Dewa dan Bhuta

Deva adalah kekuatan dewata dan Bhuta adalah kebendaan. Siva dinamakan Bhutapati, Penguasa Kebendaan atau kelima elemen material kasar, Deva adalah terang dan Buta adalah kegelapan. Dua kekuatan yang bertentangan ini terkunci dan konflik abadi yang di dalam bahasa Sansekerta disebut Daivasuram. Para Deva mewakili kebenaran, keabadian dan terang; Asura mewakili dusta, kematian dan kegelapan. Secara umum mereka tidak saling bertenggang rasa dan yang satu terprovokasi oleh kehadiran yang lain. Bahwa yang dinamakan kebendaan adalah bentuk-bentuk Asura.

Di dalam tubuh Siva, para Deva dan Asura menjadi bersatu dan kehadiran dua kelompok yang berhadapan ini digambarkan sebagai irama tarian Dewa Yang Agung. Di dalam skema pencipta kegelapan yang juga memiliki sebuah tempat cemerlang seperti terang. Inilah dasar dualitas kosmos. Tanpa dikotomi kebaikan dan kejahatan, pada deva dan asura, pada terang dan gelap, roda pencipta tidak dapat berputar. Pergerakannya merupakan gerak ganda, yaitu positif dan negatif yang di dalam simbol terekspresi pada deva dan asura, atau deva dan bhuta, atau energi dan kebenaran, atau gerak nyata dan diam.

Semua deva adalah kekuatan ilahi. Mereka dikatakan berdiam di nirawana yang merupakan wilayah keabadian, atau kerajaan  tanpa kematian. Para deva tidak menyentuh benda, mereka dikatakan bergerak di langit dan kaki mereka selalu berada di atas Bumi. Implikasinya adalah bahwa terang selalu tidak terpengaruh oleh kegelapan dan hidup tidak dikotori oleh kebendaan. Akan tetapi hidup dan kebendaan tidaklah selalu terpisah. Didalam rancangan penciptaan, hidup dan kebendaan harus ada bersama-samaa. Hadirnya kesadaran bersama tubuh membentuk gugusan hukum kehidupan dan kebendaan pada satu titik.

Mereka berfungsi bersama-sama dan bergerak dengan penyesuaian yang misterius yang penuh dengan keteraturan, keindahan, kekuatan dan manfaat. Misteri tubuh manusia dengan kekuatan hidup sungguh tak dapat ditelusuri sampai benar-benar mengerti. Di dalam tubuh kita menemukan deva dan bhuta bekerja dengan harmoni; itulah kebenaran alamiah keberadaan Siva, atau keistimewaan Tuhan yang menampilkan gerak tariannya. Siva, oleh sebab itu terbentuk sebagai Dewa dari dari segala Dewa dan Penguasa Bhuta, itulah Mahadeva dan Bhutapati, satu di waktu yang sama.

Keanekaragaman keberadaan Siva adalah kebenaran mutlak baik bagi ilmu pengatahuan maupun filsafat. Ilmu pengetahuan berhubungan dengan kekuatan, yakni Sakti dengan kekuatan sisi yang positif dan negatif serta yang mengatur ketegangan di dua sisi itu agar lebih efektif. Filsafat juga menerima dualistis ini dan mengungkap kekuatan kembar dari Diam dan Gerak, penuntun awal ke arah pembahasan dan kemudian menuntun aktivitas duniawi.

Siva adalah kekuatan dewata dari energi prana yang menciptakan bentuknya sebagai tubuh manusia atau tubuh semua mahluk. Ini adalah kualitas Ketuhanan-Nya. Dimanapun ada kekuatan api energi prana, energi itu mempengaruhi atom-atomnya yang membentuk kebendaan dan membangun bagi dirinya sendiri sebuah kotak atau pembungkus, itulah rubuh yang dibangun oleh integrasi kelima elemen benda; prana energi api yang menyatukan mereka semua; ketika kekuatan hidup menjadi lemah atau tidak berdaya, kelima elemen tercerai berai dan kematian menjelang. Benih-benih kehidupan adalah misteri; mereka adalah sebuah rahasia dan tetap demikian adanya. Rahasia kekuatan hidup ini tertulis dalam mitologi sebagai putra Svia yang dinamakan Rahasia Tertinggi (Guha) yang memiliki nama lain Kumara.

