Etika dalam Dinamika Kehidupan Masyarakat Bali

Telah diketahui bersama bahwa sebagai akibat dari odernisasi masalah pendalaman agama Hindu merupakan salah sa tuntunan yang sedang tumbuh meningkat. Hal ini wajar karena tidak saja, terdapat di dalam lingkungan masyarakat yang beragama Hindu, tetapi juga pada masyarakat yang memeluk agama lainnya, bahkan dalam masyarakat Islam yangsekarang ini misalnya telah tampak meningkat baik dilihat dari kualitas maupun kuantitas. Untuk mendalami serta menganktualisasikan agamanya didalam di dalam kehidupannya, fenomena ini sungguh berlawanan dengan asumsi orang terutama di Barat bahwa dengan adanya modernisasi akan berdmpak adanva sirkulasi yang menjauhkan masyarakat dari agama.

Dari uraian di atas, jelah bahwa walaupun secara ekplisit pada judul makalah ini tidak tertera agama Hindu, namun karena membicarakan etika dalam konteks masyarakat Bali, dengan sendirinya secar emplisit agama Hindu tidak dapat dilepaskan dari membi­carakan etika. Karena sebagai suatu norma yang mengatur masyarakat mana yang baik dan mana yang patut dihindari adalah bersumber dan berdasarkan pada agama Hindu, terlebih lagi dalam kaitan makalah ini etika dibicarakan berhungan dengan dinamika yang terutama digerakkan oleh pembangunan.

Tuntutan pembangunan vang tengah dan akan dilaksanakan itu tidak dapat dihindari oleh peranan agama Hindu dalam membicarakan motivasi kepada penganutnya untuk ber­dinamika untuk itu, sebagai penganut swatu agama kita dituntut untuk terlihat didalamnya. Keterlibatan ini adalah sebagai suatu tantangan yang tidak ringan karena pembangunan itu suatu modernisasi menuntut pikiran, rasional, analitis, serta kontekstual sehingga daat memberikan pemahaman. Karena masyarakat kita baru berkemang dari tradisional ke pasca tradisional yang di pedomani oleh penghayatan yang ritual, tentu memberikan beban kepada penganutnya dalam memenuhi tuntutan yang bersifat rasional.

Dalam sejarah perkembangan reformas sjarah agama Hindu, sejak permulaan abad ke-20 ini yang berlanjut hingga kini memang telah ada upaya untuk bergerak kepada rasional itu, namun boleh dikatakan berjalan agak lamban.Kelambanan inilah yang akan menyebabkan tidak ada suatu hasil yang memadai, namun tidak dapat diingkari telah ada terbit buku-buku khususnya mengenai etika ang mencoba memberikan cakrawala pemikiran yang lebih luas.

PEMBOBOTAN

Pembangunan dan globalisasi telah menempatkan kita pada ruang yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Hal ini dipercepat oleh kesediaan kita menerima iptek yang bersekala tingi, yang mengakibatkan intensitas interaksi itu selalu meningkat, masyarakat Bali pada dasarnya ekstrovert yang diharapkan oleh fenomena tersebut, cukup reponsif apabila tidak dapat dikataka tgerlalu cepat sehingga apa yang dicanangkan atau diinginkan pemerintah biasanya cepat menunjukkan hasilnya. Walau­pun di Bali terdapat variasi antar daerah Taburana, dengan daerah lainnya, namun apabila di ambil rata-rata masih pada tngkat tinggi.

Menghadapi permasalahan ini mengingat pem­bangunan serta globalisasi masa mendatang jauh lebih kompleks tentu akan mengaitkan pula dengan etika masyarakat Bali yang menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat. Etika sebagai swatu penjabaran yang lebih konkret dari nilai budaya, dan nilai budaya ini merupakan bersumber pada agama Hindu, dengan sendrinya akan mengaitkan pula masalah agama. Oleh karena itu, secara logis masalah dinamika ini akan terkait pula dengan agama, dan agama tidak dapat menghindari keterkait ini karena paradigma pembangunan yang dianut di Indonesia adalah bertujuan meng­antarkan masyarakat kepada kehidupan bahagia lahir dan batin.

