Diksa dalam Saiva Siddhanta Dua

(Sebelum)

4. Pengertian "Diksa"

Kata "diksa" mempunyai makna ganda. Morfem 'di' bermakna 'memberi' (dana); 'ksa' bermakna 'menyingkirkan, menghilangkan' (ksaya). 'Memberi' digunakan karena diksa (inisiasi) menganugrahkan sivatva; 'penyingkiran'; 'pemindahan' digunakan karena ia menyebabkan penghancuran ketiga belenggu (pasa) (Siddhantasaravalli, 57-58). Hasil yang dicapai dengan inisiasi (diksa) adalah terjadinya dua perubahan mendasar pada jiva, suatu kondisi rohani yang mendukung tercapainya pembebasan (moksa), menghilangkan atau menghancurkan belenggu (pasa) dan memanifestasikan atau memunculkan kekuatan Siva (sivatva). Dua kondisi ini bagaikan jalan lapang memungkinkan seorang yang telah di-diksa menuju Siva.

Diksa dilakukan oleh guru yang dipandang telah mampu untuk menyalurkan kekuatan sakti Siva dalam wujud Wagisvari sehingga yang di-diksa ke-siva-annya muncul dan berkembang. Penampilan, tutur kata yang bersangkutan mencerminkan Siva; karenanya ia dihormati, dipanuti, dijadikan suri tauladan dan pencerahan oleh masyarakat. Dalam pengertian ini diksa sama dengan anugraha dari Siva (Anugraha salah satu dari Pancakrtya dari Siva). Hanya dengan diksa atau anugraha Siva, yang bersangkutan melalui usahanya sendiri mampu mencapai moksa. Oleh karena itu guru dipandang sebagai penunjuk jalan menuju Siva.

Ada tiga jenis diksa, yaitu (1) Samanya diksa, (2) Visesa diksa dan (3) Nirvana diksa. Yang pertama diberikan kepada masyarakat umum pengikut ajaran Siva, yang kedua adalah diksa yang sifatnya khusus dan terakhir diksa diberikan kepada ia telah layak berdasarkan pertimbangan guru untuk dapat mencapai moksa. Yang terakhir ini diberikan tidak kepada sembarang orang melainkan yang benar-berr layak untuk itu. Kualitas diksa yang terakhir dipandang yang tertinggi.

5. Pembebasan melalui Diksa

Jiva di dalam usaha membebaskan dirinya dari belenggu haruslah aktif secara lahir bathin. Datang ke tempat suci, mendengarkan wejangan guru, melayani pemuja-pemuja Siva, hidup dalam aturan moral dan etik merupakan tanda-tanda belenggu seseorang mulai masak, dan dengan meningkatkan usaha-usaha kesucian, belenggu akan semakin masak sehingga daya lekat atau tekannya semakin melemah. Dengan demikian jiva semakin cerah, dapat meningkatkan kualitas kecerdasannya dalam setiap tindakan yang ia lakukan. Akhirnya proses memasaknya belenggu ini bisa mengarahkan seseorang kepada momentum yang paling penting di dalam hidupnya, yaitu inisiasi (diksa). Inilah sebuah tahapan yang ditunggu-tunggu oleh setiap pengikut ajaran Saiva Siddhanta karena melalui proses ritual diksa seseorang diberikan kekuatan Siva oleh guru yang melaksanakan diksa.