Kumara adalah Skanda, Putra Api sebagaimana telah dijelaskan. Rudra-Siva identik dengan Api atau Pranagni. Sebagaimana Siva adalah dewa yang agung di antara para dewa, demikian putranya dikatakan sebagai generasi penerus dari bala tentara surga atau suami dari Devasena. Di waktu yang sama Kumara adalah suci abadi dan adalah seorang Brahmacharin, yang hidup selibat selamanya. Implikasinya adalah bahwa gerakan hidup yang berkarakter Kumara ini, pahlawan yang penuh kebeliaan, yang ada didalam setiap pusat individu mengatur seluruh gerakan hidup yang sedang berlangsung di dalam tubuh. Bagaimana ini terjadi menurut pandangan ilmu pengetahuan terdapat pada anatomi, fisiologi.

Investigasi semacam ini yang semakin terperinci dari menit ke menit sedang dilaksanakan saat ini namun demikian orang-orang kuno telah membahasakannya di dalam simbolisme. Mereka juga tampaknya pernah meneliti jaringan demi jaringan tubuh manusia dan menemukan gambaran tentang observasi objektif mengenai struktur dalam sistem pusat syarat, tetapi pernyataan simbolis adalah sesuatu yang bersifat mistis dan berhubungan dengan yoga.

Tubuh yang digambarkan didalam veda-veda sebagai Ilalang Emas (Hiranyavetasa) yang digenggam oleh dua dewa yang disebut sepasang dewa Asvin. Asvin adalah dewa prana dan apana, dua lapisan sumber energi yang menggerakkan dan memberikan semangat hidup pada tubuh. Pada dasarnya kedua unsur dewa itu terdapat pada sifat kekuatan elektrik. Di masa berikutnya Ilalang Emas ini digambarkan sebagai pokok dengan banyak rumpun, Visakha, yang adalah nama lain untuk Skanda. Rumpun-rumpun ini didalam bahasa yoga adalah sejumlah chakra atau pusat-pusat serabut dari pusat sistem syaraf.

Ruas tulang belakang adalah Ilalang Emas yang atau Pokok yang terdiri dari tiga puluh tiga ruas yang terbagi menjadi lima kumpulan; dalam bahasa Sanskerta disebut Merudanda yaitu tiang panji yang terpancang di Gunung Meru. Meru adalah gunung kosmis yang ditengah-tengah swastika seperti manifestasi alam semesta; apa yang benar tentang tingkatan alam semesta adalah juga kebenaran tentang pertumbuhan individual. Di dalam tubuh, sistem pusat syaraf memiliki dua bagian yaitu otak yang lebih tinggi dan terusannnya hingga kanal tulang belakang yang terletak di dalam ruas tulang belakang dan terbentuk oleh pipa berlubang tempat barisan tiga puluh tiga ruas tulang belakang itu.

Menurut kitab-kitab yogi, Siva adalah dewa dalam pikiran dan bertahta di otak yang lebih tingi. Dari sanalah Siva mengatur seluruh pusat syaraf dan keseluruhan aktivitas mekanis, vital dan fisik serta membuatnya berfungsi dalam tubuh. Sebagai Dewa yang Agung Siva harus berada di mana saja dan mengalirkan getaran yang halus ke semua sistem konstitusional. Putranya hanyalah transformasi dari sifat Siva dan kekuatan serta dalam bentuk sebagai pemimpin dari kekuatan dewata atau aktivitas yang dihasilkan oleh kekuatan chakra itu, pusat syaraf pada ruas tulang belakang. Kelima pusat tersebut ada pada tulang belakang, yang satu letaknya teratas, dan yang keenam adalah otak itu sebdiri. Para guru yoga menghubungkan itu semua menjadi lima elemen benda yaitu :

