Evolusi Pemujaan Siwa-Buddha di Jawa

Migrasi Buddhisme ke daratan-daratan di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, merupakan sebuah fenomena yang sangat penting, karena ia tidak hanya secara kuat telah mempengaruhi kehidupan dan pikiran begitu banyak umat manusia yang hidup di wilayah ini, tetapi bahkan ia sekarang berkembang dalam beberapa wilayah yang terbatas di Indonesia, tetapi ia merupakan sebuah kekuatan yang lemas di Asia Tenggara lainnya, walaupun sia-sia masa lalunya dapat dilihat pada semua tempat penting di wilayah ini.

Kita tidak mempunyai ide kabur apapun berkaitan dengan agama yang dipeluk oleh raja Tiao-Pien dari kerajaan Ye-Tiao, bahkan mengansumsikan bahwa tempat tersebut mengacu kepada Jawa atau Jawa-Sumatra. Sepanjang bukti-bukti yang ada sekarang, nampaknya agama India yang pertama kali yang mengakar di Jawa adalah Hinduisme, seperti yang diperlihatkan oleh prasasti Raja Purnawarman di Jawa Barat. Kemungkinan agama ini diikuti dengan penyebaran Buddhisme Hinayana dari Mazab Mulasar-vastivada, tetapi yang kedua telah membuat ruang bagi perkembangannya mazab Mahayana. Hal ini mengingatkan kita bahwa Farhien, dalam perjalanannya ke China, pada tahun 414 Setelah Masehi telah mencapai sebuah negara yang disebut Ye-p' O-Ti seperti disebutkan dalam catatan sejarah Cina.

Jika prasasti Purnavarman dibuat pada pertengahan abad kelima Setelah Masehi, dan jika Ye-P'o-T'i sama dengan Jawa, adalah beralasan untuk berpegangan pada pendapat bahwa Fa-hien menginjakkan kakinya di dalam wilayah kerajaan ayah atau kakek Purnawarman, dengan catatan mereka adalah pangeran-pangeran yang berkuasa dalam negara ini, ia melihat bahwa "berbagai bentuk kesalahan dan Brahmanisme sedang berkembang sementara Buddhisme di dalamnya tidak penting disebutkan" Kondisi Buddhisme yang tidak memuaskan di Indonesia nampaknya terus berlangsung selama kira-kira atau lebih, hingga pangeran Gunavarman yang berasal dari Kashmir datang. Ia memberi pelayanan yang berharga bagi berkembangnya Buddhisme di negara-negara luar India.

Dari sebuah karya China yang dikompilasi dalam tahun 519 Setelah Masehi kita dapat mempelajari bahwa sang pangeran datang ke Cho-p'o dan mengubah raja dan permaisuri negara tersebut menjadi pemeluk agama Buddha. Gunavarman telah menerjemahkan sebuah karya dari sekte Dharmagupta tentang Mulasarva-stivada; kita dengan demikian dapat merumuskan bahwa Gunavarman telah mempropagandakan doktrin Buddhisme Hinayana yang telah menikmati popularitasnya pada beberapa pulau di indonesia. Dari tahun 424 Setelah Masehi ketika Gunavarman akhirnya meninggalkan Cho-p'o, ke masa ketika ho-ling muncul berjaya dalam sejarah mendekati pertengahan abad ketujuh, Buddhisme Hinayana pasti telah mempengaruhi beberapa bagian pulau Jawa.

Ho-ling mempunyai kedudukan penting karena pada abad ke tujuh, ia telah terkenal sebagai sebuah pusat kesarjanaan Buddhisme. Kita mempelajari bahwa peziarah China, Hui-ning dalam perjalanannya ke India singgah di sini pada tahun 664-65 Setelah Masehi dan tinggal di sini selama tiga tahun. Dalam kolaborasinya dengan sarjana-sarjana lokal Joh-na-poh-t'o-lo, dalam bahasa Sanskerta berkorespondensi dengan Jnanabhadra, ia telah menerjemahkan di sini beberapa teks Buddhisme yang mencerminkan adanya pelebaran yang sangat besar dari doktrin-doktrin Mahayana dan karena itu diklasifikasikan ia berada di bawah Hinayana. Adalah jelas bahwa Ho-ling telah berkembang sebagai pusat studi-studi agama Buddha dan terdapat di sana sarjana-sarjana lokal yang kompeten membahasa persoalan terkait.

