Drona Jaya

Pandu Dewanata raja Astina, wafat tatkala memadu kasih dengan Dewi Madri, ibu dari sang kembar Nakula Sadewa. Merupakan hasil perbuatan masa lampau oleh Pandu Dewanata sendiri. Para Pandawa Lima putra Pandu : Darmawangsa, Bima, Arjuna, Nakula, Mahadewa masih berusia remaja, diasuh oleh Dewi Kunti, tinggal bersama didalam kraton Astina.

Drestarastra diangkat menjadi raja Astina menggantikan Pandu Dewanata. Korawa seratus, putra Drstarastra raja bangsa Kuru, antara lain : Suyodana, Adityaketu, Bimarata, Bimasulawa, Carucitra, Durkaruna, Dussesana, Durmanaba, Ekatana, Gardapatia, Hakyadresya, Wiyudarus, Yuyutsu, dll, diasuh oleh raja Drestarastra dan permaisuri Dewi Gandari. Didampingi oleh Yama Widura, saudara lain ibu, Drestarastra, dan juga saudara lain ibu Pandu Dewanata.

Dewi Gandari mengikuti jejak suami menjadi buta, dengan membalut dua matanya dengan kain. Bagawan Bhisma, kakek para Pandawa Lima dan para Korawa Seratus. Arya Sengkuni saudara laki Dewi Gandari, seorang paman sangat licik tinggal di kraton Astina. Sengkuni menginginkan Suyodana putra tertua Drestarastra dan Dewi Gandari, menjadi pengganti Drestarastra, raja Astina. Sengkuni mengajarkan sifat jelek bagi Korawa Seratus : serakah, dengki, loba, iri hati terhadap Pandawa Lima.

Kanduka Krida/Permainan Bola

Satu hari yang cerah, para Korawa Seratus dan Pandawa Lima, bermain bola/kanduka krida, diluar tembok kraton. Mereka bermain sepak takrau, di sebidang tanah datar yang luas, diluar tembok kraton.

Kanduka/bola, yang mereka gunakan, jatuh kedalam sebuah sumur yang dalam. Bola mengapung dipermukaan air sumur itu. Tidak ada akal upaya para anak remaja kesatria itu, untuk bisa mengambil kanduka/bola, dari dalam sumur yang sangat dalam.

Mereka saling mempermasalahkan satu dan yang lain. Keringat mereka mulai mongering. Mereka bergumam menggerundel sepanjang waktu, sampai akhirnya mereka bungkam sepi diam seribu kata. Saling berpandang-pandangan, satu dengan yang lain, tanpa ada yang mau bicara.

Drona Tiba

Seorang lelaki berusia, menggendong balutan sebuah tangan, dengan langkah pincang menghampiri sumur yang dikerumuni oleh para kesatria remaja itu. Orang tua itu mengumpulkan segenggam rumput alang-alang. Satu persatu alang-alang, dilemparkan oleh orang itu kedalam sumur dengan penuh konsentrasi. Pangkal alang-alang pertama nancap mengenai bola, pangkal alang-alang kedua menancap pada ujung daun rumput alang-alang pertama. Demikian seterusnya menjadi panjang keatas dari permukaan air sampai kebibir sumur. Orang tua itu berhasil mengangkat bola keluar sumur, dengan sarana segenggam daun rumput alang-alang. Bola diserah terimakan kepada para kesatria anak remaja itu.

Salah seorang anak kesatria dalam kelompok, mengawali berlari menuju kedalam kraton. Melapor kepada kakek Bhisma. Yang lain, ada yang mengikuti kedalam kraton, ada pula yang masih tinggal menemani orang tua itu tinggal di dekat sumur. Orang tua itu ceria tertawa kecil, melihat ulah polos para ksatria anak remaja itu.

Kakek Bhisma, keluar dari keraton diiring oleh para kesatria anak remaja. Anak remaja kesatria dihadapan Bhisma, menyatakan kegembiraan mereka telah mendapatkan kembali bola mereka dari dalam sumur, berkat keberhasilan upaya orang tua yang hadir ditepi sumur itu.