Tuntutan pembangunan yang sifatnya rasional dan relistis ini dihadapkan dengan penghayatan agama yang ritualistik dan komunalistik, tentlah menmbulkan masalah, terutama kepada penganutnya untuk memberikan jabaran yang analiti sehingga dinamika yang dimiliki masyarakat Bali dapat berkembang dan terkendali. Untuk dapat menyerasikan tuntutan modernisasi supaya dia berkembang dan terkendali dalam fokus inilah masalah yang dihadapi oleh agama terutama etika, sejauh manakah dapat memberikan daya serta bobot untuk mengembangkan, mengen­dalikan dan sekaligus pula menangkal hal-hal yang tidak diinginkan proses modernisasi tersebut. Maka dari itu, 8 dalam makalah akan dicoba meru­muskan masalah (1) Seberapa besar bobot etika yang memberikan arah terhadap dinamika dalam proses modernisasi dan globalisasi itu; (2) Melalui jalan mana permohonan itu terbentuk sehingga efektif berpungsi dalam masyarakat?

NILAI CATUR WARGA DAN CATUR ASRAMA

Membicarakan etika yang mewahanai dinamika masyarakat maka terlebih dahulu akan diajukan konsep etika yang dimaksud. Dalam hal ini paling sedikit ada dua pengendalian dalam masyarakat yang satu dengar yang lainnya memang secara konsep­sional asih berhubungan yaitu yang di Bali disebut darma yang mengacu pada konsep etika yang umum, dan sesana, darma kriya, yang menyangkut katagori yang khusus, seperti etika untuk seorang dalang, golongan balian usada, golongan pendeta, hubungan guru mu­rid, hubungan orang tua-anak dan sebagainya.

Walaupun ada perbedaan antara jenis etika tersebut, namun sumber khusus itu biasanya bermuara pula pada etika yang pertama. Konsep dharma pertama itu sama dengan dharma dalam arti yang lebih mendasar yang identik dengan agama yang dijarkan oleh konsep dharma dalam agama ini telah terjadi petunjuk pula untuk menjadi pedoman berperilaku man perbuatan dharma dan adharma (Dyanand Saraswati). Dalam kaitan ini ada pula istilah agama yang disebut sanatana Sanatana dharma yaitu "agama yang abadi". Konsep dharma ini lalu menjadi sumber dari sistem nilai dan dari nilai ini mengalir pula ke dalam bentuk yang konkret dalam hal ini disebut etika.

Dilihat dari uraian atas, maka konsep dharma itu memang dapat meliputi arti yang luas dan sempit. Maka, untuk mempermudah dalam karangan ini sebagai titik awal dari pembicaraan etika yang dimaksud adalah dharma konsep dasar sebagaimana yang termaktub dalam tri warga/catur warga. Dalam agama Hindu , konsep telah memberi kaitan kepada fungsinya di dalam masyarakat yaitu yang berkaitan dengan catur asrama, catur warna. Melihat keterkaitan ini dengan sendirinya termasuk implisit mengenai topik masah ini. Membicarkan Bali maupun masyarakat Hindu lainnya, karena hal ini termasuk masalah yang mendasar dalam agama, namun yang membe­dakan adalah terlaetak pada interpretasi menurut konteks sejarah.

Apakah kita menyimak keterkaitan dalam keterkembangan sejarah masyarakat, Hindu akan kita dapati perbedaan antara Gandhi, Tilak, Aurohindo, Radhakrisnan sesuai dengan pandangan serta latar belakang pemikir yang ber­sangkutan. Demikian pula pandangan penulis ini di samping ada persa-maan dengan pendapat yang lainnya, namun penulis akan mendasarkan pemikiran­nya pada apa yang pernah dike-mukakan oleh Mahatman Gandhi.

Berdasarkan pemikiran ini, pemakalah mencoba merekontusikan kerangka pikiran yang memebicarakan etika dalam dinamika yang bertitik tolak dari pemahaman tari warga dan catur warga sebagai berikut. Diagram diatas telah kita ketahui secara bersama, maksudbya bahwa manusia itu hidup di dalam memenuhi keberadaanya dia harus mendasarkan dirinya pada tingkatan hidup yang sifatnya masih keterkaitan dengan keduniaan ialah dalam lingkup tri warga yang berdasarkan pengejaran, pemuhunan kehidupan, hidup bersama dalam masyarakat serta memenuhi kehidupan itu (karma), serta menunjang kehidupan sosial itu dengan melalui dasar material (artha).

