Dewi Saraswati Dalam Kesusastraan Weda [4]

(Sebelumnya)

Saraswati sebagai dewi kebijaksanaan dan Pengetahuan

Dewi Saraswati hingga saat ini lebih dikenal dengan dewi kebijaksanaan dan pengetahuan sehingga sangat dekatd engan para pelajar, guru, perguruan sekolah, walaupun di dalam zaman weda ia lebih dikenal dengan dewi sungai. Namun kita temukan beberapa Sukta yang mengisyaratkan dia sebagai dewi kebijaksanaan dan pengetahuan, didalam salah satu Sukta Rg-Weda kita temukan: "Codayitri sunrtanam cetaniti sumatinam yajnam dadhe saraswati". Di dalam Asvalayana Grhyasutra Saraswati dipuja dan dimohonkan memberikan kecerdasan kepada bayi yang baru saja dilahirkan. Di dalam Grhsutra paraskara kita melihat Saraswati juga dimohonkan membe¬rikan wawasan dan kecerdasan kepada pemuja-pemujanya. Ayat ini sangat penting karena ia mencerminkan salah satu ungkapan perasaan pemujannya yang paling khusuk kepada Saraswati. Ayat tersebut : "Saraswati; tingkatkanlah kecerdasan kami ini yang pemurah, yang cantik kepada siapa kami memuja pertama-tama, bahwa didalam siapa apa yang lahir, di dalam siapa dunia ini berada".

Di dalam salah satu wacana Hiranyake Griyasutra Saraswati sebagai dewi berhubungan dengan pengetahuan disebutkan. Didalam Ramayana Saraswati dipandang sebagai seorang dewi ujaran atau kata-kata (vak). Dalam Mahabrata di dalam Purana-purana belakangan Saraswati berhubungan dengan pembelajaran berulang-ulang disebutkan dan aspek ini mendapatkan penekanan. Dalam kedua epos besar Mahabrata dan Ramayana Sarswati disebut lidah Wisnu. Bahkan Mahabarata, yaitu pada bagian Santi Parwa menyatakan Saraswati sebagai "Ibu dari Weda", (Vedanam Mataram Pasya). Rsi Vyasa, prnggubah Mahabrata memohon anugrah dari dua dewa, yaitu Narayana dan Saraswati sebelum memulai menulis karya agungnya, Narayam Namaskrtya Naram Caiva Narottamam / Devim Sarasvatim Vyasam Tatojayam Udirarayet (Mahabrata, 1.1.1).

Saraswati sebagai Dewi Seni dan Musik

Sebagai dewi yang berkuasa atas ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan maka sangat beralasan jika ia digambarkan sebagai seorang dewi yang mengayomi bidang pembelajaran lain yaitu sebagai dewi seni dan musik. Bagi para penari, budayawan, musisi, pelukis, dan seniman umumnya Saraswati menjadi pusat konsentrasi dan pemujaanya. Mereka memohorn anugrah dan karunianya sebelun ia menciptakan suatu karya seni atau sebelum membawakan suatu karya seni.

Di dalam Kamasutra karya Vatsyayana, kita melihat bahwa masyarakat yang sejahtera biasa bersembahyang setiap hari ke empat belas di kuil saraswati untuk menyaksikan penggelaran darama atau tari dan sebagainya. sebagai seorang dewi yang dihubunkan dengan musik, Saraswati sering digambarkan di dalam seni dan kesusastraan memegang alat musik Wina.

Musik dianggap membentuk weda ke lima ketika keempat weda dilarang bagi mereka yang tidak Dwijati dan menurut barata musik rama nyanyian, dan lukisan sama nilainya dengan mantra- mantra weda. Jadi, brahmi tidak hanya menurunkan weda tetapi juga pikiran, Vokal, musik kepada Gandarva, Huhu dan tumburu, tarian kepada para akasara; dan ilmu musik dan Drama kepda Narada dan Barata.

