Drona Guru Pembangkit Rasa 'Jengah' Para Siswa

Tokoh-tokoh Mahabharata tidak saja merupakan salah satu sumber pencarian nilai-nilai yang umat diperlukan bagi kelangsungan hidup bangsa, tetapi juga merupakan salah satu wahana atau alat pendidikan watak yang baik sekali, terutama melalui tokoh-tokoh sentral. Pertunjukan wayang atau jenis pertunjukan yang lain dengan mengambil lakon Mahabharata itu sendiri sebenarnya merupakan alat pendidikan watak yang menawarkan metode pendidikan yang amat menarik. Hal ini karena wayang melalui tokoh-tokoh sentral dari lakon-lakon tertentu mengajarkan ajaran dan nilai-nilai yang secara dogmatis tidak sebagai suatu indoktrinasi, tetapi ia menawarkan ajaran-ajaran dan nilai-nilai itu kepada penonton (masyarakat dan individu-individu). Terserah penonton sendiri yang menafsirkannya, menilai dan memilih ajaran dan nilai mana yang sesuai dengan pribadi atau hidup mereka, sebab tidak ada tokoh yang ka¬rakternya seratus persen sempurna.

Di Bali contohnya, Dang Hyang Drona tidak dianggap sebagai pemecah negara Astina, seperti apa yang ditemukan di Cirebon. Di Cirebon tokoh Drona adalah tokoh yang amat serakah dan merupakan sumber benih kebatilan. Bahkan otak perpecahan negara Astina dan Pandawa ada di tangan Drona (TD. Sudjana, dalam Gatra Nomor 10/1986). Oleh karena saking bencinya masyarakat Cirebon terhadap Drona, maka hiasan-hiasan dinding rumah yang ada di sana tidak ada yang memajang gambar Drona. Sikap yang demikian itu tentunya sikap yang salah. Sebab masyarakat di kemudian hari hanya tahu nama Drona, namun tidak tahu wajahnya dalam pewayangan atau pertunjukan yang lain.

Lain halnya dengan di Bali, nama Drona lebih dikenal Dang Hyang Drona. Kata "Dang" sering dianalogikan dari "Dangdang", yaitu alat memasak yang sering dipergunakan untuk memanaskan air. Alat ini dibuat dari aluminium, bentuknya seperti periuk. Memanaskan air dengan dandang, pengertiannya disamakan dengan memanaskan, memotivasi pikiran yang ada pada setiap manusia. Dalam hal ini para murid Drona, seperti para Pandawa. Di Bali watak Drona sebagai guru (acarya) selalu diagungkan, karena ia adalah guru yang selalu mampu membangkitkan dan memotivasi semangat (di Bali jengah) para siswa. Dalam konteks dengan dunia pendidikan di Bali, kata jengah memiliki konotasi sebagai "comperative pride", yaitu semangat untuk bersaing, menumbuhkan siswa yang berkualitas dan mandiri.

Sebagai paradigma dalam dunia pendidikan di Bali, jengah merupakan kekuatan dalam yang memiliki sifat-sifat dinamis dan tidak mudah terombang-ambing oleh keadaan. Didikan Dang Hyang Drona untuk membangkitkan rasa jengah ini dapat dibaca pada cerita Bhima Suci (Dewa Ruci).

Bhima, seorang pemuda gagah perkasa dan sentosa pribadinya, tidak mudah terombang-ambingkan oleh keadaan. Tindakannya tepat, sebab segala-galanya telah dipikirkan masak-masak. Ia tidak pernah menarik langkahnya mundur. Ia seorang pemuda yang rindu kepada kebenaran. Ia tidak pernah melepaskan keyakinannya. Ia yakin bahwa guru itu tentu berbuat baik terhadap muridnya, sedangkan para murid sering merasakan susah untuk menyelesaikan perintah guru. Oleh karena itu maka murid menganggapnya perintah guru itu memberatkan. Bhima yakin kepada guru Drona bahwa apa yang ia perintahkan itu adalah suatu kebenaran yang abadi. Ia minta supaya diberi kebenaran ilmu "sastera jendraningrat" kepada Dang Hyang Drona. Oleh Dang Hyang Drona ditunjukkan bahwa ilmu itu baru dapat dijelaskan setelah Bhima menemukan sarananya, yaitu Tirta Amerta yang ada di puncak gunung, jika tidak ada di puncak gunung harus dicari di dalam samudra.