Drona Menjadi Guru Dikraton Astina

Setelah saling memberi salam hormat, Bhisma dan Drona nama orang tua itu, kedua mereka terlibat dalam percakapan serius, sangat intensip. Bhisma dengan sungguh-sungguh, berkata kepada para Kurawa Seratus dan para Pandawa Lima, dimulai dengan penganjali : "Om Swastyastu 'Wahai para cucuku semua, para Pandawa Lima dan para Kurawa Seratus, mulai hari ini, cucuku semua akan dididik, dilatih oleh orang ini. Bagawan Drona, dahulu bernama Kumbayana, adalah seorang yang sangat ahli dalam berbagai bidang ilmu. Beliau terampil mahir menggunakan segala jenis wujud senjata. Menguasai dengan baik ilmu ketatanegaraan, luas dan dalam wawasan diberbagai ilmu spiritual, mahir dalam praktek berperang.

Mulai pada hari ini, para cucuku akan mengikuti pelajaran dari guru yang satu ini. Guru Drona, akan tinggal bersama kita didalam kraton Astina. Upayakanlah dengan baik dan benar, untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan segala ilmu arahan Guru Drona. Taatilah segala aturan serta perintah guru kalian.

Kelak setelah anda semua menjadi besar, amalkan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang cucunda terima dari Guru Drona, bagi nusa dan bangsa. Ada saatnya nanti, anda semua wajib melaksanakan rencana Guru Drona, dalam praktek uji keterampilan, kemahiran dalam penggunaan senjata. 'Guru Drona, satu perguruan dengan kakek Bhisma. Sama-sama kami pernah berguru dari Bagawan Rama Parasu, dalam kelompok angkatan yang berbeda'.

'Pengalaman batin yang cucun telah raih dari Guru Kripa, guru kraton Astina, wajib anda bina kembangkan dengan materi baru, yang cucunda akan dapatkan dari Guru Drona'.

'Demikian! Kalau ada yang mau bertanya silahkan? Kalau tidak, mari bersama-sama kita membubarkan diri! OM santhi, santhi, santhi OM'. Demikian Bagawan Bhisma menyerahkan para Kurawa Seratus dan para Pandawa Lima kepada Guru Drona. Guru Drona sejak hari itu, menjadi guru dikraton Astina. Membina kegiatan belajar mengajar bagi para putra bangsawan remaja Pandawa Lima dan para putra remaja Korawa Seratus.

Dizaman sekarang, kita memahami 'ujian masuk' untuk sebuah kegiatan pendidikan dan latihan dilingkungan sebuah instansi pendidikan, pelatihan. Dizaman Guru Drona, kata-kata Bhisma menjadi titik awal sebuah kegiatan belajar mengajar resmi, bagi para putra remaja bangsawan, dilingkungan kraton Astina.

Ekalayua

Seseorang asal luar kraton, bernama Akalayua, ngebet ambisius untuk ikut menjadi murid, didalam lingkungan remaja ningrat kraton Astina. Ditolak mentah-mentah oleh Guru Drona.

Ekalayua terpaksa belajar dari arca jerami wujud Drona, yang dibuat oleh Ekalayua dengan tangannya sendiri. Ekalayua belajar secara otodidak menggunakan anak panah, berguru dari 'Drona wujud arca jerami'. Ekalayua tumbuh terbina, berkembang ahli mahir, menggunakan anak panah, dengan disiplin latihan gigih usaha sendiri.

Evaluasi Belajar Mengajar di Kraton Astina

Pada jadwal telah ditetapkan, disepakati oleh para murid dan Guru Drona, untuk melaksanakan evaluasi belajar mengajar panah-memanah. Ujian akhir semester menggunakan anak panah, dilaksanakan di Astina. Berlangsung di luar tembok kraton. Disaksikan oleh para tetua kraton dan khalayak ramai dari kerajaan Astina.

Diluar gerbang kraton, pada puncak sebatang pohon beringin gede, diikatkan sebatang bambu. Diujung atat-batang bambu, diikatkan sesosok boneka berwujud burung. Bambu, boneka burung, goyang ditempuh angin.

Pertama kali Guru Droma memanggil Bima Sena, untuk mulai meragakan busur dan anak panah. Para Kurawa Seratus dan Pandawa Lima, bertepuk riuh, saat Bima membentangkan busur membidikkan anak panah kearah target.

Guru Drona bertanya kepada Bima. Pertanyaan itu terdengar jelas oleh para penonton : "Apa yang kau lihat Bima Sena" Tanya Drona, Bima Sena menjawab : 'Aku melihat pohon beringin, cabangnya, rangingnya, daun beringin, bambu penyangga boneka burung bergoyang ditiup angin, tampak jelas bagi aku. Jawab Bima Sena'. (Selanjutnya)

Source : Wayan Diya l Warta Hindu Dharma NO. 509 Mei 2009