Manusia itu harus selalu mendasarkan dirinya pada dharma ini. Kehidupan terus berlanjut tidak berhenti kepada tingkat tri warga semata, melainkan melanjut dan menningkat ke arah wanaprastha dan bhiksuka yang selanjutnya mencapai kebebsan dari keterikatan keidupan yang mnyeluruh (moksa), kelanjutan hidup seperti ini berdasar pada catrur warga. Sebenarnya tri waga dan catur warga itu merupakan satu konsep saja, namun untuk pemilihannya sehingga tampak dengan jelas perbedaan yang memberikan makna terhadap manusia itu dijadikan dua istilah, namun manusia dalam lajur keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan.

Pemilihan ini pentingng karena akan memberi petunjuk pada manusia akan rincian dan kesatuan yang tidak terpisahkan. Berdasakan ini manusia diharapkan dapat merealisasikan sesuai dengan kemampuan dirinya. Hal ini terutama didalam penghayatan kita terhadap konsep tri warna dan bagaiman keterkaitan hubungan antara dharma, artha, dan kama telah menjadi dasar pembicaraan dalam sastra Jawa Kuno seperti Mahabrata dan Ramayana selalu diberikan petunjuk bahwa walaupun ada rincian tetapi ketiga unsur itu merupakan hal yang utuh.

Keutuhan ini tidak saja mengenai keterkaitan antara tiga hal itu, namun juga fungsinya yang bukan hanya untuk diri sendiri, namun juga untuk orang lain. Sangat tepat tulisan P.J. Zoetmuleder yang mengutip Ramayana sebagai berikut:

"Dewakusala mivang dharmaya pahayun
mas ya ta paharwaddhin hyaya ring hayu kekesan
bhukti sakaharepta dwehing hala kasukan
dharma kalawan artha mivang kamata ngaran ika"

"Gedung-geung dewa, hiara-hiara dan yayasan-yayasan untuk pekerjaan baik peliharakan juga olehmu, Kumpulan emas yang banyak dan simpan itu dengan seksama untuk dia bagikan kepada pekerjaan baik, Nikmati kesenangan dengan memberi kesempatan untuk bersenang-senang kepada rakyatmu, Itu dia yang disebut orang: dharma artha dan kama.

Dalam kaitan dengan catur warga pembicaraan di dalam sastra Jawa kuno dan pemahamannya dalam masyarakat Bali hal itu agak kurang, namun demikian sebagai satu kesatuan yang besar kita dapati di dalam Sara-samuscaya. Di dalam kehidupan bermasyarakat Bali boleh dikatakan tidak pernah terhayati sehingga masalah wanaprahasta, dan biksuku jarangn menjadi perbincangan yang mendalam dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam hal ini penulis lontarkan diharapkan pada masa mendatang dapat dijadikan ajang pembicaraan dan penghayatan sebagai-mana tuntunan tri warga, dan tuntunan catur warga. Dalam konteks inilah sebenarnya sangat relevan kita bicarakan Gandhi diketengahkan sehingga kita dapat menjawab tema yang kita angkat sekarang ini yaitu etika dalam dinamika yang terkait dengan modernisasi dan globalisasi itu.

Dengan sistem atau kerangka pikir sebagaimana tertera di atas itulah kita seharusnya dapat memberi isi serta interpretasi yang dapat menjadi pegangan masyarakat. Gandhi, Radkrishna, dan Tilak, walaupun memberikan interpretasi yang satu sama yang lainnya berbeda, namun secara komplementer dapat menjawab dinamika masyarakat. Dengan berda­sarkan pegangan Bhagawadgita mereka mampu memberikan terhadap catur warga itu melalui konsep catur asrama dan catur warna. Gandhi telah dapat mengembangkan etika anasakti terhadap suatu konsep kerja dengan tidak terikat kepada hasilnya, namun masih aktif sebagai seorang yogi di dunia.

