bagian penutup prasasti, penghormatan tidak hanya kepada Buddha, tetapi juga Siva, rsi dan Brahmana. Pembagian ini dibuat antara rsi-rsi yang barangkali pertapa-pertapa brahmana dan Brahmana-brahmana, adalah menarik. Pembagian ini tidak mungkin telah dibuat, jika tidak jumlah yang pertama sangat banyak.

Keadaan luas dari toleransi religi juga dikuatkan dalam kesusastraan kontemporer. Dalam kakawin arjunavivaha, yang digubah pada masa kekuasaan raja Airlangga, sebuah pandangan dari sinkritisme religi ini disajikan dalam adegan yang menjelaskan meditasi Arjuna pada canto ketiga. Di sini ia duduk bersila, kedua tangannya diletakkan di atas dadanya dan matanya tertuju di ujung hidungnya. Seperti yang dikatakan oleh pujangganya, ia hanyut dalam kekosongan; ia tidak mendengar apa-apa lagi, dan murni bagaikan kosong.

Sungguh Indra dibuat untuk memperingatkan (6.2) "Jika engkau mencintai "kosong", engkau akan menjumpai "kosong". Ide-ide seperti itu juga ditemukan dalam Vajrayana, karena sunya atau kekosongan dijelaskan sebagai Vajra atas dasar sifat ketidak hancurannya, tetapi sunya pada pengikut Vajrayana berbeda dari yang dipahami oleh Madyamika atau para pengikut Vijnanavada, karena ia menyertakan elemen-elemen realitas, kesadaran dan kebahagiaan maha besar. Jelasnya, doktrin-doktrin dasasila dan nirvana, kepada mana referensi telah dibuat, adaalah sesuatu yang bersifat buddhistik, tetapi ketika sarana dan tujuan-tujuan ini dicari untuk didapatkan pada pemujaan Siva, seluruh ide menjadi terkorupsi.

Kecenderungan penyamaan atau identifikasi dibawa melalui kesusastraan belakangan, dan secara khusus telah dicerminkan dalam Kunjarakarna, Sutasoma, Nagara-kertagama, dsb. Masalah ini juga telah dibahas oleh Kern, Krom, Rassers dan penulis-penulis sekarang. Kesenian Jawa juga telah mencerminkan fenomuena ini. Dapat diingat bahwa Raja Visnuvardhana dipatungkan setelah wafat, dengan patung Siva dalam dharma pada Valeri dan dengan patung Sugata pada candi Jajaghu. Begitu juga halnya dengan raja Krtanegara, setelah kewafatannya "diluncurkan dalam wilayah-wilayah Siva-Buddha" dan "sebuah arca Siva dan Buddha", menimbulkan sang raja yang telah wafat, dibangun sebuah domain religi". Di Bali sekarang juga dengan fenomena yang sama secara jelas dapat dilihat, dan Bud-dha dipandang disana sebagai adik Siva.

Stuti-stuti Buddha di Bali mempunyai campuran Siva yang cukup banyak. Hooykas telah meneliti bahwa beberapa dari padanya ada kesan murni Siva, tetapi secara eksklusif adalah Buddha, sementara yang lainnya dibagi oleh penganut-penganut Siva dan Buddha. Sarjana yang sama telah memperlihatkan lebih lanjut bahwa pendeta dukuh di Bali diwakili dalam tiga jenis, yaitu Siva, Buddha dan Siva-Buddha. Walaupun ia tidak dapat ngecek informasi ini, kecenderungan sistem religi di Bali memperlihatkan bahwa informasi ini barangkali benar. Dalam upacara seremonial penting, kita selalu menemukan empat pendeta Siva dan satu pendeta Buddha,"dimana yang terakhir duduk menghadap ke selatan dan keempat pendeta Siva menghadap ke arah mata angin lainnya dan menempati tempat duduk di tengah. Serupa dengan itu, perabuan dari pangeran raja, toya tirta dari kedua sekte ini dicampur bersama-sama.

Siva tidak diragukan lagi adalah seorang Tuhan (yang cakap). Jika demikian adanya, dalam manifestasi Lingganya, diidentifikasi dengan menhir-menhir pra sejarah atau susukulumpang Jawa dan dengan Bud¬dha, ia tidak kurang dapat diuji kepada identifikasinya dengan Visnu atau Hari. Hal ini juga mengantarkan bagi pertumbuhan pemujaan Hari-Hara, dimana representasi-representasi ikonografinya tersedia, baik di Jawa dan India. Patung-ptung Hari-Hara telah ditemukan dari seluruh bagian India, dari masa Gupta dan seterusnya. Beberapa contoh mencolok dapat dilihat pada India Museum, Calcutta. Dalam satu ikon campuran Hari-Hara, Buddha dan Surya telah juga diwujudkan dalam sisi-sisinya. Patung yang paling mencengangkan menggambarkan Hari-Hara di Jawa ditemukan di candi Simping; Ini diyakini untuk menyimbulkan raja Krtarajasa, tetapi dalan sketsa perwujudannya, penekanan lebih besar diletakkan pada elemen Siva, jadi membuktikan sekali lagi bahwa Siva merupakan yang teragung dari dewa-dewa India.

Oleh: Himansu Bhusan Sarkar
Source: Warta Hindu Dharma NO. 531 Maret 2011