Drestarastra: Ibarat Pohon yang Berbuah Keburukan

Menonton wayang, sebenarnya bukan sekedar mencari hiburan saja, akan tetapi di dalamnya terkandung pesan-pesan/nilai-nilai yang hidup atau mnakna filsafati dalam pribadi setiap tokoh wayang. Dengan kata lain, setiap tokoh dalam dunia pewayangan mempunyai perwatakan sendiri-sendiri.

Dalam cerita Maha Bharata, misalnya tokoh Drestarasta digambarkan sebagai seorang tokoh yang sejak lahirnya sudah mempunyai cacat jasmani (buta)/berwatak tenang, pendengarannya sangat peka, dan mempunyai pejasaan yang tajam. Namun dalam hidupnya, ia selalu dihantui rasa cemas dan khawatir. Di samping itu, tidak sedikit sederetan tokoh-tokoh yang baik dan bijaksana hanya menyudutkannya. Hal ini karena perbuatan putra-putranya. Oleh sebab itu, tokoh Drestarastra dianggap sebagai "Pohon" yang berbuah keburukan.

Sesungguhnya, sebelum Drestarastra mewakili adiknya (Pandu) sebagai raja di Astina Pura, ia adalah seorang putra raja yang arif dan bijaksana, adil dan cinta terhadap rakyatnya, di sampingjuga seorang maharsi yang "gentur" (bersungguh-sungguh) tapa-nya. Demikian juga dengan Dewi Ambika (ibu Drestarastra), ia adalah seorang putri yang terpandang dari negara Kasi, yaitu Prabu Darmahambara. Dengan demikian, Drestarastra sebenarnya merupakan "buah" dari "pohon" yang baik. Adapun yang menjadi pertanyaan sekarang mengapa Drestarastra bisa disebut sebagai "Pohon" yang berbuah keburukan? Barangkali hal ini bisa dilacak dari keberadaan Drestarastra yang semenjak lahirnya telah ditakdirkan sebagai manusia mempunyai cacat jasmani (buta), sehingga membuat dirinya disayang atau dicintai oleh keluarganya.

Rasa kasih sayang atau cinta sendiri sebenarnya merupakan gejala universal yang mampu menanamkan kebaikan yang melebihi dari apapun. Hanya karena rasa iba dan cinta terhadap saudara tua yang buta, maka Pandhu merelakan ketiga putri boyongan (Dewi Kunti, Madri, dan Gandari) dipersembahkan kepada Drestarastra. Walaupun pada akhirnya Drestarastra hanya dapat menerima salah satu dari ketiga putri boyongan tersebut, yaitu Dewi Gandari. Hal ini membuktikan bahwa cinta mampu memberikan kekuatan kepada orang-orang yang mencintai itu, langsung dari dalam dirinya sendiri.

Dalam buku "Simposium Dialog Sokrates tentang Hakekat Cinta" dikatakan bahwa cinta tidak mendekati tanah, tetapi di atas kepala manusia. Namun bagi kelembutan cinta tidak demikian, ia tidak berjalan di atas bumi atau di puncak kepala yang tidak begitu lembut sebenarnya tetapi justru tinggal dan berjalan di tempat-tempat (jiwa) yang paling lunak (Plato, 1986:23). Dengan demikian, kelembutan cinta tidak berada di sembarangan jiwa. Setiap kali menemukan jiwa yang keras pasti dia akan pergi, tetapi di tempat yang lemah dia akan tetap tinggal.

Drestarastra yang sejak kecilnya telah mendapatkan sentuhan kasih sayang yang berkelebihan di lingkungan keluarganya karena keadaan fisik yang kurang sempurna cenderung membentuk sikap yang fatalistik. Ia tidak perlu bersusah payah mencapai sesuatu yang diinginkan, karena semuanya telah diperhatikan keluarganya. Apabila memenuhi kesulitan hidup biasanya cepat mengeluh, dan cenderung banyak merenung. Jika ia sedang bersedih kebiasaannya lalu menyendiri dan merenung di "ruang panepen" (ruang yang sepi). Manusia seperti itu biasanya tidak mempunyai ketegasan, sehingga tidak dapat melihat diri dan menyusup ke dalam jiwa serta ke luar masuk dari sana, tanpa diketahui kapan datangnya.

Drestarastra yang hanya diam saja (merenung) pada waktu Prabu Drupadi mohon sebagai dutanya Pandhawa, besar kemungkinan jiwanya telah menyusup pada putra sulungnya (Duryodana) yang berbudi angkara murka, sehingga membiarkan putranya bertindak tidak terpuji terhadap Sang Duta. Walaupun kasih sayang terhadap putra juga berperan, tetapi di sini tampak ketidaktegasan sikap Drestarastra. Dalam cerita Kresna Duta, kembali Drestarastra menunjukkan sikap serupa. Memang, dalam cerita tersebut ia telah melakukan berbagai upaya untuk Duryodana agar bersedia menyerahkan negara Ngendraprasta terhadap para Pandhawa. Namun, yang menjadi pertanyaan, sekarang adalah mengapa permasalah tersebut dilimpahkan terhadap putranya, padahal yang berkuasa penuh pada saat itu adalah Drestarastra. Barangkali, di samping besarnya kasih sayang terhadap putranya, juga karena seringnya Drestarastra terkena hasutan-hasutan dari Arya Sakuni yang munafik, suka memfitnah, suka menghasut, dan lihai dalam tipu muslihat. Oleh karena itu,| sudah sewajarnyalah jika Drestarastra dikatakan sebagai "Pohon" yang berbuah keburukan.