Menurut pendapatnya melalui konsep kerja itulah justru manusia itu disucikan. Berdasarkan penafsiran ini manusia walaupun masih hidup di dunia ramai masih tetap bekerja untuk dunia tetapi tidak terikat olehnya. Dalam hal ini memungkinkan manusia untuk bekerja tanpa pamrih demi keselamatan manusia (Lokasanggraha). Hal ini terutama apabiala kita berada pada tingkat wanaprastha dan bhiksuka, tetapi apabila kita masih dalam tingkatan brahmacari, dan grehasta, kita masih terikat pada tri warga yaitu tingkatan yang masih membicarakan dalam mencapai artha dan kama, tetapi dalam memenuhi tuntutan itu tidaklah melepaskan diri dari dharma.

Melihat kerangka pikir tersebut di atas, maka posisi dharma menjadi sangat sentral. Dharma baik dalam kaitan tri warga catur warga, menjadi pengarah untuk mencapai tujuan hidup ini tetapi dalam hal ini sekaligus pula dapat memeberiakan ruang yang luas untuk memenuhi hidup scara kon­tekstual sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan demikian, konsep di atas menawarkan sistem yang terbuka, namun masih terikat dengan dharma. Maka dari itu, apabila kita mempelajari para pemikir apakah Aurobino, Gandhi, Tilak, dan Radhakrisnan akan mem­punyai interpretasi yang berbeda, namun masih dapat kita pahami karena keterkaitan mereka pada konsep dasar seperti tersebut.

Apabila kita sekarang memberi isi terhadap konsep di atas, sebagai suatu kesatuan walaupun ada perbedaan, namun masih berkomplementer, dapatkah kita menjawab kritik Max Where dengan menunjukkan kelemaha-kelemahan dalam cara berperilaku yang mengatakan bahwa agama Hindu tidak mengembangkan etika duniawi yang memanfaatkan dunia untuk kesejahtraan manusia.

Dari sejarah agama Hindu telah diajaarkan kepada kita bahwa kita harus mampu menangani keadaan yang selalu berdinamika melalui titik pandang dharama. Dalam kaitan ini di Indonesia dan Bali khususnya untuk menjaga keseimbangan dalam perubahan itu kita dibebankan oleh tradisi dan sejarah untuk bertanggung jawab untuk enentukan jalannya sejarah dan sejarah manusi. Dalam kaitanlah kita harus terus dapat mawas diri dan bercermin kepada jalannya sejarah, ialah jalannya sejarah masyarakat kita antara lain telah kita rencanakan dalam lembaran pelita yang tengah dan akan kita laksanakan. Maka, untuk mengisi bagaimana ujud sosok manusi yang kita inginkan, tentulsh bagaimana konsep agama Hindu terhadap manusia? Sekelumit hal itu akan dibicarakan bawah ini.

Konsep Manusia : Mengada dan Menjadi

Konsep manusia dalam agama Hindu bukanlah sebagai benda mati. Kehadirannya di dunia yang ditentukan oleh kehidupannya yang terdahulu. Selanjutnya dia berikan kesempatan untuk mengubah dirinya sesuai dengan kemampuannya. Maka dari itu, dalam Sarasamuscaya posisi manusia sebagai mahluk yang agung yang mempunyai nalar yang dapat membedakan baik dan buruk telah memberikan peluang untuk manusia itu mengarahkan kehidupan nya berdasarkan pegangan tersebut. Dalam kaitan ruang dan waktu, mereka dapat berkiprah untuk mengada dan menjadi.

Dalam interaksi manusia dengan lingkungannya itu yang terkait dalam ruang dan waktu, dia dapat mengembangkan dirinya dan ber­adaptasi dengan lingkunganya untuk mengubah dirinya sendiri dan lingkungannya itu ke arah yang lebih baik, yang akhirnya baik dari segi catur warga mereka dapat bebas dan merdeka (nirasraya). Jadi, keberadaanya itu di dunia adalah sebenarnya perjuangan untuk pembebasan. Untuk memenuhi tuntutan ini barang tentu manusia itu dapat memacu dirinya sendiri untuk memaknai kehidupan itu baik dalam individual maupun dalam pengertian sebagai anggota masyarakat yang bertanggung jawab pula untuk keselamatan, kesejahtraan manusia (Lokasanggraha).

