Epistemologi Jawa: Sebuah Rekonstruksi Makna

Jawa adalah salah satu pulau yangpernah menjadi pusat kebudayaan dunia di masa silam. Sebagai sebuah pusat kebudayaan, Jawa memberikan banyak kesempatan dalam berbagai kegiatan olah pikir dan asah budi. Tidak sedikit pemikir-pemikir Jawa bermunculan waktu itu. Berbagai konsep dan hasil perenungan Jawa sudah banyak ditelorkan. Produk pemikiran ini juga tersebar ke mana-mana.

Bahkan ketika Indonesia dijajah oleh Belanda selama kurang lebih 350 tahun, tak terhitung jumlah produk made in Java tersebut juga yang "diekspor" ke Eropa, benua tempat penjajah Indonesia berada. Oleh karenanya tak mengherankan ketika seorang Jawa yang ingin tahu lebih banyak tentang Jawa, maka pilihan terakhir bagi mereka adalah pergi ke Leiden tempat museum kebudayaan Jawa sekarang.

Sebagai bangsa yang menghargai leluhur, tentunya melestarikan warisan leluhur adalah kewajiban bagi kita semua. Akan tetapi, hal yang paling penting sesungguhnya adalah tidak sekadar mengembalikan warisan nenek moyang tersebut. Lebih utama lagi adalah membuat pemikiran kreatif dari leluhur kita itu menjadi hidup kembali atau yang dalam hal ini kita sebut sebagai rekonstruksi.

Untuk merekonstruksi pemikiran kreatif dari para leluhur kita dahulu tidaklah gampang. Salah satu upaya yang harus ditempuh adalah melalui permenungan sebagaimana yang pernah dilakukan oleh nenek moyang kita dahulu. Permenungan ini kendati tak sama persis dengan filsafat ala pemikiran Barat. Namun sudah cukup mewadahi untuk sebuah pemikiran atau filsafat Jawa.

Dalam konsep pemikiran Barat seseorang selalu ingin mencari kebijaksanaan, sebagaimana asal kata filsafat yaitu phillo dan sophia yang berarti cinta kebijaksanaan. Sedangkan dalam pemikiran Jawa, seseorang dianjurkan untuk ngudi kasampurnan atau mencari kesempurnaan. Baik phillo sophia maupun ngudi kasampurnan, masing-masing mempunyai kelebihan dan kelemahannya sendiri-sendiri. Hak itulah yang membuat Ciptoprawiro (2000) menegaskannya dalam "Filsafat Jawa" bahwa untuk mendapatkan pengetahuan utama di dunia, pemikiran Barat saja tidak cukup. Harus dilengkapi dengan pemikiran Timur.

Selanjutnya, untuk mencapai sebuah pengetahuan tentang kebijaksa-naan atau kesempurnaan itu, maka salah satu piranti lunak meminjam istilah sofware, dalam perkompoteran yang harus digunakan adalah epitesmologi. Piranti ini menjadi amat penting apabila kita ingin merekonstruksi pemikiran-pemikiran moyang kita dahulu.

Secara etimologis, "epistemologi" berasal dari kata Yunani "episteme" yang berarti "pengetahuan" dan"logos" yang dapat diartikan sebagai "teori". Epistemologi berarti teori tentang ilmu pengetahuan. Runes (1963) dalam "Dichonary 0f Philosophy" mendefinisikan epistemologi sebagai, "the branch of philosophy which investigates the origin, struc-ture, methods andvalidity of knowledge" Dengan epistemologi ini, seseorang dapat mempelajari proses memperoleh pengetahuan.

Jika dalam filsafat Barat, cara yang dikembangkan untuk memperoleh pengetahuan dapat dilakukan melalui penalaran, akal, rasio, abstraksi ataupun intuisi, maka filsafat Jawa pun menggunakan cara-cara serupa untuk memperoleh pengetahuan. Hanya saja bedanya dalam filsafat Jawa sebagaimana dikemukakan Ciptoprawiro (2000), proses tersebut berupa tahap-tahap penggunaan cipta, rasa dan karsa melalui tingkat-tingkat kesadaran yang terbagi atas : kesadaran inderawi atau Aku, kesadaran hening (manunggal dalam cipta-rasa-karsa), kesadaran pribadi (Ingsun, Suksma Sejati) dan kesadaran Ilahi (manunggalnya Aku Suksma Sejati - Suksma Kawekas).

Tahap penggunaan cipta-rasa-karsa dalam proses epistemologi pada filsafat Jawa ini terlihat sekali dalam tradisi othak athik mathuk (OAM) Jawa. Suwardi Endraswara (2003) dalam bukunya "Falsafah Hidup Jawa" menyebutkan OAM bisa jadi berakar dari pengertian luas kereta basa atau biasa disebut sebagai kreta basa saja.

Kreta basa ini adalah cara masyarakat Jawa dalam mencari dan mene-mukan makna kata. Ada yang mengar-tikan "kreta basa", berasal dari kata "kerata basa" yang artinya "negesi tembung manut pepiridaning wandane" (memberi makna kata berdasarkan atas bunyi suku katanya).

Model tersebut sering dinamakan sebagai jarwa tihosok atau memaknakan kata dengan mendesak-desakkan kata. Kadang-kadang Jarwa dohosk diucapkan dengan kata "jaran-dhosdk", yang berasal dan kata "jarwa" (penjelasan) serta "andhosok", dimana kata terakhir ini masih bisa diuraikan lagi menjadi kata andha  (tangga) dan "usuk" (tiang untuk penyangga rumah). Dalam konteks berbahasa pun ada aturan atau tingkat tutur yang disebut sebagai andha-usuking basa. Dengan demikian dalam mencari makna suatu kata aturan-aturan tata kata atau pertuturan bahasa yang meskipun tak baku harus diikuti oleh seseorang yang ingin menjarwadhosokkan suatu kata.

