Drupada dan Karma

Drupada Simbul Tokoh Persahabatan

Hakekat wayang sebagai simbul perwatakan manusia tampaknya agak sulit untuk dimengerti. Hal ini karena cerita wayang yang menggambarkan sikap hidup manusia yang beraneka ragam. Walaupun demikian, ke-anekaragaman itu sebenarnya telah diatur dengan jelas oleh dechotomi-dechotomi yang nyata. Sebutan tokoh pewayangan yang berbudi luhur misalnya, munculnya sebutan ini karena adanya tokoh berbudi angkara: tokoh pemberani karena adanya tokoh yang berwatak pengecut; tokoh yang jujur karena adanya tokoh yang berwatak penipu; dan sebagainya.

Demikian pula dengan tokoh Drupada yang sebelum menjadi raja bernama Arya Sucitra. Tokoh ini pada dasarnya mempunyai karakter dan perwatakan yang baik serta gemar menjalin persahabatan. Salah satu sahabatnya yang juga teman seperguruan Sucitra adalah Drona. Bahkan karena demikian akrabnya persahabatan di antara mereka, pada suatu kesempatan Sucitra pernah berkata "bahwa seandainya kelak dirinya menjadi raja, maka separoh kerajaannya akan diberikan kepada Drona. Persahabatan itu akhirnya terputus karena Sucitra mengabdi kepada Prabu Pandhudewanata di negara Astina guna menambah pengalaman hidupnya.

Selama mengabdi di negara Astina, Sucitra banyak belajar tentang seluk-beluk pemerintahan negara. Sikapnya yang patuh dan loyalitasnya yang tinggi terhadap negara yang membuat dirinya disayang oleh Prabu Pandhudewanata. Patuh berarti membiasakan diri untuk bersikap taat baik kepada perintah raja maupun aturan-aturan yang berkaitan dengan kenegaraan, sedangkan sikap loyalitasnya yang tinggi terhadap negara berarti selalu mengutamakan kepentingan-kepentingan negara daripada kepentingannya sendiri. Dengan demikian kedua sikap Sucitra ini mencerminkan nilai kepatriotan yang patut diteladani oleh setiap abdi negara yang menghendaki suatu pemerintahan yang bersih dan berwibawa.

Sementara itu dinobatkannya Arya Sucitra sebagai raja di negara Pancala, pada dasarnya juga berasal dari sikapnya yang patuh dan loyalitasnya yang tinggi terhadap negara, sehingga Prabu Pandhudewanata mengawinkannya dengan Dewi Gandawati. Ketika mertuanya (Prabu Gandabayu) meninggal dunia, Sucitra lalu diangkat menjadi raja di negara Pancala dengan gelar Prabu Drupada. Namun setelah menjadi raja di negara tersebut tampaknya Drupada telah mengalami suatu keadaan jiwa yang mendorong dirinya berbuat mumpung (selagi) sedang berkuasa. Hal terlihat dari sikap Drupada yang telah memperlakukan kurang wajar terhadap Drona, sahabat lamanya. Ketika Drona menemui Drupada di negara Pancala, sahabat lamanya itu berkata "bahwa persahabatan hanya bisa terjalin antara mereka yang sederajat. Seorang pengemis miskin yang kerjanya hanya mengembara tidak mungkin bisa menjalin persahabatan dengan seorang raja yang memangku kedaulatan suatu negara". Mendapat perlakuan yang tidak manusiawi dari sahabat lamanya, Drona merasa sakit hati dan dalamnya ingin menghukum tindakan Drupada yang dinilainya sangat angkuh itu. Keinginan Drona itu dapat terlaksana setelah ia memerintahkan murid-muridnya (para pandawa) untuk menyerang kerajaan Pancala dan menangkap rajanya (Drupada) secara hidup-hidup. Perintah tersebut akhirnya dapat dilaksanakan dengan baik oleh para pandawa. Drupada dapat dikalahkan dan ditangkap secara hidup-hidup, dan selanjutnya diserahkan kepada Drona. Pada waktu Drona berkata, "Paduka Tuanku Raja Yang Mulia, jangan cemas tentang keselamatan jiwamu. Bukankah pada masa kecil kita pernah menjalin persahabatan, tetapi dengan sesuka hati kamu telah melupakannya serta menghinaku. Kamu pernah mengatakan kepadaku bahwa persahabatan hanya bisa terjadi jika masing-masing mempunyai derajat yang sama. Sekarang aku telah menjadi raja karena dapat menaklukkan kerajaanmu. Akan tetapi, aku tetap masih ingin melanjutkan persahabatan yang pernah kita jalin bersama itu. Oleh karenanya sekarang saya berikan lagi separoh kerajaanmu yang telah menjadi milikku dengan jalan mengalahkanmu". Dengan demikian Drupada telah keweleh (tercela) dengan perbuatannya sendiri.