Dengan melalui konsep tri warga dan catur warga itu sebagai suatu sistem yang terbuka tetapi sistem tersebut. Maka dari itu, kita memahami betapa konsep manusia sebagaimana yang tersebut dalam Sarasamuscaya itu dapat dipahami yang menuntut kita untuk dapat menghayati serta mengaktualisasi ajaran itu dalam kehidupan. Proses mengada dan menjadi mendapat peluang dalam ruang adalah suatu tantangan untuk menjadi manusia sebagai individu memang terkait kepada keluarga, klen, golongan, tetapi sekaligus juga dia menjadi masyarakat dunia, bahkan bagian dari semua mahluk (Bhataro manvas sarve).

Ketahanan Agama

Konsep pembangunan yang bertujuan untuk mencapai kesejahteraan yang seimbang antara lahir dan bathin, kita bangun dalam ruang dan waktu yang terus bergerak. Dengan melelui pentahapan, kita manusia Indonesia yang berbineka telah sampai pada masyarakat transisi. Dalam masyarakat transisi ini kita dapat mengharapkan telah ada bentuk-bentuk yang jelas mengenai pembangunan tersebut. Sesungguhnyalah Pelita V sekarang ini diharapkan kepada pencapaian tersebut. Sejak pembangunan itu dilakukan, kita telah mengubah, mengadaptasi serta membentuk hal-hal yagn baru sehingga kesinambungan sebagai suatu proses dapat berjalan tanpa mengalami tanpa mengalami gejolak-gejolak yang teramat besar.

Dalam proses itu telah terjadi kristalisasi-kristalisasi, pemikiran-pemikiran, konsep-konsep, dan juga nilai, kristalisasi itu sebagai suatu proses akan diharapkan membentuk konfigurasi nilai yang seimbang yang nantinya pada gilirannya kemudian dapat dipahami dan sebagai acuan dalam berbagai kegiatan pembangunan. Dengan berdasarkan acuan tersebut pada akhirnya kita mengimplementasikan kegiatan sehingga melahirkan masya­rakat yang sejahtera lahir dan batin.

Apa yang diuraikan di atas, akan berlaku pula dalam masyarakat Bali. Masyarakat Bali dalam pembangunan itu telah dapat berdinamika menyukses­kan pembangunang tersebut baik secara sosial maupun ekonomi. Telah terjadi perubahan dalam masyarakat yang ritualistik dan komunal menhjadi transisi yang pada gilirannya kemudian baik karena pembangunan dan perkembangan yang berdasarkan pada lptek maupun globalisasi menjadi masyarakat Bali modern. Dengan demikian masyarakat transisi ini akan terus berubah . Sat komunal, ritualistik menuju masyarakat rasional dan analitik.

Agar pengembangan tidak menyimpang daru tujuan pemba­ngunan, maka agama Hindu dalam hal ini harus dapat menggali diri mengemabangkan konsep dharma sesuai dengan tantangan zaman. Dharma sebagai suatu faktor yang dapat yang dapat mengembangkan dan mengendalikan dalam masyarakat modem seperti itu tentu menghendaki bobot dharma yang mampu dapat menganalisis serta menilai, selanjutnya mengantisipasi perkembangan tersebut. Maka dari itu, pembobotan dharma dalam konteks rasional itu adalah hal yang mutlak, karena perkembangan ke arah dinamika pembangunan yang telah jelas terurai di atas, nyatalah kita melihat tantangan yang besar telah terpampang di depan kita.

Maka dari itu, pen­dalaman bidang agama sangat penting artinya. Pendalaman itu berupa penelitian berupa penelitian, mempelajari, menghayati melalui berbagi sumber-sumber agama baik yang ada di Indonesia maupun yang ada di India. Dari hasil tersebut kita dapat menyistemkan dan selanjutnya dijadikan pelajaran, kuliah dan sebagainya oleh umat. Diharapkan berdasarkan penghayatan ini ada pengayaan pengetahuan yang dapat membentuk pribadinya menjadi orang yang tangguh, tanggap, sigap, siap dan menhadap iberbagai berbagai keadaan.

Oleh: I Gusti Ngurah Bagus
Source: Warta Hindu Dharma NO. 522 Juni 2010