DATHU atau LOGAM Sebagai Bahan Ramuan Obat [2]

(Selanjutnya)

Sering juga dipergunakan untuk mengobati orang yang terkena racun atau visa, menyembuhkan unmada (gila), bersifat sodhana atau menurunkan ketiga unsur tri dosha, obat jvara (deman) dan sebagai ksaya (konsumsi) serta sosa (kurus kering).

Efek yang berlawanan akan muncul jika svarna ini dipergunakan secara salah. Emas yang dipergunakan secara salah atau berlebihan dapat mengakibatkan tubuh menjadi lemas, karena kehilangan kekuatan dan energi atau bala. Akibat lebih lanjut akan memudahkan munculnya berbagai penyakit dan menyebabkan rasa tidak nyaman. Selain itu emas ini dapat juga menjadi racun yang mematikan.

Tara (Perak)
Munculnya perak atau tara di bumi mempunyai cerita atau legenda tersendiri. Ketika Dewa Siwa sedang marah kepada raksasa Tripura di kahyangan, dari mata kanannya keluar ulka, cahaya seperti kilat atau meteor. Sedangkan dari mata kirinya keluar asra atau air mata. Ulka ini kemudian menjelma menjadi Dewa Rudra, sehingga, dari tubuhnya selalu memancar cahaya yang amat menyilaukan. Air mata atau asra berwarna putih mengkilat yang jatuh ke bumi berubah menjadi logam yang disebut tara atau perak.

Perak atau tara yang kurang baik dipergunakan sebagai ramuan obat. Logam perak ini memiliki potensi virya guru (berat) dan guna snigdha (lembut) berwarna putih, penampilan seperti bulan, tidak hancur tatkala dibakar, dipotong atau ditekan.

Perak, atau tara yang kurang baik dipergunakan sebagai ramuan obat adalah tara yang memiliki guna kathina (keras, didominasi bhuta perthivi) dan potensi virya laghu (ringan), berwarna agak merah, kuning serta rapuh (dala). Perak ini akan hancur jika dibakar, dipotong atau ditekan (ghana).

Perak atau tara mempunyai kekuatan saurnya atau mendinginkan. Selain itu mengandung pula rasa kasaya (sepet) yang didominasi oleh unsur bhuta vayu dan perthivi, rasa amla (masam) yang didominasi oleh unsur bhuta apah dan teja, rasa svadu (manis) dan vipaka svadu. Perak ini dapat dipergunakan sebagai obat pencahar atau urus-urus (virecham), menahan proses menua (rasayana), menurunkan unsur vatta dan pitta, serta sebagai obat penyakit para meha (gangguan kencing).

Efek sampingan akan timbul bila salah dalam proses pembuatan dan penentuan takarannya sehingga menimbulkan tapa (panas) dalam tubuh, menghancurkan sperma (sukra), menurunkan efesiensi energi dan kekuatan.

Tamra (Tembaga)
Sama seperti logam perak, tamra inipun memiliki kisah tersendiri tentang kejadian. Menurut mitologi, pada suatu hari Dewa Kartikenya memuncak nafsu birahinya, sehingga tidak tertahankan maka terpecahlah sukra atau air maninya. Air mani ini juga jatuh ke bumi. Maka muncullah logam tembaga atau tamra.

Tembaga mengandung rasa kasaya (sepet), rasa Svadu (manis), dan rasa tikta (pahit). Logam ini berkhasiat saumnya atau menyejukkan. Tamra dapat dipergunakan untuk mengobati penyakit ropana (ulkus), Udara (gangguan perut, termasuk asites), krmi (cacingan, infeksi parasit), Kustha (penyakit kulit, termasuk kusta), pinasa (pilek kronik), meningkatkan unsur pitta, meningkatkan unsur kapha, sebagai ksaya (konsumsi), brahmana (bergizi) jvara (demam) dan sula (sakit menusuk-nusuk di rongga perut, kolik).

Tamra yang baik untuk dipergunakan sebagai bahan ramuan obat adalah logam tembaga yang berwarna kemerah-merahan, mampu menahan tekanan, dan tidak tercampur dengan logam lainnya. Tembaga yang kurang baik untuk ramuan obat adalah yang warnanya hitam dengan guna sandra (padat, kompak) didominasi Buta pertiwi atau yang berwarna putih tidak mampu menahan tekanan (ghana) tercampur atau besi atau timah.

Jika sewaktu meramu obat tembaga ini tidak diproses dengan benar, dapat menimbulkan efek yang berlawanan dari yang dikehendaki. Bahkan dapat menjadi racun, walaupun tamra ini sebenarnya bukan racun. Efek tersebut dapat berupa brahma (pusing, mabuk), murccha (pingsan, tidak sadarkan diri), vidaha (rasa terbakar), sveda (berkeringat berlebihan), utkledana (menimbulkan kelengketan dalam tubuh), vanti (muntah), aruci (tak ada nafsu makan), dan citta santapa (tidak nyaman dalam pikiran).

