Dharma, Jalan Menuju Keabadian

Kita semua tahu bahwa tujuan hidup menurut ajaran Agama Hindu (baca: Veda) adalah untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat (Moksartham Jagadhita) dengan ^tenjadikan kebahagiaan di dunia (materi) sebagai tujuan sementara dan kebahagiaan di akhirat yang bersifat abadi sebagai tujuan akhir. Hal sebagaimana yang disebutkan dalam Catur Purusa Artha (Empat Tujuan Hidup Manusia), yaitu: Dharma, Artha, Kama dan Moksa.

Tujuan sementara (Jagadhita) yang dimaksud di atas pada hakekatnya adalah sebagai pembuka jalan atau semacam batu loncatan untuk mencapai tujuan yang terakhir, moksa atau kelepasan (pembebasan) yang juga dikenal sebagai "Manunggaling Kawula Gusti", Bersatunya Atman (Kawula) dengan Brahman (Gusti). Akan tetapi sudahkah kita menjadikan Jagadhita ini sebagai awal untuk mencapai moksa? ini yang nampaknya masih harus kita pertanyakan.

Banyak orang yang semula dalam mencari artha (materi) di dunia ini hanya untuk dharma semata. Namun ketika materi yang kita cari itu sudah kita dapatkan, kadang kala kita lupa pada tujuan semula, yaitu dharma karena terlalu atau pun senang, puas dan sebagainya. Hal ini dapat kita umpamakan dengan seseorang yang bepergian sebagai mana yang pernah dikatakan oleh Woodworth, seorang ahli psikologi terkenal di dunia Barat.

Suatu misal seseorang akan pergi dari A ke Z. Dan untuk sampai ke Z, menurut pengalaman orang tersebut jalan yang paling enak adalah dengan lewat M. Ketika orang itu sudah sampai ke M yang merupakan setengah perjalanan menuju Z, dalam hal yang demikian karena terlalu senang, gembira dan lain-lain biasanya orang tersebut sering lupa akan Z sebagai tujuannya. Fenomena yang seperti inilah yang kerap sekali terjadi dalam kehidupan kita. Karena terlalu senang akan artha yang diperolehnya seseorang bisa lupa akan dharma.

Memang dunia materi itu menyenangkan dan dapat memutuskan kita. Segala apa yang kita inginkan akan terpenuhi dengan materi tersebut. Seakan-akan segala yang menyangkut kehidupan ini dijamin oleh yang namanya materi. Tetapi kita harus ingat bahwa segala kesenangan dan kepuasan akan materi tersebut adalah sementara adanya. Apapun yang bersifat materi tersebut akan habis termakan oleh Sang Waktu (Kala). Tatkala mau menjemput kita materi tidak bisa menyelamatkan kita. Lalu siapa penyelamat itu?

Jawaban atas pertanyaan ini dapat kita temui pada Canakya Niti Sastra V. 15 yang berbunyi: "Vidya mitram pravasesu bharya mitram grhesu ca, Vyadhitasyausadnam mitram dharmo mitram mrtasya ca". (Teman pada saat tinggal di negeri orang adalah ilmu pengetahuan, teman di rumah adalah istri, teman bagi orang-orang yang sakit adalah obat, dan bagi orang yang sedang menghadapi kematian satu-satunya teman adalah Dharma/Ajaran-ajaran Kebenaran).

Akan tetapi bukan berarti hanya pada saat-saat menjelang ajal (tua) kita harus berbuat dharma karena kita hidup ibarat anak sekolah. Siapa yang rajin masuk dan belajar, besar peluangnya akan lulus ujian. Sebaliknya siapa yang sering bolos dan tidak pernah belajar kemungkinan besar ia tidak akan lulus dan harus "mengulang". Jadi dengan sering berbuat Dharma, kita akan berpeluang besar untuk mendapatkan tiket menuju svarga atau pun nirvana sebagaimana yang termaktub dalam Kitab Sarasamuscaya sloka 14 yang bunyinya:

"Ikang dharma ngaranya, henuning mara ring svarga ika, kadi gatining parahu, an henuning banyaga nentasing tasik"

(Yang disebut dharma, adalah merupakan jalan untuk pergi ke svarga, sebagai halnya perahu, sesungguhnya merupakan alat bagi pedagang untuk mengarungi lautan).

Dari sloka di atas, jelaslah bahwa bukan harta atau pun tahta yang bisa menyeberangkan kita dalam samudera kehidupan ini, melainkan dharmalah yang bisa kita gunakan untuk menyeberanginya. Lalu dharma yang bagaimanakah yang bisa dijadikan jalan untuk itu?

Hal ini bisa kita lihat pada Kitab Siva Samhita II. 51 yang menyebutkan :

"Samsara sagaram tarttum yadicched yoga sadnakah krtva varnasramam karma phala varjam tadayet."

(Bila para pelaksana yoga berkehendak untuk menyeberangi lautan duniawi, ia harus melaksanakan kewajiban dharma asramanya/tingkat kehidupan, dengan melepaskan segala hasil kegiatannya)

Sloka di atas memberikan petunjuk kepada kita agar dalam menjalankan dharma asrama (kewajiban pada setiap tingkat kehidupan) kita tidak melihat pamrih/hasil dari dharma tersebut, kalau memang kita ingin menyeberangi samudra kehidupan untuk menuju Pulau Kebahagiaan yang Abadi. Hal yang seperti itu juga terlontar dalam pepatah Bahasa Jawa yang berbunyi, "Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe".

Sayangnya hal itu juga sulit dilakukan dan hampir-hampir tidak kita temukan pada jaman sekarang yang notabene merupakan Jaman Kali (Kali Yuga), memang sudah jamannya di mana bukannya artha dan kama yang kita gunakan untuk menuju dharma, tetapi sebaliknya dharma yang sering kita manfaatkan untuk menuju artha dan kama. Namun kita tidak boleh munafik dengan hanya pasrah begitu saja menghadapi kesulitan jaman ini dan memanfaatkannya untuk mengejar kesenangan akibat nafsu serakah kita, yang sebenarnya merupakan akar dari kesulitan tersebut. Untuk, itu sebenarnya nafsulah yang harus kita perangi bukan Jaman Kali seperti saat sekarang ini. Dan yang perlu kita ingat pula bahwa pada hakekatnya kesukaran yang kita jumpai dalam menempuh tujuan merupakan jalan terdekat ke arah tujuan tersebut.

Dalam pada itu sangat penting kita untuk berusaha melaksanakan dharma tersebut tanpa mengharapkan jasa atau pun imbalan dalam bentuk apa pun. Karena imbalan atau jasa itu akan datang sendiri tanpa kita memintanya seperti halnya pada jaman dahulu para pejuang-pejuang kita yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk merebut kemerdekaan tanpa mengharapkan kedudukan dan sebagainya sekarang tanpa diminta pun nama dan budi mereka diabadikan untuk selama-lamanya.

 

Source: Miswanto l Warta Hindu Dharma NO. 424 Juni 2002