Buddhisme dari Ho-ling dan tempat-tempat lain dari kepulauan ini nampak melahirkan corak Hinayana, walaupun ada perkecualian-perkecualian minor, karena ada beberapa yang menerima Sammiti, Mahasamghika dan Sthaviranikaya. Dalam konteks ini seseorang dapat memahami mengapa Buddhacarita karya Asvaghosa begitu popular di pulau-pulau di laut-laut selatan. Dominasi Buddhisme Hinayana secara perlahan-lahan melemah dan memberi ruang bagi Buddhisme Mahayana yang segera mulai berkembang mengagumkan di bawah kerajaan Srivijaya dan Sailendra.

Sebagai bagian dari kerjaan Sriwijaya, Sumatra Tenggara, dengan ibu kotanya di Palembang, muncul sebagai perhatian sejarah, sebagai salah satu pusat utama studi agama Buddha. I-tsing belajar sabdavidya (tata bahasa) di sini pada tahun 671 Setelah Masehi dan selama tahun 685-89 Setelah Masehi ia terlibat menyalin dan menerjemahkan teks-teks Sansekerta Buddha ke dalam bahasa China. Dalam salah satu perjalanannya, 1-tsing membawa dari India 500000 stansa teks-teks tripitaka, ia selesaikan banyak pekerjaan ini di Srivijaya, biografi-biografi peziarah-peziarah China ke India, seperti yang dikompilasi oleh I-tsing, memberikan fakta yang menarik bahwa banyak peziarah China, seperti Yun-ki, Ta-tsin, Tcheng-kou, Tao-hong, Fa-lang dan yang lainnya, telah membuat masa tinggal yang lama di pusat international kesarjanaan Sansekerta. Adalah bukan untuk percuma bahwa sarjana-sarjana dan mahasiswa-mahasiswa Buddha berkumpul di Srivijaya, karena Sakyakirti, satu dari tujuh guru terbesar diantara masa I-tsing tinggal di Srivijaya.

Sarjana-sarjana Buddha dari Indonesia dan India, menurut kata-kata I-tsing, mahir dalam studi teks-teks Hinayana dan Mahayana, karena adanya begitu banyak kaitan-kaitan umum yang mengikat keduanya. Contohnya, saja aliran yang sama dapat menerima Mahayana dalam beberapa hal dan hinayana dalam bagian yang lainnya. Spirit kesarjanaan pencerahan ini dengan kerja keras didorong oleh universitas Nalanda. Isi Tantrik pada Buddhisme India Timur, berfokus pada aliran Nalanda dan Pala-Bengal, diperkuat oleh misioonaris-misionaris Buddha, seperti Dharmapala. Vijrabodhi, Amoghavajra, Kumaraghosa dan lain-lain dari India Selatan, Timur dan Barat, secara kuat telah mempengaruhi Indonesia.

Munculnya Buddhisme Tantrik hampir sezaman dengan perkembangan Tantrisme Siva di India Timur dan karena ini membentuk dua sistem dua sistem agama yang paling penting di India sekarang, kedua rival dan spirit akomodasi secara perlahan-lahan menuju aproksimasi antara kedua agama tersebut. Latar belakang religius cukup mendukung bagi aproksimasi tersebut. Dari hal ini dapat diingat bahwa sementara Bainyagupta dari Bengal Timur (507-8 Setelah Masehi), Baskaravarman dari Kamarupa (paroh pertama Abad ketujuh Setelah Masehi), Sasanka dari Karnasuvarna di Bengal Barat (617 Setelah Masehi) dan Lokanatha (abad ketujuh Setelah Masehi) adalah penganut-penganut Siva, orang-orang Kadga (paroh kedua abad ketujuh dan masa awal abad kedelapan), orang-orang Pala (750-1095 atau 1125 Setelah Masehi) Chandra (abad kesepuluh) adalah orang-orang penganut ajaran Buddha. Eksistensi berdampingan/bersamaan dari kedua sistem ini mengiring pada terjadinya aproksimasi yang secara jelas dapat dilihat dalam banyak catatan-catatan kontemporer di Bengal.

Aproksimasi yang sama dalam dua sistem religi dapat dilihat dengan atas pada catatan-catatan di daerah Jawa Tengah, tetapi ia nampak paling jelas dalam catatan-catatan Jawa Timur. Dengan mengacu pada kesusasteraan dari periode hegemoni politik Jawa Tengah, masalah ini dapat dipelajari dalam detail-detail yang lebih besar. Bahkan seperti apa adanya, bukti-bukti dari prasasti-prasasti Jawa Tengah menginformasikan kepada kita hal-hal yang sama. Terlepas dari pembangunan candi untuk memuja Tara, seorang dewi yang diacu oleh keduanya baik Siva maupun Tantra Buddha, dalam tahun 778 Setelah Masehi, Prasasti Kelurak, yang dikeluarkan empat tahun setelah itu, secara jelas menyatakan dalam ayat 15: "Ia, Vajra yang mampu menggunakan tenaganya, yang menguntungkan, adalah Brahma, Visnu dan Maheswara; Ia penuh dengan dewa-dewa dan disembah sebagai Manjuvak".