Vanga (Timah Putih)
Timah putih atau Vanga tidak diceritakan bagaimanan terjadinya di bumi ini. Menurut Ayurweda di dunia ini ada dua macam vanga yakni khuraka dan misraka vanga. Dari kedua macam vanga ini yang terbaik dipergunakan sebagai bahan ramuan obat adalah jenis khuraka vanga.

Timah putih ini memiliki guna laghu (ringa) yang didominasi oleh unsur bhuta teja, vayu dan akasa, serta virya usna (panas). Vanga ini dapat dipergunakan sebagai obat virecham (pencahar, urus-urus agar diare), meha (gangguan kencing), krmi (cacingan, infeksi parasit), panduta (anemia pucat kurang darah), svasa (sesak napas) gangguan pada unsur kapha, amat baik umtuk mempertahankan ketajaman penglihatan (caksurya), menaikkan sedikit unsur pitta, meningkatkan kerja alat pengindera dan menimbulkan rasa bahagia.

Naga (Timah Hitam)
Timah hitam atau naga ini menurut mitos terjadi dari sukra Dewa Vasuki ini terangsang birahinya tatkala menyaksikan adik perempuannya Dewa Bhogi telanjang. Air maninya tumpah dan jatuh ke bumi. Maka sukra inilah yang berubah menjadi timah hitam atau naga.

Naga mempunyai kekuatan yang sama dengan vanga atau timah putih. Timah hitam ini dapat memberikan kekuatan sebanyak 100 kali kekuatan ular naga atau ular kobra. Naga ini dapat dipergunakan untuk mengobati berbagai penyakit, memperpanjang umur (ayusya), merangsang pencernaan (pacana), meningkatkan gairah seksual (vrsya) dan menunda kematian jika dipergunakan secara tetap.

Bila dipergunakan tidak sesuai dengan aturan, maka logam naga dan vanga akan menyebabkan terjadi efek terbalik. Dapat menimbulkan kustha (penyakit kulit, termasuk kusta), gulma (tumor), pandu (anemia, kurang darah), prameha (gangguan kencing), sopha (oedema yang disebabkan oleh unsur vatta), bagandara (fistula, lubang luka di anus), Svitra (berak putih di kulit, leukordema), sula (kolik, sakit menusuk-nusuk di perut) meningkatkan unsur kapha, menimbulkan jvapa (demam), asmari (batu di saluran kencing), Vidradi (abses), makharoga (luka di rongga mulut), arti (sakit seluruh tubuh) dan nitya abalaka (kelemahan yang cepat).

Ritika (Logam Genta)
Logam genta, logam lonceng, logam bel atau ritika merupakan logam yang cocok dipergunakan sebagai bahan pembuat genta, oleh karana menyebabkan genta tersebut bunyinya amat nyaring bila dipukul. Logam genta terdiri atas 2 macam yakni ritika dan kakatundi. Jika logam ini dipanaskan dan kemudian dicelupkan ke dalam cuka (kanji) warnanya akan berubah menjadi merah tembaga, disebut ritika. Bilawarnanya berubah menjadi hitam disebut kakatundi.

Ritika yang berwarna kuning memiliki potensi virya guru (berat) dan virya snigdha (lembut), guna snigdha (lembut) dan guna slaksha (licin). Selain itu logam ini menyilaukan atau spharangi, sukar dipecah atau trotanaksama, merupakan bahan yang baik untuk ramuan obat.

Logam ritika yang merupakan ramuan obat yang jelek, yang bersifat stabdha (kompak padat), kasar berwarna putih, amat merah, ghanasana (tak tahan tekanan), putaga (memiliki lapisan) dan mala (tidak murni). Kedua jenis logam ini memiliki guna suksma (halus), rasa tikta (pahit) dan rasa lavana (asin). Logam ini dapat dimanfaatkan untuk pembersih, menyembuhkan penyakit pandu (anemia, kurang darah) kremi (cacingan, infeksi parasit).

Kamsya (Kuningan)
Kuningan atau kamsya memiliki rasa kasaya (sepet), rasa tikta (pahit), guna ruksha (kenyal) yang didominasi oleh bhuta perthivi, teja dan vayu, guna guru (berat) yang didominasi oleh bhuta perthivi dan apah, serta mempunyai potensi virya usna (panas), bersifat lekhana (mengikis) dan visada (racun). Logam ini dapat dipergunakan sebagai bahan ramuan obat untuk pencahar (virecham), mempertajam penglihatan (caksurya) dan menurunkan unsur kapha dan pitta.