Dalam masyarakat Jawa, sikap yang mendorong Drupada untuk berbuat mumpung (selagi) sedang berkuasa itu disebut "ojo dumeh". Sikap seperti ini biasanya tampak pada seseorang yang sedang dilanda oleh mabuk kekuasaan, sehingga ia cenderung untuk menempatkan diri lebih tinggi derajatnya terhadap sesamanya. Oleh sebab itu dalam pergaulan bermasyarakat sikap (jangan sok) sedapat mungkin harus dijauhi, karena orang yang bersikap demikian dapat tersanggah oleh suatu perubahan keadaan. Mengingat orang yang mendapat perlakuan seperti itu tentu akan merasa sakit hati dan kecewa sehingga ia akan berusaha untuk membuktikan kepada pihak yang telah memperlakukan kurang wajar itu, bahwa orang yang menerima perlakuan tadi dapat pula menjadi manusia yang harus diperlakukan secara wajar.

Dengan demikian, betapa hati-hatinya filsafah hidup Jawa Bali hingga secara mental menyiapkan para penghayatnya terhadap kemungkinan kemungkinan yang dapat dihadapi. Untuk menjaga diri supaya tidak keweleh, (tercela), tersanggah oleh perubahan keadaan, manusia Jawa Bali pun melindungi diri terhadap akibat sikap "ojo dumeh" (jangan sok). Bertitik tolak dari sikap ini maka dalam kehidupannya manusia hendaknya selalu berusaha untuk menciptakan suasana, kerukunan, karena sikap "ojo dumeh" (jangan sok) pada prinsipnya dapat menjauhkan sanak dan kawan, dengan kata lain bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam sikap tersebut adalah kerukunan.

Sehubungan dengan itu, ketika sederetan tokoh-tokoh bijak seperti Kresna, Setiajit, Bismaka, Drupada dan Widura mengadakan musyawarah di negara Wirata tentang kembalinya negara Indraprasta dari tangan Duryudana kepada para Pandawa, mereka telah bersepakat untuk mengirimkan suatu perutusan yang mempunyai kesanggupan, tegas dan jujur untuk mendorong Duryudana agar mempunyai kesanggupan, tegas dan jujur untuk mendorong Duryudana agar mempunyai kemauan baik guna menyelesaikan secara damai. Dari hasil musyawarah tersebut dicapailah kata sepakat bahwa Drupada diberi kepercayaan untuk mengemban tugas sebagai dutanya pada Pandawa ke negara Astina. Hal ini berarti bahwa Drupada dianggap sebagai tokoh pewayangan yang mempunyai kesanggupan dalam berdiplomasi, bersikap tegas dan perwatakan yang jujur.

Nilai-nilai yang berkaitan dengan sikap yang tegas adalah nilai kedisiplinan, karena sikap ini dapat diartikan sebagai suatu sikap yang konsekuen. Suatu sikap yang bisa dianggap terpuji oleh karena orang yang konsekuen dalam pendirian adalah orang yang secara politis bisa dipercaya. Di samping itu, Drupada juga dikenal sebagai tokoh pewayangan yang jujur. Hal ini berarti ia tidak pernah mengingkari sumpah janjinya dan cenderung berlaku adil. Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam sikap ini adalah nilai kesetiaan.