1). Muladhara chakra, diwilayah tulang ekor pada ujungnya, ini adalah sektor yang paling bawah dari ruas tulang belakang di mana empat ruas lainnya terkait menyatu. Chakra ini berhubungan dengan Bumi, elemen terkasar. Pusat ini mengatur pengeluaran benda buangan. Di sinilah berdiam kekuatan yang disebut para yogi sebagai Kundalini atau induk ular yang melingkar yang melepaskan seluruh energi fisik ketika kekuatan ini dibangunkan oleh usaha pencapaian oleh para yogi.

2) Svadhishthana, wilayah di atas tulang ekor. Pada wilayah ini tulangnya disebut sacrum. Ini akan lebih baik dikembangkan sebagai keberadaan individual. Fungsi-fungsi yang dengan organ-organ generasi diatur oleh serabut syaraf pada chakra ini. Dikatakan bahwa chakra ini terkait dengan elemen air yang mengambil bentuk reta atau benih yang membuahi di dalam tubuh manusia yang bentuk terhalus dan paling menyatu dari Soma. Dalam bahasa mitos ada sejumlah dewa dewi yang memiliki tempat di dalam tubuh manusia dan terus menjalankan fungsinya atau mengerjakan tugasnya sementara untaian demi untaian kehidupan berjalan terus.

3) Manipura. Ini adalah wilayah di antara tulang ekor dan tulang punggung. Terdiri atas lima ruas dan berpusat di pusar, yang mengatur sistem pencernaan. Elemen api menguasai wilayah ini. Harus diperhatikan adalah tidak ada api yang menyala atau bahan bakar di dalam bagian tubuh ini namun ada energi panas seperti api dalam bentuk enzim-enzim perut dan asam sekresi yang mencerna makanan dan memprosesnya menjadi cairan sari yang membangun kehidupan serta sekresi. Kenyataan bahwa itu dasar dari seluruh kekuatan dan itulah sebabnya Skanda terbentuk sebagai Putra Api. Meskipun benih yang menjadikannya ditabur di air atau kedalam Dasar Ibu, Skanda adalah jenis yang saling terhubung di mana dasar kehidupan di dalm tubuh dihasilkan dan dikelola se-efesien mungkin dan dengan cara yang misterius.

4) Anahata chakra. Ini ada pada bagian tulang dada. Bagian ini adalah bagian yang paling panjang dengan 12 ruas yang berlokasi dekat dengan jantung, elemen dasarnya adalah udara. Bagian ini mengatur sirkulasi darah yang dipompa oleh kontraksi dan ekpansi (gerak sistolok dan diastolik jantung). Chakra ini adalah udara yang beregerak menelusuri arteri dan vena yang membuat darah bergerak dari jantung dan kembali ke jantung serta memberikan asupan oksigen arus hidup tersebut atau darah untuk membaar kotoran didalamnya. Para ahli Veda membicarakan Dewa Bavu sebagai bentuk manifestasi Brahman atau bentuk konkrit aspek ketuhanan sebagai prana yang memasuki paru-paru dan mengkongkritkan aspek ketuhanan sebagai prana yang memasuki paru-paru dan menampilkan keajaiban tentang menjaga kehidupan didalam tubuh.

5) Visuddhi chakra. Ini adalah wilayah cervix. Cakra ini terbangun atas tujuh ruas dan pusatnya di keronkongan. Elemen chakra ini adalah akasa atau ruang yang menghasilkan suara. Ada lima elemen yang dikaitkan dengan lima pusat syaraf pada tulang belakang dan bagian dalamnya (sishumna).

