Drama Sapu Leger

Di Siwa Loka, Dewa Siwa Maha Guru dan Dewi Uma, berputra dua orang. Yang tua bernama Battara Kala, gede ganggas bersifat seperti raksasa angker galak. Yang kecil bernama Rare Kumara, bagus halus baik budi pekerti. Lahir sama-sama pada Wuku Wayang/ Sari Sena. Hal ini menjadi alasan bagi putra yang tua, hendak memangsa sang adik yang kecil.

Dewa Siwa Uma Dewi, sangat prihatin menghadapi permasalahan ini. Mengijinkan sang abang memangsa sang adik, kalau sudah besar. Dewa Siwa, memastu Sang Rare Kumara, tetap menjadi rare/anak kecil. Sangat lama Battara Kala menunggu untuk memangsa sang adik. Akhirnya tiba pula saatnya, Battara Kala hendak memangsa sang adik sekalipun masih berwujud anak kecil.

Sebelum sang abang datang menjemput, Dewa Siwa menasihati Rare Kumara, agar menyelamatkan diri kerajaan Kerta Negara, meminta pengayoman dari raja Maya Sura, rakyat dan para patih.

Setelah Rare Kumara pergi menyelamatkan diri, Battara Kala datang memaksa hendak memangsa Rare Kumara, digeledah tidak ketemu. Battara Kala menciumi jejak bekas telapak kaki Rare Kumara, membuntuti Rare Kumara dengan secepat kilat. Rare Kumara mengetahui dirinya diuber dibuntuti, oleh Battara Kala, semakin ketakutan, lari semakin kencang menyelamatkan diri. Binatang isi hutan, pada ga* melihat Rare Kumara dikejar plen Battara Kala, seakan-akan macan mengejar seekor kancing mungil.

Sepanjang jalanan, Battara Kala, memastu orang-orang agar celaka : Orang mengonggokkan sampah, tidak membakar atau menimbun dengan tanah, agar celaka. Orang menaruh kayu api ditempatnya yang masih terikat erat dengan tali. Orang memasak, membiarkan rirun tetap terbuka. Orang membasahi pangkal alang-alang untuk atap,  masih terikat, ujung dan pangkalnya. Butir-butir kejadian penyebab Rare Kumara lolos dari sergapan Battara Kala, semua kena pastu celaka oleh Battara Kala.

Dewa Siwa Dewi Uma, menunggang seekor lembu jantan, mengamati ulah kedua anak beliau dari udara, dengan cemas ngeri menakutkan. Rare Kumara, sempat ditangkap langsung ditelan oleh Battara Kala. Dewa Siwa memastu Battara Kala agar memuntah Rare Kumara. Rare Kumara melanjutkan lari menyelamatkan diri.

Cepa kala/Teka-teki bagi Kala

Tapat surya berada tegak di atas kepala/kali tepet, Battara Kala setelah memuntahkan Rare Kumara, melihat ke udara: kelihatan Dewa Siwa Dewi Uma bergerak naik lembu. Battara Kala menyapa galak, hendak memangsa siapa saja yang ditemukan bergerak berjalan, pada saat "kali tepet". Dewa Siwa mempersilahkan memangsa, asalkan Battara Kala dapat mengupas jelas Cepa Kala/Teka Teki bagi Kala, antaralain berbunyi:

Asta pado sasti karno
Dwi srengi sapta locanam
Catur bhujam tri nabhinca
Eka bago dwi purusa

Lama Battara Kala, tertegun berpikir, namun tidak bisa mengupas isi cepa fala itu. Matahari singit/seng atengit, condong sedikit ke barat. Waktu kali tepet telah lewat. Battara Kala batal memangsa Dewa Siwa Dew, Uma, menunggang lembu jantan.

Setelah kadaluarsa, kupasan cepa kala/teka-teki bali kala dapat diketahu oleh Battara Kala, waktu telah lewat; Delapan kaki kuping enam = delapan kaki enam telinga, Tunjuh Tanduk tujuh mata = dua tanduk tujuh mata/mata Siwa tiga, Empat tangan puser tiga = empat tangan puser tiga, Satu perempuan dua laki = satu perempuan dua laki (Dewa Siwa Dewi Uma menunggang lembu jantan).