Dalam pada itu, dengan jarwa dhosok ini, maka sesungguhnya seseorang akan dapat membangun fondasi pengetahuan melalui makna suatu kata sebagaimana kita menggunakan andha dan usuk untuk membangun rumah yang kokoh. Hal ini tidaklah berlebihan mengingat dalam jarwa dhosok, pada hakikatnya bukan sekedar "mempermainkan" kata utamanya "bunyi", tetapi lebih banyak bermain otak sehingga apa yang menjadi produk dari jarwa dhosok atau model lain dari kreta basa ini tetap berdalih dan logis.

Jika dikaji lebih jauh, kreta basa mempunyai potensi etimologis dengan kata Sanskerta "kirafa" dan "Wiasa". Wojosawito (1977) mengartikan kata "kirata" sebagai "seorang pemburu" dan kata "bhasa", sebagai "kata" atau "bahasa". Jadi, "kirata bhasa" dapat diartikan sebagai pemburu (makna) bahasa atau kata.

Seorang pemburu pada jaman dahulu biasanya menggunakan sarana panah untuk berburu. Dalam memanah sasaran maka ia harus berkonsentrasi penuh terhadap buruan yang dibidiknya. Kata "memanah" sendiri jika ditinjau secara etimologis sudah berarti "berpikir" (ingat dalam Bahasa Sanskerta kata "manah" artinya pikiran). Jadi, seorang pemburu tidak hanya sekadar merentangkan busur tetapi ia harus menggunakan pikiran-nya untuk berkonsentrasi pada buruan-nya agar anak panahnya tepat mengenai sasaran Di samping itu, ia juga harus berpengalaman terhadap medan dan karakter buruannya.

Demikian juga dalam memburu kata atau kreta bhasa. Seseorang harus menggunakan pikiran dan pengalaman batinnya untuk mencari makna terdalam dari suatu kata. Oleh karenanya, OAM sebagai suatu teknik dalam epistemologi Jawa harus dapat menyelaraskan olah rasa-karsa dalam penggunaan daya cipta. Sehingga pengetahuan yang diperoleh tidak hanya melalui pendekatan nalar atau apriori dalam epistemologi Barat tetapi juga berorientasi pada pengalaman terutama pengalaman dalam tataran batin-atau a posteriori dalam istilah epistemologi Barat.

Hal tersebut amatlah penting artinya dalam epistemologi Jawa agar kekhawatiran Linus Suryadi AG akan keberadaan OAM yang dapat menjebak kita dalam "ngelmu pksedan" atau asal othak athik gathik ini tidak terjadi. Setidak-tidaknya kekhawatiran penulis "Pengakuan Pariyem"  ini  akan senantiasa mengingatkan kita atau mereka yang merasa dirinya sebagai satrawan, budayawan, seniman maupun filsuf Jawa agar tidak memplesedkan ajaran-ajaran falsafah dengan menyalahgunakan teknik epistemologi Jawa, OAM.

Teruntuk hal tersebut, epistemologi Jawa perlu didasarkan pada ngelmu titen yang merupakan refleksi dari pengalaman batin Jawa dan prinsip cocog atau prinsip bener juga pener (benar dan baik adanya). Sebagai sebuah pengalaman batin ngelmu titen ini kadang kala harus dibayar dengan laku atau ngelakoni yang dapat berupa semedi, bertapa, mencegah hawa nafsu dan tidur atau cegah dhahar lan guling dan masih banyak lagi laku-laku yang lainnya.

Hal tersebut selaras dengan apa yang diamanatkan oleh KGPAA Mangkunegara IV melalui karyanya Seraf Wedhatama 1II.1  berbentuk tembang Pucung yang berbunyi "Ngelmu iku kelakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekesing dur angkara". Artinya kurang lebih demikian "ilmu ini dijalan kan dengan perbuatan atau laku. Dimulai dengan kemauan. Kemauan yang akan menguatkan budi setia penghancur keangkaramurkaan".

Ungkapan   tersebut   senada dengan apa yang disabdakan oleh Sri Krsna dalam Bhagavad Gita IV. 38 yang bunyinya, "na hi jnanena sadrsam pawitram iha vidyate, tat svayam yoga samsiddhah kalenaymanivindati". Artinya : Tak ada yang menyamai kemurnian kebijaksanaan atau pengetahuan (jnana) di bumi ini. Mereka menjadi sempurna melalui yoga (semacam laku seperti telah disebutkan sebelumnya), dalam perjalanan waktu akan menemukan sang Diri dalam dirinya.

Laku sebagaimana yang disebutkan di depan, sering diaplikasikan dalam bentuk prilaku batin seperti tirakat atau thariqai, semedi, melek dan sebagainya yang kesemuanya itu merupakan metode intuitif dalam epistemologi Jawa. Kalau dibandingkan dengan Tri Pramana dalam epistemologi filsafat Hindu, laku itu sepadan dengan pratyaksa pramana (pengamatan langsung secara intuitif atau melalui proses pengalaman batin). Sehingga pengetahuan yang didapatkan nantinya adalah pengetahuan yang sempurna sebagaimana tujuan dalam pemikiran sebelumnya tentang ngudi kasampurnan.

Source: Joko Samudro l Warta Hindu Dharma NO. 463 Agustus 2005