Dewasa Lahirnya Panca Sila 1 Juni 1945

Peringatan lahirnya Pancasila, diperingati setiap tanggal 1 Juni. Salah satu tokoh yang membidani keliharan Pancasila tiada lain Bung Karno. Tentu saja Bung Karno ketika mereka-reka rumusan Pancasila serta unsur yang ada didalamnya tidak terlepas dari pemikiran akan kebudayaan Nusantara yang adi luhung dengan keanekaragaman Suku, Agama, Ras, Bahasa, Budaya, Adat dan lain sebagainya.

Upaya ini bukanlah pekerjaan yang ringan, diperlukan pemikiran yang jernih dan citta mendalam agar keberadaan serta kemajemukan itu dapat digambarkan dalam satu rumusan yang nantinya dinamakan Pancasila. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa Pancasila dan rumusannya itu diumumkan dan dikumandangkan untuk pertama kalinya pada tanggal 1 Juni 1945. Ada apakah dengan 1 Juni 1945 atau kenapa memilih 1 Juni 1945 sebagai jadwal pencetusannya?.

Terkait dengan itu, Horoskop Hindu Bali mencoba meneropong dari Padewasaan Tanggal 1 Juni 1945. Dewasa yaitu perhitungan waktu menurut masyarakat Hindu di Bali, mempunyai makna tersendiri, karena akan dapat dibaca situasi dan kondisi dimasa lalu, sebagaimana kelahiran seorang bayi ke dunia. Peringatan ini dinyatakan sebagai pawetuan atau “otonan” dalam hubungannya dengan kelahiran manusia juga piodalan dalam kaitannya dengan peringatan pensucian tempat suci. Dewasa terkait dengan waktu dan waktu dalam kategori “baik” dan “buruk” sehingga muncul “hari baik” dan “hari buruk”, untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang disebut “ala ayuning dewasa”. Tujannya adalah agar kelak dapat dinetralisir dampak negatif akibat pawetonan itu.

Selanjutnya dari sisi Atrologi Kalender Pawukon, 1 Juni 1945 jatu pada Sukra Wage Kuningan atau sehari menjelang Tumpek Kuningan sebagai salah satu perayaan Hari Suci agama Hindu yaitu rentetan perayaan Galungan yang dalam mitologi Jawa sebagai hari nilai juang kesinatriaan. Lebih lengkapnya, rontal Bhagawan Garga menyebutkan sifat dan keadaan I Juni 1945 sebagai alam mikrokosmos dipersamakan dengan alam makrokosmos, sebagai berikut:

(1). Eka Wara: 0, artinya kosong; (2). Dwi Wara: Menga, artinya Terbuka/keterbukaan; (3). Tri Wara: Beteng, artinya Pandai melaksanakan pemujaan/dewasa Kemanusiaan; (4). Catur Wara: Sri, artinya damai dan bersih; (5). Panca Wara: Wage artinya, Suka bekerja dan membangun; (6). Sad Wara: Was artinya, mempunya pemikiran yang luas; (7). Sapta Wara: Sukra artinya, Susila dan sopan santun; (8). Asta Wara: Sri artinya, mempunya pikiran yang baik, rahayu dan tidak kekurangan makanan dan minuman; (9). Sanga Wara: Tulus artinya, apa saja yang diinginkan akan tercapai; (10). Dasa Wara: Pandita artinya, senang akan kebersihan, kesucian, Pandai dan bijaksana; (11). Ingkel Jejepan: Wong artinya, kemanusiaan; (12) Watek Panca: Wong artinya, kemanusiaan; (13). Watek Catur: Gajah artinya, besar; (14). Sasih: Kadasa posisi matahari condong ke tengah atau Wiswayana, musimnya adalah: Panca Roba adalah musim transisi dari musim panas ke musim hujan. Menilik situasi dan kondisi keadaan yang telah dimaknai masing-masing tersebut di atas, maka pemilihan padewasaan tersebut tergolong sangat baik. Hal ini diperkuat dengan keterangan yang tersirat dalam Lontar Wariga Dewasa, yaitu tentang eksistensi padewasaan yang dikaitkan dengan sasih, disebutkan: “..... Catur Wara/Kadasa: Laba (ayu) ....”. sumber ini menjelaskan bahwa pada posisi sasih Kadasa, yang terpenting adalah padewasaannya adalah Catur Wara yaitu Sri. Padewasaan itu tergolong ayu (baik) yang artinya berhasil.

Jadi dari kajian padewasaan 1 Juni 1945 adalah padewasaan baik dalam melaksanakan kegiatan atau usaha. Dengan demikian moment 1 Juni 1945 sebagai tonggak dasar dipilihnya sebagai kelahiran Pancasila adalah padewasaan ayu hari baik untuk memulai menetapkan kebulatan pikiran bangsa Indonesia dalam menata kehidupan berbangsa dan bernegara dimasa mendatang.

Esensi yang terpenting dalam konteks ini adalah lahirnya pemufakatan bersama atas jati diri bangsa Indonesia dalam mengukuhkan Dasar Negara Pancasila sebagai satu-satunya azas untuk mempersatukan bangsa, suku, ras, agama, menuju kemakmuran masyarakat Indonesia, dalam bingkai negara kesatuan. Jadi acapkali memperingati peringatan hari kelahiran Pancasila yang esensi bukanlah acara ceremonialnya, akan tetapi hendaknya dapat memaknai bahwa intropeksi ke dalam raga masing-masing individu mutlak adanya, agar dapat diwujudkan masyarakat yang Santi dan Jagadhita.

Oleh: Ida Kade Suariloka
Source: Majalah Wartam, Edisi 28, Juni 2017