Semua saudaranya melarang Bhima mencarinya, sebab petunjuk Dang Hyang Drona itu dianggap suatu tipu daya yang menyesatkan. Namun berangkatlah Bhima mencari Tirta Amerta dengan semangat jengahnya. Oleh karena dilandasi rasa jengah yang tulus, maka semua rintangan, baik lahir maupun batin dapat diatasi. Akhirnya, Bhima bertemu dengan Dewa Ruci yang menggambarkan kebenaran abadi.

Murid-murid harus ditanamkan rasa jengah itu, lebih-lebih kepada murid yang kemampuan kecerdasannya tidak tinggi. Para siswa harus mampu bersaing di antara teman sekelasnya, sehingga dengan demikian siswa akan mampu mandiri.

Di pihak lain memang Dang Hyang Drona ada yang tidak konsekuen dengan profesinya sebagai seorang Brahmana (guru) yang seharusnya menegakkan kebenaran. Namun, hal ini kita dapat maklumi bahwa status Dang
Hyang Drona di negeri Astina adalah sebagai karyawan negara yang selalu dihadapkan pada sikap dualisme kemanusiaan, yaitu di satu pihak sebagai makhluk pribadi dan di pihak lain sebagai makhluk sosial yang mengikuti aturan main di mana Drona menjadi karyawan.

Selaku makhluk pribadi atau makhluk individu, manusia berkepentingan dan terdorong untuk menenangkan (memuaskan) kepentingan-kepentingan pribadinya. Di lain pihak, selaku makhluk sosial berkewajiban untuk memenenuhi tuntutan-tuntutan (harapan-harapan) nilai-nilai, norma-norma sosial yang berlaku, yang nilai dan norma sosial tersebut belum tentu sejalan dengan tuntutan kepentingan pribadinya. Selain itu, selaku makhluk Tuhan manusia berkewajiban untuk mentaati perintah-perintah Tuhan dan menjauhi larangan-larangannya, di mana hal tersebut juga belum tentu sejalan dengan tuntutan kepentingan individu yang ingin dimenangkannya.

Kenyataan kodrati yang demikian itu seringkah dianggap sebagai dilema kehidupan manusia. Banyak di antara tuntutan kehidupannya yang dianggap saling berlawanan, sehingga manusia harus selalu menyelesaikan hal-hal yang berlawanan dalam hidupnya. Di sini, manusia laksana Hermes yang berkepala dua, yang kepala satunya tampak tertawa-tawa, sedangkan kepala yang satunya lagi terlihat menangis tersedu-sedu, atau seperti apa yang dinyatakan oleh Freud, bahwa pada diri manusia selalu terjadi "tarik tambang: antara Id (hawa nafsu, tuntutan pemuas kepentingan pribadi dengan super Ego (hati nurani, tuntutan nilai dan norma-norma masyarakat; atau dari "dada ke atas" mengajak manusia pada kebajikan yang luhur sesuai dengan bisikan dewa-dewa (panggilan nilai/norma sosial dalam masyarakat), sedangkan dari "perut ke bawah" mengajak manusia pada selera-selera rendah yang angkara murka sesuai dengan bisikan setan-setan" (panggilan hawa nafsu yang mementingkan kepuasan pribadi yang rendah).

Dengan kenyataan tersebut memang tidak salah bila dikatakan bahwa tidak mudah menjadi manusia. Kodrat manusia sebagai makhluk individu dan kodrat manusia sebagai makhluk sosial (dengan segala tuntutan kodratinya masing-masing), sebenarnya bukanlah dua hal yang berlawanan dan tidak perlu dipertentangkan satu sama lain. Keduanya memang berbeda, tetapi bukanlah yang satu sebagai lawan yang lainnya. Sebab keduanya merupakan sebuah pasangan laksana "kaki kiri" dengan "kaki kanan" atau laksana "sayap kiri" dengan "sayap kanan" pada burung atau laksana "laki-laki" dengan "perempuan", atau laksana "positif" dan "negatif' dalam kelistrikan. Namun, kemampuan untuk menyeimbangkan dua hal yang berbeda (rwa bineda) itu memerlukan waktu yang cukup lama setiap insan manusia.