Loha (Besi)
Tentang terjadinya besi atau lobha memiliki kisah tersendiri pula. Menurut cerita, besi ini keluar dari mayat tubuh Lomilia Daitya, salah seorang dari kelompok Deitya atau Raksasa, yang terbunuh ketika berperang melawan Dewa. Dalam loha terkandung rasa tikta (pahit), rasa kasaya (sepet) dan rasa svadu (manis), serta guna guru (berat, kental), guna snigdha (lembut). Besi mempunyai sifat saumnya yakni mendinginkan. Dapat dimanfaatkan sebagai pencahar (virecham), untuk memperpanjang umur (ayusua, vavasya), mempertajam penglihatan (caksurya), meningkatkan unsur vatta menurunkan unsur kapha serta pitta, menyembuhkan gara (keracunan), sula (kolik, sopha (oedema), arsa (benjolan di anus ambeien), plihan (gannguan pada pada limpa lien), panduta (anemia), meda (kelebihan lemak), meha (gangguan kencing), kremi (cacingan, infeksi parasit) dan kustha (gangguan pada kulit).

Loba yang guruta (berat, drdhata (kokoh) utkleda (menebal), asmala (kotor), dahakarita (menghasilkan rasa terbakar), sudurgandha (bau busuk) tidak baik dipergunakan sebagai bahan ramuan obat. Bila dilakukan cara pengobatan yang salah dengan bahan loba ini akan menyebabkan sandata (impotan) kustha (penyakit kulit), hrdroga (sakit jantung), sula (kolik) asmari (batu dalam saluran kencing), meningkatkan sakit dan hrllasa (nek, mau muntah), malahan dapat menyebabkan mati (mrtyu).

Orang yang sedang melakukan pengobatan dengan mempergunakan bahan ramuan loba, dilarang minum alkohol (madya) dan makan makanan yang rasanya masam (amla). Menurut Ayurveda ada beberapa macam atau jenis logam besi yang dapat dipergunakan sebagai bahan obat, yakni:

1. Sara Loha
Logam besi jenis ini merupakan logam besi terbaik untuk dipergunakan sebagai bahan ramuan obat. Sara Loha ini memiliki ksamabhrt (tahan tekanan) dan berbentuk sikharakara (bentuk lonjong). Jika logam ini dicampur dengan cairan yang rasanya masam, akan menimbulkan partikel kecil seperti debu.

Sara loha berkhasiat segera menyembuhkan grahani (gejala stomatitis, sariawan, jampi), ati sara (mencret), meningkatkan setengah unsur vatta tubuhm parina maja sula (kolik atau sakit perut menusuk-nusuk tatkala sedang terjadi proses pencernaan), chardi (muntah), pinasa (pilek atau rintis kronik), meningkatkan unsur pitta dan svasa (sesak nafas).

2. Kanta Loha
Jika yang berada di dalam panci yang terbuat dari kanta loha ditetesi dengan minyak, minyak tersebut akan menyebar, Hingu (asafoetida) akan kehilangan bau busuknya dan pasta dari nimba akan kehilangan rasa pahitnya bila ditaruh dalam panci ini, setelah itu susu ini dibuat bentuknya seperti tumpeng, tidak akan jatuh. Canakamla akan menjadi hitam kalau ditaruh dalam panci yang bahannya terbuat dari kanta loha.

Besi jenis kanta loha ini dapat dipergunakan untuk menyembunkah penyakit gulma (benjolan), udara (gangguan pada perut, asites), arsa (ambeien), sula (kolik), amavata (reumatik), bhagandara (fistula pada anus luka di dubur), kamala (sakit kuning), sopha (oedema), kustha (penyakit kulit), ksaya (bergizi), ruk (sakit). Dapat pula logam jenis ini dimanfaatkan sebagai ahara atau untuk konsumsi bagi tubuh, meningkatkan kekuatan (bala) dan stabilitas tubuh. Selain itu logam ini menambah darah (rakta) mengobati pliha (sakit di lien limpa) amla pitta (keasaman lambung dan siroruk (sirahruk = sakit kepala).

3. Loha Kitta
Loha kitta adalah karat besi yang umurnya seratus tahun lebih. Karat besi yang demikian ini merupakan bahan ramuan obat yang paling baik. Bila umur karat besi ini kurang dari 80 tahun akan menjadi racun. Loka kitta amat berkhasiat bila digunakan sebgai obat panduta (anemia, kurang darah).

Itulah sekelumit cuplikan dari kitab Ayurweda tentang mitos terjadinya dhatu atau logam di dunia ini, serta cara mengolah, kandungan dan khasiatnya untuk dapat dipergunakan sebgai bahan ramuan obat.

Oleh: Ngurah Nala
Source: Warta Hindu Dharma NO. 522 Juni 2010