Sementara itu apabila dilihat dari sikap Drupada terhadap sahabat lamanya (Drona), sikap itu tampaknya tidak mencerminkan tokoh pewayangan yang berwatak jujur. Oleh karena Drupada telah menyangkal persahabatan di antara mereka berdua. Akan tetapi, sebagaimana sikap hidup manusia yang beraneka ragam, hal ini menunjukkan bahwa setiap tokoh dalam dunia wayang juga mempunyai kecenderungan untuk berbuat khilaf, sebagaimana dengan kehidupan manusia. Sikap Drupada terhadap Drona, yang ketika itu sedang dilanda oleh mabuk kekuasaan telah melakukan kehilafan. Walaupun demikian, Drupada sebenarnya termasuk tokoh pewayangan yang jujur. Terbukti dirinya telah diberi mandat oleh sederajat tokoh-tokoh bijak untuk menjadi dutanya para Pandawa ke negara Astina.

Karna, Bukan Pengkhianat

Karna adalah anak pertama Kunti, walaupun ketika itu ia belum menikah dengan siapapun juga. Karna itu putra Dewa Surya. Kelahiran sedemikian itu di jaman dulu tidak merupakan perbuatan tercela, lebih-lebih terhadap seorang dewa. Kemudian Karna dibesarkan oleh seorang kusir kereta yang bernama Adirata. Disepanjang hidupnya ia menunjukkan sikap idealis yang tulen. Ia merupakan teman yang paling dipercaya oleh Kurawa yaitu sama-sama beraliran moralis sederhana dan memiliki perasaan yang mirip sekali dengan Bhisma, misalnya, apabila seseorang telah menolong dirinya, maka untuk selamanya ia akan taat kepada penolongnya itu. Bahkan Karna lebih berbhakti dan lebih tulus terhadap Duryodana dibandingkan dengan Bhisma. Kalau Bhisma sering menasehati Duryodana untuk mengambil jalan damai sedangkan Karna sama sekali tidak pernah. Karna terbenam dalam lumpur. Kalau ia tidak memegang satya, tentu ia akan mengajak Arjuna untuk gencatan senjata sementara waktu.

Dalam peristiwa lain tentang keteguhan Karna terhadap moral yang sederhana yaitu pada saat anting-anting milik Karna diminta oleh Dewa Indra. Padahal atas perintah Ayahnya (dalam bentuk mimpi) jangan sekali memberikan anting dan kawacanya kepada siapapun. Sebenarnya ia tahu bahwa dengan anting-anting itu merupakan suatu tumbal penangkal. Selama anting itu dipakai olehnya, tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkan. Kresna sangat mengetahui kalau Karna masih memiliki anting-anting itu, maka ia tidak terkalahkan dalam perang. Tetapi untuk mengakhiri perang Karna harus menemui ajalnya. Dalam hal pertentangan di antara moralitas spiritual dan moralitas sederhana, maka moralitas spiritual harus menang adalah sebagai berikut : bahwa moralitas spiritual itu merupakan kekuatan yang dinamis. Dia mempunyai daya yang sangat ampuh untuk menghantam musuh.

Karna memegang teguh moralitas sederhana, yang statis, sedangkan Pandawa berpegang teguh kepada moralitas spiritual, karena Kresna telah mengajarkan untuk berpedoman kepada moralitas spiritual. Demikianlah Kresna pergi menemui Karna dan menyamar sebagai seorang Brahmana dan minta-minta sedekah. Karna bertanya, "Apakah yang paduka inginkan uang, memerlukan itu semua. "Karena itu, apapun juga yang ditawarkan oleh Karna, Kresna selalu menolak. Akhirnya Kresna berkata, "saya pergi. Kalau tuan tidak dapat memberikan apa yang kuinginkan, aku pergi. "Karna berkata, "Tuan telah datang kepadaku untuk meminta-minta. Jadi tidak pantaslah kalau aku tidak memberikan sesuatu kepada tuan, lebih-lebih apabila tuan pergi dengan perasaan aku masih hidup. "Inilah moral sederhana yang telah diajarkan kepada manusia.

Akhirnya Karna didesak untuk mengetahui apa sebenarnya yang diinginkan oleh Kresna dan Kresna mengatakan, "saya hanya menginginkan anting-anting/kundale dan kawaca anda itu, tidak yang lain. "Kalau seandainya Karna mengikuti moralitas spiritual, tentu ia akan mengatakan, "Tuan, aku segera akan melakukan pertempuran. Aku pasti akan kalah berperang. Bahkan, aku mungkin mati. Karena itu, aku tidak boleh berpisah dari anting-anting dan kawaca itu dan dengan segera memberikannya kepada Kresna. Demikian itulah ia telah mempercepat proses kematiannya.

