Dewi Saraswati dalam Kesenian Jepang

Sarasvati 'kekuatan bahasa yang mengalir', adalah Dewi Kebijaksanaan, ibu dari kata-kata yang mengungkapkan Dirinya dalam bentuk kreativitas. Dia adalah energi kata yang yang memberikan inspirasi. Dalam dunia mitos, Dewi Saraswati adalah permaisuri Dewa Vishnu bersama Dewi Laksmi. Di Jepang, Dewi Saraswati (disebut Benten atau Benzaiten) dan Dewi Laksmi menjadi tokoh pada abad ke VIII. Disebutkan di dalam catatan sejarah di Biara Todai-ji bahwa perayaan perdana Kichijo-gekka untuk memuja Dewi Laksmi dan Dewi Saraswati dilaksanakan untuk pertama kalinya pada tahun 722 Masehi. Boleh jadi ini adalah tahun di mana dua tokoh ini menjadi pusat perhatian untuk pertama kalinya. Sejak saat itu Kichijo-gekka telah menjadi upacara tahunan di Biara Todai-ji, Kota Nara.

Pencitraan Dewi Saraswati dalam Biara Todai-ji termasuk dalam tipe tokoh yang 'tenang' (santa), perlawanan dengan berbagai tipe manifestasi kedewataan yang 'keras' (krodha). Aspek santa tercermin dalam penggambaran mata Sang Dewi yang sipit dan teduh penuh rahmat serta bibir yang lembut. Patung Dewi Saraswati ini dulunya memiliki delapan lengan, di mana kelima lengannya yang masih tersisa tidak memiliki kelengkapan aslinya. Delapan lengan Dewi Saraswati masing-masing memegang busur, anak panah, pedang, trisula, kapak, bajra, cakra (roda Hukum), dan tali.

Patung ini menjadi korban bencana kebakaran yang terjadi di tahun 954 Masehi, sebagaimana dicatat di dalam Todai-ji yoroku no.4 yang ditulis pada masa Fujiwara. Kedua patung tersebut terlindung dalarn aula Sangatsu-do sebagai 'Dewi-Dewi Tamu'. Patung itu menjadi berubah warna seperti warna tanah liat yang pucat, menandakan bahwa patung itu terbuat dari tanah liat yang tidak dibakar. Tinggi patung Dewi Saraswati tersebut enam setengah kaki.

Pemujaan Dewi Saraswati dan Dewi Laksmi telah menjadi populer semenjak upacara-upacara di Biara Todai-ji untuk memohon keberhasilan musim panen pada tahun 764 Masehi. Dewi Saraswati yang berlengan delapan tersebut disebutkan di dalam tulisan Besson-zakki 'Gambaran Tentang Ketuhanan' yang ditulis oleh Shinkaku (? -1180 M) dan sekarang disimpan di Biara Ninna-ji, Kyoto, dalam 57 gulungan. Karya tersebut menuliskan mantra-mantra bagi Dewi Saraswati di dalam Kitab Siddham, sebagai berikut : sarasvatyai svaha, namo sarasvatyai mahadevyai svaha, namo bhagavati mahadevi sarasvati sidhyatu mantrapadami svaha. Tulisan tersebut juga menggambarkan empat bentuk Dewi saraswati yang berbeda :

1. Dewi Saraswati memegang sebual" harpa.
2. Dewi Saraswati memegang sebuah gambus atau vina (87.239: Taishc Zuzo 3.550)
3. Dewi Saraswati yang berlengan delapan, dengan kedelapan atributnya seperti yang terdapat pada Dewi Saraswati Biara Todai-ji kecuali sebuah tongkat kayu yang menggantikan Trisula (87.240: Taisho Zuzo 3.551)

Dewi Saraswati berlengan enam dengan dua tangan dalam sikap namaskara, dan atribut-atribut: pedeta trisula, (?), genta-bajra, tali (Taisho Zuzo 3.551)

Dewi Saraswati berlengan delapan dilukis pada panel miniatur candi Sridevi, yang bertanggal 1212 M, disimpan di Tokyo University of Fine Arts di Tokyo. Lukisan Dewi Saraswati tersebut memiliki atribut yang biasa terdapat dalam wujudnya yang berlengaan delapan, tetapi diapit oleh dua dharmapala di bagian atas dan kedua dewi Hariti dan Marici di bagian bawah.

Dewi Saraswati berlengan delapan juga tampak di dalam karya ensiklopedik Asabasho oleh Shocho (1205-1282 M). Dewi Saraswati tersebut juga memiliki atribut seperti yang terdapat pada illustrasi (264 §155 fig. 90: Taisho Zuzo 9:506 berwarna), sementara di dalam teksnya, Gambus (vina) dilambangkan sebagai samaya Dewi Saraswati atau simbol rahasia Dewi Saraswati.cZuzo-sho 'figur-figur pilihan' yang disimpan dalam Biara Entsu-ji di Koyasan (86.123: Taisho Zuzo 3 lembaran 123 berwarna), melukiskan bentuk yang biasa dari Dewi Saraswati berlengan delapan.