6) Ajna chakra. Ini adalah nama dari otak yang lebih diatas atau pikiran, tempat intelegensi dan kesadaran. Chakra ini berhubungan dengan apa yang disebut sebagai mata ketiga dari para yogi dan juga teratai berkelopak seribu di mana Siva bertahta dan permasurinya Parvati atau energi sakti Siva. Pusat tulang belakang memasuki otak dalam bentuk lengkungan dan melalui sebuah lubang besar yang dikenal dengan magnum foramen; itulah sebabnya sumsum tulang belakang itu sendiri dikenal sebagai yang melengkung (kutila) dan lubang besar itu sebagai pintu yang melengkung (kruncha dvara).

Ketika Siva dan Parvati bersama sama di pusat yang tertinggi dari pikiran, persatuan mereka menghasilkan bayi ajaib yang dikenal dengan Kumara atau Skanda.. Kelima pusat pada tulang belakang tersebut berkaitan dengan lima elemen benda kasar dan yang keenam pada otak mewakili energi fisik yang terbentuk sebagai Enam Ibu dan juga enam wajah Pahlawan muda yang bernama Skanda. Chakra pada kenyataannya adalah istilah yoga untuk energi belia dari prana yang meliputi yogin yang memiliki pengaturan diri yang sempurna.

Yogin ini menjadi pemimpin bala tentara dewa atau segenap kekuatan dewa yang berfungsi didalam seluruh tubuh, secara pisikologis Skanda adalah pahlawan dari semua kekuatan yang sadar dan di bawah sadar dan menjadi penakluk tentara asura dibawah pimpinan Taraksura. Makna Taraka adalah trasparan; Taraka artinya sebuah binatang; binatang itu yang adalah bulan adalah simbol pikiran. Hal tersebut dinyatakan didalam Rig Veda bahwa bulan mewakili pikiran Pencipta (chandrama manasa jatah, 10.90.13)

Terkadang jumlah cakra yang diambil ada delapan dengan perhitungan tiga chakra pada otak yakni : otak bagian bawah, tengah dan atas, atau cerebllum, medulla oblogata, dan cebrebrum. Dalam Atharva Veda tubuh disebut memiliki delapan chakra (ashtachakra navadavra devanam purayodhya, yakni tubuh adalah Kota Para Dewa yang disebut Ayodhya yang memiliki delapan chakra dan sembilan pintu). Tampaknya didalam doktrin terkuno ajaran yoga, jumlah chakra dihitung delapan dan tiga bagian pada otak dibedakan satu dengan yang lain dengan cara yang jelas. Bagaimanapun juga, diperbolehkan untuk melihat ke semua pusat pemikiran sebagai satu kesatuan dan kemudian menghitungnya sebagaimana seseorang menjadikan jumlah keseluruhan enam chakra yang terbentuk sebagai Enam Ibu dari Skanda-Karttikeya yang kemudian dinamakan putra dari Delapan Ibu.

Mereka dilambangkan sebagai rasi bintang Pleiades, yang terdiri dari enam bintang yang berkerlip. Bayi itu sendiri dopikirkan memiliki enam kepala atau enam muka yang mana dengan itu dia dengan itu dia menghisap susu dari keenam ibunya. Makna harfifahnya adalah bahwa energi baru yang membakar yang dibentuk dari persatuan Siva dan Parvati, atau Siva dan Sakti, dalam sebuah bentuk dari persatuan Siva dan Parvati, atau Siva dan Sakti, dalam sebuah bentuk karakteristik dari Skanda adalah jiwa kepemimpinannya terhadap semua kumpulan dewa-dewa yang bersatu menyiapkan baginya sebuah kereta istimewa dimana Skanda bergerak; dan ia membawa tombak saktinya (sakti) yang oleh karena tombak itu ia dikenal sebagai saktidhara yang menjadikan Skanda penguasa seluruh asura.