Guru Karna ialah Parasurama. Pada suatu ketika Parasurama dan Karna sedang bercakap-cakap. Tak lama kemudian Parasurama merasa penat, mengantuk dan tertidur, kepalanya diletakan dipangkuan Karna. Pada saat itu, seekor serangga menggigit paha Karna sehingga paha itu berdarah dan mengalir deras. Karna sangat merasa kesakitan, tetapi ia tetap tidak bergerak sedikitpun karena ia tidak ingin mengganggu tidur gurunya. Ini merupakan contoh Karna mengikuti moralitas spiritual, ia pasti akan meletakkan kepala gurunya di suatu alas lain, sementara itu ia pun akan merawat lukanya. Tetapi ia tidak melakukan hal itu. Kemudian, ketika Parasurama terbangun. Ia pun ingin mengetahui mengapa banyak darah bercucuran disana. Karna mengatakan, Darah itu karena gigitan serangga pada pahanya". Parasurama lalu bertanya." Lalu mengapa kamu tidak mengeluh, menggerakkan kaki, atau membangunkan aku ?" Karna menjawab, "saya tidak melakukannya karena tidak ingin mengganggu guru sedang tidur. Mengganggu guru yang sedang tidur akan merupakan pelanggaran di pihak diri hamba. Hamba tidak akan melakukan hal-hal sedemikian itu.'

Lalu Parasurama berkata kepadanya, "karena engkau memiliki kekuatan sedemikian hebat untuk menahan rasa sakit, pastilah engkau tidak dilahirkan di keluarga Karna itu seorang vipra keturunan. "Biasanya seorang pemuda vipra tidak memiliki kemampuan untuk menahan sakit demikian, jadi tentulah engkau terlahir di dalam keluarga kusir kereta, "Sebenarnya Karna meyakini bahwa dirinya itu terlahir sebagai anak moralitas sederhana, dan apabila kita bandingkan Bhisma dengan Karna dibidang ini, maka akan sulit menentukan siapa dari keduanya itu yang lebih hebat. Tetapi harus diakui bahwa Karna merupakan contoh yang haik sekali tentang keteguhan moral sederhana yang berlaku di jaman itu, ataupun di jaman sekarang. Karna memiliki kebesaran sosial juga, yang mungkin dimiliki Bhisma. Pada masyarakat jawa dan Bali sangat menghargai nilai-nilai tokoh-tokoh Karna.

Karna pada masyarakat Jawa dan Bali bukan seorang pengkhianat, melainkan seorang pahlawan yang bertempur dengan keberanian dan kehormatan. Hal ini pernah dilukiskan seperti saya yang pernah dideskripsikan oleh R.B.B. Aderson, dari hasil wawancaranya dengan seorang pegawai Jawa. "Sikap orang Jawa terhadap Karna yaitu disejajarkan dengan seorang temannya yang telah bertempur di pihak Belanda ketika revolusi. Temannya itu begitu menderita sewaktu dan keluarganya dibunuh oleh sekelompok pemuda nasional pada hari-hari yang penuh kekacauan sesudah proklamasi kemerdekaan. Dia telah diperlakukan dengan baik oleh Belanda. Orang Jawa yang memberi informasi ini kepada Anderson juga seorang patriot yang bersemangat. Pada waktu memberikan informasi tentang teman sekolahnya itu dengan mudah mensejajarkan atau membandingkan dengan karna. Temannya juga telah bertempur dipihak yang salah. Tetapi karena alasan-alasan yang tampak masuk akal sehingga temannya itu bukan seorang pengkhianat, tidak seperti mereka yang telah menyeberang karena ketakutan, tidak mempunyai prinsip, atau mengharap mendapatkan suatu keuntungan. Dengan demikian walaupun Karna itu mati dan kematian-nya memihak Kurawa, ia bukan pengkhianat. Ia adalah pahlawan yang mempunyai prinsip, dan tidak takut mati. Yang paling ditakuti oleh Karna adalah kebohongan.

Oleh sebab saling menyusup tokoh perwatakan Karna tersebut, sampai ayah Presiden RI yang pertama (Soekarno), yaitu : R. Sukermi ingin meniru tabiat Karna yang divisualkan melalui nama.

 

Source: I Made Purwa l Warta Hindu Dharma NO. 423 Mei 2002