Dewi Saraswati Dalam Kesusastraan Weda

Ambitaname naditame devitame
Sarasvati Avarasasta ivasmasi
Parasastim amba nas krdhi
(Rg-Weda, 2.41.16)

[O Ibu terbaik, o sungai terbaik, o dewi terbaik,
Saraswati,(kami merasakan) seolah-olah tidak diberikan
Perhatian, mohon anugrahkan kami dengan kemasyuran, o ibu]

Saraswati dengan segala aspeknya senantiasa menarik untuk kita renungkan apalagi saat-saat kita mnyambut dan menyucikan hari suci Saraswati. Pendalaman, penghayatan makna dan signifikasi Saraswati terasa semakin penting di masa-masa umat manusia dihadapkan dengan berbagai persoalan sebagai dampak kemajuan teknologi yang demikian pesat dan sekulerasasi nilai-nialai agama yang semakin menggenjala. Pemaknaan tersebut dapat memberikan dan memperkokoh pendakian rihani kita. Pemaknaan apapun yang kita lakukan semuanya mengacu kepada Weda dan kesusastraan Weda baik yang berbahasa Sansekerta maupun Jawa kuno sebagai sumber yang banyak menyebutkan keberadaan Saraswati.

Acuan-acuan geografis seperti direkam oleh kitab-kitab Weda dan tradisi yang masih berkembang di masyarakat India juga merupakan bahan yang berharga di dalam memahami Saraswati sebagai salah satu dewi yang dipuja, diagungkan oleh pengikut-pengikut ajaran Weda.

Umat Hindu di India sejak zaman

Weda hingga sekarang memuja dan mengagungkan Dewi Saraswati. Mereka melaksanakan Saraswati Puja pada hari kelima setelah bulan Purnama (Panchanii Tithi) dan disebut Sukla Pancami pada bulan Magha (Januari-Februari). Hari ini juga disebut Vasanta-Panchami. Tetapi pada beberapa daerah di India Saraswati Puja dilaksanakan pada Sukla Paksa bulan Asvina (September-Oktober); biasanya dilaksanakan pada Austami Tithi dalam bulan tersebut. Sementara di Indonesia (baca : Bali) Saraswati Puja dilaksanakan pada hari wuku terakhir dalam sistem kalender wuku, yaitu Saniscara Watugunung.

Tulisan ini mencoba membahas keberadaan Saraswati sebagai sebagai Ista Dewata di dalam kesusastraan weda, khususnya Rg-Weda,sebagai dokumen tertua bangsa Arya; melihat tranformasi Saraswati dari Dewi Sungai menjadi Dewi Ilmu Pengetahuan dan kebijaksanaan, seni dan budaya, beberapa aspek Saraswati serta hubungannya dengan dewa di dalam Rg-Weda. Pada bagian akhir diuraikan relevansi pemaknaan hari suci Saraswati di masa kini dimana ilmu pengetahuan telah melahirkan peradaban modern bahkan post modern yang mengedepankan rasionalitas dan plularisme sementara ia sangat sedikit mengembangkan spiritualisme. Fenomena ini sesunggahnya ancaman besar bagi kehidupan beragama.

Sapta Sindhu Sapta Saraswati: Pusat Peradaban Weda

Di dalam kitab suci Weda disebutkan Sapta-Sindhya yang berarti 'tujuh sungai'. Secara tradisi India disebut Sapta Sindu, yaitu sungai Gangga, Yamuna, Godavari, Saraswati, Narmada, Sindu, dan Kaveri. Ketujuh sungai ini dianggap suci oleh pemeluk Agama Hindu. Rg-Veda menyebutkan : Uta nah priya priyasu sapta sivasa Sujata/ Sarasvati stomya bhutah/ (6.61.10). [Dan ketujuh saudara perempuan di dalam bentuk sungai adalah yang paling cantik di antara yang cantik. Mereka patut dilayani dan mereka sangat mengagumkan].

Mandi di sungai-sungai tersebut pada hari-hari tertentu sangat dipercaya oleh umat Hindu mempunyai kekuatan penyucian lahir batin. Mereka mengucapkan doa : Gangge ca Yamune caiva Godavari Sarasvati/ Narmade Sindhu Kaveri jalesmin sanindhim kuru//. [Oh Gangga dan Yamuna, Godavari dan Sarasvati, oh Narmada, Sindhu dan Kaveri, bersemayam di dalam air ini (dengan mana aku mandi) ]. Di sepanjang sungai-sungai tersebut banyak ada titik-titik penting untuk melaksanakan tirhta yatra. Nitwa Dadhe vara a prihivya ilayasapade sudinatve ahnam/ Drsad vatyam manusa apayam Saraswatyam devadagne didihi// (Rg-Veda,3.234). [O Api kurban suci! Kami (pelaku kurban suci) menempatkan didalam sebuah hari yang suci ini atas tanah bajakan di Manusa Tirtha di sisi sungai Drsadvati, Apaya dan Sarasvati. Kami memuja engkau untuk menyinari seluruh atosfir Di antara ketujuh sungai tersebut, Saraswati dianggap yang paling suci dan paling banyak disebut-sebut di dalam kitab suci Weda. Dewi Saraswati di dalam kesusastraan Veda disebut juga Vagisivari, Satarupa, Savitri, Vak Gayatri, Brahrni, Bharati, dan Putkari.