Oleh karena itu, dialah yang disebut Viraka, pahlawan yang menaklukkan, tuan dari segala mahluk buruk rupa dan mahluk tak wajar yang dikenal dengan para gana. Ada dua jenis kekuatan prana : satu rangkaian termanifestasi dalam korban (yajna) yang menjadikan hdup teratur dan harmonis; rangkaian yang lain adalah semua jenis ketidakwajaran dan keluar dari garis lurus atau poros vertikal dari kekuatan hidup. Yang kemudian adalah para asura, roh kegelapan dan kejahatan. Mereka adalah para mahluk cebol, pemakan mayat, hantu penunggu rumah, dan mahluk mitos lainnya. Mereka juga dikenal sebagai bhuta.

Pahlawan penakluk itu adalah Skanda yang tidak lain adalah bentuk Siva dalam semua tujuan penerapan didalam mitologi Siva. Dia adalah Dewa yang terutama, Putra Api dan yang lebih cerdas daripada Aditya atau Surya. Skanda adalah energi cemerlang Siva yang dipelihara dari satu chakra ke chakra yang lain dengan urutan tingkat demi tingkat sampai keenam chakra berkekuatan penuh termanifestasi. Dikatakan bahwa seorang yogin yang telah mencapai samadhi dalam enam cakra pikiran tidak pernah diserang oleh kegelapan dari kelima elemen benda. Didalamnya para Dewa teriah memiliki kemenangan abadi atas para Bhuta. Pusat yang tertinggi dari pikiran adalah wilayah yang abadi dimana getaran kebendaan telah tereleminasi.

Pikiran disebut memiliki dua aspek yakni terang dan kegelapan. Aspek itu membesar dan mengecil dalam dua bagian yang setara pada bulan kalender, tetapi kenyataan yang menerima secara konstan pancaran cahaya matahari yang selalu ada Wilayah pemikiran yang selalu dibawah pengaruh cahaya adalah pemikiran yang lebih tinggi atau intelegensi. Pemikiran ilahiah disebut juga Vijnana, namun aspek pemikirannn yang lain adalah adalah yang menjauhi pancaran cahaya matahari atau intelegensi yang lebih tinggi dan jatuh dalam cengkraman kegelapan; ini adalah pemikiran yang lebih rendah yang digambarkan dengan sebentuk asura yang bernama Vitra di dalam Rig Veda dan Taraka di dalam Purana.

Meskipun tubuh memiliki funsi normal dan istimewa yang tergantung didalam prana, kekuatan sesungguhnya muluk pikiran yang mengatur baik kesadaran, imajinasi maupun ketidaksadaran dalam wilayah perseorangan, imajinasi maupun ketidaksadaran dalam wilayah perseorangan. Di dalam yoga, pikiran adalah segala yang tertutup dari semua pengaruh kesenangan luar dan yang menjadi introvert oleh instrumen meditasi dengan tujuan untuk Merealisasikan intimasi universal, pikiran itu kemudian tergabung didalam pusat universal yang dikenal dengan hrid sesuai definisi yoga menurut ajaran India. Hirid adalah pusat atau titik realitas Tuhan yang transenden.

Dalam pembahasan Siva sebagai Deva, hendaknya seseorang mencermati konsep India tentang Siva Mahadeva; hendaknya memahami mitos besar Skanda yang dikenal sebagai Kumara didalam Brahmana dan Purana atau diadalam Rig Veda yang disebut sebagai Bayi Ajaib (chitra sisu). Bagaikan Siva mengendarai gunungnya sebagai kereta untuk kemenangan terhadap para Asura, demikian pula Kumara; dengan tangan satu memegang Trisula, dan tangan lainnya memegang Tombak. Pancaran sinar energi api pada keduanya adalah kemenangan yang sempurna terhadap para Asura atau kekuatan kegelapan, ketidakpatutan dan kematian.

Oleh: Vasudeva S. Agravala
Source: Warta Hindu Dharma NO. 527 Nopember 2010