Dimensi Pekerti Yoga Famili

Yoga pada intinya adalah mengupayakan orang agar mampu meluaskan kesadarannya sampai keadaan tak terhingga. Semakin luas kesadarannya, semakin mereka mampu merasakan kedekatan dengan lingkungan sekitar. Bahkan, dalam konteks tertentu, mereka tidak hanya merasa dekat, melainkan menyatu dengan apapun itu. Ini adalah prinsip Dharma tertinggi, dimana keharmonisan sejati terjadi setiap saat. Jika saja pada setiap keluarga memiliki kualitas ini, tentu kehidupan yang ideal akan bisa diarungi. Dunia tidak akan mengenal lagi kekerasan, peperangan, penindasan, keresahan, ketidakbahagiaan dan yang sejenisnya.

Keluarga bisa dijadikan barometer mengapa ketidakharmonisan itu terjadi. Jika seandainya setiap keluarga bahagia, maka masyarakat akan bahagia, negara pasti sejahtera, jika setia negara sejahtera, tentu dunia akan damai. Siapapun yang mencoba mendamaikan dunia akan gagal, jika keluarga-keluarga penuh dengan masalah. Maka dari itu yang perlu dibenahi bukan dunia, melainkan keluarga. Seperti halnya pohon, keluarga adalah akar sementara dunia adalah daun. Jika kita ingin pohon itu tumbuh subur dan berdaun lebat, memelihara akar adalah kemutlakkan.

 Menyembuhkan penyakit di dalam keluarga menjadi sangat penting untuk dilakukan. Di sini, praktik Yoga tidak bertujuan untuk menciptakan kebahagiaan, kesejahteraan, dan kedamaian dunia, melainkan mencoba menumbuhkan pohon kesadaran yang ada pada masing-masing individu. Kebahagiaan dan sejenisnya adalah by product dari kesadaran. Maka dari itu, kesadaran individu dari institusi terkecil, yakni keluarga mesti harus dibangun.

Budhi perkerti bukan masalah pelajaran dan pengetahuan, tetapi masalah laku sehari-hari. Siapapun yang mencoba mengajarkan budhi pekerti akan gagal dengan sendirinya, sebab ia bukan konten pengetahuan, melainkan keteladanan. Mereka yang mampu menjadi teladanlah yang bisa mewariskan budhi pekerti. Bagaimana orang bisa menjadi teladan? Hanya ketika mereka memiliki kebijaksanaan. Bagaimana supaya bijaksana? Jika ada perluasan kesadaran. Semakin luar kesadaran kita, semakin bijaksanalah kita, dan semakin bisa menjadi teladan. Bagaimana kesadaran itu diperluas? Yoga adalah salah satu teknik yang paling efektif untuk itu, sebab ajaran Yoga adalah sebuah penelitian ke dalam diri. Atas dasar itu, Yoga mesti dipraktikkan disetiap keluarga.

Mengapa keluarga menjadi inti? Karena seluruh warisan, baik genetis maupun peradaban ada pada keluarga. Orang tualah yang mewariskan gen kepada kita, orang tua pulalah yang mengajarkan dan menularkan peradaban, seperti sistem budaya, sosial, agama, dan yang lainnya. Orang tua pula yang bertanggungjawab terhadap kelangsungan kehidupan generasi berikutnya. Jika warisan orang tua berwarna hitam, maka generasi berikutnya  juga akan berwarna hitam, apapun itu. Kalaupun generasi berikutnya melakukan renovasi dan innovasi, namun yang bisa dilakukan hanyalah teknologi serta tata caranya saja, bukan karakter dasarnya. Seperti misalnya, perang antar bangsa yang telah terjadi dari sejak dulu sampai sekarang. Artinya, gen kekerasan dari leluhur terdahulu sampai saat kini tidak mengalami perkembangan, sebab dewasa ini perang antar bangsa tetap terjadi, dan bahkan lebih rentan. Secara ilmu dan teknologi, dewasa ini jauh lebih maju, tetapi kesadaran mereka jaman dulu sampai sekarang tetap sama.

Harimau secara genetis telah ditakdirkan untuk menjadi pemangsa. Demikian juga manusia secara genetis ditakdirkan hadir bersama kesadarannya. Yang membedakan hanyalah manusia memiliki kelebihan budhi. Sayangnya, budhi yang menjadi piranti manusia hanya digunakan untuk meningkatkan teknologinya, ilmu pengetahuannya saja. Budhinya belum diolah agar mampu meningkatkan kesadaran dirinya. Gen ini yang kita warisi, sehingga apapun kesadaran pendahulu kita, generasi kita juga tidak bisa lebih dari itu. Jika jaman dulu orang perang menggunakan tombak dan pedang, dewasa ini menggunakan tank dan rudal. Peralatannya berbeda, tetapi sama-sama perang.

Belum lagi orang tua mewariskan tradisi bermacam-macam, yang terkadang menjadikan diri kita bertopeng, tidak asli, hidup penuh dengan kepura-puraan, tidak otentik. Seperti misalnya, kita diajarkan bahwa ramah dengan orang lain itu baik padahal diri kita yang sebenarnya tidak ramah, sehingga keramahan yang kita tunjukkan buka ekspresi murni, melainkan hanya drama. Demikian juga, orang tua mewariskan sistem persaingan yang sangat kuat, seperti misalnya mencekoki bahwa trahnya yang paling bebat, mengajarkan agar mampu memenangkan setiap pertarungan, perlombaan dan yang sejenisnya. Saat ini dunia pendidikan pun mengadopsi sistem persaingan ini, sehingga bersaing itu tampak baik. Namun, apapun jenis persaingan tersebut, permusuhan, peperangan, dan ketegangan yang terjadi akarnya berasal dari nilai yang inheren di dalam persaingan itu.

Oleh: I Gede Suwantana
Source: Majalah Wartam, Edisi 26, April 2017