Etno Nasionalisme

Ketika berada di luar Bali, entah di mana saja, bahkan di luar negeri sekalipun, kadang kita ingin mencari “orang yang sama” dengan diri, semisal suku, agama, atau daerah asal. Jika mencari orang Bali sampai bertanya lelintihannya juga. Ada perasaan yang liyan jika itu terjadi. Akhirnya kita merayakannya karena merasa "disatukan” lagi meski di tempat dan waktu yang berbeda. Namun, suasana berkebalikan jika kita berada di tengah-tengah “orang yang sama” itu, sering bergesekan justru karena homogenitas itu. Dalam ilmu komunikasi, juga dalam sosiologi, fakta ini dianggap lumrah karena, misalnya semakin intens kita berinteraksi, semakin besar pula potensi konflik yang akan terjadi. Fakta ini juga berlaku di mana-mana, di seluruh kebudayaan, bukan hanya di Bali. Yang membedakannya hanya dinamika dan struktur internalnya. Selebihnya, idem.

Dalam kondisi tertentu, identitas bisa bersifat tetap dan statis, tetapi juga terus aktif berubah. Seorang Batak identitasnya tak langsung berubah, apalagi hilang, tetapi saat ia lahir dan besar di Sunda, ia bisa berubah di tengah identitas kebatakannya. Ia berbicara selayaknya orang Sunda, bahkan karena perempuan, ia disebut geulis. Perempuan Batak yang geulis. Hal yang sama bisa menimpa orang Bali di Sunda, bukan?

Identitas kebatakan, kebalian, kejawaan, dan lain sebagainya kerap bisa berubah, sekurangnya mengalami perubahan, terlebih jika ditempelkan dengan emosi primordial. Gejala ini adalah kepurbaan yang tak pernah lekang, bahkan merasuki agama dan bisa meruyak kebersamaan. Misalnya, si A beragama Hindu, dan si B beragama Islam. Keduanya begitu akur, bukan saja seperti bersahabat tetapi juga bersaudara.

Sekat agama nyaris tak pernah membuat hubungan keduanya renggang. Bahkan mereka sering saling ledek-ledekan dan menertawakan isu sensitif di ranah agama.

Lalu, ketika ada perkelahian di sebuah daerah yang melibatkan agama Hindu dan Islam, tiba-tiba, si A dan si B melakukan pembelaan. Hubungan keduanya memang tidak bermasalah, tetapi pandangannya tentang isu itu mulai berubah. Dalam membela agamanya masing-masing, mereka sejenak melupakan nilai-nilai persahabatan dan persaudaraan yang dibangun sangat lama. Nyaris hilang dalam sekejap. Meski tidak saling benci secara personal, si A kemudian membenci agama yang dianut si B, pun sebaliknya. Fakta itu yang sering terjadi di sekitar kita, dan mengaburkan batasan mana yang eksoteris, dan mana yang esoteris.

Contoh di atas hanya untuk menyederhanakan konsepsi kompleks bahwa identitas bisa mengalami perubahan, tetapi juga sangat mungkin ajeg. Analogi ini perlu karena isu-isu tersebut, dalam hal ini identitas, juga kadang mengalami delusi, sebagaimana Benedict Anderson (1991 [1983]) menyebut negara atau bangsa itu sebagai sesuatu yang bersifat imajinatif. Apa yang dimaksud negara, yang mana disebut bangsa? Kadang abstrak dan semu. Saat terdengar perusakan bendera Merah Putih, kita tiba-tiba marah. Ketika Burung Garuda diinjak-injak, kita juga emosional. Apakah negara dan bangsa itu bendera Merah Putih atau Burung Garuda? Tentu tidak, karena keduanya hanya simbol, sekadar lambang. Karena itu, identitas juga membutuhkan tanda, simbol, dan lambang.

Identitas tentang Bali juga sama ketika kita bicara keindonesiaan. Itu sebabnya perlu bahasa, suku, pakaian, nama, makanan, dan lain sebagainya untuk mengkonkretisasi identitas tentang Indonesia, tentang Bali. Lebih khusus lagi, etnis tentang Bali dibangun di atas ragam identitas di atas. Masalahnya kemudian etnis ini digunakan untuk apa?

Akhir-akhir ini, orang Bali melalui pemangku kebijakannya sedang diajak bergairah untuk mengembalikan identitasnya ke level paling bawah, yaitu menunjukkan kecintaan dan kesetiaan kepada bangsa melalui pelestarian bahasa, busana, bahkan secara politik lokal melalui wacana KB dengan 4 anak atau lebih. Tesis bahwa jika etno nasionalisme seperti ini ditempeli isu primordial mendekati benar. Bahkan hasil survei kecil me- nyoal KB ala Bali ini disetujui secara mayoritas.

Menumbuhkan nasionalisme melalui etnis tentu menarik karena keindonesiaan kita juga dibangun oleh ragam identitas. Kebudayaan nasional ada karena terdapat kebudayaan daerah yang terhampar dari Sabang sampai Merauke. Dari kesatuan etnis dan identitas itulah, keindonesiaan kita menjadi kukuh. Masalahnya, eforia nasionalisme etnis melalui wacana KB lebih bersifat emosi, misalnya dengan embel-embel agar nama depan Nyoman dan Ketut tidak punah karena selama ini KB membatasi cukup dua anak. Malah kini banyak orang Bali yang hanya memiliki anak tunggal. Atau tempelan emosi keagamaan yang sangat berbahaya dengan mengatakan KB untuk umat Hindu di Bali dengan empat anak atau lebih agar umat Hindu tidak berkurang, populasinya makin bertambah dan jumlahnya tidak kalah dengan umat beragama lainnya. Padahal beragama tidak seperti berpartai!

Etno nasionalisme Bali boleh saja sepanjang untuk mempertahankan dan memperkokoh identitas kebalian agar etnis ini terns bisa bersaing dengan etnis lain. Tujuan lainnya selalu bisa mengakomodir perubahan, merespon tantangan dan mengadaptasi segala kemungkinan. Jika hanya membangun narasi yang dampaknya sesaat, seperti para politikus memanfaatkannya untuk elektoral tiap pemilu, sama saja kita sedang beronani, sibuk sendirian.

Praktik etno nasionalisme tidak pemah ideal. Tetapi bangunan modern yang masih berornamen Bali yang berada di keramaian Kuta, atau mendapati canang sari dengan kepulan asap dupa di depan cafe yang penuh bau alkohol adalah pemandangan paripuma karena Bali telah lama terlatih untuk mengekspresikan dualitas rwa bhineda tanpa menihilkan satu sama lain. Mensterilkan Bali dari anasir agama, suku atau etnis yang berbeda hanya karena ingin mendominasi tanpa mau belajar dan meningkatkan kualitas diri, jelas bukan bentuk nasionalisme yang tepat. Bali memiliki mekanisme yang lentur tapi saat bersamaan pilarnya tetap kuat. Etno nasionalisme Bali adalah untuk menguatkan pilar-pilar budaya, agama, dan kehidupan.

Oleh: I Nyoman Yoga Segara l Antropolog IHDN Denpasar
Source: Majalah Waram Edisi 47/Januari 2019