Sementara itu jika diperhatikan setelah meninggalnya tokoh tersebut akhirnya dapat mencapai moksha (kebahagiaan lahir dan batin) di Kuwerabawana. Dengan demikian, pada dasarnya Drestarastra merupakan tokoh yang baik. Hal ini karena dirinya merupakan "buah" dari "Pohon yang baik". Memang setiap manusia sebenarnya memiliki dua sifat yaitu baik dan buruk. Adanya kedua sifat itu menurut Sudharta (1993) karena adanya unsur-unsur Triguna yang ada dalam diri manusia, yang disebut satwam, rajas, dan tamas. Ketiga sifat tersebut ada (dalam diri manusia dengan kadar yang berbeda-beda. Apabila satwam mempengaruhi manusia, maka ia akan menjadi orang baik. Jika rajas yang menguasai seseorang, maka akan akan menjadi orang kreatif. Akan tetapi, jika sifat tamas yang menguasai seorang, maka ia akan menjadi malas dan cenderung ke arah perbuatan yang tidak baik.

Drestarastra yang pada saat putra-putranya masih hidup jiwanya cenderung dipengaruhi oleh sifat malas, setelah berakhirnya perang Bhara-tayuda telah menemukan sifat sebenarnya (satwam). Ia telah berhasil menjalankan dharmanya pendeta, sehingga akhirnya dapat mencapai moksha, dan mendapatkan anugerah dewa ke surga Kuwerabawana.

Adapun nilai-nilai yang perlu menjadi bahan renungan bersama dalam cerita ini adalah bahwa di dalam keluarga perkembangan sosial anak-anak tidak hanya terbatas pada situasi sosial, atau keutuhan struktur dan interaksi keluarga serta dapat merangsang perkembangan ciri-ciri tertentu pribadi anaknya.

Drestarastra sebagai orang tua yang mengalami kebutaan telah menyebabkan ia tidak mampu mencegah, bahkan seringkali menyetujui semua keinginan anak sulungnya (Duryodana). Ia kurang mawas diri atau instropeksi terhadap hati nuraninya guna mengetahui benar tidaknya, bertanggung jawab tidaknya terhadap suatu tindakan yang telah dilakukannya.

Nilai-nilai lainnya yang dapat digali adalah kepercayaan terhadap takdir, yaitu bahwa setiap manusia sejak semula dari segi titik-tolak, kemungkin-kemungkinan perealisasian diri dan ,pada akhirnya sudah ditetapkan, dan tidak ada yang bisa ditakdirkan baginya dan daripadanya ia tidak bisa pergi. Hidup dan mati, nasib buruk dan penyakit merupakan nasib yang tidak bisa dilawan manusia. Biasanya hanya berikhtiar, sedangkan hasilnya telah ditentukan oleh Tuhan.

Drestarastra yang telah dipaksa oleh kebutaannya telah mengakibatkan dirinya pasif secara jasmani. Dia membiarkan pikirannya menjadi acuh tak acuh, sehingga pada waktu Drestarastra diperingatkan oleh adiknya (Widura), agar bayi yang dianggapnya sebagai putra sulungnya segera dilabuh ke samodera, karena bayi tersebut jika dibiarkan hidup akan membawa malapetaka. Peringatan tersebut tidak diindahkan oleh Drestarastra. Namun akhirnya telah menyadari bahwa apa yang dikatakan kesatria utama yang telah mendapat anugerah dewa berupa sifat yang bijaksana sebagai seorang kesatria utama dan sebagai orang yang dapat mengetahui peristiwa yang nantinya bakal terjadi, telah terbukti.

Di samping itu, Drestarastra sebenarnya juga mengetahui bahwa sikap Widura yang demikian itu semata-mata karena rasa kasih sayang dan dharma baktinya terhadap saudara tua yang mempunyai cacat jasmani. Namun, karena sarannya tidak diindahkan oleh kakaknya, maka dengan rasa haru Widura menyadari bahwa kekuatan takdir memang tidak bisa diatasi dengan akal budi. Ketidakpercayaan terhadap takdir inilah yang pada akhirnya menjadikan Drestarastra selalu dirundung rasa sedih dan khawatir.

Drestarastra menyadari akan adanya kekuatan takdir setelah semua peringatan yang diberikan adiknya benar-benar terjadi. Memang, kesadaran akan adanya takdir sebenarnya merupakan ungkapan kekuatan-kekuatan rohani yang gaib. Manusia tidak akan sanggup mengubahnya secara difinitif. Oleh karena itu, setiap manusia hanya bisa melaksanakan sesuatu sesuai dengan dharmanya. Artinya, ia bisa dan harus memenuhi kewajiban-kewajiban sosialnya, sebagaimana yang ditentukan oleh adat-istiadat dan masyarakat. Dengan kata lain, setiap manusia hendaknya harus memahami sesuai dengan tempatnya.

 

Source: I Made Purna l Warta Hindu Dharma