Drona yang disimboliskan dengan watak yang bimbang, sehingga kelihatannya menjadi pilih kasih terhadap muridnya, yang akhirnya membawa kehancuran atau kalah dalam pertempuran. Pada umumnya seorang guru harus memandang sama kepada semua murid-muridnya. Arjuna, merupakan murid yang kurang disenangi. Kemudian, setelah-nyata bahwa Arjuna sangat cerdas dan cepat sekali maju dalam pelajarannya, Drona hanya mengajar pelajaran rahasia kepada Aswathama, anaknya sendiri.

Ekalaya, merupakan seorang murid yang lain, yang sangat menjunjung tinggi Drona. Tetapi setelah diketahui bahwa Ekalaya itu seorang Sudra, ketika itu pun ditolak untuk menjadi muridnya. Penolakannya yang menyakitkan itu sesungguhnya bukan merupakan sifat acarya (guru). Padahal sifat seorang guru apalagi berpredikat Brahmana yang berilmu tentu sikap acarya-nyalah yang sebagai identitas mutlak.

Di bidang panah-memanah, Ekalaya adalah lebih baik daripada Arjuna ataupun Aswathama. Sekali waktu, Drona mendapat laporan dari Arjuna bahwa kemampuan memanahnya ada yang menyamakan. Drona menjadi marah dan malu. Karena Drona sudah mengumumkan kepada dunia bahwa yang terpandai dalam panah-memanah adalah Arjuna. Drona mendekati Ekalaya dan sempat menyaksikan kehebatan murid itu. Setelah ditanya. Ekalaya mengakui bahwa guru yang mengajarkannya memanah ialah Drona sendiri. Ekalaya berguru kepada Drona bukan secara langsung melainkan melalui patung Drona. Drona terkejut, oleh karena patung Drona dijadikan guru, maka ia menuntut suatu "guru daksina" (bayaran murid kepada guru), yaitu ibu jari Ekalaya harus dipotong, maka hancurlah karir memanah Ekalaya itu.

Sri Khresna sebagai sutradara dalam epos Mahabharata harus menciptakan karakter watak sedemikian itu, untuk membuka mata masyarakat umum, bahwa hendaknya masyarakat lebih-lebih seorang yang berstatus guru harus berpandangan sama terhadap murid. Kita harus menghormati semuanya untuk menciptakan keharmonisan di masyarakat. Karena sifatnya yang kelihatan pilih kasih itu maka Drona harus kalah dalam perang dengan keadaan yang menyedihkan. Kepala putus dan terlempar jauh dari badannya dan semuanya ini merupakan skenario yang diciptakan oleh Sri Khrisna melalui tipu muslihat agar Yudhistira mengumumkan suatu seruan ke hadapan orang banyak dengan cara mengucapan yang diakali. "Aswathama hatah iti naro kuinjaro va", "Aswathama tewas. Ini mungkin Aswathama orang, mungkin pula Aswathama Gajah", bukan Aswathama putera Drona. Karena pengumuman dibaca dan diserukan sedemikian rupa, dan Yudhistira orang yang tidak pernah berkata bohong dan salah dalam hidupnya, mengiyakan pertanyaan Drona, maka sejak itu Drona yakin bahwa puteranya telah tewas. Karena itu Drona menjadi sedih sekali, sehingga tidak konsentrasi dalam berperang. Oleh karena tidak konsentrasi, maka dengan mudah Pandawa dan Drestajumena menebas kepala Drona. Drona bukanlah seorang guru yang ideal, tetapi sikap guru seperti itu sangat dibutuhkan dalam rangka memantapkan maupun mengukur sikap "swadarmaning" siswa terhadap gurunya.

 

Source: Drs. I Made Purna l Warta Hindu Dharma NO. 408 Pebruari 2001