Diperlukan Jnanavan Lahir dan Batin

Bahunam janmanam ante, jnanavan mam prapadyate, vasudevah sarvam iti, sa mahatma sudurlabhah artinya : Orang yang bijaksana akan datang kepada-Ku pada akhir banyak kelahiran, karena tahu Vasudeva adalah segalanya ini, sukar mendapatkan orang agung seperti itu.

Pada kutipan di atas ada satu penekanan yang sangat penting untuk dipahami baik secara lahir maupun secara batinnya. Apa sesungguhnya hakikat Jnanavan sesuai sumber suci Bhagawadgita. Jnanavan adalah orang yang bijaksana. Bisa pula diartikan orang yang arif, orang yang berbudi pekerti yang luhur, orang yang memiliki sraddha dan bhakti, orang yang memiliki tatakrama dan berkesabaran. Tentu dalam hal ini bahwa Jnanavan adalah bagaimana seseorang yang hidup di jagat raya terlebih dalam kebersamaan ini, diperlukan adanya kepribadian yang siap dan handal secara lahir dan batin.

Dalam kenyataan yang sering dijumpai bahwa banyak pribadi dari manusia yang nampak kulit luarnya sudah mapan, berwibawa, cerdas, berpengalaman, memiliki banyak relasi, dan sejenisnya, tetapi dalam kaitannya secara rohani dan spiritual lebih banyak kendala. Masih adanya berbagai masalah kerohanian yang sifatnya lebih banyak pada hal-hal yang abstrak. Idealnya, bahwa jnanavan tersebut perlu diseimbangkan antara kebijakan dalam bentuk fisik dan kebijakan dalam bentuk spiritual. Kenapa hal ini perlu diseimbangkan? Mengingat keseluruhan kelahiran di alam ini telah dibekali modal awal oleh Tuhan Yang Maha Esa (Vasudevah) berupa kekuatan lahir dan batin. Maka dari itu kekuatan lahir dan batin itu jangan sampai disalahgunakan dengan ketidakbijaksanaan dari pribadi-pribadi yang terlahir di alam raya ini.

Sebagai misal, bahwa Itihasa Ramayana melalui Prabhu Dasaratha begitu disegani dan dipuja-puji oleh rakyatnya berkat kebijaksanaannya dalam bertindak. Tidak salah rakyatnya memberikan sanjungan dan pujian, oleh karena Prabhu Dasaratha sangat pantas berpredikat sebagai orang atau pemimpin yang bijaksana. Predikat Jnanavan atau Gunamantha yang diberikan kepadanya adalah pantas, dengan alasan bahwa Prabhu Dasaratha seorang pemimpin yang paham dan ahli Veda, beliau juga sebagai prakktisi ajaran agama Hindu yang diaplikasikan melalui hormat, bhakti, memuja para Dewa atau Tuhan Yang Maha Esa. Inilah merupakan kebijaksanaan beliau secara batin.

Selain itu, beliau juga sangat hormat kepada para tetua, orang tua, tokoh, figur, atau para pengelingsir yang ada di wilayah kepemimpinan beliau. Beliau mewujudkan hidup harmonis melalui berbhakti kepada sesepuh atau orang tua (Pitara Puja). Ini artinya bahwa beliau tidak berani mengabaikan orang tua yang telah berjasa demi rakyat dan daerahnya. Tidak cukup hanya itu, bahwa Beliau juga sangat mengasihi seluruh rakyatnya. Tidak ada rasa dan prilaku yang pilih kasih atau memihak kepada warga yang dekat-dekat saja, atau hanya melindungi kepada warganya yang suka berpura-pura dekat seolah-olah menampakkan kebaikan dan kemuliaan, tetapi dalam realitanya membuat keonaran, kekacauan, dan suasana tidak kondusif.

Hal inilah yang patut diwaspadai dalam kondisi kekinian oleh setiap insan Hindu yang mendambakan dirinya untuk tampil sebagai pemimpin, figur, panutan, atau orang yang dituakan bagi rakyatnya, agar selalu berpenampilan arif dan bijaksana dalam menyikapi setiap persoalan yang muncul di tengah-tengah masyarakat.