Guru di sini sebagai wujud Siva yang nyata. Tanpa diksa, moksa tidak akan mungkin dicapai. "Diksa membebaskan seseorang dari belenggu yang ekstensif yang meng-halangi tujuan tertinggi dan menuntun seseorang naik ke atas ke istana Siva (Svayambhuvagama). Inisiasi (diksa) adalah penganugrahan kekuatan Siva yang paling tinggi kepada jiva manusia. Karena begitu dekatnya antara ritual pembebasan dan anugrah Siva, teks-teks Siva menggunakan istilah diksa dan anugraha secara sama. Inilah konsep yang sangat khas di dalam ajaran Saiva Siddhanta. Para penganut ajaran Siva Siddhanta memandang ritual yang dikenal dengan "inisiasi pembebasan" (nirvana diksa) sebagai peristiwa yang amat penting, mendasar, dan strategis di dalam pendakian jiva menuju pembebasan. Melalui ritual ini akan terjadi perubahan yang radikal. Dengan inisiasi (diksa), seseorang yang teguh dalam disiplin dan pemujaan ditempatkan di atas rute yang langsung untuk mencapai pembebasan selama masa hidupnya.

Jadi, peranan dan fungsi diksa di dalam perjalanan rohani manusia yang sangat penting. Namun, tidak semua orang bisa di-diksa tanpa melalui evaluasi dan pendidikan dari seorang guru yang telah mampu menghadirkan Siva di dalam dirinya Aghorasiva dalam teks Kriyakramadyotika menyebutkan paling sedikit satu tahun seorang calon diksa tinggal dan hidup di dalam keluarga guru (gurukula). Ini adalah kesempatan yang baik bagi guru untuk meneliti dan mengamati perkembangan emosi, rohani dan integritas diri seseorang yang akan diberikan nirvana diksa. Metode pendidikan calon diksa seperti ini masih diterapkan hingga sekarang di dalam tradisi Saiva Siddhanta.

6. Saktinipada

Tidak semua orang dapat diberikan diksa, atau diksa tidak diberikan kepada sembarang orang. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi. Yang paling tahu masalah ini adalah guru kerokhanian. Jika ini dilanggar keadaannya akan dapat merusak ajaran Siva dan tatanan masyarakat yang diilhami oleh akaran Saiva Siddhanta. Diksa yang diberikan kepada orang-orang yang belum tepat akan merongrong dan bahkan akan menjatuhkan lembaga diksa itu sendiri. Jadi agar ritual diksa mempunyai efek yang kuat, maka calon diksa harus siap untuk itu. Kesiapan ini menyangkut fisik dan mental.

Jika belenggu belum bisa disingkirkan dan cengkramannya masih kuat membelenggu jiva, maka sekuat apapun ritual yang diberikan tidak akan ada hasilnya. Diksa berjalan begitu saja, namun yan di-diksa tidak mengalami perubahan rohani yang berarti. Secara rohani, seseorang yang di-diksa oleh guru harus jujur terhadap kualitas rohaninya, tidak bisa atas nama diksa lalu yang bersangkutan bisa berbuat apa saja sesuai dengan keinginannya. Jangan bersembunyi di balik institusi diksa.

Diksa adalah kesucian jiva bukan semata-mata kemampuan intelektual. Intelektual tidak mampu melihat, merasakan eksistensi Siva, hanya kejernihan hati dan kesucian jiva dan keyakinan dengan penuh rasa bhakti. Alhasil, anugraha Siva bisa didapatkan. Itulah sebabnya dikatakan filsafat India (darsana) bersifat meta etika dan meta logika. Kebenaran intelektual tidak akan mampu menjamahnya. Hanya ketika belenggu telah masak dan telah memasuki keadaan puncaknya barulah seorang calon diksa bisa diberikan diksa. "Ketika Siva melihat bahwa mala-nya jiva masak dan siap untuk disingkirkan" kata Aghorasiva, "ia mempersiapkan instrumen disebut diksa yang bentuknya adalah Sakti-nya sendiri untuk membebasakan jiva tersebut (Tattvatrayanirnaya, 21).

Karenalah, persiapan dan observasi sangat perlu sebelum melaksanakan ritual yang sangat penting ini. Ritual ini harus dipahami secara mendalam menyangkut pengertian dan efeknya pada perkembangan rohani seseorang yang telah di-diksa.

Source: I.B. Putu Suamba l Warta Hindu Dharma NO. 480 Januari 2007