Diskusi Cinta Kasih Subadra dengan Arjuna

Dipagi yang cerah puisi cinta Arjuna mengalir seperti desau angin selatan. Semburat sinar mentari nan cerah dari timur bak bianglala menjurai di langit. "Rona wajahmu yang selalu ada dalam benak, sketsa senyumu selalu menghiasi pikiran ini," kata Arjuna penuh syahdu pada Subadra. Subadra menimpali, "Kanda pujaanku, desiran ombak pantai utara terasa sejuk, dengan suara burung pipit yang menggoda keheningan sukma pagi hari. Semua itu mengingatkan suara lirih yang merdu canda cintamu padaku."

"Dawai nyanyian hati tak pernah sepi menyambut hari-hari kemesraan kita," sahut Arjuna. Kemudiaan ia menambahkan, "Yang setiap jeda terselip senyumanmu yang manis, bulu matamu yang lentik membuat hatiku berbunga-bunga dan penuh getar-getar cinta. Sayang! Engkau adalah segalanya bagiku, engkau mutiara hatiku, sebagai hiasan hidupku yang selalu kurindukan setiap saat."

Subadra berkata, "Kanda, Aku tidak ingin meramalkan masa depan. Aku berkonsentrasi hanya pada saat ini. Tuhan tidak memberikanku kendali atas moment berikutnya." Demikian kata Subadra seakan berfilsafat. "Ya," lalu Arjuna berkata, "Benar itu Subadra, cara terbaik yang kanda temukan untuk mengatasi perlawanan batin yang sering menghentikan kita untuk mengambil tindakan adalah untuk berada di saat ini sebanyak mungkin dan menerima. Mengapa? Nah, ketika dirimu berada pada saat ini dirimu tidak khawatir tentang saat berikutnya yang memang tidak mungkin dapat dikontrol."

Subadra tersenyum, "Kanda, dalam keenganan untuk bertindak itu, kadang aku berhasil membayangkan hal negatif di masa depan atau refleksi dari kegagalan masa lalu-sehingga ini akan menghilangkan kekuatan untuk bertindak. Adalah lebih mudah untuk mengambil tindakan dan untuk menjaga fokus pada saat ini dan mencoba melakukan yang lebih baik. Dan ingat bahwa berhubungan kembali dengan saat ini dan berada di saat ini adalah kebiasaan mental yang aku tumbuhkan. Seiring waktu akan menjadi lebih kuat dan membuatnya lebih mudah untuk masuk ke momen saat ini."

"Subadra istriku yang aku cintai, dari rahimmu yang suci telah lahir putra yang hebat, engka demikian sabar dan penuh pengertian padaku," kata Arjuna memujinya. "Kanda selalu merindukanmu, walaupun Drupadi dengan setia ada disampingku, namun jiwaku selalu ada padamu. Kesabaran itu pula aku selalu rindukan."

"Yang lemah tidak pernah bisa memaafkan. Memaafkan adalah perhiasan bagi yang kuat. Mata ganti mata hanya akan berakhir sampai membuat seluruh dunia buta," demikian jawa Subadra.

Arjuna menambahkan, "Memerangi kejahatan dengan kejahatan tidak akan membantu siapa pun. Engkau selalu memiliki pilihan bagaimana engkau bereaksi terhadap sesuatu. Ketika engkau dapat menggabungkan kebiasaan berpikir ini lebih dan lebih ke dalam kehidupan engkau, maka engkau dapat bereaksi dengan cara yang lebih berguna bagi engkau dan orang lain. Subadra! sepakatlah dirimu membuka wawasan dalam hening dan merasuk dengan narasi bahasa kasih sayang, bahwa diantara banyak keberuntungan yang dihasilkan oleh pikiran yang tenang, yang paling beruntung adalah hati yang senantiasa bersyukur atas segala yang ada dalam hidup ini. Ia yang berhasil menjadi perselancar di atas gelombang kehidupan akan mengalami pikiran yang tenang mirip dengan kolam tenang yang membuat bunga lotus mekar. Dan diantara semua bunga lotus yang mekar di dalam, yang terindah adalah hati yang penuh bersyukur."

Arjuna melanjutkan, "Subadra, istriku yang manis! Dirimu menyadari bahwa mengampuni dan melepaskan masalalu akan membebaskan dirimu dan memberikan layanan besar bagi orang-orang di sekitar dirimu. Dan menghabiskan waktu dirimu hanya dengan ingatan negatif tidak akan membantu anda untuk mempelajari pelajaran dirimu dari pengalaman tersebut. Hal itu hanya akan menyebabkan dirimu lebih menderita dan bahkan menahan dirimu untuk mengambil tindakan pada saat sekarang ini."

Arjuna berkata lagi, "Kurasakan ketulusan, kejujuran, dan kesetiaanmu padaku. Kini aku menyadari kalau dirimu begitu sangat sayang kepadaku. Tapi semua terasa menjadi tiada indah tanpa dirimu. Cinta tidak pernah meminta, ia senantiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membahas dendam. Cinta bisa membuat waktu terlewati, dan waktu pun bisa membuat cinta terlewati."

Subadra menatap dan diam lalu mengangguk sebagai tanda setuju, Arjuna berkata lagi, "Jika dirimu tidak memaafkan maka dirimu membiarkan masa lalu dan orang lain mengendalikan bagaimana dirimu merasa. Dengan memaafkan dirimu melepaskan diri dari belenggu tersebut. Dan kemudian dirimu dapat berfokus sepenuhnya pada rencana berikutnya."

Om Gam Ganapataye Namaha.

Oleh: Luh Made Sutarmi
Source: Majalah Hindu Raditya, Edisi 238, Mei 2017