Di Perbatasan Lidah, Sejatinya Zona Anugerah

LAGI KITA bicara tentang lidah. Karena lidah adalah sarana berucap, berbahasa, dan menyuarakan sari-sari shastra. Dan juga karena lidahlah yang biasanya dirajah dalam upacara inisiasi, untuk mendudukkan Saraswati, bahkan Sang Hyang Pashupati, agar kata-kata yang ke luar tidak kosong seperti ampas. Berikut ini, sedikit tambahan perbincangan tentang lidah.

ADA PANDANGAN seperti berikut ini dalam shastra. Ujung lidah adalah puncak tertinggi dari alam panca mahabhuta yang ada di dalam tubuh setiap manusia. Sekadar untuk mengingatkan, alam panca mahabhuta itu adalah energi tanah, air, api, angin, dan udara. Di dalam setiap tubuh manusia, kelima energi alam itu menempati posisinya masing-masing berurutan dari bawah ke atas. Yang paling bawah adalah tanah, dan yang paling atas adalah udara, atau umumnya disebut akasa. Ujung lidah adalah saluran tertinggi dari energi akasa. Simpulannya: dari ujung jari kaki sampai ke ujung lidah adalah wilayah panca mahabhuta di dalam setiap tubuh manusia.

Lang adalah sukukata representasi energi tanah. Wang adalah sukukata representasi energi air. Rang adalah sukukata representasi api. Yang adalah sukukata representasi energi angin. Hang adalah sukukata representasi energi udara. Demikian antara lain yang disebutkan dalam shastra. Kelima sukukata itu kemudian dirangkai menjadi satu rajahan modre dengan cara menumpukkannya dari bawah ke atas sesuai dengan urutannya.

ADA PULA PANDANGAN seperti berikut ini di dalam shastra. Ujung hidung adalah saluran terbawah dari alam Shiwa yang ada di dalam setiap tubuh manusia. Sekadar mengingatkan, yang dimaksud alam Shiwa dalam tubuh adalah bagian kepala, mulai dari sekitar duabelas jari di atas ubun-ubun sampai di ujung hidung. Simpulannya: dari ujung rambut sampai ujung hidung adalah wilayah Shiwa dalam setiap tubuh manusia, dan ujung hidung adalah bagian terbawah dari alam Shiwa.

KEDUA PANDANGAN ITU tidaklah berdiri sendiri-sendiri. Keduanya adalah satu kesatuan yang menggambarkan tubuh manusia secara sederhana. Disebut sederhana, karena tubuh manusia dibedakan atas dua bagian, yaitu panca mahabhuta dan Shiwa. Alam panca mahabhuta disebut pradhana. Alam Shiwa disebut purusha. Sekali lagi, dari ujung jari kaki sampai ujung lidah adalah wilayah pradhana. Dari ujung rambut sampai ujung hidung adalah wilayah purusha.

SECARA BIOLOGIS, ujung hidung tidak bertemu dengan ujung lidah. Oleh karena itu, secara biologis pula, energi purusha dan energi pradhana tidak bertemu di dalam tubuh. Kedua ujung itu bisa dipertemukan dengan cara mistis. Tujuan mempertemukan keduanya adalah untuk mencapai efek mistis pula. Salah satu efek mistis yang paling utama adalah didapatkanya apa yang oleh para yogi disebut amerta, alias energi kehidupan yang membuat hidup benar-benar hidup.

Menurut para Yogi, amerta itu turun dari alam Shiwa, tepatnya dari duabelas jari di atas ubun-ubun, melewati dahi, melewati pertemuan dua alis, dan kemudian menetes melalui lubang rahasia yang ada di ujung hidung. Tetesan amerta itu diusahakan jatuh tepat di ujung lidah yang dijulurkan ke luar. Kemudian lidah menelan amerta itu, dan amerta itu kemudian menyebar ke seluruh sendi-sendi tubuh. Dengan amerta itu, maka secara mistis tubuh bukan hanya diruwat tapi juga di-pashupati sehingga benar-benar hidup. Itulah yang oleh para yogi disebut sari-sari yoga.

URAIAN SINGKAT di atas menunjukkan bahwa ada satu daerah perbatasan di dalam tubuh manusia. Perbatasan itu terletak di antara ujung lidah dan ujung hidung. Perbatasan itu tidak hanya memisahkan dua bagian, yaitu atas dan bawah, tapi juga mempertemukan keduanya. Perbatasan adalah wilayah yang sejatinya sangat rawan. Tapi perbatasan juga sejatinya zona yang penuh dengan anugerah.

SATU LAGI ANUGERAH dari perbatasan adalah shakti-kata. Dalam bahasa tradisi, shakti-kata juga disebut siddhimantra. Konon siddhimantra adalah suara hati yang tidak lagi bisa dibedakan antara yang berkata dengan yang dikatakan. Akhirnya, satu penjelasan yang masih susah dicerna, siddhimantra adalah mantra yang tidak lagi bermantra. Kunci untuk memahaminya, konon, adalah aksara Hangsa yang terdiri dari Ardhacandra, Windu, Nadha, yang ketiganya memang tidak bisa disuarakan. Tapi kunci saja tentulah belum cukup untuk membuka sebuah pintu rahasia. Lebih penting dari kunci itu adalah pengetahuan sejati tentang kunci itu sendiri.

MAKANYA, sampai di sana, seorang pertapa biasanya harap-harap cemas, lantaran ia tidak pernah tahu karena apa sebenarnya sebuah pintu rahasia itu bisa terbuka. Kunci saja tidak cukup. Alangkah ironisnya nasib orang yang berbekal seribu kunci tapi gagal membuka sebuah pintu di dalam dirinya sendiri.

Oleh: IBM Dharma Palguna
Source: Balipost Minggu, 10 Oktober 2010