Satu hal kiranya perlu dicatat bahwa jumlah sungai-sungai suci dipatok berjumlah tujuh walaupun nama-nama sungai banyak. Di India orang-orang Arya secara perlahan-lahan menyebar ke seluruh daerah lima sungai (juga disebut Pan-chanand Pradesh) hingga ke pinggir-pinggir sungai Saraswati. Kemudian dibawah kepemimpinan Vidhigha dan pendetanya Gautama bangsa Arya mulai bergerak ke arah Sadanira (Karotoyo) dan sebuah sebuah kebudayaan baru dibangun di sana, Pada sisi lainnya bangsa Arya yang hidup di pinggir-pinggir sungai Saraswati mulai membangun kebuayaan Arya hingga ke madya Bharata (India Tengah).

Pada tahapan ini barangkali keinginan muncul di kalangan orang-orang Arya itu sendiri untuk memberi nama-nama baru "Sapta Sindhu". Mereka juga menemukan tujuh sungai, yaitu Sura di Haridwar, Supraba di Puskar, Vimaloda di Himalaya, Aghawati di Kuruksetra, Kanchamakshmi di Naimisarya, Manoroma di Kosola dan Visala di Gaya, Sungai-sungai ini dikenal dengan nama Sapta Saraswati, sebuah nama yang diberikan oleh orang-orang Arya.

Sapta Sindhu ternyata tempat dimana peradaban Weda bermula. Airnya mumi, suci dan menyuburkan. Wilayah-wilayah yang dilalui oleh sungai-sungai ini umumnya subur ;;ga orang -orang cendrung bermukim di sepanjang daerah aliran gai. Lembah sungai Sindhu juga telah lebih dulu maju di bidang kebudayaan sebelum datangnya bangsa Arya kira-kira 1500 tahun Sebelum Masehi.

Kerajaan-kerajaan besar atau pusat-pusat kekuasaan yang biasanya menjadi pusat kebudayaan lahir di sepanjang sungai-sungai tersebut, misalnya Mohenjodaro dan Harappa di tepi sungai Sindhu, Delhi di tepi sungai Yamuna, Allahabad (Prayaga) di Gangga, Yamuna dan Saraswati, Varansi (Benares) di tepi sungai Gangga Agra3 di tepi sungai Yamuna, dll. Kesusastraan Weda diperkirakan lahir dan berkembang di sekitar tempat-tempat itu. Setelah itu barulah menyebar ke arah Tknur dan Selatan Hingga sluruh India (Bharata) bahkan ke luar india.

Saraswati: Sebuah Misteri

Di antara ketujuh sungai tersebut, Saraswati merupakan sungai yang paling banyak diacu di dalam kitab-kitab suci Weda, diteliti dan pendapat yang beragam dan bahkan bertentangan pun muncul di antara para sarjana mengenai jala, arah aliran airnya dan tempat perjumpaan dengan sungai-sungai lainnya atau muaranya di laut lepas. Misteri ini semakin sulit dipecahkan apabila didekati secara mistik. Kondisi ini menambah daya tarik para peneliti untuk mengungkap misteri di balik sungai ini yang banyak disebut di dalam kitab-kitab Catur Weda Samhita, Ramayana, Tantra dan sejumlah Weda yang tergolong lebih muda usianya. Di samping itu di dalam tradisi non Weda pun, Saraswati juga disebut-sebut, seperti misalnya di dalam Buddhisme, Jaina dan lain-lain. Pemujaan terhadap Saraswati tidak hanya di India tetapi juga di luar India, seperti Tibet, Cina, Jepang dan Indonesia dengan sebutan yang mungkin berbeda.

Beberapa sarjana di antaranya mengatakan bahwa sungai ini mengalir ke arah Barat dari asalnya di bukit-bukit Shivalik di bagian Selatan daerah Punjab dan mengalir ke arah Selatan melalui Rajasthan dan akhirnya bermuara di Laut Arabia (Rajaputana) setelah melalui daerah-daerah ketinggian Gujarat. Beberapa sarjana modern yang mendukung konsep Triveni di Allahabad mengklim bahwa sungai suci Saraswati benar-benar mengalir dari sumbernya dari wilayah Punjab hingga mencapai Allahabad (Uttar Pradesh) di dalam aliran bawah tanahnya.

Teori kedua nampaknya mendukung mitos yang selama ini berkembang di masyarakat bahwa Triveni merupakan pertemuan (campuhan) tiga sungai suci yaitu Gangga, Yamuna dan Saraswati. Sekarang secara fisik tidak ada lagi sungai Saraswati di sana. Namun tradisimasih mempercayai bahwa secara mistik bahwa sungai tersebut bertemu di sana; dan pertemuan (sangam) ini dipandang sebagai tempat suci untuk melakukan penyucian diri lahir-bathin (tirtha yatra).

Sungai Saraswati ini dipercaya secara meluas mengalami kekeringan selama masa Mahabharata. Terdapat refrensi di dalam epos besar Mahabrata bahwa Rsi Uthtya, adik guru Vrihasvati telah mengutuk sungai ini agar kering walaupun belum dijumpai bukti-bukti yang cukup untuk mendukung pendapat ini. Dengan mengamati (Selanjutnya)

Oleh: I BP. Suamba
Source: Warta Hindu Dharma NO. 518 Pebruari 2010