Figur Shika-sho-zuzo 'tokoh-tokoh yang ditiru oleh keempat guru' melukiskan Dewi Saraswati berlengan delapan dengan sedikit variasi: ada dua pedang tersilang sebagai pengganti pedang dan kapak (89.218: Taisho Zuzo 3.907). Dilukiskan juga perwujudan lain dari Dewi Saraswati (89.217) yang memegang vina.

Di dalam Daigo-bon-zuzo atau 'tokoh-tokoh dalam kitab kecil yang tersimpan di Biara Daigo-ji', di Kyoto, Dewi Saraswati berlengan delapan dilukis dengan sebuah tongkat bambu sebagai pengganti trisula (93.5: Taisho Zuzo 4.40)
 
Pada gulungan yang tersimpan di Biara Daigo-ji, Kyoto yang berjudul Tembu-g yo-zo, Dewi Saraswati digambarkan dalam sikap yang penuh tanggung jawab, dan lengan yang membawa tali diperlihatkan (214.20: Taisho Zuzo 7.611). Dalam gulungan yang sama, terdapat lukisan yang lain dengan bunga teratai dan cintamani (214.19: Taisho Zuzo 7.610) juga berlabel Dewi Saraswati meskipun menurut tanda atributnya dapat diidentifikasi sebagai Sridevi Laksmi.

Di dalam Shoson-zuzo-shu 'kumpulan aneka tokoh dewa-dewi' yang disimpan di Kanawa-bunko, Kanazawa, lukisan Dewi Saraswati yang seperti biasanya (298.46: Taisho Zuzo 12.890) dengan dua dermawan sedang berbakti dengan sajian persembahan. Gulungan-gulungan ini juga melukiskan Dewi Saraswati berlengan dua memegang sebuah harpa (298.47: Taisho Zuzo 12.892), dan dengan sebuah vina (298.45: Taisho Zuzo 12.889).

Di India, Dewi Saraswati berlengan delapan tampaknya jarang ada. Di Musium Khajuraho, patung Dewi Saraswati berlengan delapan memegang vina pada kedua tangan yang dibawah, dan tangan kanan yang lebih diatas sedang memainkannya, sementara kelima lengan yang lainnya hancur. Bentuk Dewi Saraswati berlengan delapan lainnya di India memiliki atribut sebagai berikut: vina, buku, genitri, kapak kecil, tapi juga sering digambarkan dengan anak panah, gada berduri, tombak, cakra, kerang sangkakala, genta, bajak, dan busur (Karapatri, Sri-Bhagavati-tattva, p. 183). Tak satupun dari bentuk Dewi Saraswati yang ada di India yang benar-benar sama dengan yang ada di Jepang meskipun sejumlah atributnya ada pada keduanya.

DEWI SARASWATI BERLENGAN DUA

Selain Dewi Saraswati berlengan delapan, bentuk lainnya yang terdapat di Jepang adalah Dewi Saraswati berlengan dua. Sedangkan gambar Dewi Saraswati berlengan empat tidak ditemukan di Jepang. Dewi Saraswati berlengan dua yang sedang memainkan vina (di Jepang disebut biwa) dilukis untuk pertama kalinya di Mahakarunagarbha Mandala yang dibawa oleh Kobo daishi dari Cina pada 806 Masehi, sebagai salah satu dari Mandala Kembar.

Dewi Saraswati berlengan dua dilukis berkali-kali di Jepang. Tiruan dari yang paling terdahulu tertanggal 824 M (Takao mandala), 899 M (tersimpan di Shingon-in, Toji), 952 M (Daigo-ji mandala), pertengahan masa Heihan (Kojima mandala), 1035 M (dari monochrome buatan Ken-i), 1112 M, 1190-98 (masa Kenkyu), dan seterusnya.6 Pada mandala ini Dewi Saraswati tampak pada bagian lebih luar pada vajra di kiri bawah. Disepanjang kuil Shingon atau mantrayana, Dewi Saraswati berlengan dua menjadi tampak benar-benar agung. Dibawah ini lukisan Dewi Saraswati yang ditiru dari cetakan kayu Omuro7 (yakni Ninna-ji) yang seperti pada tiruan Ken-I pada 1035 Masehi.

Di Reihokan Museum di Koyasan, terdapat lukisan Dewi Saraswati berlengan dua yang indah, yang sedang duduk di atas karang sambil memainkan vina. Lukisan ini menggunakan tinta di atas kain sutrgci dan adalah milik Dua Masa Dinast1 Pemerintahan. (BERSAMBUNG)

Source: Lokesh Chandra l Warta Hindu Dharma NO. 503 Nopember 2008