Identifikasi Dewa Pengetahuan Buddha dengan Tri Murti Hindu belum dapat lebih disempurnakan. Hal ini merupakan indikasi yang luas tentang proses aproksimasi yang telah dimulai keduanya baik di Bengal maupun di Jawa. Jika kita mengkaitkan hubungan Nalanda-Srivijaya-Sailendra-Borobudur dengan kompeks Canngal-Dinaja-Loro-Jonggrang, kita akan sampai, pada pertimbangan-pertimbangan teoritis dan umum. Pada abad kedelapan dan kesembilan ketika sintesis religi ini berlagsung. Buddha pada Stuva terminal pada candi Borobudur pada sisi lain dan Lingga Bukit Vikir dari raja Sanjaya dan Siva pada candi Prambanan pastilah meneydiakan nuansa religius yang tepat bagi terjadinya sintesis dan evolusi tertinggi bagi pemujaan Siva-Buddha. Suasana pastilah kompleks baik di India Timur maupun di Jawa, tetapi pola yang luas barangkali tidak banyak berbeda.

Guruvada dari Tantra Siva, yang dapat menjadi guru atau pengajar dari kasta apa saja bukan dari selalu Brahmana, orang-orang penganut paham Buddha yang tak berkasta dan organisasi penduduk asli yang tidak mengenal kasta pada orang-orang Jawa, yang belum secara substansi menerima keketatan sistem kasta India, mungkin telah menyediakan matriks bagi pondasi pemujaan Siva-buddha. Ada elemen lain yang selalu memfasilitasi evolusi ini. Menhir-menhir prasejarah sangat dihormati oleh orang-orang Indonesia asli dan keturunan-keturunannya; prasasti-prasasti itu juga memperlihatkan penghormatan yang tinggi oleh Susu-kulumpang. Ketika Brahmana-brahmana yang pintar mengidentifikasi mereka dengan Lingga-Lingga Siva, kesulitan besar pertama untuk pengenalan Sivaisme di Jawa selesai. Ketika Lingga ini dijadikan sesuatu yang penting untuk keselamatan masyarakat dari keluarga yang sedang berkuasa, masa depannya dapat diyakinkan. Pemasangan Lingga Siva pada bukit Vikir pada tahun 732 Setelah Masehi nampaknya mencerminkan fenomena ini.

Aliran arus Sivaisme, Tantra dan lainnya, nampaknya telah berlangsung ke Jawa dari Bengal, bahkan seperti dilakukan oleh Buddhisme Tantra. Adalah menarik untuk diketahui dari mana sekte Bengal, penganut faham-faham Siwa mendapatkan inspirasinya. Jika kita mempelajari lembaran-lembaran logam tipis Bhagalpur dari raja Narayanapala dari Bengal (tahun 854-908 Setelah Masehi) akan nampak bahwa bentuk yang sedang berkembang dari Siwaisme dari masyarakat Bengal sekarang termasuk dalam mazab Pasupata yang nampaknya didirikan oleh Srikanthanatha, penulis pingalamata dan Lakulisa, yang barangkali muridnya.

Kempat murid Lakulisa adalah Kusika, Garga, Mitra dan Kaurusya, yang semuanya menganut faham Pasupata dan sering mereka disebutkan dengan Patanjali dalam formula sumpah jerapah lisan dalam prasasti-prasasti berbahasa Jawa Kuno. Resi-Resi Kusikadan yang lainnya mengenal baik Pasupata Yoga, menggunakan abu, mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit kayu dan mempunyai rambut kusut. Pada Jaman Hiuen-tsang, mereka telanjang dan terbiasa mengikatkan rambutnya dalam gulungan, tetapi pengikut-pengikut paham Pasupata lainnya menggunakan pakaian merah, seperti dicerminkan dalam Kadambaan sebuah karya tulis oleh Bana, ditulis pada jaman Hiuen-tsang (pertengahan abad ketujuh).