Dengan modal utama berupa Jnanavan tersebut, diyakini bahwa perilaku orogan, over acting, memihak, pilih kasih, menjatuhkan yang satu dan membela yang satunya lagi, dan sebagainya, tentu hal yang demikian itu adalah kurang mencerminkan ketidak-bijaksanaan dalam bersikap. Konsep Jnanavan dalam pustaka suci Bhagavad-gita di atas, sesungguhnya memberikan sesuluh kepada kita sekalian umat manusia, terlebih sebagai insan sedharma yang berbahagia, kiranya perilaku yang bijaksana sangat dinanti-nantikan oleh segenap warga yang menjadi asuhan atau binaan di jagat raya ini.

Bagaimana cara menampilkan sikap yang jnanavan tersebut, serta mengendalikan diri agar tidak menampakkan sikap yang ajnanavan (ketidakbijaksanaan). Melihat dan mengkaji masalah yang satu dengan masalah yang lainnya diperlukan upaya yang arif searif-arifnya, upaya bijaksana yang sebijaksana-bijaksananya. Tidak lantas terkesan berlaku plin-plan atau mencla-mencle dihadapan umum, apalagi di era globalisasi yang selalu dilanda oleh serba multi, seperti multi teknologi, multi pengetahuan, multi sosial, multi informasi, multi budaya, multi permasalahan, dan sebagainya yang banyak tampil samar-samar dan canggih di jaman sekarang ini.

Harapan utama dari ajaran Jnanavan sesuai pustaka suci Bhagawad-gita tersebut adalah mewujudkan adanya pola sikap yang benar-benar bijaksana, baik secara lahirnya dan batinnya. Jangan sampai menampakkan pola laku yang penuh keragu-raguan. Dalam hal ini diperlukan sikap tegas setegas-tegasnya untuk bertindak demi kebaikan di semua pihak. Yang satu baik dan lainnyapun juga baik. Hal itulah merupakan dambaan dan harapan semua insan di jagat raya ini. Bagaikan aliran air untuk tumbuh dengan subur, tetapi disisi lain bahwa tanaman lainnya di seputar kebun tebu itu juga sama-sama membutuhkan air, yang juga sama-sama ditanam, oleh si tukang kebun. Dengan harapan bahwa kebun tebu suatu saat dapat dipanen dan tanaman lainnya pun juga sama akan dipanen oleh si petani itu sendiri.

Kemudian hakikat dari konsep Jnanavan tersebut adalah bagaimana kebijaksanaan itu dapat dimiliki melalui jenjang pendidikan informal, formal, dan nonformall secara seimbang. Kesemua jenjang sama-sama berpeluang untuk mewujudkan kebijaksanaan secara lahir dan batin. Terlebih lagi di era modern ini sangat diperlukan sekali kehadiran dari sedharma yang sangat arif bijaksana bagi dirinya, bagi keluarganya, dan bagi sesama dalam masyarakat.

Kearifan dan kebijaksanaan bukan hanya diperlukan untuk kepentingan pribadi semata, tetapi lebih dari itu adalah demi semuanya. Secara lahirnya seperti itu, kalau secara batinnya, kiranya dapat meniru pola sikap arif bijaksana model Prabhu Dasaratha di Ayodhya Pura, bahwa kearif-bijaksanaan dalam rohani atau batin juga beliau prioritaskan, baik secara pemahaman dan aplikasinya, sehingga beliau benar-benar dicintai, dihormati, dan dimuliakan oleh seluruh rakyatnya. Hal itu beliau lakukan, oleh karena beliau memiliki visi dan misi yang mulia yakni untuk dapat mewujudkan masyarakatnya yang sejahtera lahir dan batin (shanta jagadhita).

Source : I Ketut Subagiasta l Warta Hindu Dharma NO. 506 Pebruari 2009