Drupadi

Dewi Drupadi galau, sedih berlinang air mata. Harapan hidupnya pupus ketika dir-inya dipertaruhkan di meja perjudian. Keputusan suaminya, Yudistira, yang menjadikannya taruhan dalam perjudian dengan Duryadana, nyaris membuatnya putus asa. Tindakan suaminya tergolong luar biasa, aneh, dan sulit diterima akal sehat oleh seorang istri yang setia penuh cinta. Sialnya, Panca Pandawa kalah permainan dadu karena akal bulus Sakuni.

Kalahnya Pandawa, petaka bagi Drupadi. Karena Dusa-sana menyeret hendak mene-lanjangi Drupadi di depan umum. Kesetiaan dan cinta Drupadi pada suami membuatnya pasrah menerima hinaan Korawa. Dusasana menarik kainnya dengan kasar. Hiruk pikuk, sorak sorai prajurit Korawa yang tak sabar memelototi Drupadi telanjang bulat, membuat gaduh suasana. Drupadi geram dan melepas ikatan gelung rambut sehingga rambut panjangnya lepas mengurai, kemudian berteriak mengucapkan sumpah; "...Aku bersumpah menjadikan darah Dusasana sebagai pencuci rambutku, Aku tidak akan menggulung kembali rambutku sebelum mendapatkan
darahnya.....".

Dengan rambut terurai, Drupadi tampak sangat menyeramkan. Tapi Dusasana bertambah semangat menarik kain Drupadi dan, tak ambil pusing dengan sumpah seorang perempuan di arena perjudian. Beruntung para dewa cepat turun tangan membantu Drupadi, sehingga kain yang menutupi tubuhnya terus bertambah, sampai akhirnya Dusasana dan kawan-kawan kehabisan tenaga menarik kain. Drupadi tampak bercahaya di balik tumpukan kain yang menggunung, menjadi pertanda kemuliaan jiwa putri Raja Drupada ini yang, lahir dari do'a pujaan kepada Dewa Agni.

Sosialita hidup Drupadi, dalam Mahabharata dilukiskan sebagai sosok perempuan yang tabah melintasi ruang dan waktu. Ia menjadi bagian dari perseteruan dan perang saudara keturunan Bharata yang tak bisa lepas dari ceceran darah dan lika-liku cinta. Saat tumbuh sebagai seorang gadis, kecantikannya pun saat sayembara digambarkan meluluhlantakan hati setiap pangeran muda yang kasmaran terbakar api cinta. Namun, keistimewaan sebagai sosok perempuan menjadi agak susah dipahami secara akal sehat, ketika Drupadi rela dan ikhlas menjadi istri dari Panca Pandawa, lima orang pangeran bersaudara yang memenangkan sayembara. Dalam berumah tangga, ternyata Drupadi sangat piawai menenun benang cinta kasih, bisa hidup damai dan bahagia berbagi cinta bersama lima laki-laki bersaudara yang, tentu saja berbeda postur tubuh dan karakter. Kelebihan yang susah dipahami itulah justru, selalu menarik ditelisik atau dijadikan bumbu gunjingan saat ritual 'ngopi' siang hari.

Dalam konteks spiritualitas, Drupadi dan Panca Pandawa tentu tidak dipahami sebatas pertalian hubungan kisah kasih cinta pasangan suami istri biasa. Drupadi dapat dimaknai sebagai simbolik kekuatan atau sakti; energi cinta kasih yang menjaga keseimbangan gerak kehidupan mahluk semesta. Sedangkan Panca Pandawa sebagai simbolisasi dari lima unsur utama terbentuknya alam semesta beserta isinya yang disebut Panca Mahabhuta, yaitu teja (api), apah (air), bayu (angin), pertiwi (tanah), akasa (ether). Kelima unsur ini harus tetap terjaga keharmonisannya melalui kekuatan energi cinta kasih, yang dalam kearifan lokal Hindu di Bali diwujudkan dalam bentuk prosesi ritual Caru, Tawur Agung, atau ritual Rsi Gana. Prosesi ritual ini diyakini telah berlangsung sempurna, kalau dilengkapi dengan tabuh rah; tetesan darah yang melambangkan kesucian, keikhlasan berkorban, kesetiaan, dan cinta.

Dari permainan simbolik, maka kata "Drupadi" secara semiotik bisa dieja menjadi DANG - HRUNG - PANG - DANG - ING. Bija aksara Bali ini adalah sebuah alunan do'a yang mengingatkan umat manusia selalu hidup penuh semangat (DANG), ikhlas bekorban berlandaskan hati suci untuk kebaikan (HRUNG), semua yang dilakukan itu penuh kesadaran serta tanggung jawab (PANG), berani dan tak gentar membela kebenaran serta kesetiaan (DANG), yang akhirnya bermuara kepada hidup harmonis penuh kasih Hyang Widhi (ING).

Dalam perspektif kepribadian, Drupadi sesungguhnya adalah jati diri manusia yang, lahir ke dunia secara kodrati terus belajar menyucikan jiwa raganya yang memiliki lima unsur semesta, Panca Maha.bh.uta. Perilaku
Dusasana dan para Korawa adalah simbol energi negatif yang selalu berhembus mencemari Panca Mahabhuta tanpa batas ruang dan waktu. Maka, arena perjudian menjadi simbol ruang prosesi ritual Caru yang, diharapkan dapat mengantarkan manusia meraih jagadhita dan, kelak saat meninggal Atma-r\y&mencapai moksa.

Drupadi, jati diri manusia melintasi suka duka ruang dan waktu, diiringi pengharapan dengan japa bija mantra; DANG - HRUNG - PANG - DANG -ING.

Source: Ketut Sumadi I Edisi 2/Th. 1/ April 2015