Sejak pancakusika (lima kusika) membuat penampilan pertamanya dalam lempengan tembaga Kanca, 860 Setelah Masehi, kita barangkali memegang pandangan bahwa bentuk Pasupata Sivaisme yang merupakan bentuk tertua Sivaisme sektarian India, datang ke Jawa Tengah dari "Bengal pada sekitar masa sebelum 860 Setelah Masehi. Tanggal yang pasti tidak dapat ditentukan sekarang, tetapi Kern berpendapat bahwa sekte Pasupata mungkin telah hadir pada permulaan abad kelima Setelah Masehi ketika Fa-hien mengunjungi Jawa. Dapat diingat bahwa perjalanan China telah menemukan "heretik dan Brahmana-brahmana" (terjemahan lain adalah: Brahmana-brahmana heretik) di Jawa.

Kern berpendapat bahwa penggunaan istilah "heretics" dalam kata majemuk "heretics dan Brahmana-brahmana" oleh Fa-hien mungkin mengacu pada sekte Pasupata, karena Hiuen-tsang, yang sering menggunakan kata majemuk "heretics dan Brahmana-brahmana", dimaksudkan, paling tidak sekali, sekte pasupata oleh kata "heretics" Dari hakikat masalahnya, buktinya tidak memuaskan, karena terlepas dari jarak waktu yang memisahkan kedua pejalan itu, status sekte pasupata mungkin telah mengalami perubahan-perubahan selama dua seperempat abad ini.

Dalam pertengahan abad ketujuh Setelah Masehi ia merupakan sebuah sekte yang sangat penting karena Hiuen-tsang mengacu kepada Pasupata-Pasupata sebanyak dua belas kali dalam perjalannanya. Adalah sungguh trveragukan jika sekte ini telah berkembang dalam Tracts Pallava dan teritorial-teritorial tetangga pada suatu masa ketika pengaruh India ke Jawa-Sumatra dimulai. Di bawah keadaan-keadaan ini kita dapat berpegang bahwa sekte Pasupata telah berkembang di Jawa paling sedikit pada 860 Setelah Masehi. Sebelum tahun ini, penguasa Pala bernama Devapaladeva (810-50 Setelah Masehi) telah berhenti masa jayanya, tetapi kontaknya dengan Suvarnadvipa telah dibangun oleh perjanjian Nalanda.

Buddhisme telah mengembangkan seperangkat kesusasteraan dan Pngadel sadhana pada abad ketujuh setelah Masehi, ciri-ciri umum telah berkembang dalam Tantrisme Siva dan Buddha pada abad kedelapan dan kesembilan Setalah Masehi walaupun simbol-simbol yang diangkat oleh masing-masing berbeda. Elemen-elemen mestik dalam Tantrisme Buddha, seperti Vajrayana, Sahajayana dan Kalacakrayana, tentang mana landasan filosifis diberikan oleh Yogacara dalam sistem filsafat Madyamika, berproses dibawah nama generic Mantrayana, yang dicerminkan dalam sebuah Tracts Jawa Kuno dari abad kesembilan. Terlepas dari ciri-ciri umum diantara mereka, Tantra Siva dan Buddha menggunakan simbol-simbol yang terpisah untuk menjelaskan mode-mode Sadhana yang rumit, sukar dimengerti.

Dalam cara ini, kedua Dewa-dewa utamanya dalam beberapa manifestasinya, menjadi identik,tanpa,, kehilangan identias individualitas lepas mereka. Jika Buddhisme Borobudur mencerminkan filosofi sekte Vajradara dan Siva pada candi Prambanan mencerminkan sekte Pasupata, penguasa Tantra kedua dari kedua aliran ini haruslah pertama-tama berfusi di Jawa Tengah kira-kira selama abad kesembilan Setelah Masehi. Sivaisme Prambanan kadang-kadang dijelaskan sebagai termasuk kedalan Sivaisme Siddhanta, yang dapat dilacak setidaknya ke pertengahan abad kesembilan Setelah Masehi, tetapi ini diragukan jika ia telah cukup kuat untuk meletakkan matriks teologis dari kompleks candi Prambanan.

Jika kesusastraan Tantra Siva Jawa yang ada sekarang sebagai panduan, kancah khusus aktivitas paham Siddhanta adalah Jawa Timur, barangkali dari abad dua belas, ketika ia menjadi menonjol di India Selatan. Dalam pada itu, Perkembangan Pasupata dan Siva Siddhanta dari sebuah perspektif doktrin dan sejarah dan cerita tentang interrelasi mereka harus dilacak di India sebelum masalah-masalah Tantrisme Siva di Jawa akhirnya dapat dituntaskan. Hal ini nampaknya menjadi penting terlepas dari karya-karya menonjol dari beberapa sarjana. (BERSAMBUNG)

Oleh: Himansu Bhusan Sarkar
Source: Warta Hindu Dharma NO. 529 Januari 2011