Di Kertha Negara

Rare Kumara, meminta suaka raja Maya Sura Dikerajaan Kertha Negara, Raja Maya Sura berjanji mengayomi Rare Kumara. Dengan menciumi jejak kaki Rare Kumara, Battara Kala tiba dikerajaan Kertha Negara, ditempat Rare Kumara memperoleh pengayoman. Battara Kala berperang melawan rakyat, para patih dan raja Maya Sura. Dengan kemenangan gemilang. Menjelang ajal raya Maya Sura, Raja sempat meminta Rare Kumara untuk menyelamatkan diri. Kerajaan Kertha Negara basmi.

Pertunjukan Wayang

Menjelang larut malam Rare Kumara nemu seorang dalang, sedang mempertunjukkan wayang. Kepada sang dalang, Rare Kumara meminta agar diselematkan jiwanya. Ki Dalang kasihan,  terpaksa menyanggupi. Menyembunyikan Rare Kumara dalam rancakan gender. Dalang melanjutkan tugasnya mempertunjukkan wayang. Berbagai sesaji wayang tertata apik, di sekitar tempat pertunjukan.

Battara Kala tiba ditempat dalang mempertunjukkan wayang. Dengan pongah Battara Kala berdialog kepada sang dalang: "Wahai dalang, mengapa anda mendalang ? Siapa yang mengijin-kan anda mendalang? Apakah anda paham akan Dharma Pawayangan? Kalau tidak paham, aku akan memangsa anda?". Diantara para penonton wayang, ada yang melihat Battara Kala hadir, sangat menakutkan bagi para penonton yang melihat Battara Kala. Battara Kala melanjutkan dialog beliau dengan dalang: "Dalang tolong anda jelaskan tentang : swar, gedebong, kelir, sanan kropak, keropak, lujuh, racik, temali, dan wayang. Apa semua itu, jelaskan?" Dalang menjawab pertanyaan Battara Kala: "Hamba mendalang, karena telah belajar dan paham Dharma Pewayangan. Hamba berlatih mendalang! Sang Hyang Iswara memberikan anugrah bagi hamba mendalang".

Dalang melanjutkan: "Swar itu umpama surya candra penerang. Gedebong ibarat tanah, kelir ibarat ruang, sanan/bambu pemikul kropak dipasang diatas, ibarat langit, kotak/kropak wayang ibarat buwana, wayang itu semua isi buwana. Dua lujuh ibarat tulang, racik adalah jemari, sarwa tali temali ibarat otot. Dua ketengkong/pembantu dalang kanan dan kiri, ibarat ayah bunda. Empat juru gender ibarat saudara empat sesama lahir: Anggapati, Mrajapati, Banaspati, Banaspatiraja". Battara Kala sambil melahap sesaji caru tertata di sekitar pentas wayang melanjutkan dialog. "Wah, mangku dalang, anda memang dalang utama!" "Aku batal memangsamu!" Mangku dalang dengan tersipu-sipu berkata: "Battara Kala, datang tanpa diundang; melahap habis sesaji caru wayang. Mohon agar sesaji dikembalikan!" Sesaji, hamba perlukan mengakhiri pertunjukan. Battara Kala: "Karena kelaparan, tidak sengaja aku telah melahap sesaji caru wayang anda". Tidak sanggup mengembalikan sesaji caru yang telah dilahap itu, mangku dalang, aku berikan kewenangan untuk meruwat orang lahir pada Wuku Wayang/Sari Sena, agar tidak dimangsa oleh Kala. Demikian ucap Battara Kala, dan pergi dari situ.

Dewa Siwa Uma Dewi menunggang lembu, mengambil Rare Kumara dari tempatnya ngumpet. Berterima kasih kepada mangku dalang. Tancep Kayon. Mangku Dalang nuwur tirtha wayang, guna melukat orang lahir pada Wuku Wayang/Sari Sena.

Source: Wayan Diva l Warta Hindu Dharma NO. 470 Maret 2006