Saraswati sebagai Tabib

Dewi Saraswati juga dipandang sebagai seorang tabib di zaman Weda. Di dalam Satapatna Brahmana, Saraswati sering muncul sebagai dewi yang bisa menyembuhkan penyakit. Dalam satu sastra disebutkan: "mereka mengatakan kepada Saraswati, akhirya engkau adalah seni menyembuhkan penyakit". Konsepsi Saraswati sebagai dewi yang yang dapat menyembuhkan penvakit dapat dilihat di dalam Rg-Weda dimana dia bersama-sama dengan para Aswin dikatakan telah menyembuhkan Indra. Refrensi yang sama juga di temukan di dalam Vajasaneyei Samhita. Di dalam samhita yang sama kita melihat Saraswati sebagai istri para Aswin yang secara universal mencerminkan tabib-tabib dewata.

Aspek ini juga melekat pada diri Dewi Saraswati. Oeh karena itu, ia selalu dipuja dan disembah oleh tabib-tabib atau dukun-dukun memohon kekuatannya agar mampu membantu mengagugungkan akal dari pada hati nurani, mereka tumbuh semakin individualistis, hedonis; sementara rasa kebersamaan, persaudaraan, gotong royong sudah semakin menipis. Bagi sementara orang beragama dimaknai secara secara formal saja bukan dijadikan sarana untuk meningkatkan kejati dirian yang sesungguhnya adalah spirit. Banyak juga orang bersembunyi di balik ajaran agama untuk melancarkan maksud-maksud jahatnya.

Nah, sekarang adakah dari pemaknaan Saraswati ini mampu mempersempit jurang tersebut. Bagaimana Saraswati Puja mampu menggugah kesadaran diri agar secara perlahan-lahan pasti mengembang ke kesadaran yang lebih luas dan kosmik. Memang semestinya setiap kita melaksanakan Puja saraswati disertai dengan perluasan kesaaran diri menuju kesadaran universal bahwa pengetahuan sekuler bukanlah segala-galanya, masih ada pengetauan spiritual (jnana) yang akan benar-benar membawa manusia menuju kebahagiaan baik sekala maupun niskala.

Pengetahuan sekuler memang dibutuhkan untuk ke-sejahtraan duniawi (prazvrti). Pengetahuan rohani (tattiua jnana) merupakan jalan rohani (niwrti) meuju Yang Maha Tunggal. Saraswati ada di sana: sebagai alat adan tujuan hidup umat manusia. Saraswati sbagai Dewi Pengetahuan dan Kebijaksanaan hendaknya dimaknai lebih dalam lagi di dalam rangka membina diri, keluarga dan masyarakat luas. Dalam masyarakat, bangasa dan negara yang segala aktivitasnya dijiwai oleh nilai-nilai jnana, kesucian yang akan mampu benar-benar membawa kebahagiaan lahir (abhayudaya) da rohani (nishsreya).

Demikian Saraswati merupakan dewi yang penting bagi kehidupan manusia di bumi karena ia sangat lekat dengan kehidupan manusia sehari-hari. Rg-Weda dan kesusastraan Weda lainnya banyak mengungkapkan keberadaan Dewi Saraswati. Sebagai dewi sungai, ia memberikan kesuburan, kesegaran dan kemakmuran kepada penyembahnya. Sebagai dewi ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, Dewi Saraswati memberikan peranan, pencerahan ilmu pengetahuan kepada umat manusia sehingga dunia ini terang oleh api ilmu pengetahuan sehingga manusia menjadi insan disamping berpengetahuan tetapi mempunyai ebijaksanaan (wisdom). Aspek-aspek-aspek ini sangat banyak, demikian juga atribut-atributnya yang apabila ditelusuri lebih lanjut kita akan mempu mendudukkan Saraswati pada tempatnya yang sangat strategis di dalam pembinaan umat manusia di tengah-tengah arus globalisasi.

Oleh: I BP. Suamba
Source: Warta Hindu Dharma NO. 526 Oktober 2010